Kamis, 24 November 2011

MAKALAH ASKEB V KEBIDANAN D-3


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pada tahun 1999, pemerintah menetapkan visi pembangunan kesehatan ”Indonesia Sehat 2010” dengan harapan pada 2010 masyarakat Indonesia telah hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat, serta dapat menyediakan, memanfaatkan, dan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan berkeadilan sehingga masyarakat memiliki derajat kesehatan yang optimal. Indikator keberhasilan Indonesia sehat 2010 dinilai dari beberapa hal, antara lain jumlah bayi yang memperoleh imunisasi dasar lengkap, terbentuknya lingkungan hidup yang sehat, akses pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata, meningkatnya umur harapan hidup, serta menurunnya angka kematian bayi dan ibu.
Selain itu, pada tahun 2000, negara-negara di seluruh dunia berkomitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan. Komitmen tersebut dikenal dengan Millennium Development Goals (MDGs) yang terdiri dari delapan target dan diharapkan tercapai pada tahun 2015. Delapan sasaran harus dicapai pada tahun 2015, yaitu menghapuskan kemiskinan, menyediakan pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender, menurunkan kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memberantas HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, melestarikan lingkungan, dan membangun kemitraan global.
Upaya yang telah dilakukan selama ini untuk menurunkan Angka Kematian Balita (AKBA) berhasil menunjukkan perbaikan yang sangat berarti antara tahun 1960 dan 1990. Pada tahun 1960, AKBA masih sangat tinggi, yaitu 216 per 1.000 kelahiran hidup. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan terjadinya penurunan hingga mencapai 46 per 1.000 kelahiran hidup pada periode 1998–2002. Rata-rata penurunan AKBA pada dekade 1990-an adalah tujuh persen per tahun, lebih tinggi dari dekade sebelumnya, yaitu empat persen per tahun. Pada tahun 2000, Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan dalam World Summit for Children (WSC), yaitu 65 per 1.000 kelahiran hidup.
Angka kematian bayi. Indonesia juga telah mengalami kemajuan yang signifikan dalam upaya penurunan kematian bayi dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 1960, Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia adalah 128 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini turun menjadi 68 per 1.000 kelahiran hidup pada 1989, 57 pada 1992 dan 46 pada 1995. Pada dekade 1990-an, rata-rata penurunan lima persen per tahun, sedikit lebih tinggi daripada dekade 1980-an sebesar empat persen per tahun. Walaupun pencapaian telah begitu menggembirakan, tingkat kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN, yaitu 4,6 kali lebih tinggi dari Malaysia, 1,3 kali lebih tinggi dari Filipina, dan 1,8 kali lebih tinggi dari Thailand.
Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) Indonesia masih tertinggi di Asia. Tahun 2002 kematian ibu melahirkan mencapai 307 per 100.000 kelahiran. Angka ini 65 kali kematian ibu di Singapura, 9,5 kali dari Malaysia. Bahkan 2,5 kali lipat dari indeks Filipina. Angka kematian ibu merupakan indikator utama yang membedakan suatu negara digolongkan sebagai negara maju atau negara berkembang. Rata-rata AKI di dunia dari 100.000 kelahiran tingkat kematian ibu mencapai 400. Di negara maju indeks AKI mencapai 20 kematian per 100.000 kalahiran. Sedangkan rata-rata di negara berkembang 440 kematian ibu per 100.000 kelahiran, Target pemerintah adalah untuk menurunkan AKI dari 390 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 1994) menjadi 225 per 100.000 pada tahun 1999, dan menurunkannya lagi menjadi 125 per 100.000 pada tahun 2010.
Berbagai usaha untuk menurunkan AKI telah dilakukan, di antaranya programSafe Motherhood pada tahun 1988, Gerakan Sayang Ibu pada tahun 1996, Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman atau Making Pregnancy Saver (PMS). Selain itu, atas kerjasama POGI, IDAI, IDI, Ikatan Bidan Indonesia, dan Departemen Kesehatan pada tahun 2002, oleh Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo telah diterbitkan buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.

B.   Rumusan Masalah
1.    Kurangnya pengetahuan ibu dalam mengatasi kesehatan dirinya sendiri.
2.    Kurangnya program layanan terhadap kesehatan ibu.

C.    Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan program kesehatan ibu adalah tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat pencapaian target Pembangunan Kesehatan Indonesia yaitu Indonesia Sehat 2010, serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan perilaku) dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya pembinaan kesehatan keluarga, penyelenggaraan Posyandu dan sebagainya.
c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan ibu.
d. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu.
e. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, terutama melalui peningkatan peran ibu dalam keluarganya.
 

BAB II
PEMBAHASAN

        Kaum ibu diyakini tidak memiliki waktu untuk merawat diri mereka sendiri. Setelah melakukan semua hal, ibu masih memiliki banyak tugas lain. Mulai dari mengantar anak ke sekolah, memasak makan malam, pergi ke pertemuan orang tua dan menjadi seorang istri yang mencintai dan menyayangi suaminya. Tidak heran jika ada hari yang didedikasikan khusus hanya untuk ibu.
A.   Berikut ada beberapa tips untuk meningkatkan kesehatan ibu, yaitu :
1. Makan Makanan Kaya Serat
Seorang ibu membutuhkan banyak energi untuk menjalani rutinitas mereka setiap hari. Maka menjadi penting mendapatkan asupan nutrisi yang tepat, diet serat tinggi, menyantap buah dan sayuran untuk membantu menghilangkan racun dari dalam tubuh dan menjaga energy tetap penuh sepanjang hari.

2. Berolahraga dengan Gembira
Lupakan gym dan mengangkat beban yang berat. Saat berbicara masalah olahraga, Anda harus menemukan sesuatu yang menyenangkan dan bisa membuat Anda gembira. Lakukan latihan menari (salsa, tango atau waltz) di studio tari di kompleks rumah Anda atau bahkan di mal, jika ada waktu Anda bisa hiking atau bergabung bersama komunitas sepeda di kompleks. Kuncinya adalah: berolahraga karena Anda menginginkannya bukan karena sebuah keharusan.

3. Hentikan Menyabotase Diri Anda Sendiri
Kadang-kadang, kita bisa mendapatkan gangguan dan terjebak dalam tuntutan sehari-hari. Kapanpun Anda merasa cukup, ingatlah bahwa Anda adalah orang yang hebat. Gunakan 5 menit dari seluruh waktu Anda dalam sehari untuk menulis semua hal yang Anda syukuri. Setelah melakukan inventaris pribadi, Anda akan menyadari bahwa ada begitu banyak orang dalam hidup Anda yang menghargai Anda.

4. Kelola Stres
Stres dapat merayap dan meresap ke dalam seisi tubuh Anda dengan diam-diam seperti pencuri di malam hari. Jadi, mengelola stress menjadi sebuah hal yang sangat penting. Anda dapat melakukan ini dengan berlatih meditasi setiap hari, memanjakan diri di spa atau menonton film lucu agar Anda bisa tertawa.

5. Berjemur Matahari
Kendati banyak yang berdebat tentang apakah matahari buruk untuk Anda, namun sedikit berjemur di pagi hari bukanlah sebuah hal yang menyakitkan (jangan lupa untuk menggunakan tabir surya). Gunakan beberapa menit dari waktu luang Anda untuk berjemur dan mendapatkan Vitamin D yang akan membantu mengatur metabolism dan membangun kalsium.

6. Lakukan Bersih-Bersih
Anda tidak harus keluar uang banyak untuk membersihkan tubuh Anda. Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan. Anda bisa minum banyak air putih untuk melakukan detoksifikasi, meminum jus buah dan sayur sederhana agar mendapatkan nutrisi yang tepat untuk tubuh Anda, atau bahkan mandi agar Anda merasa bersih dan segar.
Tidak peduli apa yang Anda lakukan, ingatlah! Untuk menjadi ibu yang gembira dan menyenangkan, Anda harus memiliki kesehatan yang baik. Ikuti tips sederhana ini dan rasakan perbedaannya. Jika Anda siap untuk melepaskan racun, mengembalikan energi dan mengisi ulang hidup Anda, sudah waktunya Anda melakukan perubahan.

B. Program Pelayanan Kesehatan untuk Meningkatkan Kesehatan Ibu

a) KMS Ibu Hamil (dari WHO)
KMS dirancang untuk mencatat data tempat kehamilan dan waktu antara kehamilan tersebut dan didalamnya terdapat keterangan keluarga berencana dan berat badan Ibu dalam grafik untuk memonitor keadaan gizi.
Tujuan KMS :
·         Membantu deteksi dini keadaan beresiko
·         Mempromosikan waktu tepat merujuk kasus “dengan resiko” yang terdeteksi ke pusat pelayanan kesehatan dan rumah sakit
·         Meningkatkan pemantauan status kesehatan selama hamil, kelahiran, nifas dan masa antara kehamilan sampai 8-10 tahun
·         Meningkatkan partisipasi Ibu, keluarganya dan masyarakat dalam pelayanan kesehatan mereka sendiri.
b) Bidan Desa
Bidan menurut peraturan menteri kesehatan adalah seseorang yang telah mengikuti dan telah menyelesaikan program pendidikan bidan yang telah diakui oleh pemerintah dan lulus ujian sesuai persyaratan yang berlaku.
Penempatan bidan didesa ditujukan untuk meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan posyandu.
c) Posyandu
Posyandu Adalah suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia sejak dini.
Tujuan posyandu :
·         Mempercepat penurunan angka kematian Ibu dan Anak
·         Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu
·          Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat
·          Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi
·          Meningkatkan pembinaan dan peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat.
d) Polindes (Pondok Persalinan Desa)
Polindes merupakan bentuk sarana pelayanan kesehatan ditingkat desa sebagai upaya melengkapi sarana bagi bidan didesa dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
C. Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Pemanfaatan Pelayanan
1.    Kesehatan Ibu
a) Internal
·         Kurangnya kepercayaan Ibu terhadap pelayanan kesehatan
Pada era modern ini sistem pelayanan kesehatan dan pengobatan sudah semakin maju. Akan tetapi, masih saja ada masyarakat yang tidak sepenuh hati percaya terhadap pelayanan kesehatan tersebut. Kurangnya kepercayaan ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan Ibu tentang kesehatan, terutama kesehatan itu Ibu dan anak. Selain itu, ada juga faktor tradisi yang sudah mendarah daging oleh masyarakat setempat, sehingga masyarakat berpaling dari pelayanan kesehatan tersebut. Contoh : Ibu kurang percaya terhadap bidan desa karena notabene meraka masih muda (rata-rata 17-19 tahun), dibandingkan dukun beranak yang sudah tua.
·         Ekonomi
Faktor ekonomi tidak luput dari permasalahan ini, yaitu ketidakcukupan finansial menimbulkan menimbulkan kecemasan Ibu mengenai biaya untuk pelayanan kesehatan tersebut, sehingga Ibu lebih memprioritaskan kebutuhan yang lain daripada kesehatan Ibu sendiri.
·         Kesibukan Ibu
Setiap orang memiliki kesibukan tidak terkecuali seorang Ibu, baik seorang Ibu rumah tangga maupun seorang Ibu yang berkarir memiliki kesibukannya masing-masing. Misalnya mencuci, memasak, melayani suami, sampai menjaga anak-anak adalah tugas seorang Ibu rumah tangga yang sangat tidak mudah. Sedangkan seorang wanita karir, memiliki kesibukan diluar rumah dan biasanya menyerahkan pekerjaan rumah kepada pada pembantu rumah tangga ataupun baby sitter. Kesibukan-kesibukan diatas membuat seorang Ibu menjadi kurang peduli terhadap kesehatan pribadi, sehingga pelayanan kesehatan kurang dimanfaatkan karena terhambat oleh kesibukan Ibu.
b) Eksternal
·      Longgarnya hubungan antara tenaga kesehatan dengan pasien
Zaman yang maju memerlukan penafsiran baru dalam segala bidang. Penafsiran baru itu timbul karena yang dulu dipandang maju, sekarang sudah kuno; yang dulu benar, sekarang salah; yang dulu sosial, sekarang ekonomis; dan lain sebagainya. Kemajuan bidang sosial-ekonomi akibat iptek yang terus berkembang, membawa dampak meningkatnya pengetahuan, informasi, dan wawasan masyarakat/individu.oleh karena itu, Ia memiliki alternatif dalam mengupayakan pelayanan kesehatannya yang makin bermutu.
Perkembangan yang terus-menerus mengakibatkan palayanan kesehatan menjadi canggih dan kompherensif, dilengkapi petugas profesional yang tentu saja membutuhkan biaya yang tinggi. Jika menilik riwayat panjang di zaman Yunani purba, maka menjadi dampak bahwa praktik pelayanan kesehatan yang kini berkembang nyaris putus hubungan dengan landasan semangat yang dulu mendorongnya. Bidang kedokteran adalah bidang di mana nilai-nilai teknis dan humanistis bertautan erat sekali dengan rajutan psikologis petugas.
Pelayanan kesehatan yang humanistis bergeser ke arah yang berlawanan, dari bersifat sosial menjadi ekonomis. Bentrokan psikologis dalam hubungan antara petugas dengan pasien merupakan risiko awal yang tidak bisa dipandang enteng.
Hubungan antara pasien dan dokter yang pada sejarahnya sangat personal, menjadi longgar dan berjarak akibat diterapkannya teknologi medis dan berfungsinya tatanan baru bidang pelayanan medis-birokratis. Hal ini bukan saja akibat pemanfaatan teknologi maju yang menuntut syarat-syarat empersonal saja. Akan tetapi, juga terjadinya pergeseran pola pikir dalam masyarakat yang menghargai efisiensi, produktivitas, serta kualitas, termasuk pelayanan kesehatan. Hanya saja, semangat baru ini akan menemui kendala serius bila digeneralisasikan bagi masyarakat di pedesaan. Hal itu terjadi karena kondisi ekonomi yang sangat rendah, sehingga sulit memperoleh akses pelayanan bermutu yang berbicara atas nama biaya.
·         Kurangnya sarana dan prasarana kesehatan
Salah satu faktor yang mempengaruhi kurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah kurangnya sarana dari pelayanan kesehatan. Sarana pelayanan kesehatan itu meliputi perlengkapan-perlengkapan yang ada di tempat pelayanan kesehatan. Kurangnya perlengkapan-perlengkapan pelayanan kesehatan tersebut kemungkinan disebabkan oleh tidak adanya biaya untuk membeli perlengkapan tersebut. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat, terutama Ibu enggan untuk menggunakan pelayanan kesehatan.
·         Mutu pelayanan kesehatan yang kurang memadai.
Masyarakat merasa kurang puas dengan mutu pelayanan, kesulitan administrasi, dan lamanya waktu tunggu. Indonesia mengalami kekurangan pada hampir semua jenis kesehatan yang diperlukan. Banyak puskesmas belum memiliki dokter dan tenaga kesehatan masyarakat. Keterbatasan ini diperburuk oleh distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata. Misalnya lebih dari dua per tiga dokter spesialis berada di Jawa dan Bali.

·         Lokasi yang kurang strategis dan transportasi yang kurang memadai.
Pada daerah pedesaan, terutama pada daerah terpencil, masyarakat didaerah tersebut sering kali sulit untuk menjangkau sarana-sarana kebutuhan hidup mereka. Untuk menjangkau sarana-sarana tersebut, mereka terkadang menggunakan cara yang seadanya karena tidak ada transportasi yang layak untuk digantikan, seperti berjalan kaki. Hal ini menyebabkan mereka berada dalam kondisi yang serba kekurangan. Begitu juga dalam hal sarana pelayanan kesehatan yang lokasinya jauh dari tempat tinggal mereka dan tidak adanya sarana transportasi yang dapat digunakan. Kondisi ini mengakibatkan mereka malas untuk memeriksa kesehatannya. Jika mereka sakit, mereka lebih cenderung untuk berobat ke dukun.
   D.Solusi
a) Diadakan Penyuluhan Kesehatan
Penyuluhan kesehatan keluarga dan masyarakat yang diberikan kepada masyarakat dan keluarga yang datang berobat, diselenggarakan secara rutin setiap hari Sabtu. Penyuluhan ini dipusatkan di puskesmas induk dengan metode Radio Spot atau Ceramah dan tanya jawab. Penyuluhan ini dipresentasikan secara bergiliran oleh Pimpinan dan Staf Puskesmas Induk hingga Polindes, dengan materi ceramah sesuai dengan penanggung jawab program masing-masing.
b) Program ”Paket Mitra Sehat”
Program ini merupakan program kemitraan dalam rangka peduli terhadap masalah kesehatan masyarakat yang berpenghasilan rendah, masyarakat didaerah terpencil seperti desa-desa IDT, dan tenaga kerja lepas/harian. Dana pemeliharaan kesehatan keluarga/masyarakat lapisan kurang mampu ini, disubsidi oleh mitra yang lebih mampu, yaitu para penyantun program. Puskesmas sebagai penyelenggara dan pelaksana program mengajak dan merangkul kalangan dunia usaha dan sekitarnya, baik perusahaan maupun perorangan yang berkenan menjadi penyantun program ini.
Program ini merupakan upaya pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat lapisan kurang mampu, sehingga mereka dapat lebih cepat dan mudah memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat dan telah tersedian selama ini. Secara umum, upaya ini sekaligus sebagai upaya peningkatan kualitas SDM.
Salah satu program dalam mitra sehat ini adalah tahap uji coba pelayanan ekstra dari Puskesmas Lirik (yaitu pelayanan sore hari yang diprioritaskan bagi pemegang Kartu Askes, Kartu Sehat, dan Kartu Dana Sehat), juga diperuntukkan bagi peserta program ini. Hal ini dilakukan guna, mengatasi hambatan bagi yang bekerja maupun yang bersekolah di pagi hari, sekaligus mendukung program Gerakan Disiplin Nasional di tempat tugas masing-masing.
c) Transportasi
Keterbatasan transportasi dalam menjangkau sarana pelayanan kesehatan dapat diatasi dengan penyediaan kendaraan yang disediakan oleh pemerintah setempat untuk mereka yang kesulitan transportasi sehingga mereka bisa memanfaatkan pelayanan kesehatan tersebut. Selain itu, juga diadakan program Puskesmas Keliling. Program ini bertujuan untuk menjangkau daerah-daerah terpencil yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Hal ini juga dapat mempermudah masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya.
d) Meningkatkan Mutu Pelayanan
Meningkatkan mutu pelayanan dengan memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatannya sehingga lebih berkompeten. Bukan hanya mereka menguasai ilmunya, tetapi mereka juga dapat menguasai cara berkomunikasi yang baik agar pasien dapat merasa nyaman. Selain itu, adanya pendistribusian tenaga kesehatan secara merata, baik di kota maupun di desa dan pendistribusian anggaran kesehatan secara tepat untuk penyediaan alat-alat atau perlengkapan pelayanan kesehatan.

 
BAB III
P E N U T U P
A.  Kesimpulan
Kaum ibu diyakini tidak memiliki waktu untuk merawat diri mereka sendiri. Setelah melakukan semua hal, ibu masih memiliki banyak tugas lain. Mulai dari mengantar anak ke sekolah, memasak makan malam, pergi ke pertemuan orang tua dan menjadi seorang istri yang mencintai dan menyayangi suaminya. Tidak heran jika ada hari yang didedikasikan khusus hanya untuk ibu.
Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Ibu terbagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup kurangnya kepercayaan Ibu terhadap pelayanan kesehatan, ekonomi, dan kesibukan Ibu. Sedangkan faktor eksternal mencakup longgarnya hubungan antara tenaga kesehatan dengan pasien, kurangnya sarana dan prasarana kesehatan, mutu pelayanan kesehatan yang kurang memadai, lokasi yang kurang strategis dan transportasi yang kurang memadai.
Solusi-solusi untuk mengatasi rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan, diantaranya diadakan penyuluhan kesehatan, program”Paket Mitra Sehat”, penyediaan transportasi untuk daerah yang terpencil, meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

 B.   Saran
1.    Pemerintah sebaiknya lebih focus terhadap program pelayanan kesehatan ibu karena ibu sangat berperan penting dalam keluarga.
2.    Untuk mencapai MDGs seharusnya di setiap desa di sediakan fasilitas yang lebih memadai dan berfokus pada sehatan ibu.
3.    Agar para tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan maksimal seharusnya di sediakan alat-alat yang di butuhkan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar