Jumat, 18 November 2011

POLIO


BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio golongan vicornapiridae, yang mempunyai tiga tipe yaitu P1, P2 dan P3, tipe P1 merupakan tipe yang paling paralitogenik. Pada umumnya menyerang anak-anak, 50 – 70 % di antaranya anak usia < 3 tahun. Eradikasi polio Global diharapkan dapat dicapai pada tahun 2008. Ada 4 strategi dalam pemberantasan polio yaitu 1). Imunisasi yang meliputi peningkatan imunisasi rutin polio, PIN dan Mop-up, 2). Surveilans AFP, 3). Sertifikasi bebas polio, dan 4). Pengamanan virus polio di laboratorium.
Setelah PIN dilaksanakan pada tahun 1995, 1996, 1997 dan 2002, melalui kegiatan surveilans AFP yang sensitif, virus polio liar indigenous Indonesia tidak ditemukan selama 10 tahun terakhir. Karena masih banyaknya negara di dunia yang mempunyai virus polio liar, mengharuskan negara-negara yang sudah berstatus polio free seperti Indonesia untuk tetap melaksanakan surveilans AFP secara ketat dan mempertahankan cakupan imunisasi tetap tinggi.
Ditemukan virus polio di Sukabumi menunjukkan keberhasilan surveilans AFP dalam menemukan penderita polio sedini mungkin. Rendahnya tingkat imunitas masyarakat, buruknya sanitasi dan mudahnya transportasi telah menyebabkan virus menyebar ke beberapa daerah yaitu Banten, Lampung dan Jawa Tengah. Sampai tanggal 15 Juli 2005, jumlah penderita AFP yang dilaporkan dari wilayah KLB, 259 orang dengan 150 positif virus polio liar, 90 % di antara penderita positif tersebut tidak mendapat imunisasi polio lengkap (>4 kali). Jumlah tersebut telah menempatkan Indonesia pada posisi ke 3 urutan jumlah virus polio terbesar di dunia setelah Yaman dan Nigeria.
Upaya mencegah agar tidak terus bertambahnya jumlah anak yang lumpuh dan segera menghentikan penyebaran virus dilakukan kegiatan ORI (Outbreak Respond Imunisation) dan Moping up. Diharapkan 1 bulan (1 masa inkubasi) setelah pelaksanaan mop-up putaran kedua (28 Juni) penderita polio baru tidak ditemukan lagi di Jabar, DKI dan Banten. Walaupun Mop-up sudah dilaksanakan di 3 propinsi tersebut, risiko penularan ke propinsi yang tidak melaksanakan mop-up masih ada sampai 2 bulan setelah penderita terakhir ditemukan. Hal ini didasarkan karena faktanya penderita masih mengeluarkan virus polio dari tubuhnya sampai 2 bulan setelah lumpuh.
Berdasarkan latar belakang dan masalah tersebut di atas, kami sangat tertarik untuk menyusun makalah mengenai polio dan sejauhmana polio dapat berpengaruh terhadap kesehatan dalam tubuh.
 
BAB II
I S I
A. DEFINISI
Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio golongan vicornapiridae, yang mempunyai tiga tipe yaitu P1, P2 dan P3, tipe P1 merupakan tipe yang paling paralitogenik (Depkes RI, 2005).
B. ETIOLOGI
Virus Poliomielitis
C. PATOFISIOLOGI
v  Virus masuk melalui rongga orofaring, berkembang biak dalam saluran gastrointestinal, kelenjar getah bening regional dan sistem retikulendotelial
v  Virus berkembang dan tubuh mengadakan reaksi dengan membentuk antibodi, maka akan timbul uremia dan gelajala klinis, dan virus akan terdapat dalam tinja untuk beberapa minggu lamanyal.
v  Tidak semua sel neuron yang terkena oleh virus mengalami kerusakan, bila ringan fungsi neuron dapat sembuh kembali dalam 3 – 4 minggu sesudah timbul gejala.
Daerah yang biasa terkena adalah medula spinalis terutama kornu anterior
2. MANIFESTASI KLINIS
vSilent infection
         Tidak terdapat gejala sama sekali, karena daya tahan tubuh baik
v Poliomielitis abortif
Timbul mendadak, berlangsung beberapa jam sampai beberapa har, gejala berupa infeksi virus malaise anoreksia, mual, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, konstipasi, demam, nyeri abdomen.
v  Poliomielitis non paralitik
Sama dengan poliomielitis abortif, hanya nyeri kepala, mual, muntah lebih berat dan disertai nyeri otot dan kaku kuduk.
v  Poliomielitis paralitik
Kekumpulan otot-otot dan tidak pulih kembali

 3. KOMPLIKASI
v  Kontraktur
v  Paralitis atau kelumpuhan
v  Atrupi otot
4. EPIDEMIOLOGI
Virus polio liar dari Nigeria (Afrika Barat) telah menyebar ke beberapa negara di sekitarnya, seperti Mali, Guenia, Yaman, Sudan, Saudi Arabia, dan Indonesia merupakan transmisi yang paling jauh. Hampir semua virus yang beredar di dunia pada saat ini adalah virus yang induk semangnya berasal dari Afrika Barat. Karena masih banyaknya negara di dunia yang masih mempunyai virus polio liar, mengharuskan negara-negara yang sudah berstatus polio free seperti Indonesia untuk tetap melaksanakan surveilans AFP secara ketat dan mempertahankan cakupan imunisasi polio tetap tinggi.
5. GAMBARAN KLINIK
Dapat berupa asimtomatis, poliomielitis abortif, poliomielitis, non paralitik, dan poliomielitis paralitik:
a. Poliomielitis asimtomatik
Setelah masa inkubasi 7-10 hari, karena daya tahan tubuh maka tidak terdapat gejala klinik sama sekali. Pada suatu epidemi diperkirakan terdapat 90-95% penduduk dan menyebabkan imunitas terhadap virus tersebut.
b. Poliomielitis abortif
Diduga secara klinik hanya pada daerah yang terserang epidemi terutama yang diketahui kontak dengan pasien poliomielitis yang jelas. Diperkirakan beberapa jam sampai beberapa hari. Gejala berupa infeksi virus seperti malaise, anoreksia, nausea, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorok, konstipasi dan nyeri abdomen. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat dengan menemukan virus dibiakkan jaringan. Diagnosis banding: influenza atau infeksi bakteri daerah nasofaring.
c. Poliomielitis non-paralitik
Gejala klinik sama dengan poliomielitis abortif, hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-2 hari kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi demam atau masuk ke dalam fase kedua dengan nyeri otot. Khas unuk penyakit ini ialah nyeri dan kaku otot belakang leher, tubuh dan tungkai dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan kolumna posterior. Bila anak berusaha duduk dan sikap tidur, ia akan menekuk kedua lutut keatas sedangkan kedua lengan menunjang ke belakang pada tempat tidur (tanpa tripod) dan terlihat kekakuan otot spinal oleh spasem. Kuduk kaku terlihat secara pasif dengan Kerning dan Brudzinsky yang positif.
d. Poliomielitis paralitik
Gejala sama pada poliomielitis non-paralitik disertai kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau kranial. Timbul paralisis akut. Pada bayi ditemukan paralisis vesika urinaria dan atonia uterus.
Bentuk spinal
Gejala kelemahan/paralisis/paresis otot leher, abdomen, tubuh diafragma, toraks dan terbanyak ekstremitas bawah. Tersering otot besar, pada tungkai bawah otot kuadriseps femoris; pada lengan otot deltoideus. Sifat paralisis asimetris. Refleks tendon mengurang/menghilang. Tidak terdapat gangguan sensibilitas.
6. PENATALAKSANAAN
v Istirahat total
v Mengurangi aktifitas fisik
7. STRATEGI ERADIKASI POLIO
Ada 4 strategi dalam upaya pemberantasan polio yaitu 1). Imunisasi yang meliputi peningkatan imunisasi rutin polio, PIN dan Mop-up, 2). Surveilans AFP, 3). Sertifikasi bebas polio, dan 4). Pengamanan virus polio di laboratorium.
a. Imunisasi Polio
Indonesia melaksanakan Imunisasi polio rutin secara nasional pada tahun 1982, dengan tujuan untuk memberikan perlindungan pada anak yaitu kekebalan intestinal yang bersifat sementara (selama 100 hari setelah imunisasi) dan kekebalan humoral seumur hidup. Vaksin yang dipakai Indonesia yaitu Oral Polio Vaccine (OPV) Shabin produksi PT Biofarma, yaitu 2 tetes shabin setiap dosisnya,
b. Imunisasi rutin
Adalah pemberian imunisasi Oral Polio Vaccine (OPV) yaitu virus polio yang sudah dilemahkan, pada bayi minimal 4 kali pemberian sebanyak 2 tetes vaksin shabin setiap kali pemberian sesuai dengan jadwal. Cakupan diharapkan > 80 % bayi berusia satu tahun di setiap desa. Tujuannya adalah memberikan perlindungan (kekebalan humoral) pada setiap anak.
c. Pekan Imunisasi Nasional (PIN)
Berbeda dengan strategi imunisasi rutin, PIN adalah pemberian imunisasi polio (OPV) pada anak usia balita tanpa melihat status imunisasi anak sebelumnya , usia ditetapkan berdasarkan kajian epidemiologi. Dilaksanakan secara masal dan serentak pada saat transmisi terendah yaitu pada bulan Oktober dan November, dilaksanakan 2 kali putaran dengan interval 4 minggu.
Tujuan PIN dan Mop-up selain memberikan perlindungan pada anak-anak balita tapi lebih ditujukan kepada upaya pemutusan penularan virus polio, sehingga harus dilaksanakan secara serentak agar pada saat yang bersamaan usus semua anak terisi dengan vaksin polio yang berfungsi memberikan kekebalan intestinal selama 100 hari setelah pemberian vaksin. Apabila virus polio masuk ke tubuh anak yang baru diberi vaksin tersebut, selama 100 hari virus tidak dapat berkembang biak dan akan dieksresi ke luar tubuh. Karena sifat virus polio sangat rentan terhadap ultra violet dan tidak dapat bertahan lama di lingkungan (hanya 1-2 hari) pada suhu tropis, maka virus akan mati dan musnah.
Indonesia telah melaksanakan PIN sebanyak 4 kali yaitu pada tahun 1995, 1996, 1997 dan 2002, telah berhasil memutus transmisi virus polio liar indigenous Indonesia, sehingga 10 tahun terakhir sejak tahun 1996 virus polio liar indigenous Indonesia tidak ditemukan lagi. Pelaksanaan PIN didasarkan pada adanya kecurigaan silent transmission di wilayah Indonesia, atau transmisi virus diketahui telah menyebar ke beberapa wilayah Indonesia.
d. Sub-PIN
Yaitu kegiatan imunisasi masal yang hampir sama dengan kegiatan PIN, dilakukan pada daerah yang dicurigai sebagai daerah resiko tinggi adanya penyebaran virus polio liar. Penetapan Sub-PIN didasarkan pada :
1) Cakupan imunisasi rutin < 80 %
2) Kinerja Surveilans AFP rendah
3) Ancaman adanya penularan virus polio tinggi.

e. Mop-up
Yaitu kegiatan imunisasi masal yang hampir sama dengan kegiatan PIN, yang bertujuan untuk segera memutus penyebaran virus polio liar. Perbedaan dengan PIN adalah dilakukan sesegera mungkin setelah virus dapat diidentifikasi di suatu wilayah yang penyebaran virusnya masih diyakini terlokalisir. Sasaran berdasarkan hasil kajian epidemiologis.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Penyakit polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio golongan vicornapiridae, yang mempunyai tiga tipe yaitu P1, P2 dan P3, tipe P1 merupakan tipe yang paling paralitogenik. Ditemukan virus polio di Sukabumi menunjukkan keberhasilan surveilans AFP dalam menemukan penderita polio sedini mungkinUpaya mencegah agar tidak terus bertambahnya jumlah anak yang lumpuh dan segera menghentikan penyebaran virus dilakukan kegiatan ORI (Outbreak Respond Imunisation) dan Moping up.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, 2005. Polio Masalah dan Penanganannya. Seminar “Polio, Masalah dan Penanggulangannya” Tanggal 21 Juli 2005 di Ruang “Dr. J. Leimena” Gedung Departemen Kesehatan RI oleh Direktur Jenderal PP & PL. Jakarta.
Ngastiah, 1996. Perawatan Anak Sakit Penerbit Bukut Kedokteran EGC, Jakarta.
Suriadi dan Yuliani, 2001. Buku Pegangan Praktik Klinik: Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 2. Sagung Seto. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar