Jumat, 18 November 2011

MAKALAH HIPERTENSI

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya.
Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan, tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. Dalam aktivitas sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktivitas dan olahraga.
Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa si penderita kedalam kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja extra keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Penyakit hypertensi ini merupakan penyebab umum terjadinya stroke dan serangan jantung.
Penyakit darah tinggi atau Hipertensi dikenal dengan 2 type klasifikasi, diantaranya Hipertensi Primary dan Hipertensi Secondary :
Hipertensi Primary, Hipertensi Primary adalah suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah tinggi sebagai akibat dampak dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang pola makannya tidak terkontrol dan mengakibatkan kelebihan berat badan atau bahkan obesitas, merupakan pencetus awal untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi. Begitu pula sesorang yang berada dalam lingkungan atau kondisi stressor tinggi sangat mungkin terkena penyakit tekanan darah tinggi, termasuk orang-orang yang kurang olahragapun bisa mengalami hipertensi .
1
BAB II PEMBAHASAN 
2.1 Pengertian Hipertensi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor resiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu.
2
a) Klasifikasi Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa [1] Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik Normal < 120 mmHg (dan) < 80 mmHg Pre-hipertensi 120-139 mmHg (atau) 80-89 mmHg Stadium 1 140-159 mmHg (atau) 90-99 mmHg Stadium 2 >= 160 mmHg (atau) >= 100 mmHg
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.
Dalam pasien dengan diabetes mellitus atau penyakit ginjal, penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus dianggap sebagai faktor resiko dan sebaiknya diberikan perawatan.
b) Pengaturan tekanan darah
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya , Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi "vasokonstriksi", yaitu jika arteri kecil (arteriola)
3
untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat. Sebaliknya, jika Aktivitas memompa jantung berkurang, Arteri mengalami pelebaran Banyak cairan keluar dari sirkulasi . Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil. c) Perubahan fungsi ginjal Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:
1. Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal.
2. Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.
Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah. d) Sistem saraf otonom Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan:
4
meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar) meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; juga mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak) , mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan meningkatkan volume darah dalam tubuh , melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.
2.2 Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:
a) Sakit Kepala
b) Kelelahan
c) Mual
d) Muntah
e) Sesak Nafas
f) Gelisah
5
2.3 Penyebab Hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain.
Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal. Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1. Penyakit Ginjal
a . Stenosis arteri renalis
b . Pielonefritis
c . Glomerulonefritis
d . Tumor-tumor ginjal
e . Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
f . Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
g . Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
6
2. Kelainan Hormonal
a . Hiperaldosteronisme
b . Sindroma Cushing
c . Feokromositoma
3. Obat-obatan
a . Pil KB
b . Kortikosteroid
c . Siklosporin
d . Eritropoietin
e . Kokain
f . Penyalahgunaan alkohol
g . Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya
a . Koartasio aorta
b . Preeklamsi pada kehamilan
c . Porfiria intermiten akut
d . Keracunan timbal akut.
Hipertensi secondary adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang mengalami/menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh. Sedangkan pada Ibu hamil, tekanan darah secara umum meningkat saat kehamilan berusia 20 minggu. Terutama pada wanita yang berat badannya di atas normal atau gemuk (gendut).
Pregnancy-induced hypertension (PIH), ini adalah sebutan dalam istilah kesehatan (medis) bagi wanita hamil yang menderita hipertensi. Kondisi Hipertensi pada ibu hamil bisa sedang ataupun tergolang parah/berbahaya, Seorang ibu hamil dengan tekanan darah tinggi bisa mengalami Preeclampsia dimasa kehamilannya itu. Preeclampsia adalah kondisi seorang wanita hamil yang mengalami hipertensi, sehingga merasakan keluhan seperti pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan,
7
nyeri perut, muka yang membengkak, kurang nafsu makan, mual bahkan muntah. Apabila terjadi kekejangan sebagai dampak hipertensi maka disebut Eclamsia. 2.4 Penanganan dan Pengobatan Hipertensi a. Diet Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi)
- Kandungan garam (Sodium/Natrium)Seseorang yang mengidap penyakit darah tinggi sebaiknya mengontrol diri dalam mengkonsumsi asin-asinan garam,
- Kandungan Potasium/KaliumSuplements potasium 2-4 gram perhari dapat membantu penurunan tekanan darah, Potasium umumnya bayak didapati pada beberapa buah-buahan dan sayuran. Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan baik untuk di konsumsi penderita tekanan darah tinggi antara lain semangka, alpukat, melon, buah pare, labu siam, bligo, labu parang/labu, mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain itu, makanan yang mengandung unsur omega-3 sagat dikenal efektif dalam membantu penurunan tekanan darah (hipertensi).
b. Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat :
- Diuretic {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)}.
- Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}.
- Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine).
Pencegahan Hipertensi Dalam Kehamilan Pembatasan kalori , cairan , dan garam tidak dapat mencegah hipertensi dalam kehamilan , bahkan dapat berbahaya bagi janin . Manfaat aspirin , kalsium , dan obat – obat pencegah hipertensi dalam kehamilan belum terbukti . Deteksi dini dan penanganan ibu hamil dengan faktor – faktor risiko sangat penting pada penanganan hipertensi dalam kehamilan dan pencegahan kejang. Follow Up teratur dan nasihat yang jelas bilamana pasien harus kembali . Suami dan anggota keluarga lainnya harus diberi
8
penjelasan tentang tanda tanda hipertensi dalam kehamilan dan perlunya dukungan sosial atau moral kepada pasien .
Hipertensi Karena Kehamilan Tanpa Proteinuria Pantau tekanan darah , urien (untuk proteinuria) , dan kondisi janin setiap minggu. Jika tekanan darah meningkat , tangani sebagai preeklasi ringan Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat , rawat untuk penilaian kesehatan janin . Beri tahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala preeklamsi dan eklamsi Jika tekanan darah stabil , janin dapat dilahirkan secara normal .
Preeklamsi Ringan Kehamilan kurang dari 37 minggu Jika belum ada perbaikan , lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan :
 Pantau tekanan darah , urin ( untuk proteinuria ) refleks dan kondisi janin
 Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda – tanda bayaha preeklamsi dan eklamsi
 Lebih banyak istirahat
 Diet biasa ( tidak perlu diet rendah garam )
 Tidak perlu diberi obat – obatan
 Jika rawat jalan tidak mungkin , rawat di rumah sakit :
 Diet biasa
 Pantau tekanan darah 2 kali sehari , dan urin ( untuk proteinuria ) sekali sehari
 Tidak perlu diberi obat – obatan
 Tidak perlu diuretik , kecuali jika terdapat edema paru , dekompensasi, atau gagal ginjal akut .
 Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan :
 Nasihatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda – tanda preeklamsia berat
9
 Kontrol 2 kali seminggu untuk memantau dan tekanan darah, urien, keadaan janin , serta gejala dan tanda – tanda preeklampsia berat .
 Jika tekanan diastolik naik lagi , rawat kembali
 Jika tidak ada tanda – tanda perbaikan, tetap dirawat. Lanjutkan penanganan dan observasi kesehatan janin.
 Jika terdapat tanda – tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan .Jika tidak, rawat sampai aterm.
 Jika proteinuria meningakat , tangani sebagai preeklamsia berat
Kehamilan Lebih dari 37 minggu . Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan oksitosin Jika serviks belum matang, Lakukan pematangan dengan prostaglandin atay kateter Foley atau lakukan seksio sesarea.
Preeklampsia Berat dan Eklampsia Penanganan Preeklampsia berat dan eklmpsia sama , kecuali bahwa persalianan harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada preekalmpsia. Semua kasus preeklampsia berat harus ditanganni secara aktif . Penanganan konservatif tidak dianjurkan karena gejala dan tanda eklampsia seperti hiperrefleksia dan gangguan penglihatan sering tidak sahih . Penanganan Kejang Beri obat antikonvulsan Perlengkapan untuk penanganan kejang ( jalan napas , sedotan , masker dan balon , oksigen ) Beri oksigen 4-6 liter per menit Lindungi pasien dari kemungkinan trauma , tetapi jangan diikat terlalu keras Baringkan pasien pada sisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi Setelah kejang , aspirasi mulut dan tenggorokan jika perlu
10
Umum Jika tekanan diastolik tetap lebih dari 110 mmHg , berika obat antihipertensi samapai tekanan diastolik diantara 90 – 100 mmHg Pasang infus dengan jarum besar Ukuran keseimbangan cairan , jangan sampai terjadi overload cairan Kateterisasi urin untuk memantau pengeluaran urien dan proteinuria Jika jumlah urin kurang dari 30 ml per jam hentikan magnesium sulfat (MgSO44) dan berikan cairan I.V. (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) pada kecepatan 1 Liter per 8 jam
11
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Ditengah menjamurnya makanan siap saji yang banyak mengandung lemak dan perubahan gaya hidup sebagian masyarakat perkotaan, maka penyakit penyakit sebagai imbas dari perubahan gaya hidup itu pun akan bermunculan semakin banyak. Salah satu penyakit tersebut adalah Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi. Mungkin banyak dari kita yang kurang tahu apa yang dimaksud dengan Hipertensi, secara garis besar Hipertensi dapat didefinisikan sebagai penyakit yang umum timbul di dalam masyarakat yang merupakan peningkatan yang persisten dari tekanan pembuluh darah arteri, yaitu tekanan diastolik diatas 95 mmHg. Tekanan darah normal biasanya tekanan sistolik tidak melebihi 140 mmHg dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Namun patokan tekanan darah normal tersebut individual sifatnya. a. Penyebab Sebanyak 90 % kasus penyebab tidak diketahui. Namun dapat juga sekunder akibat penyakit jantung/ginjal, diabetes, atau tumor dari kelenjar adrenal, obat-obatan, maupun kehamilan. b. Faktor Risiko Merokok/minum alkohol, pola makan banyak garam dan lemak, kurang berolah raga, obesitas, dan stress. c. Gejala dan Tanda Biasanya tidak ada gejala sampai timbul komplikasi.
12
d. Komplikasi Stroke , kegagalan jantung , kerusakan ginjal . e. Penatalaksanaan Pengelolaan terhadap penderita hipertensi adalah : Pengobatan tanpa obat, antara lain : diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh, peredaan stress emosional, berhenti merokok/alkohol, dan latihan fisik ringan dan teratur. Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter. Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan. 3.2 Saran Setelah umur 30 tahun, periksa tekanan darah setiap tahun. Jangan merokok/minum alkohol , kurangi berat badan jika berlebih , olahraga .
13
DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
www.google.com dikutip tanggal 13 November 2008 wikipedia.dikutip 13 November 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar