Jumat, 18 November 2011

NOVEL BIDAN MENCARI CINTA

DIARY BIDAN MENCARI CINTA (1)

“Hari ini aku mutusin diko...” mulai maya, wajahnya tersenyum penuh kemenangan melihat seluruh sahabatnya itu sampai lupa mengatupkan bibirnya mendengar kabar itu.

“Kenapa may...” tanya puja heran, matanya menyipit menyiratkan tanda tanya. Tidak beda dengan kandita yang mengucek kedua telinganya, berusaha meyakinkan normalnya fungsi pendengarannya.

“Apa nggak salah denger nih...” Kandita malah mencubit kulit tangannya seakan ingin memastikan bahwa dirinya masih di alam kesadaran penuh atau malah di alam tidak nyata.

“Bosen tau.....” jawab maya enteng. Maya tampak bangga dengan julukan wanita penakluk pria yang sering ditujukan padanya.

Anne geleng-geleng kepala, bulan ini saja maya sudah membuat patah hati tiga lelaki. Tetapi wajah maya yang cantik, seakan membius para lelaki untuk berlomba-lomba menarik perhatiannya. Ditambah lagi bibir maya berbisa dan senang merayu....membuat banyak pria tidak berkutik. Pastinya bukan berbisa yang sebenarnya tapi hanya kiasan untuk menunjukkan keahlian maya menarik lawan jenisnya melalui kata-kata.

“Kasian diko...!” anne melenguh panjang. Diko pria yang baik menurut anne, kuliah di jurusan hukum di sebuah universitas negeri yang bergengsi. Wajah diko juga lumayan, anne menjadi saksi sejarah resminya pacaran mereka. Pertemuan di awali di pameran pendidikan yang diadakan fakultas hukum sebuah universitas tempat diko bernaung. Kebetulan maya dan anne rajin mengunjungi berbagai acara yang diadakan di luar kampus mereka, selain mencari ilmu...tentu saja mencari para pria, paling tidak untuk dijadikan teman, selanjutnya kalau cocok dijadikan pacar.

“Kalau kamu suka ambil saja.....” maya berpaling pada anne seakan bisa menebak isi hatinya. Tangan maya asyik memainkan ujung rambutnya. Berkali-kali dirapikannya rambut yang baru saja 1 minggu yang lalu diluruskan. Anne mengalihkan matanya ke arah puja yang sedang memandangnya pula. Puja tau anne pernah menyimpan hati buat diko, berkali-kali anne memuji keramahan serta perhatian diko yang ditujukan pada anne, diko rutin mengajak anne bertemu membicarakan tentang perkembangan ilmu masing-masing, anne sering memuji diko adalah cowok yang pintar seperti pria yang selama ini didambakannya, sebelum akhirnya anne tahu bahwa kedok ini digunakan diko untuk mendekati maya. Anne kecewa...semua ditumpahkannya pada puja.

“Jadi kamu mau cari yang gimana lagi may....” tanya kandita, sebenarnya kabar seperti ini sudah sering didengarnya. Tapi berita yang satu ini sangat mengejutkan, belum genap 2 hari yang lalu kandita masih mendengar dengan jelas ocehan maya tentang kemesraan antara mereka.

“Aku baru ketemu cowok, lebih keren dan lebih kaya dari diko, tapi masih tahap penjajakan...ntar pasti dikabarin dech...” senyum maya kembali mengembang lebar...
Maya, puja, anne, dan kandita adalah empat sekawan yang sangat dikenal dan akrab sejak kuliah di sebuah akademi kebidanan. Mereka selalu punya waktu dan tempat khusus untuk membicarakan makhluk penting yang bernama cowok....!!!

“Hati-hati kena HIV AIDS lho, keseringan gonta-ganti pasangan...” seloroh puja. Senyum cerianya meluas mempengaruhi kedua teman lainnya yang ikut tersenyum.

“Jangan sembarangan bicara!!...kamu pikir aku cewek apaan mau gitu-gituan....” sambar maya cepat, keisengan puja ditanggapi serius oleh maya. Matanya menatap puja sinis...

“Hey...aku cuma bercanda may...” bantah puja..

“Tapi jangan gitu dong kata-katanya...” maya berteriak. Maya termasuk sosok yang temperamental dan mudah sakit hati, meski dia tidak menyadari bahwa candanya juga sering menyakiti orang lain.

“Kalau kamu nggak merasa kenapa harus marah...”puja menjawab pertanyaan maya masih dengan senyuman. Maya terlihat emosi, wajahnya merah, matanya menyala...

“Sudah...sudah....” teriak anne. Salah satu tangannya mengapit lengan puja erat. Anne adalah sosok yang paling damai diantara mereka, tampilannya agamis, tidak suka membicarakan kejelekan orang lain..dan yang paling pintar di antara mereka ber-empat. Puja ditarik jauh dari maya....

“Udah deh...nggak perlu pake berantem segala...” kandita mengunyah cemilan yang sengaja dibawa untuk meramaikan acara gossip mereka. Puja duduk di sudut ruangan kelas yang di jadikan basecamp mereka. Diambilnya buku ilmu kebidanan, dibuka lembar-perlembar tapi tidak ada yang masuk ke otaknya. Suasana seketika sunyi dan kaku...Puja punya sifat paling unik, dia sangat periang, bahkan sering menjadi olokan teman-teman yang lain. Tapi puja is puja, tidak pernah memasukkan semua cemoohan menjadi sesuatu yang berujung pada pertengkaran.

“Ok....sekarang giliranku..!” kata-kata kandita mencairkan suasana. Kandita terkenal dengan kecuekannya..

“Ada cowok manis yang menjadi targetku, anak co ass di rs......!” urai kandita. Memancing reaksi puja dan anne, terlihat maya yang antusias tapi sengaja tidak memperlihatkannya.

“Trus...gimana ceritanya...” puja mendekatkan kursi tepat di depan kandita, sekali-kali tangannya merogoh dalam keripik kentang yang sudah hampir habis.

“Kami dinas di satu ruangan.....” cerita kandita. Saat dinas di rumah sakit, perkenalan dengan dokter muda merupakan hal yang sangat dinantikan. Cerita akan menjadi panjang dan biasanya ditambah bumbu-bumbu penyedap bila berkaitan dengan para co-as pria tentunya, meski yang terjadi hanya cerita biasa. Selama ini berita pria yang banyak beredar di kampus kalau tidak seputar dokter, polisi, tentara, dan mahasiswa...Apakah cinta dilandasi ketulusan atau cinta dilandasi profesi......

“truss....!” suara puja dan anne berbarengan.

“Yah, dia senyum padaku....”

“trus.....!” kali ini maya yang tidak mau ketinggalan berita.

Kandita tersenyum lebar..

Kandita duduk menepi di sudut teras ruangan poliklinik kebidanan, masih jam 7.30 pagi. Temannya yang bertugas tadi malam di ruangan ini belum kelihatan satupun batang hidungnya. Ingin rasanya duduk dikantin depan rumah sakit.

Tapi kalau ketahuan dosen pengawas di rumah sakit bisa gawat. Informasi akan menyebar ke seluruh penjuru kampus, dan ujung-ujungnya nasehat lagi...nasehat lagi...Tapi untuk langsung masuk ke ruangan juga bukan pilihan kandita. Karena kehadirannya nanti akan disambut bahagia teman se kampusnya, dan akhirnya mereka melenggang pulang dan tinggallah kandita dengan pekerjaan yang seakan tiada habisnya.

“Hey,......”

Kandita terkejut sebuah tangan menepuk punggungnya keras, membangunkan kandita dari lamunan. Cengiran lepas dora membuat bibir kandita manyun. Dora bukanlah nama sebenarnya, tapi karena rambutnya pendek dengan poni rata mirip dora ditambah lagi badannya yang sangat berlebihan lemaknya, membuat dora menjadi lebih populer dibanding nama aslinya rokayah. Tapi untungnya dora senang-senang saja dan tidak pernah mau ambil pusing.

“Sakit tau....!!” Bentak kandita, sambil berdiri dan menggeliat malas.

“Banyak pasien tuh, udah aku tinggalin buat kamu satu. Tadi malem aja aku udah nolong 2 orang yang bersalin....asyik banget!!” dora tersenyum puas.

“Paling juga you kebagian cuci alatnya doang haaa.......” Kandita tertawa lebar. Pernyataan kandita bukan tanpa alasan, sudah 2 hari ia dinas pagi disini, tapi kesempatan kandita untuk paling tidak memegang perut ibu hamil saja belum tercapai. Selain karena banyaknya mahasiswa yang menimba ilmu di ruangan ini yang semuanya tumpah jadi satu. Ditambah lagi kehadiran para co ass yang bejibun jumlahnya dari beberapa universitas negeri dan swasta makin menambah rumit dan sesak. Bagaimana mau terampil setelah tamat....kalau di rumah sakit hanya bisa periksa pandang, keluh kandita. Terkadang kandita menyesalkan tindakan kampusnya yang mengirim mereka ke rumah sakit ini. Bernafas normal saja di ruangan ini sudah kesulitan, untung saja ada oksigen kalau tidak... bisa asfiksia di ruangan ini...kandita tersenyum tipis..

“syirik aja........selamat deh goyang badan, tuh....kakak pegawai ruangan udah tungguin you buat bersihin kamar mandi....”bibir dora maju 2 centi, masih sempat dora melihat kandita mengepalkan tinjunya sebelum badannya yang gempal berlalu secepat kilat.

Kandita melirik ke dalam ruangan, melihat situasi dari luar. Matanya awas, ada salah satu pegawai ruangan yang cerewetnya minta ampun yang sedang dihindarinya.

“Kamu mahasiswa bidan....” Kandita kaget, matanya melihat ke kiri dan ke kanan dan tidak ada siapa-siapa, siapakah gerangan yang dimaksud suara itu. Suara wanita itu sepertinya berasal dari luar ruangan..

“Kamu yang sedang mengintip.....” suara itu semakin mendekat, secepatnya kandita membalikkan badannya. Wajah Bidan Tara memenuhi pandangan kandita. Kandita memaksakan bibirnya untuk tersenyum meskipun sangat sulit. Bidan tara adalah bidan senior di rumah sakit ini, sekaligus menjadi salah satu pembimbing klinik. Hanya saja suaranya keras, tergolong cerewet dengan mahasiswa bidan tapi super ramah dengan pasien. Dan inilah makhluk yang paling dihindarinya.

“Eh...bu tara....!” Kandita secepatnya masuk ke dalam ruangan, dan memasukkan tasnya ke dalam loker. Matanya tidak berani menatap bidan tara, bukan karena takut tapi karena tidak berharap dia memerintahkan sesuatu pada kandita pagi ini.

“Kamu sudah mandi...!” tanya bidan tara. Pertanyaan aneh sekaligus luchu. Memang kandita sering tidak mandi saat kuliah, karena enggan antri lama. Kandita selalu bangun tepat sebelum subuh, tapi saat masuk kamar mandi asramanya sudah ada 5 buah tempat peralatan mandi berjejer manis di bibir bak mandinya, yang artinya sudah ada yang antri mandi. Dan secara tidak tertulis berarti tidak ada yang boleh mendahului mereka. Aneh...

“Sudah bu...” jawab kandita cepat.

Kandita secepatnya masuk ke ruang VK (ruang bersalin), terlihat seorang ibu hamil menempati salah satu tempat tidur. Spontan kandita melihat buku riwayat pasien. Ibu Tuti, hamil ke 3, sudah melahirkan 2 anak hidup, tidak pernah abortus, fase aktif, pembukaan serviks 4 cm, letak kepala....eja kandita. Mudah-mudahan lahir sebelum aku selesai dinas pagi ini, harap kandita. Tugas Askeb yang menumpuk membuat kandita bingung, bagaimana kandita bisa memenuhi seluruh askebnya kalau pasien saja tidak ada.

“Kandita........!” suara bidan tara menggelegar dari ruangan pegawai. Kandita meletakkan buku yang sedari tadi dipegangnya. Untung saja beberapa kata kunci sudah dicatatnya di buku catatan kecil yang setiap hari dibawanya. Paling tidak nama pasien, keluhan dan kondisinya sekarang ini sudah lengkap tercatat. Untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba pembimbing datang dan bertanya tentang pasien.

“Iya bu....” jawab kandita cepat. Ruang pegawai berukuran besar ini digunakan sebagai posko para pegawai dan mahasiswa. Tampak beberapa wanita dan satu pria bercanda dengan bidan tara. Bola mata kandita melebar menangkap sesosok pria manis diantara mereka. Maklum, diasrama jarang ditemukan lelaki.

“Baru kamu yang datang...?” tanya bidan tara, yang dijawab anggukan kandita. Sudah jam 8.10 menit, belum ada yang datang. Beberapa mahasiswa kebidanan dan keperawatan dari kampus lain sengaja memperlama langkah mereka untuk masuk ke ruangan, mungkin mereka menganggap pastinya sudah banyak yang menunggu di ruangan. Di tambah lagi pekerjaan yang tidak pernah selesai, yang apesnya bahkan tidak berhubungan dengan ilmu kebidanan.
Mata tara masih mengawasi pria manis berhidung bangir itu. Senyumnya memukau, menguapkan segala kejengkelan kandita pagi ini. Berdasarkan percakapan bidan tara dengan mereka, kandita menyimpulkan bahwa mereka adalah co ass yang baru saja di rotasi ke ruangan ini. Ada 3 wanita dan 1 pria. Pantas saja kandita tidak pernah menemukan sosok mereka sejak beberapa hari yang lalu. Kandita terhenyak tatkala senyum pria manis itu mengembang dan mengarah padanya. Kandita melihat ke sekeliling nya pelan, hanya ingin memastikan bahwa senyum itu untuknya. Tidak ada siapapun....dan pria itu masih tersenyum....

“Kandita, kamu antar co ass rizki ini melihat pasien kita. Dia yang bertugas follow up pasien....” perintah bidan tara. Di sambut tangan rizki yang mengulur ramah tepat di hadapan kandita. Kandita tersenyum kaku.

“Kandita sayang, tolong kamar mandi pasien sedikit dibersihkan ya....” perintah bidan tara. Sial!! maki kandita, kenapa pada saat dia harus menemani rizki tugas itu diberikan....

“Nama kamu kandita...” tanya rizki. Kandita mengangguk, entah mengapa suaranya tiba-tiba tidak mampu dikeluarkannya. Kandita mengambil buku riwayat pasien dan menyerahkannya kepada rizki yang sudah berada di dekat pasien.

“Ibu, saya bidan kandita yang akan merawat ibu pagi ini...”sapa kandita, senyumnya mengembang. Sebuah rutinitas yang diwajibkan sebelum melakukan tindakan apapun kepada pasien. Ibu tuti membalas senyumannya. Tapi senyumnya sedikit aneh.

“Trimakasih ya kandita...!” rizki masih dengan senyuman manisnya. Wow, mimpi apa aku tadi malam...semua orang memberikan senyum manisnya pagi ini.

“ok...” jawab kandita acuh. Kandita meninggalkan rizki yang melakukan beberapa pemeriksaan rutin pada bu tuti, kandita mengawasi cowok jangkung, berambut hitam itu dari kamar mandi, setiap gerakan dan ucapan-ucapannya yang lembut mengundang kekaguman kandita. Kandita pura-pura serius membersihkan dinding kamar mandi dengan sikat tatkala rizki mencuri pandang ke arahnya.

Siraman terakhir kandita menuntaskan pekerjaannya kali ini, benar-benar tugas yang berat...selain menjaga pasien, membersihkan alat-alat sekaligus menjadi pembersih ruangan. Wow..luar biasa tugas seorang mahasiswa kebidanan. Kandita merapikan seragam dan riasannya.....Ada kaca di dinding wastafel yang lumayan bisa menampilkan dengan jelas wajahnya.

“Ngomong-ngomong kamu tinggal dimana...” suara rizki terdengar sangat dekat. Kandita membalikkan badannya. Ada rizki yang masih dengan senyuman menggantung di bibir merahnya.

“eh...maaf saya agak susah untuk mengatakannya....” rizki mendekati kandita yang tiba-tiba menegang kaku. Pikiran kotor berkecamuk di benak kandita. Memang kandita menyukai rizki pada pandangan pertama, tapi bukan secepat ini.....bathinnya. Tangan rizki menyentuh punggungnya, perasaan kandita berkecamuk..

“kamu mau apa...” tanya kandita cepat.

“Tenang dulu...” rizki menenangkan kandita.

“Apaan sih......” wajah kandita berubah cemberut. Cemberut yang sengaja dibuat-buat tentunya. Kandita tidak menyadari bahwa pesonanya begitu cepat merasuki jiwa rizki. Sebuah imajinasi memenuhi kepala kandita.

“Aku cuma mau ambil ini......” rizki menyerahkan sebuah kertas yang bertuliskan “SAYA HARI INI TIDAK MANDI” yang tertempel di punggung kandita tanpa disadarinya. Wajah kandita memerah, matanya hanya menunduk memandangi tulisan merah itu. Kandita tahu dan memastikan bahwa ini perbuatan dora.....pasti Dora.....!!!!!!

“Kamu sudah mandi kan....?” rizki kembali tersenyum, dan kali ini tertawa.....
 
 “Sial banget nasib lu dita...” maya tertawa senang. Disambut tawa dua orang rekan lainnya.
“Trus nasib dora gimana...??” tanya puja.
“Yachhhhhhhh, nasib dora yang menentukan Tuhan bukan urusanku.....” jawab kandita seenaknya.

“Serius dong, dora kamu apain dita...” desak si lembut anne.

“udah aku kempesin badannya......” tawa kandita meledak. Maya, puja dan anne saling berpandangan....tidak mengerti maksud kandita.

“yach tapi ceritaku ini nggak separah puja kan....????”

Mereka memandang puja sambil mendelik......sementara yang dilihat hanya meringis..

Lain pengalaman kandita, lain pula yang dialami puja. Wanita periang dengan wajah nya yang sedikit diatas rata-rata, tapi hanya sedikit saja tidak lebih. Kalau dinilai dengan angka bisa mendapat nilai diatas enam dibawah tujuh, tapi kepercayaandirinya yang menganggap wajahnya paling cantik se dunia melemahkan semuanya. Puja sangat menggemari artis-artis korea dengan wajah oriental. Apalagi cowok-cowok bermata minimalis, sangat menarik perhatiannya. Wajahnya memang sedikit oriental, tapi kalau mendengar namanya “Puja kajola”, pasti orang menyangka dia produk dari bolliwood. Seakan tanpa bosan puja menjelaskan historis namanya yang terinspirasi oleh film-film dari negeri amithabachan itu.

“Sewaktu ibuku hamil, dia suka nonton film india.....jadi nama puja itu diambil dari salah satu film..bla..bla.....” urai puja selalu. Teman-teman sekampusnya hampir 100 kali mendengar kisah yang sama diputar berulang-ulang kali, sampai-sampai kalau ada yang bertanya perihal nama puja, kandita mampu memberikan penjelasan se detai-detailnya..

Hari minggu adalah jadwal pesiar alias mahasiswa boleh keluar asrama dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Ingin rasanya puja mengajak anne jalan-jalan...paling tidak mencari udara segar di luar sana, tapi kesibukan anne di perkumpulan remaja mesjid kampus membatasi langkahnya. Maya sudah pasti sibuk dengan pacar-pacarnya. Sedangkan Kandita katanya pulang ke rumah orang tuanya yang kebetulan tidak terlalu jauh dari kampus, ada acara keluarga. Tinggallah puja sendiri tanpa ke tiga sohib kentalnya.

Melihat beberapa peralatan mandinya yang sudah habis, puja melangkahkan kakinya ke mall yang letaknya di pusat kota. Tidak terlalu jauh dari kampus hanya mengeluarkan ongkos angkutan 3000 perak saja. Puja bisa jalan sekalian windows shopping alias cuci mata meski yang dibeli hanya sabun mandi dan sikat gigi. Puja berjalan menyusuri salah satu butik pakaian yang berada di sudut mall, letaknya di lantai 2. Terlihat banyak wanita sebayanya yang mengunjungi butik itu. Biasa di negara kita, kebiasaan latah masih melekat, melihat kerumunan orang disana memaksa langkah puja untuk mencari tau ada apakah gerangan....

Butiknya unik, tidak seperti toko kebanyakan. Konsepnya glamour dan jelas sekali menunjukkan kelasnya. Ada beberapa merek baju terkenal dengan model terbaru, pastinya belum ada temannya di asrama terlihat menggunakan baju yang sama. Puja mengambil salah satu dress pink muda yang terpajang di rak tengah, selanjutnya mencocokkan badannya di cermin dengan baju yang dipegangnya. Kelihatan manis, bibirnya mengembang. Di ambilnya lagi baju berbahan kaos yang berada tepat disebelah baju sebelumnya kali ini berwarna biru. Kedua baju yang ada di tangannya memenuhi kaca, tapi mata puja tidak bisa berpindah ke lain hati, dress anggun berwarna pink muda sangat menarik perhatiannya. Puja iseng mencari label harganya, ..tapi tidak kelihatan.

“Ada yang bisa saya bantu....!” tiba-tiba seorang SPG mendekati puja, mungkin sedari tadi dia sudah memperhatikan tingkah laku puja.

“eh...ini saya mencari harganya....”puja kikuk.

“Coba saya lihat....” Wanita seksi dengan dandanan menor itu memeriksa di balik baju itu, tampaknya dia mulai mencari di antara lipatan. Puja mulai gelisah, sebenarnya dia hanya iseng mau lihat-lihat saja, dan tidak pernah terpikir untuk membeli kecuali dijual dengan harga diskon 100%.

“Harganya 250 rb, ini model terbaru mbak, baru saja dipajang....”

Puja tersenyum manis, duitnya pasti tidak cukup buat beli baju...Uang jajannya saja tidak sampai 200 rb per minggu.

“Coba saja dulu...” bujuk wanita seksi plus berdandan menor itu, puja merasa tersudut. Harga dirinya seakan dipertaruhkan. Meski tidak punya duit, tapi dia tetap berhak untuk melhat-lihat, bathin puja. Wanita bertubuh langsing itu membawa dress pink itu ke ruang ganti dan mulai mencocokkannya. Manis sekali, warnanya, modelnya sesuai keinginan puja...tapi bila melihat harganya, puja jadi hilang selera.

Perlahan wanita berambut sebahu itu meletakkan kembali baju itu di tempatnya semula, kebetulan si mbak tidak ada di tempat. Saatnya menghilang dari kenyataan ini, pikir puja.
jantung nya hampir copot saat kembali mendengar suara wanita itu.
“Bagaimana mbak....” tanya reni, puja membaca barisan nama di dada kirinya. Reni menampilkan senyumannya yang kaku. Senyum penuh curiga...

“Terlalu kecil.....”jawab puja sekenanya.

“Ada ukuran kok...”

Puja semakin terjebak dengan sandiwara yang dibuatnya sendiri.

“Modelnya sebenarnya kurang sesuai dengan selera saya.....” jawab puja akhirnya sebelum meninggalkan wanita itu sendiri, masih sempat puja melihat omelan sinis wanita itu yang mulai menyebarkan virusnya ke rekannya yang lain.

Salah sendiri....., bathin puja.
Setelah puas melihat-lihat, akhirnya puja sampai juga di supermarket, tujuan utamanya membeli sebuah sabun mandi merk terkenal dengan harga miring dan sebuah sikat gigi kalau duitnya lebih ditambah coklat toblerone. Simpel bukan, meski di warung samping kampus juga banyak, tapi pengalamannya pasti beda.

Puja terkesiap...., di ujung pandangan matanya yang jaraknya 10 meter..ada sesosok pria putih tinggi sedang melihat-lihat sebuah majalah. Sosok pria idaman puja, tinggi sekitar 180 cm...wajah oriental...mirip artis-artis korea, penampilannya juga keren. Dia memakai kaos oblong berwarna hitam...puja menebak usianya masih 20-an.

Pria itu beralih ke barisan alat tulis, puja masih mengamati pria itu dengan sudut matanya. Mencoba mendekat dengan melihat-lihat majalah yang tadi di pegangnya. Jarak mereka hanya terpaut 1 meter, tapi terpisahkan oleh sebuah rak. Puja memperhatikan pria itu dari samping, hidung mancungnya sangat menarik, seperti cowok-cowok di film four before flowers asal korea. Merasa diintai gerak-geriknya, pria itu berpindah ke tempat yang lebih jauh dari tempat tadi. Kali ini dia mengarah ke barisan peralatan elektronik...langkahnya terhenti di depan TV 32 inch. Puja mengendap-endap mengikuti langkahnya, rasa penasarannya memenuhi benak puja. Puja berpura-pura melihat barisan kompor gas saat pria itu melirik ke arahnya.

Tapi, ups....pria itu melangkah panjang, puja mengikutinya dari jarak yang tidak terlalu jauh, tapi langkahnya keluar supermarket......dengan hampir berlari puja mengejar langkah pria itu.

“Maaf...sepertinya saya punya teman mirip kamu...” puja memberanikan diri bertanya, nafasnya masih tersengal-sengal.

Pria itu menghentikan langkahnya, matanya mencari sumber suara yang sekilas didengarnya. Tapi tidak membutuhkan waktu lama karena puja sudah ada tepat di belakangnya.

“kamu berbicara dengan saya....” tanya pria itu,..

“Iya....kamu mirip sekali dengan teman saya andre yang sekarang tinggal di kalimantan, apakah kamu mengenalnya....kami sudah lama tidak bertemu....” karang puja. Tiba-tiba saja cerita itu mengalir dari bibirnya. Tentu bukan cerita sebenarnya, hanya sebuah alasan untuk bisa berkenalan.

“Oh...saya tidak tahu....” pria itu tersenyum manis..membuat jantung puja berpacu cepat.

“Tapi mungkin bapak yang ada di belakang kamu tau....” sambungnya lagi.

Puja seketika membalik dan terkejut melihat dua orang satpam lengkap dengan pentungannya memandang nya tajam. Puja bingung...Apa urusannya dengan satpam. Puja masih akan mengejar pria itu yang tersenyum sambil berlalu kalau tidak tangan salah satu satpam itu mencekalnya erat.

“Awwww.....sakit pak, apa-apaan sih...” jerit puja. Tapi tangannya tidak kunjung terlepaskan.

“Adik harus kami bawa ke kantor....” salah satu satpam berkumis tebal mulai bersuara tajam.

“Apa salah saya....” bantah puja...

“kamu tertangkap mencuri....”

“Saya tidak mencuri.....!” bela puja tidak kalah sengitnya.

Satpam menunjuk barang yang ada di genggaman puja, sebuah sikat gigi, sabun mandi dan coklat...puja meleleh......

“Tapi saya tidak berniat mencuri pak.......” mohon puja.

“Ayo ikut ke kantor.....!” Puja di tarik menuju kantor, beberapa pasang mata menatapnya sinis.
Gara-gara pria oriental itu puja lupa kalau tangannya masih memegang barang kebutuhannya sampai di luar supermarket. Puja seperti duduk di kursi pesakitan, dengan mata tajam dan sinis yang mengawasinya. Pejabat yang korupsi milyaran rupiah saja masih di jamu dengan baik, sedangkan hanya mengambil barang murahan saja seakan terdakwa hukuman mati, bela puja tapi dalam hati. Dari kaca pembatas ruangan puja menangkap sosok yang sudah teramat di kenalnya. Yach...kandita, Cuma kandita yang bisa menyelesaikan ini...itupun karena dia mengaku mempunyai paman yang bisa dijadikan jaminan agar masalah ini tidak sampai ke polisi.

“Puja...apa nggak ada masalah yang lebih keren dari ini....” Kandita memberondongnya.

“Semua gara-gara cowok oriental itu dita....”

“Ihhhh......dasar gila kamu ya, malu tau!!!” bentak dita..

“Sorry.....tapi aku bukan berniat mencuri dita....” mata puja memohon. Puja berharap pada paman kandita yang mulai bernegosiasi dengan manager supermarket, kelihatannya sengit...tapi apa yang bisa diperbuatnya....

“Kamu dibebaskan, tapi dengan surat pernyataan....” paman kandita menyerahkan surat pernyataan yang puja tidak tahu isinya apa.

“Hanya formalitas saja puja...”

Tanpa pikir panjang puja memberikan tanda-tangannya. Setelah itu mereka berlalu dari supermarket itu..

“Dasar gila kamu ya......” kandita tidak henti-hentinya memakinya. Tapi puja tidak tersinggung, terhindar dari masalah ini saja merupakan anugerah terindah...

Diantara mereka berempat, anne yang paling tidak bisa ditebak isi hatinya. Rekam jejaknya dengan pria selama ini juga tidak pernah terungkap, apalagi tertangkap kamera pengintai ketiga sahabatnya. Tapi getar asmaranya sempat terbaca oleh puja, kala itu anne tampak sangat antusias meceritakan perihal diko, matanya menyala-nyala penuh gairah. Diko, katanya adalah sosok yang penuh wawasan dan sangat menarik.

Anne memang menyukai pria-pria pintar secara akademis, mungkin karena dia juga punya otak yang cemerlang. Tapi sayang diko memilih maya........hidup memang kejam..........

Sekejam hari ini..........
“Hari ini ujian...............” jerit sebuah suara yang gaungnya sedemikian jelas menembus dinding kamar asrama. Masih jam 6.30 pagi, tapi informasi yang terdengar ganjil memancing reaksi sebagian besar mahasiswa di asrama itu, membuat suasana menjadi kacau....semua mahasiswa berlomba untuk melewati pintu kamar terlebih dahulu , tujuannya hanya satu....memastikan berita yang baru saja dikumandangkan.

“Hey.........ujian apa?” tanya kandita, tangannya mencegah langkah sahabatnya, gita namanya.

“Askeb 5.........jam 8 pagi ini....” jawabnya terengah-engah.

“Bukannya lusa....................” tanya kandita, dan diamini oleh suara-suara yang lain.

“Lusa bu yola pelatihan di luar kota.....” jelasnya. Gita menyerahkan kertas yang berisi pesan dari ibu asrama sebagai bukti fisik bahwa informasi ini benar adanya.

“Siapa yang kasi info.....” tanya kiki, sahabat kandita satu kamar, yang masih berada di singgasananya alias di tempat tidur paling atas.

“Ibu asrama......barusan di telpon bu yola....!”, putus gita. Gita menarik kertas itu dari tangan kandita dan mempercepat langkahnya menuju kamar yang letaknya paling sudut. Kegaduhan terus berlanjut, teriakan terjadi dimana-mana. Bagai kerasukan setan masing-masing mahasiswa sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ada yang membuka buku, ada yang duduk termenung...tapi mayoritas mereka hanya berceracau serta membahas info tadi berulang-ulang saling sahut menyahut.....sedikit terdengar menyumpah dan mengutuk.....

Sementara Kandita segera bergegas mengganti piyamanya dengan seragam putihnya. Kandita memang terkenal paling cepat sampai di kelas, terutama pada saat ujian. Tugasnya hanya meletakkan buku di masing-masing kursi incarannya. Biasanya kandita tepat meletakkan 4 buah buku, dengan tokoh sentral anne yang diletakkan di tempat strategis. Lagi-lagi posisi yang menentukan prestasi. Semua orang tidak mau mati konyol pada saat ujian. kandita ahlinya menyusun strategi dan itu disebutnya sebuah kepintaran yang lain.

“Kandita...aaaaaaa....aaaaaa....” teriak puja dari ujung kamarnya. Piyama bercorak bunga matahari kuning melindungi kulitnya yang kuning langsat. Rambutnya masih acak-acakan, kelihatan baru bangun tidur..matanya terlihat segaris..

“Cariin tempat duduk yang deket kamu ya....” tangannya masih memegang sikat gigi dan sabun. Mereka terpisah dua kamar. Sementara anne dan maya berada di kamar yang paling ujung......

“Kok cepet banget sih, nggak mandi lagi ya....” ejek puja sambil nyengir...

“Cepetan....!” jawab kandita. Tangannya mengepalkan tinju ke arah puja. Sejak peristiwa riski lalu, kandita tidak lagi pernah lupa mandi kalau sedang kuliah, kejadian itu benar-benar mengusik rasa malunya. Kandita bertekad tidak akan menegur riski selama seminggu dinas di ruang bersalin, meski riski sering menggodanya dengan canda-canda garing......Ia melangkah cepat, kalaupun ruangan kelas belum di buka ia bersedia mengambil kunci di ruang ibu asrama dan membukakannya..dengan satu tujuan..tiba pertama kali dan misinya beres.

“Senjata kamu apa hari ini...” kandita menodong puja sambil melotot. Puja tersenyum penuh arti, sambil tangannya memegang tempat pensilnya.

“Ada deh, sudah aku persiapkan sejak 3 hari yang lalu.......” jawab puja dengan mimik lucu, seakan sudah siap tempur hari ini. Sebagian besar mahasiswa yang masih berada di semester 4 itu menduduki posisinya masing-masing. Hanya beberapa orang saja yang kelihatan mondar-mandir melihat situasi.

“Bu karina......!!!” pekik dora kencang yang tiba-tiba masuk kelas. Dari kejauhan terlihat bu Karina berjalan cepat menuju kelas.. Bu karina terkenal tanpa ampun bila mengawas mahasiswa ujian, sedikit saja gerakan yang mencurigakan sudah memancing reaksinya. Masih muda memang, baru 2 tahun tamat dari pendidikan strata D4, tapi luar biasa galaknya.

“Kayanya bakal kiamat hari ini......”bisik puja sambil melirik kandita yang berjarak satu meter di sebelahnya. Puja mengamati perilaku kandita yang terlihat tanpa beban, tangannya menuliskan sesuatu di sebuah kertas berukuran mini...

“Sssttt......” maya yang berada di belakang kandita juga bereaksi... Puja memperhatikan anne yang tampak sangat tenang sekali. Anne adalah sosok teman yang baik, suka memberi, dan suka menabung....tapi kalau sedang menghadapi situasi ujian, kebaikannya seakan menguap. Cenderung pelit dalam berbagi jawaban soal-soal ujian. Bicara soal prestasi akademis, anne jagoannya....wanita manis memakai jilbab itu selalu mendapatkan peringkat 1 di kelasnya..bahkan beasiswa penuh selalu menjadi haknya. Posisi anne tepat di belakang puja...

Suasana hening saat bu karina memasuki ruangan kelas. Langkahnya pasti. Matanya menyapu seluruh sisi kelas....sejenak wanita bertubuh tinggi semampai itu berjalan diantara lorong-lorong kursi berbaris tiga yang tersusun rapi. Pandangannya mengarah tepat ke arah buku-buku yang berserakan di bawah kursi. Selama beberapa detik bu karina berada di barisan kursi paling belakang...membuat mahasiswa salah tingkah.

“buku semua diletakkan di luar....” perintah bu karina disambut teriakan lemah sebahagian besar mahasiswa...yang ntah kenapa bisa dengan kompak menyebutkan salah satu huruf vokal UUUUU yang berkepanjangan.

Kertas dibagikan ke masing-masing mahasiswa......100 soal pilihan ganda, waktu satu jam. Puja melirik ke tiga sahabatnya. Kandita masih tampak tenang, pasti dia mempersiapkan sesuatu..karena mustahil kandita belajar tadi malam..mereka berdua adalah fans berat belajar semalam sebelum ujian. Sementara anne terlihat sangat santai, tapi kalau sudah berjalan ujian...keningnya sering berkerut, mungkin biar disangka yang lain dia juga berfikir keras. Sedang maya, cukup pintar tapi malas belajar, dengan kepintarannya bersilat lidah jawaban bisa dengan mudah di dapatnya. Pasti sedikit diiming-imingi sesuatu, maklum maya berasal dari keluarga lumayan....

Anne tidak bergeming meski puja berkali-kali mendesiskan namanya. Anne sibuk dengan hapalannya dan mencoba mencocokkan apa yang dipikirannya dengan lembar jawaban soal. Puja mengalihkan pandangannya ke arah kandita yang dengan sengaja mengarahkan lembar jawabannya agar bisa terlihat puja. Memang cuma kandita yang bisa diharapkan, bathin puja. Tapi sudah 30 menit berlalu, baru 30 soal yang mampu dijawab puja..waktu berjalan sedemikian cepat..detaknya nyaris terdengar. Keributan kecil terjadi dimana-mana. Kegelisahan merasuki sebagian besar mahasiswa.

“Hey.....puja, lama-lama kepala kamu patah.......kalau lihat ke samping dan belakang terus....!” bentak bu karina, kontan membuat seisi kelas terdiam. Puja tertunduk.....tidak berani menatap bu karina, tapi dalam keadaan tertundukpun puja masih sempat melirik lembar jawaban kandita dari sudut matanya. Merasa tidak ada kesempatan melirik kiri dan kanan, perlahan ia mulai mengeluarkan senjata rahasianya dari kotak pensilnya. Sebuah catatan kecil tertulis rapi...secepatnya puja meremas kertas kecil itu dan menyelipkannya di kantongnya. Sedemikian asyik puja dengan catatannya sampai ia tidak menyadari ada yang mengamatinya dari jarak 20 meter.

“Eh, bu karina....”puja meringis ....wajah bu karina sekarang berada tepat di depan puja. Tangannya meraih kotak pensil puja, dibukanya dan dikeluarkannya catatan kecil berbagai bentuk. Lipatannya rapi sekali....

“di kantong kamu....” perintah bu karina. Puja enggan merogoh kantong seragamnya sampai bu karina berusaha mengambil sesuatu...dikeluarkannya catatan kecil...

“yang kamu duduki....” tanya bu karina lagi...... dan lagi sebuah catatan kecil yang sudah kusut disana...Puja memandang teman-temannya yang pura-pura sedang mengerjakan soal meski ada senyum di sudut bibir mereka. Terutama kandita yang berada di samping puja, senyumnya tertahan....

“Kamu pindah ke depan.......” putus bu karina.

“Tapi bu, saya tidak bisa berpisah dari kandita...........kami kembar bu...!” mohon puja.

“kembar darimana.......dari hongkong!!!” mata bu karina melotot, segera bu karina memaksa puja pindah tempat.

“Masih untung kamu tidak saya keluarkan dari ruangan ini....” mata bu karina seakan mengunci bibir puja. ..
 Puja menatap kosong lembar jawabannya. Suasana ujian menjadi sangat hening. Teguran keras bu karina telah mengunci mulut-mulut mungil seluruh mahasiswa, meski terkadang terdapat kasak kusuk di beberapa tempat.

“5 menit lagi.....” seru bu karina yang jaraknya hanya terpaut 1 meter saja dari puja. Paras cantiknya tertutup oleh matanya yang melotot tajam ke berbagai penjuru. Puja tidak mampu berbuat apa-apa...dihitungnya kancing bajunya. Jawaban mulai terisi.......kemudian tanpa membaca soal, puja melingkari seluruh jawaban. Dan senyumnya mekar tatkala jawabannya tuntas bersamaan dengan habisnya waktu. Segera puja mengumpulkan lembar jawabannya......

“Gimana, kamu bisa jawab tuh soal.....” tanya kandita setibanya di luar kelas..

“Susah banget....” timpal anne dari sisi kanan puja.

“Hanya Tuhanlah yang tahu.................” lirih puja lemah. Puja tidak yakin dengan jawabannya. Karena hampir seluruh jawabannya adalah hasil dari feelingnya, bukan pengetahuannya. Tentu saja dengan bantuan kancing baju seragamnya untuk menentukan keputusan pilihan jawaban.

“Maya mana...?” tanya kandita sambil mencari ke sekeliling mereka.
Seperti di komando puja dan anne menggeleng cepat.......

Sementara.................
Maya melangkah cepat menyusuri koridor asrama, gerakannya tangkas bahkan hampir setengah berlari. Maya menyambar gaun merah yang tergantung rapi di lemari pakaiannya dan menyimpannya di dalam sebuah tas. Sepatu dengan warna senada juga sudah terbungkus rapi, di bawah tempat tidurnya. Diambilnya bungkusan itu dan dijejalkan ke dalam tas kuliah berukuran sedang. Beberapa make up juga sudah sedari tadi berada di dalam tas merahnya itu.
Maya menambahkan riasan diwajahnya, sedikit jerawat tampak menghias kening wanita berambut panjang itu, buru-buru maya menyamarkan dan menimbunnya dengan alas bedak. Segera maya keluar dari kamarnya dan melindungi kepalanya dengan beberapa buah buku. Masih menggunakan seragam kuliah, baju putih bercampur biru muda. Jam ditangannya berdetak 10 kali...beberapa kelas terlihat konsentrasi dengan perkuliahannya...terbukti dari pintu ruangan yang ditutup rapat. Karena masih jam kuliah, maya dapat melenggang dengan mudah keluar dari asrama tanpa mengundang kecurigaan. Beberapa buku di tangan akan meyakinkan orang-orang yang berkompeten untuk melarangnya keluar, untuk tidak terlalu banyak tanya. Tapi meskipun ada yang mencoba menghalangi...Maya berkeras, tentu dengan alasan klasik “Mencari bahan untuk membuat tugas”, meski tujuan yang sering diucapkannya itu tidak pernah diwujudkan.

Maya tersenyum pada sebuah sosok manis yang muncul di balik jendela sebuah mobil yang hanya terpaut beberapa langkah saja. Secepatnya maya menghampiri dan masuk ke dalam mobil itu, senyumnya mengembang.

“Udah lama sayang...” tanya maya manja.

“Demi kamu...sampai besok juga aku rela.....” gombal pria itu, yang diketahui bernama dimas. Seorang mahasiswa jurusan ekonomi. Kulitnya sawo matang, ukiran senyumnya sungguh memikat. Ditambah lagi dengan barang-barang yang melekat di setiap aktifitasnya...seakan menjadi magnet untuk menarik wanita-wanita cantik berputar-putar disekelilingnya. Termasuk maya yang terkenal mencari cowok “apa adanya”, yang sering dipelintirkan menjadi “ada segala-galanya”. Sayangnya Dimas tidak terlalu serius kuliah, dengan fasilitas yang super lengkap, dan gaji bulanan sebagai mahasiswa yang melebihi gaji orang kantoran, membuat dimas tidak terlalu antusias menyelesaikan skripsinya. Meskipun sering mendapat ultimatum dari kedua orang tuanya.

“Kita makan dulu ya....” tukas maya. Maklum makanan di asrama sering tidak cocok di lidah perempuan bermata indah itu. Judulnya saja sayur tumisan tapi pada kenyataan layaknya rebusan. Dan maya sering tidak menggunakan haknya untuk makan di asrama. Dan kesempatan seperti ini merupakan momen yang tepat untuk memuaskan nafsunya makan di restoran mewah..

“what ever u say.....” senyum dimas. Tangannya menyentuh kuncir rambut maya. Matanya menatap maya dengan tatapan aneh. Mereka belum lama menjalin asmara, baru 1 bulan resminya. Tentu saja maya sudah bermain api dengan dimas sebelum maya putus dari diko. Dimas punya nilai plus di mata maya, dengan dimas maya nyaman terlindung dari sengatan matahari, wajahnya juga terbebas dari bahaya sinar ultraviolet. Sementara bersama diko, maya harus berpanas-panasan di jalanan dengan motor kebanggaannya, belum lagi harus duduk di jalanan karena motornya beberapa kali mogok.

Mobil melaju membelah sesaknya jalanan, menuju sebuah pusat perbelanjaan. Maya menentukan pizza hut sebagai menu makan siangnya. Untungnya dimas setuju, tapi tepatnya dimas memang selalu setuju dengan maya, tidak tahu apa yang membuat dimas seakan menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya. Dimas memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran yang tidak jauh dari lokasi pusat perbelanjaan.

Mereka menapaki tangga demi tangga mall itu, dimas merengkuh bahu maya erat. Dimas memesan pizza berukuran sedang serta minuman ringan. Sementara maya sibuk mengganti pakaiannya di toilet wanita. Maya sungkan membawa-bawa institusi profesinya yang terlihat dari seragamnya, yang bisa saja tercemar karena perilakunya. Ditambah lagi, bu Rasti...seorang dosen dan bidan senior di kampusnya sering menggaung-gaungkan “Bajumu ada lah harga diri profesimu, jadi kalau di bawa ke tempat-tempat yang tidak baik...maka orang akan menganggap profesimu tidak baik.....!!!”.

Maya menyemprotkan farfum Jlo di lehernya....dan di beberapa tempat sensitif yang bisa menimbulkan bau tidak sedap sebagai pamungkas dari rangkaian dandanannya. Dipandangnya sekali lagi wajahnya yang tampak lebih cerah dan cantik. Beberapa kali badannya di putar, untuk melihat dari segala sisi, mana tau ada yang terlihat tidak sempurna.

“Cantik banget...” puji dimas, tangannya menyentuh ujung hidung maya yang tersipu.

“Apaan sih.....” kilah maya seraya memainkan ujung rambutnya. Makan siang kali ini dibumbui dengan kata-kata mesra dan canda tawa, mereka bahkan duduk sangat dekat tanpa pembatas apapun. Apalagi lokasi tempat duduk mereka berada di pojok ruangan. Sudah 2 jam berlalu tapi seperti 10 menit rasanya..

“Sayang, ada baju yang baguss...banget!!! kemarin mama lihat....” rayu maya. Sebutan mama dan papa terdengar basi memang, tapi maya seakan nyaman dengan panggilan itu.

“Trus, mama mau...!” dimas memegang tangan maya erat. Ditelusurinya jari demi jari maya dengan lembut.

“iya dong sayang......”

Maya menggandeng tangan dimas memimpinnya memasuki sebuah butik cantik. Maya melihat baju-baju bermerk dengan koleksi terbarunya. Sebenarnya maya tidak pernah masuk ke butik ini, hanya saja ini sebuah alasan untuk dapat memuaskan hobbinya belanja baju-baju baru, dan dimas selalu dengan sukarela menghambur-hamburkan uangnya untuk maya. Beberapa buah baju dengan harga lumayan sudah menjadi haknya. Dan maya belum puas...perempuan bertubuh ideal itu masih menginginkan sepatu dan beberapa jepit rambut. Tentu saja semua barang itu segera menjadi miliknya. Dimas merengkuh pinggang maya, tangan jahilnya asyik memainkan setiap lekuk tubuh maya, dan anehnya maya membiarkannya.....aksi itu masih berlanjut sampai beberapa jam film romantis bermain-main di pelupuk mata mereka...

“Dimas, udah jam 7 malem.....mama harus balik ke kampus...” bujuk maya..

“belum jam 9 sayang, bukannya pengecekan dilakukan jam 9 malam....!” bantah dimas, mereka baru saja keluar dari gedung bioskop..

“Aduh...tapi, mama takut ntar ketauan pak satpam....” maya memelas...wajahnya sengaja dibentuk se sendu mungkin. Dan bisa dipastikan dimas tidak mampu menentangnya..

“Kamu pernah janji, mau aku ajak ke diskotik. Kapan dong.....” tagih dimas.

“Jangan sekarang ya...besok mama ada ujian....” maya berbohong. Sekarang yang paling penting adalah dapat meloloskan diri masuk ke dalam asrama sebelum bel berbunyi.
Maya mengganti gaunnya dengan seragam kuliahnya, rambutnya sengaja di acak-acak agar tampak lusuh. Seiko ditangannya menunjukkan pukul 7 lebih 15 menit. Mobil melaju dengan terseok-seok, kemacetan terjadi dimana-mana. Kebetulan lokasi kampus dan asrama maya tidak jauh dari pusat kota. Hanya saja untuk sampai ke lokasi itu, melewati daerah dengan lalu lintas padat. Maya membayangkan wajah anne yang pasti akan penuh tanda tanya, belum lagi puja dan kandita. Maya melambaikan tangannya ke arah mobil dimas tatkala pria itu meletakkannya tepat di sebuah warung kecil, beberapa meter dari kampusnya. Maya menitipkan tasnya pada pak herman, pemilik warung....untuk diambil keesokan harinya. Wanita itu hanya menyisakan beberapa buah buku beserta fotocopian yang memang sudah dipersiapkan sejak sebelum keberangkatannya.

Maya melenggang santai memasuki pintu gerbang kampus sekaligus asramanya..ada pak Udin yang mencegah langkahnya masuk ke dalam kampus.

“Darimana maya....?” tanya pak udin. Gerakannya sigap menghampiri maya.

“Dari luar pak, fotokopi....” maya menunjukkan buku dan beberapa lembar fotokopiannya. Maya juga menyodorkan 3 buah coklat mahal yang di belinya di warung pak herman. Dan pak udin menyambutnya dengan sukacita, maya bebas......!!!

Di ruang ibu asrama belum terlalu banyak orang berkumpul, masih ada waktu 20 menit lagi sebelum bel pemeriksaan malam di bunyikan. Maya menyusup di antara kerumunan mahasiswa yang akan berangkat dinas, matanya menatap lurus ke depan, sengaja bahasa tubuhnya dibuat se santai mungkin, untuk menghindari kecurigaan terutama ibu asrama yang tampaknya tidak beredar bebas malam ini.

Maya berjalan cepat menuju kamar ke-tiga, langkahnya terburu tatkala mendapati daun pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Maya memejamkan matanya, ia menghirup udara dalam-dalam seakan baru menderita asfiksia berat....

“dari mana may.......” sebuah suara mengagetkannya. Maya membuka matanya dan tampak anne, puja dan kandita sudah berada tepat di depannya. Maya gugup..

“ehm...tadi ada acara kecil-kecilan di rumah eva, temen SMA ku.....” maya mencoba menjawab se ringan mungkin. Tangannya meraih ikat rambut baru yang ada di saku bajunya. Maya menarik rambutnya tinggi dan mulai mengikatnya sembarangan, tapi tampak seksi.

“acara atau acara..........” puja tersenyum tipis, matanya mencoba memberi pengaruh kepada 2 sahabatnya itu...

“Beneran.......acara ultah!” bohong maya. Langkahnya menuju ke arah lemari pakaiannya, maya tidak sanggup menatap mata ke tiga sahabatnya itu, takut kalau kebohongannya terbongkar....

“ehm....acaranya seru ya” tanya anne.

“seru banget!!!” jawab maya cepat. Tangannya pura-pura mencari sesuatu, meski ia tidak yakin apa...

“Pantes aja leher kamu sampai merah-merah begitu.....” beber kandita...

Maya melihat beberapa bercak merah bekas gigitan tampak jelas di beberapa bagian lehernya, maya spontan menutupnya dengan ujung kerah baju seragamnya...

“digigit nyamuk, soalnya lokasinya di out door....” jawab maya..

“Nyamuk or manusia??????” timpal puja. Maya berbalik, matanya menatap tajam ke arah puja, ada amarah yang meluap disana.....

“Kamu pikir aku perempuan apa......!!” suara maya parau. Sinar kemarahan tampak menyala-nyala dari bola matanya. Maya merasa ruang sensitif pribadinya terkoyak.
“Trus kenapa harus marah may...!!Santai sajalah...” puja tersenyum sinis, matanya menantang maya.

“udah....ssttttt.......” desis anne. Jari telunjuk kanannya menempel di bibir mungilnya. Anne mencium aroma kemarahan yang nyata di antara mereka. Terutama maya...wajahnya bersemu merah, dan tangannya mengepal.

“Kamu menuduh aku....” tuntut maya, bibirnya bergetar.

“Aku cuma tanya...bukan menuduh....!!” bela puja. Kandita mendelik ke arah puja, memaksa puja mengalah. Tapi puja sudah terlalu sering mengalah untuk maya. Kesabarannya juga ada batasnya.

“Bilang saja kamu iri sama aku.......” senyum tipis menghiasi bibir maya.

“Apa hubungannya...!!” sambar puja.

“jelas kamu iri karena kamu tidak pernah punya pacar...” cibir maya.

“nggak nyambung.........!!” tukas puja.

“Tapi itu kenyataannya kan....” maya tertawa puas. Maya memang tidak pernah mau mengerti kalau kata-kata yang sering dia ucapkan sering menyakiti orang lain, dan semua harus maklum karena maya. Maya yang tiba-tiba bisa pingsan karena kelelahan. Maya yang tidak terbiasa dengan kotoran... maya yang manja...

“Hahh...dari pada kamu........” puja menghentikan ucapannya. Matanya berkilat-kilat.

“Apa.....!!!” desak maya.

“Heyyyy.......udah may!!” anne mengapit maya yang mulai mendekati puja.

Sementara kandita menarik puja ke luar dari kamar.
“Apa....aaaaaaaa......!!!!” Teriak maya...yang berontak ingin mengejar puja. Tapi tertahan karena tangan anne lebih kuat mencekal pergelangan maya.
Dan bel malam berbunyi....................

Puja membawa beberapa buah buku di tangannya. Posisinya sebagai komisaris tingkat bulan ini memaksanya untuk lebih aktif di kelas. Bukan keinginannya menjadi komting, karena ia merasa jabatan itu hanya pelimpahan tugas tanpa fasillitas. Seperti hari ini, seorang dosen menugaskannya untuk meng-kofi beberapa materi kuliah yang akan dibagikan kepada seluruh mahasiswa.

Puja meletakkan bukunya di atas meja fotokofi di samping warung pak herman. Matanya menangkap sebuah buku menarik di sisi kanan meja. Puja mengambilnya, membolak-balik isinya.....sesekali ia melirik petugas fotokopi yang masih berkutat dengan kertas-kertasnya.

“Saya mau fotokofi yang ini mas, rangkap 40......dan buku ini...!” saat petugas fotokofi datang menghampiri, puja menyerahkan bukunya sekaligus buku yang menarik perhatiannya itu.

“Itu buku titipan pelanggan............” sela pria itu seraya memandang puja.

“Ya...saya bayar!!Cepetan sebelum orangnya datang.................” buru puja.
Pria itu dengan sigap mulai mengerjakan tugasnya,

Sore hari............
Puja mengambil beberapa buah lembaran kertas dan buku keramat yang baru ditemukannya tadi. Perlahan diletakkannya di tempat tidur yang paling atas. Kebetulan teman sekamarnya ada beberapa orang yang sedang dinas...selebihnya tidak tahu kemana. Hati-hati puja menaiki tangga tempat tidurnya. Puja mulai melihat-lihat buku keramat yang ternyata buku wisuda berisikan mahasiswa berbagai jurusan lengkap dengan identitasnya. Harga dirinya tersakiti mendengar ucapan maya kemarin malam, “tidak pernah punya pacar,..... dia saja yang tidak tau......”, gumam puja. Tapi meski maya belum meminta maaf sampai hari ini... puja sudah menganggapnya angin lalu.

“Ngapain bu...” tanya kandita, yang tiba-tiba muncul di mulut pintu kamarnya. Piyama merah melekat di kulitnya yang putih mulus.

“Nggak liat apa...!” puja menyembunyikan buku keramatnya di bawah bantal. Posisi tempat tidurnya ada di atas sehingga kandita tidak bisa memastikan apa saja yang puja kerjakan. Puja pura-pura menulis sesuatu di salah satu lembaran kertasnya.

“Temenin ke warung pak herman dong....!” ajak kandita.

“pengen makan coklat.....” sambungnya lagi.

“Aduh...nggak bisa dita, lagi ngerjain Askeb nih.....!!banyak bangettt....bangetttt!!!” puja memperlihatkan lembaran folio yang ada di tempat tidurnya.

“Tumben rajin...” cibir kandita.

“ Baru dapat hidayah....” jawab puja sekenanya. Tangannya asyik menuliskan sesuatu. Tidak jelas apa yang ditulis tapi berhasil membuat kandita percaya. Puja sekilas mencuri pandang ke arah kandita yang masih menatapnya penuh curiga. Seakan tahu puja sedang merencanakan sesuatu.

“serius nih..........” tanya kandita. Matanya masih mencoba mencari sesuatu yang lain disekitar puja.

“Iya ....nggak percaya banget sih.....!” puja manyun dan menjulurkan lidahnya 1 centi. Kandita berlalu.

Puja menelusuri nama-nama mahasiswa yang baru saja di wisuda pekan ini di universitas terpopuler di daerahnya itu. Tangannya mencatat nomor telpon serta alamat. Dengan cermat puja melihat satu persatu wajah serta identitas seluruh wisudawan, terutama pria. Matanya melotot tatkala ada foto yang bertuliskan status “belum kawin”. Puja segera memberi tanda merah dan melipat sisi kertasnya agar mudah bila mencarinya lagi.

Puja meraih HPnya dan mulai mengetikkan sebuah nomor cantik. Puja mengeja nama pria di foto itu...G-a-n-d-i, 23 tahun, jurusan bahasa inggris....

“Kebetulan bahasa inggrisku kacau.......lumayan dapat guru gratis, heee....” sorak puja dalam hati.

Puja meletakkan HPnya itu di teling kanannya. jantungnya berdegup bak kuda pacu. Beberapa saat tidak terdengar nada apapun. Puja mengecek kembali nomornya dan mulai melakukan panggilan lagi...

“Maaf telpon anda ada di luar jangkauan......” suara operator.

”Memangnya masih ada di kutub utara mas... sampai tidak bisa terjangkau....” . gumam puja kesal.

Puja mengamati beberapa foto yang menarik minatnya, sosok pria gagah...dengan barisan gigi sempurna, tersenyum penuh percaya diri. Ang-ka-sa, 24 tahun, jurusan pertanian.......

“Nggak apa deh, asal petani berdasi....” puja tertawa sendiri...angannya mengembara..
Puja mulai mengetikkan sebuah nomor lagi......jantungnya berdesir tatkala lantunan suara ariel peterpan memenuhi gendang telinganya. Dari ujung sana sebuah suara membuyarkan lamunannya.

“Hallo.....” suara wanita, dipandangnya sekali lagi wajah tampan yang tersenyum mempesona itu....jelas-jelas disitu di buat “status lajang”. Kenapa bisa wanita yang menjawab...bathin puja. Tapi puja selalu berfikir positif...bisa jadi kakaknya, adiknya atau mungkin sahabatnya...

“Hallo....” suara itu mendesaknya.

“Ma....mau bicara dengan angkasa...” jawab puja terbata. Puja memberanikan diri meski tidak yakin dengan suaranya.

“Kalau boleh tahu..dengan siapa ya...?” tanya wanita itu ramah. Suaranya renyah, dan sangat bersahabat, puja membayangkan seorang gadis muda.

“Saya henna, temennya......mbak siapa ya...!!” puja sengaja menyembunyikan nama aslinya.

“ Saya tunangannya...!! mbak heena sudah dapet undangan kawinan kita kan...!” suara wanita itu antusias, dengan sedikit penekanan kata “kawinan”, barangkali untuk lebih menegaskan statusnya.
Spontan puja menonaktifkan telepon genggamnya, diletakkannya HPnya jauh dari jangkauannya. Amit-amitttt.......,bathin puja sambil mengelus dadanya...

Puja mulai mencermati lagi wajah-wajah pria tampan yang ada di buku itu. Pandangannya terhenti pada sebuah nama A-R-Y-O, seorang sarjana teknik sipil, dan usianya 4 tahun di atas puja. Wajahnya segar dan memancarkan optimisme tinggi.

Perlahan puja mengetikkan sebuah nomor telpon, matanya awas memperhatikan sekitarnya. Takut kalau tiba-tiba temannya yang lain datang dan mencurigai kegiatannya. Kali ini lagu viera yang mengalun lembut di telinga puja..

“Hey...udah gue bilang jangan ganggu gue lagi.....!” bentak suara di seberang sana. Suaranya tajam dan menebarkan kebencian, sayang suaranya tidak semanis wajahnya.

“Maksudnya...???” tanya puja yang masih bingung jantungnya berdebar kencang.

“Jangan berlagak bego yach..dasar cewek murahan..!! maki suara di seberang sana.

“Jangan sembarangan bicara.....” bela puja, nafasnya naik turun.

“Sekali murahan tetap murahan...!!” kejar suara itu. Puja mematikan suara itu cepat. Dasar orang aneh......., batin puja.

“Kali aja ini mahasiswa yang suka demonstrasi anarkis di jalanan, atau perang antar fakultas ....” pikir puja lagi.

Puja meyakinkan dirinya untuk mencoba sebuah nomor lagi. Dan ia berjanji ini untuk yang terakhir kalinya. R-I-O, alumni fakultas kesehatan masyarakat, hobbynya memasak..Puja tersenyum dalam hati membayang se sosok pria penyayang keluarga dan memanjakan istri dan anaknya melalui lidahnya...puja terkekeh..

Kembali diraihnya HPnya, dan mulai mengetikkan nomor yang dituju. Tidak ada lagu yang bermain di telinga puja, hanya bunyi panggilan standar.

“hallo.....” sebuah suara....mengalun lincah dari seberang sana. Suara anak kecil....puja lagi-lagi mencermati wajah pria yang terlihat muda itu. Pantas saja dia masih punya adik kecil, wajahnya saja masih imut..

“Hallooooooo....” ulang suara itu...

“ehm...ada rio....adik manis...” tanya puja perlahan...

“sebentar ya....” jawab suara itu. Hati puja dipenuhi berbagai fikirannya. Ia mulai merangkai kata pendahuluan sebagai tanda perkenalannya.

“Pa..pa...a......a...............a..........ada telpon.......” puja mendengar suara anak itu menjerit. Secepat kilat puja mematikan HPnya, matanya terpejam...jantungnya masih berdegup kencang. Anak kecil itu memanggil papa....berarti......puja tidak sanggup melanjutkan arah fikirannya.

“Mimpi apa hari iniii.... Kemana lagi aku mencari pria-pria kesepian.........” bathin puja dan membenamkan kepalanya di bawah bantalnya....buliran bening mengalir perlahan dari sudut matanya.
 Anne story..........
“Gawat..dita!!” anne mendorong kandita bahkan hampir jatuh, ke sisi kanan ruangan kamarnya. Sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk mereka berdua saja. Gang sempit yang sering dijadikan gudang, terlihat dari beberapa benda tak terpakai tergeletak pasrah memohon belas kasihan di sekitarnya.

“Ada apa anne, tenang dulu...” buru kandita. Puja yang berada tidak jauh dari mereka menangkap gelagat itu langsung beranjak mendekati Kandita dan anne. Wajahnya penuh tanda tanya...Tangannya menggenggam erat keripik pedas pak herman.

“Ibuku tadi telpon, trus aku mau dijodohin dit sama cowok...” wajah anne cemberut. Ada segurat kekhawatiran disana, tapi rona merah tanda kebahagian meski tersembunyi tetap terlihat mewarnai wajahnya yang manis.

“asyik dong...” balas puja. Bunyi gemeretak keripik di mulutnya mengganggu konsentrasi mereka. Mata kandita melotot pada puja, berkali-kali pandangannya beralih ke kripik singkong dan bibir puja yang dipenuhi serpihan keripik. Puja mengunyah keripiknya perlahan...sambil nyengir.

“Besok siang katanya tuh cowok mau dateng dit..........” lirih anne, matanya awas melirik kiri dan kanan. Takut suaranya terdengar oleh seseorang. Pastinya maya orangnya, bathin kandita.

“Trus masalahnya apa?” jawab kandita. Nafasnya sesak berada di gang sempit itu. Bau lembab menyengat hidungnya.

“Aku nggak suka dijodoh-jodohin, aku ingin mencari cinta sejatiku sendiri.....” anne menerawang, dibalas dengan cibiran kedua temannya itu.

“Panas banget ya......” Puja sengaja mengibas-ngibaskan tangan kanannya ke tubuhnya.

“Dia sudah tau wajah jelek kamu an...” seloroh puja lagi, seketika cubitan keras mendarat di lengan kanannya..anne mendelik....

“Aww....” jerit puja sambil tertawa riang.

“Belum tau, dia memang tidak ingin melihat wajahku sebelum bertemu. Ibu bilang biar surprise...”

“Kenapa ngebet banget ibu mu ngenalin cowok itu an...., emang mau dikawinin....” tanya kandita.

“Cowok itu mau ke mesir, kuliah S2 di al azhar...jadi dia mau ketemu aku sebelum berangkat...”
Jawab anne pelan.

“Aku bingung besok gimana?” anne gelisah...seribu kekhawatiran tampak jelas di wajahnya.

“Kayanya kamu perlu di make over deh....” saran puja. Kandita dan anne menatapnya bersamaan, untung wajah puja terlihat sangat serius. Sehingga mungkin ide itu terlihat masuk akal.

“Sore ini aku pikirin skenario untuk besok.....trus ntar malem kita ngumpul di tempat biasa yach.....”
Putus kandita.

“Tapi dit, without maya ya.....” anne memohon. Maya memang suka mencari perhatian pria, tanpa melihat apakah itu sasaran tembak sahabatnya sendiri...kelemahan maya yang sudah disadari dan diantisipasi oleh mereka bertiga.

“Setuju.....” sambar puja cepat.

“haiii....lagi ngobrolin apa sih...!!” maya tiba-tiba muncul tanpa ada yang menyadari tanda-tanda kehadirannya. Anne menatap kandita penuh arti dan Kandita mengerti..mereka hening sesaat.

“Kita lagi bahas tentang UAS kemarin...” balas puja yang diiringi anggukan kedua temannya....Anne memaksakan senyumnya untuk maya.

“Owwhhh.....” maya tersenyum manja. Matanya melirik ke sekeliling gang sempit tempat mereka berdiri. Wajahnya aneh..mungkin dia bingung, kenapa membicarakan UAS di gang sempit seperti ini.. di samping kamar anne lagi..........Tapi maya mencoba tidak ambil pusing..

“Aku baru putus dari dimas.....” kabar maya. Wajahnya datar, tentu tanpa penyesalan. Seakan membuktikan kepada 3 sahabatnya itu bahwa dia adalah petualang cinta sejati. Mudahnya dia mendapat pacar dan dengan bangga memproklamirkan berakhirnya hubungan mereka, dengan maya sebagai pihak penggugat.

“cape deh...”desis puja. Ia mulai muak dengan tingkah polah maya. Lagi-lagi cerita tentang putus nyambung-putus nyambung kaya lagunya BBB.

“apa...” tanya maya. Matanya menyipit..Kandita melotot pada puja...Anne juga.

“Aku tiba-tiba pengen ke kamar mandi nih, sesak banget..mau BAB...!!!!” puja seketika berlari, dan kandita mengawasinya, sudah diduganya arahnya bukan ke kamar mandi tapi langsung ke kamarnya. Sejak perdebatan beberapa minggu yang lalu, puja lebih banyak menghindar dari maya. Mereka tidak bisa se akrab dulu lagi.

Sedang maya...bla-bla-bla...terus saja berbicara panjang lebar mengnai proses putusnya dengan dimas. Puja bersyukur dalam hati karena kupingnya tidak dipenuhi dengan cerita maya.

Anne menatap langit-langit kamarnya dengan sejuta bayangan yang seakan terukir indah di batas pandangannya. Seorang pria tampan tiba-tiba muncul dan menari-nari namun samar bentuknya. Bayangan pria itu tersenyum, mirip seorang pangeran tapi bukan dengan pedang melainkan dengan buku dipangkuannya.....pria itu menawarkan buku yang dibacanya itu, anne mengulurkan tangannya perlahan mencoba meraih buku itu...rasa malu menggelayuti seluruh jiwanya, hingga.... sebuah getaran kuat memaksanya untuk membuka mata. Getaran itu semakin menuntut, anne menggeliat malas..Segera diraihnya sebuah HP yang berada di sisinya.

“Jam 8 pagi bu.....!!!!” pekik anne. Diliriknya jam di dinding kamarnya, paduan jarum panjang dan pendek menunjukkan pukul 5.30 pagi. Anne gusar...

“Bu...nggak bisa, kami masih harus kerja bakti sampai jam 9 pagi” anne berbohong, jam segitu teman-temannya masih berkeliaran di sekitar asrama, anne tidak mau menjadi bahan olok-olokan temannya, terutama maya. Meskipun maya sudah berikrar akan meninggalkan asrama tepat jam 8 pagi hari ini.

“Baik bu, jam sepuluh ya...” Anne lega....akhirnya perdebatan kecil itu mencapai kata sepakat juga.

Secepatnya anne turun dari tempat tidurnya dan meraih kunci kamarnya, dilihatnya beberapa temannya yang membuka mata...tapi enggan beranjak. Anne melangkah secepatnya , tujuan utama anne adalah ke kamar kandita...

“Dita.....!!!!!” jerit anne di telinganya. Dita menggeliat, selimutnya ditarik lebih dalam lagi.

“Bangun..!!!!” anne menarik tangan dita....lebih tepat hampir menyeretnya.

“awww....” Kandita meringis, badannya nyaris menyentuh lantai kamarnya.

“ Dit, dia mau datang jam 10 pagi....” beber anne.

“kenapa nggak dateng jam 7 pagi saja sekalian...” sahut kandita malas, punggung tangannya mengucek-ucek matanya. Anne menutup hidungnya tatkala kandita menguap panjang..

“ Tadinya mau dateng jam 8 pagi, tapi aku cegah....” urai anne..tangannya cekatan melipat selimut kandita.

“ Kita ngumpul di kamarku jam 9 ya....maya katanya mau pergi dengan pacar barunya jam 8 pagi....”
Anne mulai melanjutkan perjalanannya menuju sasaran selanjutnya...puja. Kandita kembali meletakkan badannya di tempat tidur empuknya..dan mulai tidak sadarkan diri lagi.

Baju biru muda dengan jilbab senada dengan motif bunga menghias wajah anne, tampak sangat manis dan serasi. Sudah hampir satu jam mereka berkumpul di ruangan itu...dan berkutat dengan kegelisahan anne...Jam menunjukkan pukul 10 tepat. Tapi mereka sepakat memastikan kehadiran pria itu paling tidak 30 menit setelahnya.

“Mbak anne..., ada yang cari, di ruang tamu..” sebuah wajah menyembul di antara daun pintu kamar anne.

“ Siapa? Laki-laki atau perempuan? Trus wajahnya gimana...?” desak puja.

“Nggak tau.....” wajah yunior mereka pucat. Tiga detik kemudian ia sudah berlalu dari hadapan mereka sebelum puja sempat memberondongnya dengan berbagai pertanyaan lagi.

“Aduh, gimana dong dit......??” anne gelisah, keringat dingin membasahi punggung dan tangannya. Bola matanya mencari-cari mata dita seakan meminta pertolongan...

“Sesuai dengan rencana, puja yang menemui pertama kali....” Kandita melirik ke arah puja yang masih merapikan riasannya, rambutnya juga tidak luput dari perhatian puja.

“Hey....ada yang mau menggunting dalam lipatan nih.....” sindir kandita melihat gelagat kegenitan puja yang seakan tiada habisnya. Puja masih sempat merapikan pakaiannya, blus pink muda dengan rok pink tua melekat manis di kulitnya. Puja nyengir saat melihat dua sahabatnya itu memperhatikan gerak-geriknya.

“Hee....jangan takut anne, aku bukanlah pagar makan tanaman, sekedar antisipasi saja mana tau ada temennya.......” puja nyengir...sebelum gemuruh dan petir suara kandita menggelegar, puja segera keluar dari kamar seraya berlari kecil menyusuri tapak demi tapak jalan menuju ruang tamu utama.

Puja melangkah mendekati ruangan khusus yang diperuntukkan untuk menerima tamu bila waktu pesiar tiba, ruangan dibuat senyaman mungkin, letaknya tepat berada di sebelah ruangan belajar di kampusnya. Tidak terlalu jauh dari asrama mereka.

Puja memasukkan kepalanya 2 centi di pintu paling belakang dekat toilet. Sengaja puja memantau pria itu dari posisi paling belakang...tapi tidak melihat se sosok manusiapun di dalam ruangan itu. Puja tidak sabar, matanya mencari ke segala arah, tidak ditemukan sosok pria yang ada di bayangan puja. Dalam skenario kemarin malam, pria itu digambarkan sebagai seseorang yang rapi memakai kemeja, tinggi, sedikit bejambang, kebapakan, bahasanya sopan dan berwajah cerdas. Tapi mengapa tidak ada pria seperti itu...puja bingung.

“ehm.......” puja terkesiap saat kupingnya menangkap sebuah suara...Suara itu berada cukup dekat. Segera puja membalikkan badannya, sebuah sosok pria berkulit coklat dengan kaos oblong bertuliskan handsome boy....”narsis banget” puja membatin mencoba mengukir senyum padanya. Ini pasti bukan pria yang dicarinya, barangkali supirnya...lagi-lagi puja memainkan pikirannya. Wajah pria itu sangat mencerminkan kedewasaan, malah tampak bermuka tua, bentuk senyumnya juga aneh...tidak ada jambang. Tidak terlalu tinggi, dan agak berlebihan lemak tubuh, terutama di sekitar perut ........sama sekali jauh dari bayangan.

“eh ya....maaf....” puja menggeserkan badannya, memberi ruang pada pria itu untuk kembali masuk ke ruangan, maklum separuh tubuh puja menghalangi pintu ber cat biru itu. Pria itu melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi. Letaknya paling depan. Wajahnya tampak sangat tenang, dan penuh percaya diri seakan tanpa keraguan, puja menunggu beberapa saat barangkali pangerannya anne akan menyusul masuk ke dalam ruangan ini.

“Mbak, itu yang cari mbak anne...” puja terkesiap sebuah bisikan mampir di telinganya. Puja mengendus sosok yuniornya tadi yang tiba-tiba muncul di sisinya...

“Nggak ada yang lain???” bisik puja. Si yunior menggeleng.....ia bertugas piket hari ini. Seluruh tamu yang berkunjung pasti melewatinya terlebih dahulu.

Puja masih tidak yakin dengan pria yang berada beberapa langkah di depannya. Kakinya seakan tertanam tidak sanggup bergerak, padahal tinggal beberapa langkah lagi dirinya berada di hadapan pria itu.

“ ehm...maaf...pak, eh..mas...mau bertemu siapa?” tanya puja akhirnya.

“kamu anne...?” todong pria itu. Matanya tepat menatap puja...

“bu..bukan...!” jawab puja cepat.

“Mas cari anne...?” puja memastikan..

“Iya....saya Handoko, apakah anne ada?” tanya pria itu sopan. Puja nyengir....matanya meneliti setiap inci sosok pria itu..

“Ada yang aneh...” tanya handoko. Seraya matanya juga meneliti bagian tubuhnya yang mengganggu pandangan.

“Oh..nggak...!!” tukas puja cepat.

“Bapak...eh..mas..dengan orang lain barangkali....” sambung puja lagi seraya berusaha mencari seseorang di sekitar mereka.

“Saya sendiri...” Jawab handoko menegaskan.

“Tunggu sebentar ya mas...saya akan memanggil anne...” pamit puja segera.
Dengan nafas tersengal-sengal, puja menerobos pintu kamar anne....disambut dengan keterkejutan anne dan kandita yang juga menyiratkan wajah penasaran. Puja mengatur nafasnya....

“Gimana puja....” desak anne, wanita itu diliputi rasa mencekam yang teramat sangat. Untuk pertama kali di dalam hidupnya seorang pria datang untuknya.. Ini merupakan peristiwa bersejarah.

“ Di ruang tamu....” jawab puja terengah-engah sambil menyeruput air putih yang disodorkan kandita.

“ Iya....orangnya gimana...:” tanya anne lagi.

“ Cakep.........!” puja tidak sanggup menyampaikan apa yang baru saja dilihatnya...

“Maksud kamu...?” tanya kandita.

“ Ya....gitu deh....” jawab puja samar...

“ Puja......” rengek anne menuntut penjelasan yang lebih rinci.

“ Jelasin deh puja...bagaimanapun bentuknya....!” kandita ikut mendesaknya.

“Orangnya pendek, perutnya buncit, senyumnya aneh, pakai kaos oblong bertuliskan
'handsome boy', dan pakai jeans biru wajahnya biasa....” jelas puja sejujur-jujurnya....matanya mencermati kedua sahabatnya terutama anne.

Keheningan sesaat tiba-tiba pecah dengan tawa kandita yang lepas, wanita tomboy itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tapi tiba-tiba terhenti saat melihat wajah anne berubah merah bak kepiting rebus.

“Aku nggak mau ketemu.....” tukas anne.
 
BERSAMBUNG.......
 
 
 

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar