Sabtu, 26 November 2011

KUMPULAN MATERI ASKEB I


ADA BEBERAPA CARA YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK MENILAI MASA SUBUR SESEORANG, YAITU:


• Anda dapat menghitung masa subur anda dengan menggunakan system kalender. Hal ini adalah cara natural atau alamiah yang digunakan bila anda mempunyai siklus menstruasi yang teratur. Cobalah untuk mencatat siklus menstruasi anda dalam 3 bulan terakhir berturut-turut (tanggal hari pertama haid ). Dan sebaiknya pada wanita dengan siklus menstruasi yang tidak teratur akan sulit untuk menilai masa subur dengan cara ini.

Perhitungan masa subur ini didasarkan masa subur atau saat ovulasi terjadi pada hari ke 14 dari menstruasi yang akan datang dan dikurangi 2 hari karena sperma dapat hidup selama 48 jam setelah ejakulasi serta ditambahkan 2 hari karena sel telur dapat hidup 24 jam setelah ovulasi.

Jadi Misalnya siklus haidnya 28 hari dan haid terakhirnya terjadi tanggal 1, tanggal haid bulan berikutnya adalah tanggal 28. Dengan demikian, perkiraan waktu ovulasi anda , yaitu di tengah - tengah periode haid yakni tanggal 14. Jadi, masa subur berada pada sekitar tanggal 12 hingga 16.

Dengan menilai peningkatan suhu badan, biasanya suhu badan meningkat menjelang dan sesudah masa ovulasi karena pengaruh hormon progesteron.

Dengan menilai lendir rahim. Hormon estrogen mencapai puncaknya pada saat ovulasi terjadi dan memengaruhi lendir rahim. Menjelang ovulasi biasanya lendir rahim jadi agak encer dan bila diraba dengan dua jari membentuk benang dan berwarna bening.

Alat Tes Ovulasi. Saat ini juga sudah dijual bebas diapotik atau toko obat alat untuk menilai masa subur yaitu Test prediksi masa subur atau ovulasi. Alat test ini bekerja dengan mengukur kadar hormone LH yang dihasilkan saat ovulasi. Alat ini digunakan seperti test kehamilan tetapi tentu saja harganya lebih mahal.

Dengan mengetahui kapan masa subur anda, dapat membantu anda yang berencana mempunyai anak dan juga sekaligus sebagai metode Keluarga Berencana atau kontrasepsi yang natural untuk yang masih mau menunda kehamilan, jangan melakukan hubungan seksual pada saat subur..
Beberapa Tips Untuk Hamil:

- Waktu terbaik untuk konsepsi
Penting untuk mengetahui kapan saat terbaik untuk terjadinya pembuahan pada seorang wanita.  Waktu terbaik untuk konsepsi atau pembuahan adalah saat masa subur atau ovulasi dari seorang wanita. 


Yang perlu diperhatikan bahwa telur yang matang hanya hidup 24 jam sedangkan sperma hidup 48-72 jam dalam tubuh wanita.  Oleh karenanya, melakukan hubungan seks sebelum saat ovulasi lebih baik untuk meningkatkan kehamilan daripada sehari atau dua hari sesudahnya.

- Frekuensi hubungan seksual
Frekuensi atau seberapa sering untuk  melakukan hubungan seksual, ini semua tergantung dari setiap pasangan.  Tidak ada angka khusus yang dapat memastikan berapa kali seseorang harus melakukan seks untuk dapat hamil.  Ada wanita yang hamil hanya dengan satu kali saja tapi yang lain memerlukan waktu yang lebih lama.  Yang terpenting "seberapa sering" anda melakukan hubungan seksual pada " waktu yang terbaik untuk konsepsi".   

- Nikmati proses hubungan seksual anda.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika seorang wantia mencapai orgasme, akan membentuk suasana alkaline (basa) pada vagina yang mana sperma sukai dariapda kondisi normal vagina (suasana asam).  Jika anda mencapai orgasme pada saat yang bersamaan atau sesaat sesudah pasangan anda ejakulasi maka kesempatan sperma untuk selamat sampai di servik lebih meningkat.
 
- Posisi hubungan seksual.
Posisi seks yang dianjurkan untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan adalah pria diatas (man on top). 

- Jangan Banyak Bergerak Setelah Seks?
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa setelah hubungan seksual dengan tidak bergerak dan tetap dalam posisi tidur dengan kaki atau pinggul lebih tinggi setelah seks akan meningkatkan kesuburan. Karena sebenarnya sperma sudah berada di dalam servik sesaat setelah ejakulasi. 

Tapi ada ahli yang tetap menganjurkan untuk memberi waktu sejenak untuk sperma berenang ke servik dan menganjal pinggul dengan sebuah bantal selama seks.

Yang terpenting juga sewaktu anda membersihkan, hindari mengunakan cairan pembersih vagina sesaat setelah hubungan seksual, karena cairan pembersih vagina dapat bersifat toxic untuk sperma.

- Buat para suami
Para suami sebaiknya menghindari memakai celana yang terlalu ketat atau mandi air hangat, hal ini akan menurunkan kemungkinan kehamilan karena proses penekanan atau panas didaerah testis (pembentuk sperma).

- Relaks
Cobalah untuk tetap rileks dalam menghadapi hal ini bersama pasangan karena  Stress hanya akan mempersulit terjadinya konsepsi. 

-
Jaga kesehatan anda.
Menjaga kesehatan adalah hal dasar yang penting.  Pastikan tubuh anda cukup nutrisi.  Ingat bahwa wanita yang sehat akan lebih mudah hamil daripada yang mempunyai berat badan yang berlebihan atau kurang. 
Ini semua adalah tips untuk membantu anda untuk meningkatkan kemungkinan untuk dapat hamil.  Ingatlah kebanyakan, saat sperma masuk ke dalam saluran tuba dan telur yang matang siap untuk dibuahi maka hanya 30 % saja yang mempunyai hasil test kehamilan positif  dan sisanya 70 % walaupun melakukan semuanya dengan benar tapi tetap harus menunggu dan mencoba lagi.  
Dan bila anda sudah mencoba melakukan hal ini selama 1 tahun dan belum hamil juga, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter anda untuk mendapatkan penanganan yang terbaik.
Semoga berhasil!

Bagaimana Cara Efektif Untuk Hamil atau
Menunda Kehamilan pada Masa Subur?

Tidak banyak wanita Indonesia yang mengetahui manfaat masa subur dalam merencanakan keluarga. Padahal dengan mengetahui kapan masa subur anda, ingin hamil atau menunda kehamilan bisa dilakukan dengan mudah jika tidak ada masalah anatomi pada wanita. Masa subur dapat ditentukan berkat bantuan luteinizing hormone, hormon seks wanita yang kadarnya meningkat sesaat sebelum masa subur. Yuk, ikuti saran dr. Boy Abidin dan coba cara alami yang cukup efektif dan praktis dalam mengatur jumlah dan jarak kehamilan.
Alkisah Alda, wanita muda berusia 29 tahun yang sudah menikah hampir 3 tahun tapi belum juga dikaruniai anak. Keinginan untuk segera memiliki momongan ini sudah dirasakan sejak umur pernikahan menginjak 2 tahun. Selama 3 tahun menikah, Alda mengaku baik dirinya dan suami belum pernah pergi ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi untuk memeriksakan kesehatan reproduksi mereka.
Alda yang bekerja sebagai karyawan kantoran ini beralasan bahwa ia hanya bersikap pasrah dalam menunggu karunia Tuhan. “Mungkin memang belum saatnya,” tambah Alda. Disamping itu, sikap sang suami yang enggan ketika Alda pernah mengusulkan agar mereka pergi ke dokter suatu hari. Sampai akhirnya, sang suami tiba-tiba mengajak Alda untuk pergi ke dokter. Masalah susah hamil ini tidak hanya dialami oleh Alda. Ada banyak wanita Indonesia yang juga mengaku mengalami kesulitan untuk hamil, sehingga muncul pertanyaan, mungkinkah ada kecenderungan bahwa wanita Indonesia susah hamil?
Hal ini dibantah oleh dr. Boy Abidin, SpOG, dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan yang berpraktek di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading. “Mungkin pemeriksaan kesuburan (fertility) dasarnya belum selesai atau ada kemungkinan pada masa subur tidak ada sperma yang masuk artinya hubungan intim sangat kurang, “ tambah Dr. Boy Abidin.

Masa Subur, kunci untuk merencanakan keluarga

Tidak banyak wanita Indonesia yang mengetahui kapan masa suburnya. Padahal dengan mengetahui masa subur, ingin hamil atau menunda kehamilan bisa dilakukan dengan mudah jika tidak ada masalah anatomi pada wanita. Menghitung masa subur merupakan cara yang aman, alami dan cukup efektif dalam merencanakan jumlah dan jarak kelahiran anak.
“Masa subur wanita adalah masa dimana ada satu sel telur yang siap untuk dibuahi oleh sel sperma di saluran telur (tuba faloppi) yang terjadi satu bulan sekali,” jelas dr. Boy Abidin, SpOG yang aktif sebagai pembicara dan narasumber untuk media massa. Sel telur ini mampu bertahan hidup dalam keadaan siap dibuahi hanya selama 1-2 hari.
Pada masa subur ini, terjadi perubahan fisiologis yang dapat dijadikan indikator, umumnya berupa libido yang meningkat, lendir pada vagina lebih banyak, dan peningkatan suhu basal tubuh sebesar 0,2-0,5 derajat pada pagi hari. Indikator minor kesuburan yaitu nyeri perut dan perubahan payudara.
Lendir yang muncul pada vagina ini merupakan lendir yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar di leher rahim (serviks) dan bersahabat dengan sperma. Lendir tersebut memungkinkan sperma dapat bertahan hidup dalam lendir tersebut untuk menunggu matangnya sel telur (ovulasi). Pada masa subur, kemungkinan terjadi pembuahan sangat besar.
Jika pasangan suami istri (pasutri) ingin memiliki anak maka lakukan hubungan intim pada masa subur sang istri. Keberhasilan untuk hamilnya pun cukup besar. Demikian sebaliknya, jika tidak ingin hamil, maka hindari berhubungan intim pada masa subur sang istri atau menggunakan pelindung seperti kondom.

Hitung masa subur!

Selain perubahan fisik, masa subur ini dapat dihitung di atas kertas. Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Dalam menghitung masa subur diperlukan siklus menstruasi bulanan. Anda sebaiknya membuat catatan mengenai siklus menstruasi secara teratur setiap bulannya.
Caranya mudah yaitu dengan menuliskan pada buku diary atau dengan memberi tanda pada kalender menggunakan spidol berwarna. Tandai hari pertama menstruasi yaitu hari pertama siklus dimana keluar bercak-bercak kecoklatan sampai kemerahan. Hari-hari selanjutnya diberi nomer namun tidak termasuk hari pertama menstruasi berikutnya.
Meskipun ada yang mengusulkan untuk membuat catatan menstruasi selama setahun (menogram). dr. Boy Abidin menyebutkan bahwa dibutuhkan minimal pola menstruasi 3 bulan terakhir misal 28 hari, 30 hari, 27 hari kemudian dibuat rata-ratanya. Jika rata-ratanya menghasilkan 28 hari yang berarti kondisi normal, maka masa suburnya akan terjadi pada 14 hari sebelum hari pertama menstruasi yang akan datang bulan berikutnya.
Perhitungan masa subur ini akan efektif bila siklus menstruasinya normal yaitu 21-35 hari. Jika anda memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur atau tidak normal, perhitungan menjadi tidak akurat dan kemungkinan besar gagal. Namun tidak ada salahnya jika mau mencoba.
Untuk yang siklus menstruasinya tidak teratur dapat menggunakan data siklus menstruasi selama 6 bulan (6 siklus). Jumlah hari terpendek dalam 6 kali siklus menstruasi dikurangi 18. Hitungan ini menentukan hari pertama masa subur. Jumlah hari terpanjang selama 6 siklus menstruasi dikurangi 11. Hitungan ini menentukan hari terakhir masa subur. Jika siklus terpendek 26 hari dan siklus terpanjang 32 hari. Perhitungannya : 26-18 = 8 dan 32–11 = 21. jadi masa suburnya adalah mulai hari ke-8 sampai ke 21 dari hari pertama menstruasi.

LH, hormon penanda masa subur

dr. Boy Abidin, SpOG yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung, menjelaskan bahwa siklus menstruasi dikendalikan oleh lingkaran siklus hormon seks wanita. Untuk memudahkan, siklus ini dibagi dalam 2 fase yaitu fase sebelum ovulasi dan fase setelah ovulasi.
Pada fase sebelum ovulasi dikontrol oleh folicle stimulating hormone (FSH) dan estrogen. Kelenjar pituitari pada dasar otak akan mengeluarkan FSH yang akan merangsang pematangan folikel di ovarium (indung telur). Pematangan folikel ini akan meningkatkan produksi esterogen. Ketika esterogen mencapai tingkat tertentu dalam darah, kelenjar pituitari distimulasi untuk menghasilkan luteinizing hormone (LH) yang meningkat cepat yang kemudian akan menimbulkan ovulasi (pecahnya folikel yang matang dan mengeluarkan ovum) dalam 36 jam kemudian.
Kenaikan kadar LH yang tinggi sesaat sebelum ovulasi dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui masa sebelum ovulasi terjadi. Kadar LH dapat dideteksi melalui darah dan urin. Kadar LH dalam darah dapat diperiksa melalui tes laboratorium, sedangkan kadar LH dalam urin dapat diperiksa melalui alat tes kesuburan berupa strip.
Hasil kadar LH melalui darah diakui dr. Boy Abidin lebih akurat karena mengukur secara kuantitatif dibandingkan melalui urin yang menggunakan metode kualitatif. Namun, karena dibutuhkan pemeriksaan darah berkali-kali sampai diperoleh kadar LH yang tinggi, anda berisiko akan disuntik dan diambil darahnya berkali-kali juga. Tentunya akan mengakibatkan ketidaknyamanan.
Fase setelah ovulasi dikontrol oleh progesteron. Setelah ovulasi, LH menyebabkan pecahnya folikel yang kemudian folikel tersebut akan berkembang menjadi korpus luteum, yang memproduksi progesteron. Di bawah pengaruh progesteron terjadi perubahan-perubahan yang menunjukkan masa tidak subur seperti hilangnya lendir.

Merencanakan kehamilan

Dengan mengetahui masa subur, tentu akan bermanfaat bagi pasangan yang bermasalah dalam mendapatkan keturunan, yaitu dengan cara:
1.    menilai kejadian dan waktu terjadinya ovulasi
2.    memprediksikan hari-hari subur yang maksimum
3.    mengoptimalkan waktu untuk melakukan hubungan intim untuk mendapatkan kehamilan
4.    membantu mengindentifikasi sebagian masalah infertilitas
Pada pasangan yang normal, kehamilan mungkin terjadi pada setiap waktu pada masa subur tetapi hubungan intim paling mungkin akan menghasilkan kehamilan pada hari-hari di mana terdapat lendir serviks dengan kesuburan tinggi, terdapat sensasi basah atau licin pada vulva, dengan lendir serviks yang transparan dan elastis.
Jumlah lendir subur paling banyak terjadi pada satu atau dua hari sebelum hari puncak dan merupakan waktu dengan tingkat kesuburan yang tinggi. Hari puncak hari terakhir ketika lendir yang subur ada sering bersamaan dengan waktu ovulasi. Pergeseran suhu menyakinkan bahwa ovulasi sedang terjadi. Pada waktu tingkat kesuburan maksimum, serviks tinggi, pendek, lurus, lembek, dan terbuka dan mengalirkan lendir yang subur.
Ani, wanita cantik berusia 33 tahun ini mengaku telah berhasil memanfaatkan masa suburnya untuk bisa hamil. Setelah menikah selama 3 tahun, akhirnya Ani hamil dan pada bulan Januari 2006 lalu melahirkan seorang bayi perempuan. Bukan tidak mungkin, anda juga bisa berhasil hamil seperti Ani. Namun, jika anda tidak seberuntung Ani dan jika dalam 6 bulan setelah melakukan hubungan intim secara teratur dalam masa subur namun tidak terjadi kehamilan, sebaiknya konsultasi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Mencegah kehamilan

Banyak alat kontrasepsi yang tersedia untuk mencegah kehamilan seperti IUD, spiral, susuk, pil, kondom, dan lain-lain. Namun, kadang efek samping pemakaian kontrasepsi ini yang tidak disukai wanita. Mulai dari wajah berjerawat, sakit kepala, badan bertambah gemuk, rasa nyeri sampai perdarahan. Meskipun sekarang sudah ada metode kontrasepsi yang minim efek samping.
Untuk yang ingin menghindari efek samping kontrasepsi, bisa mencoba cara alami dengan memanfaatkan masa subur. Pendekatan dengan kombinasi berbagai indikator, umumnya kombinasi suhu dan lendir merupakan metode yang sangat efektif, bahkan bila dilakukan dengan benar dapat mencegah kehamilan hingga 98%.
Jika ingin menunda kehamilan, maka hindari berhubungan intim pada masa subur sang istri atau menggunakan pelindung seperti kondom. Cara lain yang cukup digemari pasutri adalah sanggama terputus. Tentu hal ini tergantung dari kebiasaan dan disesuaikan dengan kenyamanan pasutri.

Yuk, coba cara alami!

Dengan ketekunan dalam mengenali perubahan fisiologis siklus menstruasi, secara alamiah dapat mencegah kehamilan maupun merencanakan kehamilan, dengan efektifitas yang tinggi. Bahkan dengan mengetahui adanya kelainan dalam siklus (misanya siklus anovulatoar), dapat diketahui adanya masalah infertilitas yang perlu penanganan lebih lanjut. "Kesuburan dapat dipengaruhi faktor gizi dan anatomi," ungkap dr. Boy Abidin, SpOG yang pernah mengikuti kursus Gynecological Oncology Coorporation Indonesia-Belanda pada tahun 2000.
Jalani pola hidup sehat yang berarti asupan gizi seimbang dengan makan 4 sehat 5 sempurna. Disamping memenuhi kebutuhan gizi, rutin berolahraga dapat melancarkan sirkulasi darah sehingga kerja hormon seks wanita yang terlibat dalam proses reproduksi juga berjalan baik. dr. Boy Abidin, SpOG juga menyarankan agar wanita jangan terlalu gemuk dan sebisa mungkin menghindari stres.

Strip Uji Masa Subur

Jika anda mengalami kesulitan dalam mengamati indikator masa subur maupun menghitung masa subur, maka anda dapat menggunakan strip uji masa subur. Selain praktis dan mudah anda pun bisa melakukannya di mana saja.
Fertitest adalah alat uji masa subur pada wanita dengan mengukur kadar LH pada urine. Alat ini dapat mendeteksi secara cepat, tepat dan terpercaya. Dalam satu box berisi 1 box isi 6 strip Fertitest bekerja dengan cara bereaksi (berubah warna atau memunculkan tanda) satu hari sebelum masa subur, dimana kenaikan LH yang diproduksi oleh kelenjar pituitari sudah terjadi.
Hal yang perlu diantisipasi dan diingat adalah kemampuan Sperma yang dapat bertahan hidup selama 3 - 5 hari atau lebih lama dalam serviks wanita bila ada lendir serviks yang subur.
Siklus menstruasi adalah jumlah hari dari hari pertama menstruasi sampai hari sebelum menstruasi bulan berikutnya. Cocokkan dengan tabel siklus di bawah ini :
Tabel Siklus
Siklus Menstruasi
Mulai Tes hari ke-
Siklus Menstruasi
Mulai Tes hari ke-
Siklus Menstruasi
Mulai Tes hari ke-
Siklus Menstruasi
Mulai Tes hari ke-
21 hari
6
26 hari
9
31 hari
14
36 hari
19
22 hari
6
27 hari
10
32 hari
15
37 hari
20
23 hari
7
28 hari
11
33 hari
16
38 hari
21
24 hari
7
29 hari
12
34 hari
17
39 hari
22
25 hari
8
30 hari
13
35 hari
18
40 hari
23
Keterangan :
Menstruasi hari pertama adalah hari ke-1, jika siklus menstruasi Anda kurang dari 21 hari atau lebih dari 40 hari, maka konsultasikan dengan dokter Anda
Untuk menentukan kapan mulai tes adalah sebagai berikut :
Contoh :
Jika siklus Anda 27 hari (lihat tabel siklus diatas), maka tes dilakukan pada hari ke-10, cara menentukan hari ke-10 sbb :

1
2
3+
Day 1
4
5
6
7
8
9
10
11
12*
Day 10
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
Keterangan :
3+ = adalah hari pertama haid
12* = hari mulai tes
atau dapat dihitung dengan cara 3+10-1 = 12 (tanggal 12 bulan terakhir haid)
Jadi, tes kesuburan dimulai pada tanggal 12 bulan terakhir.

Perhitungan di atas dilakukan untuk mengetahui kapan waktu untuk memeriksa masa subur menggunakan Fertitest. Lakukan pengujian dengan menggunakan urin antara jam 10.00-20.00 tapi jangan gunakan urin pertama di pagi hari.
Sebaiknya kurangi asupan cairan 2 jam sebelum melakukan tes karena bisa mempengaruhi untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Jika Fertitest menunjukkan tanda positif yang ditandai dengan munculnya dua garis warna atau jika garis warna pada daerah tes (T) lebih gelap atau sama dengan daerah garis Control (C). Ovulasi akan terjadi dalam 24-48 jam berikutnya. Jika menginginkan kehamilan, maka lakukan hubungan intim dalam waktu 24-48 jam. Jadi, ingin hamil atau menunda kehamilan, pilihannya terserah anda. Selamat mencoba.
Kontributor :
Dokter ahli obstetri dan ginekologi Boy Abidin merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung. dr. Boy Abdidin dilahirkan di Surabaya 29 Juli 1969.
dr. Boy Abidin, SpOG aktif juga sebagai pembicara dan narasumber untuk media massa baik cetak, elektronik maupun on line serta sering memberikan seminar di beberapa tempat. Saat ini dr. Boy Abidin, SpOG berpraktek di RS. Mitra Keluarga Kelapa Gading dari Senin sampai Sabtu.

Kegiatan yang pernah diikuti:
  • Pendidikan ilmu 3D Ultrasonography di Vienna International School
  • Kursus Gynecological Oncology Coorporation Indonesia-Belanda pada tahun 2000
  • Kursus Menopause Dasar
  • Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia
  • Workshop Vaginal Surgery
  • Pendidikan Dasar Imunoendokrinologi Reproduksi
  • dan masih banyak lagi.
 
IMUNISASI

DEFINISI

Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu.

Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit.
Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.

Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.

Imunisasi BCG

Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC).
BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak dianjurkan karena keberhasilannya diragukan.
Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur lebih dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL.
Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.
Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani pengobatan steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV).

Reaksi yang mungkin terjadi:
1.    Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustula (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut.
2.    Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan.
Komplikasi yang mungkin timbul adalah:
1.    Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.
2.    Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.

Imunisasi DPT

Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus.

DIFTERI adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.

PERTUSIS (BATUK REJAN) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak.

TETANUS adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang

Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha.

Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu.Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.

Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster).
Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.

DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin.

Pada kurang dari 1% penyuntikan, DPT menyebabkan komplikasi berikut:
1.       demam tinggi (lebih dari 40,5° Celsius)

2.       kejang - kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)
3.       syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).

Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat.
Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.

1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan.
Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen).
Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.

Imunisasi DT

Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus.
Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus.

Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi DPT.
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL.

Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam tinggi.
Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari.

Imunisasi TT

Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus.

Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan.
Vaksin ini disuntikkan pada otot paha atau lengan sebanyak 0,5 mL.
Efek samping dari tetanus toksoid adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan rasa nyeri.
Imunisasi Polio

Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.
Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.

Terdapat 2 macam vaksin polio:
  • IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
  • OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan. Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.

Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu.
Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).

Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula.

Kontra indikasi pemberian vaksin polio:

·         Diare berat
·     Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi,kortikosteroid)
·         Kehamilan.

Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang.

Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibobi sampai pada tingkat yang tertingiu.
Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak perlu dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan.
Kepada orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi, sebaiknya hanya diberikan IPV.

Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV.
Kepada penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia, kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya.

IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare.
Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih.
IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.

Imunisasi Campak

Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek).
Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih. Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada umur 6 bulan dan diulangi 6 bulan kemudian.
Vaksin disuntikkan secara subkutan dalam sebanyak 0,5 mL.

Kontra indikasi pemberian vaksin campak:

·         infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38°Celsius
·         gangguan sistem kekebalan
·         pemakaian obat imunosupresan
·         alergi terhadap protein telur
·         hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin
·         wanita hamil.

Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare, konjungtivitis dan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).

Imunisasi MMR

Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali.
Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian.
Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan.
Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebakban pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.

Jika seorang wanita hamil menderita rubella, bisa terjadi keguguran atau kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli).
Terdapat dugaan bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme, tetapi penelitian membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR.

Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap campak, gondongan dan campak Jerman.
Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12 bulan.

Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang adekuat, karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4-6 tahun (sebelum masuk SD) atau pada saat anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk SMP).

Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18 tahun atau lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status imunisasinya atau baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk SD.
Dewasa yang lahir pada tahun 1956 atau sebelum tahun 1956, diduga telah memiliki kekebalan karena banyak dari mereka yang telah menderita penyakit tersebut pada masa kanak-kanak.

Pada 90-98% orang yang menerimanya, suntikan MMR akan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap campak, campak Jerman dan gondongan.
Suntikan kedua diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak dapat dipenuhi oleh suntikan pertama.

Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing komponen vaksin:
  • Komponen campak
1-2 minggu setelah menjalani imunisasi, mungkin akan timbul ruam kulit. Hal ini terjadi pada sekitar 5% anak-anak yang menerima suntikan MMR. Demam 39,5° Celsius atau lebih tanpa gejala lainnya bisa terjadi pada 5-15% anak yang menerima suntikan MMR. Demam ini biasanya muncul dalam waktu 1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya selama 1-2 hari. Efek samping tersebut jarang terjadi pada suntikan MMR kedua.



  • Komponen gondongan
Pembengkakan ringan pada kelenjar di pipi dan dan dibawah rahang, berlangsung selama beberapa hari dan terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah menerima suntikan MMR.

  • Komponen campak Jerman
1.    Pembengkakan kelenjar getah bening dan atau ruam kulit yang berlangsung selama 1-3 hari, timbul dalam waktu 1-2 mingu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini terjadi pada 14-15% anak yang mendapat suntikan MMR.
2.    Nyeri atau kekakuan sendi yang ringan selama beberapa hari, timbul dalam waktu 1-3 minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini hanya ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima suntikan MMR, tetapi terjadi pada 25% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Kadang nyeri/kekakuan sendi ini terus berlangsung selama beberapa bulan (hilang-timbul).
3.    Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri) berlangsung selama 1 minggu dan terjadi pada kurang dari 1% anak-anak tetapi ditemukan pada 10% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Jarang terjadi kerusakan sendi akibat artritis ini.
4.    Nyeri atau mati rasa pada tangan atau kaki selama beberapa hari lebih sering ditemukan pada orang dewasa.
5.    Meskipun jarang, setelah menerima suntikan MMR, anak-anak yang berumur dibawah 6 tahun bisa mengalami aktivitas kejang (misalnya kedutan). Hal ini biasanya terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah suntikan diberikan dan biasanya berhubungan dengan demam tinggi.

Keuntungan dari vaksin MMR lebih besar jika dibandingkan dengan efek samping yang ditimbulkannya. Campak, gondongan dan campak Jerman merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi yang sangat serius.

Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih.

Imunisasi MMR sebaiknya tidak diberikan kepada:

1.    anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau antibiotik neomisin
2.    anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma globulin
3.    anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh akibat kanker, leukemia, limfoma maupun akibat obat prednison, steroid, kemoterapi, terapi penyinaran atau obati imunosupresan.
4.    wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian hamil.

 Imunisasi Hib

Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b.
Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak.

Vaksin Hib diberikan sebanyak 3 kali suntikan, biasanya pada saat anak berumur 2, 4 dan 6 bulan.

Imunisasi Varisella

Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.

Setiap anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air dianjurkan untuk menjalani imunisasi varisella.
Anak-anak yang mendapatkan suntikan varisella sebelum berumur 13 tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin.
Kepada anak-anak yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air, sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin dengan selang waktu 4-8 minggu.

Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster dan sangat menular.
Biasanya infeksi bersifat ringan dan tidak berakibat fatal; tetapi pada sejumlah kasus terjadi penyakit yang sangat serius sehingga penderitanya harus dirawat di rumah sakit dan beberapa diantaranya meninggal.
Cacar air pada orang dewasa cenderung menimbulkan komplikasi yang lebih serius.

Vaksin ini 90-100% efektif mencegah terjadinya cacar air. Terdapat sejumlah kecil orang yang menderita cacar air meskipun telah mendapatkan suntikan varisella; tetapi kasusnya biasanya ringan, hanya menimbulkan beberapa lepuhan (kasus yang komplit biasanya menimbulkan 250-500 lepuhan yang terasa gatal) dan masa pemulihannya biasanya lebih cepat.
Vaksin varisella memberikan kekebalan jangka panjang, diperkirakan selama 10-20 tahun, mungkin juga seumur hidup.

Efek samping dari vaksin varisella biasanya ringan, yaitu berupa:
1.       demam
2.       nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan
3.       ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan.

Efek samping yang lebih berat adalah:
1.       kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu setelah penyuntikan
2.       pneumonia
3.       reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang cepat, pusing dan perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa menit sampai beberapa jam setelah suntikan dilakukan dan sangat jarang terjadi.
4.       ensefalitis penurunan koordinasi otot.


Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada:

1.       Wanita hamil atau wanita menyusui
2.       Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan yang lemah atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan imunosupresif bawaan
3.       Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap antibiotik neomisin atau gelatin karena vaksin mengandung sejumlah kecil kedua bahan tersebut
4.       Anak-anak atau orang dewasa yang menderita penyakit serius, kanker atau gangguan sistem kekebalan tubuh (misalnya AIDS)
5.       Anak-anak atau orang dewasa yang sedang mengkonsumsi kortikosteroid
6.       Setiap orang yang baru saja menjalani transfusi darah atau komponen darah lainnya
7.       Anak-anak atau orang dewasa yang 3-6 bulan yang lalu menerima suntikan immunoglobulin.

Imunisasi HBV

Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B.
Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.

Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki HBsAg negatif, bisa diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan.
Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara suntikan HBV I dengan HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara suntikan HBV II dengan HBV III. Imunisasi ulangan diberikan 5 tahun setelah suntikan HBV III. Sebelum memberikan imunisasi ulangan dianjurkan untuk memeriksa kadar HBsAg.
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha.

Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, diberikan vaksin HBV pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG (hepatitis B immune globulin) pada lengan kanan, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat anak berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak berumur 6 bulan.
Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak diketahui, diberikan HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir. Pada saat persalinan, contoh darah ibu diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif, maka segera diberikan HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu).

Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar pulih.
Vaksin HBV dapat diberikan kepada ibu hamil.
Efek samping dari vaksin HBV adalah efek lokal (nyeri di tempat suntikan) dan sistemis (demam ringan, lesu, perasaan tidak enak pada saluran pencernaan), yang akan hilang dalam beberapa hari.

Imunisasi Pneumokokus Konjugata

Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah).

Kepada bayi dan balita diberikan 4 dosis vaksin.
Vaksin ini juga dapat digunakan pada anak-anak yang lebih besar yang memiliki resiko terhadap terjadinya infeksi pneumokokus. 

 
PSIKOLOGI KEHAMILAN
BAB I

PENDAHULUAN


1.1          Latar Belakang
                  Kehamilan merupakan suatu proses yang alami bagi seorang wanita, yang mana saat ini terjadi perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial didalam keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat, cukup bulan melalui jalan lahir namun  kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dimana bisa  terjadi kemungkinan timbulnya resiko-resiko yang bisa menyebabkan kematian ibu.
                  Adapun penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, seperti halnya di negara lain adalah pendarahan (30 % - 50 %), infeksi (20 %-25 %), dan eklamsia. Selain perdarahan dan infeksi sebagai penyebab kematian, sebenarnya ada penyebab lain seperti kematian akibat abortus terinfeksi dan partus lama. Hanya sekitar 5% kematian ibu disebabkan oleh penyakit yang memburuk akibat kehamilan, seperti jantung dan infeksi yang kronis. Selain itu keadaan ibu sejak pra-hamil juga sangat berpengaruh terhadap kehamilannya.
                  Adapun penyebab tidak langsung kematian ibu antara lain : Anemia, kurang energi kronis (KEK) dan keadaan “4 terlalu” (terlalu muda, tua, sering dan banyak). Tahun 1995 kejadian Anemia ibu hamil sekitar 51 %, dan kejadian resiko KEK pada ibu hamil (lingkar lengan atas < 23,5 cm) sekitar 30 %.
                  Oleh karena itu perawatan antenatal dan management kebidanan yang baiklah  yang dapat  menanggulangi masalah-masalah diatas karena  dapat mendeteksi secara dini kemungkinan-kemungkinan yang timbul  pada kehamilan terutama pada ibu Primagravida.
                  Leukore adalah cairan putih yang keluar dari liang senggama secara berlebihan. Hal ini normal dialami oleh setiap wanita saat menjelang haid dan setelah haid. Terkadang bisa menimbulkan gangguan rasa nyaman bila keluarga berlebihan dan berbau sebagai wanita yang mengalami leukore merasa terganggu apalagi di saat akan dan selesai melakukan hubungan seks dengan suaminya karena bisa memperbanyak keluarnya keputihan.

1.2.        Tujuan
1.2.1    Tujuan Umum
          Setelah melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan leukore mahasiswaa diharapkan dapat melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif

1.2.2    Tujuan Khusus
1.  Mahasiswa dapat mengkaji data pada ibu hamil
2.  Mahasiswa dapat melakukan interpretasi data pada ibu hamil
3.  Mahasiswa dapat menegakkan diagnosa potensial
4.  Mahasiswa dapat mengidentifikasi kebutuhan segera
5.  Mahasiswa dapat menentukan rencana tindakan
6.  Mahasiswa dapat melaksanakan rencana tindakan
7.  Mahasiswa dapat mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan

1.3.        Metode Penulisan
-   Studi Pustaka dengan mempelajari buku-buku Ilmu Kebidanan Fisiologis.
-   Studi kasus dengan mempelajari data yang ada pada klien baik subyektif maupun obyektif.
-   Pemecahan masalah dengan menggunakan management Asuhan Kebidanan                    

1.4.        Sistematika Penulisan
          Asuhan kebidanan pada klien dengan kehamilan fisiologis primigravida yang dilaksanakan pada tanggal 21 April -17 Mei 2008 di Puskesmas Ngagel Rejo Surabaya.
          BAB I  :    Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metodologi penulisan  dan sistematika penulisan
          BAB II  :   Tujuan Pustaka, meliputi konsep dasar kebidanan, konsep asuhan kebidanan
          BAB III :  Tinjauan Kasus, meliputi pengkajian data, mendiagnosa kehamilan, mengidentifikasi diagnosa potensial, menetapkan kebutuhan segera, rencana tindakan, implementasi, evaluasi
          BAB IV : Penutup, meliputi kesimpulan dan saran
          DAFTAR PUSTAKA

 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.        Konsep Dasar Kehamilan
2.1.1.  Pengertian
          Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan.
    (Prof,dr. Ida Bagus Gede Manuaba, SpOG, 1998:4)
          Kehamilan adalah suatu masa dimulai dari terjadinya pembuahan (konsepsi) sampai lahirnya anak. Pembuahan terjadi setelah hubungan badan dimana sperma dari suami akan membuahi sel telur istri. Telur yang sudah dibuahi akan menempel pada dinding rahim. Kemudian tumbuh dan berkembang sampai mencapai 9 bulan (40 minggu)
(Depkes. RI 1995)
    Primigravida adalah wanita yang hamil untuk partama kali.
(Prof.dr. Ida Bagus Gede Manuaba, Spob, 1998, 158)
    Primigravida Muda adalah seorang primigravida yang belum mencapai umur 16 tahun
    Primigravida Tua adalah wanita yang pertama kali hamil sedangkan umurnya sudah mencapai 35 tahun atau lebih
(Sastra Winata, Sulaiman, 1983,154)

2.1.2    Klasifikasi Kehamilan
          Kehamilan dibagi menjadi 3 triwulan yaitu :
- Triwulan pertama        :  0 sampai 12 minggu
- Triwulan kedua :  13 sampai 28 minggu
- Triwulan ketiga :  29 sampai 42 minggu




2.1.3    Pemeriksaan Kehamilan
          Pada umumnya pemeriksaan kehamilan dilakukan :
ü 1 x sebulan sampai dengan bulan ke IV
ü 2 x sebulan dari bulan ke IV sampai bulan ke IX
ü 1 x seminggu pada bulan terakhir
Aturan pemeriksaan tersebut diatas hanya berlaku kalau semuanya normal. Jika terjadi kelainan maka frekuensi pemeriksaan disesuaikan menurut kebutuhan pasien masing-masing.
1.  Mengenai keluhan-keluhan yang sering didapatkan wanita hamil:
a.   Mual, muntah
    Mual dan muntah biasanya terjadi pada trimester I dan sering timbul di pagi hari waktu perut kososng.
    Pengobatannya adalah :
-       Makan dahulu sedikit, misalnya biscuit dan the sebelum bangun dari tempat tidur.
-       Makan harus dalam porsi kecil tetapi sering.
-       Dapat juga diberikan vitamin B. Complex, vitamin C dan sedative.
b.  Panas dalam
    Disebabkan karena reuritasi atau tekanan baik dari kandungan asam perut ke dalam esophagus bagian bawah oleh gerakan baik peristaltic.
    Cara mengatasinya adalah :
-       Postur tubuh yang baik
-       Menghindari makanan yang berbau keras
-       Makan sedikit tapi sering untuk menghindari beban lambung
c.   Sakit Pinggang
    Sebagian besar disebabkan karena perubahan sikap badan pada kehamilan lanjut, karena titik berat badan pindah kedepan disebabkan perut yang membesar dan sebagian disebabkan karena melanggarnya sendi-sendi pada panggul


d.  Sakit Kepala
    Biasanya timbul pada hamil muda dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pertengahan kehamilan hilang atau berkurang dengan sendirinya. Pada triwulan terakhir dapat merupakan ajaran PEB.
e.   Sesak Nafas
    Disebabkan karena rahim yang membesar mendesak diafragma keatas.
    Cara mengatasinya adalah : Jika tidur dengan bantal yang lebih tinggi dari badan.
f.   Varises
    Timbulnya varises dipengaruhi oleh faktor keturunan, berdiri lama dan usia. Dalam kehamilan ditambah faktor hormonal (progesterone) dan bendungan dalam panggul
    Cara mengatasinya adalah :Waktu beristirahat hendaknya kaki ditinggikan dengan cara menyangga dengan bantal
g.  Odema
    Paling sering timbul pada kaki dan tungkai bawah disebabkan oleh tekanan dari rahim yang membesar pada vena-vena panggul.
    Cara mengatasinya :
-       Mengurangi aktivitas sehari-hari
-       Lebih banyak istirahat dan menghindari pakaian ketat.
h.  Konstipasi (Sembelit)
    Disebabkan oleh relaksasi otot halus dari usus besar dengan adanya jumlah progesteron yang meningkat.
    Cara mengatasinya adalah :
-       Minum yang banyak
-       Makan buah/jus buah
-       Berikan minuman yang hangat pada waktu tidur.
-       Banyak makan makanan yang mengandung serat.

i.    Haemorroid (bawasir)
    Bawasir adalah pelebaran vena-vena dari anus bisa bertambah besar dalam rongga panggul
    Cara mengatasinya adalah :
-       Diberikan cupoutorin memoroidales atau tindakan operasi bila perdarahan banyak.
-       Menghindari konstipasi
-       Menghindari ketegangan pada saat BAB
j.    Flour albus (Keputihan)
    Pada umumnya cairan didalam vagina bertambah dalam kehamilan tanpa sebab-sebab yang patologis dan sering menimbulkan keluhan. Ganococcus menyebabkan flour seperti nanah, Trichomonasvaginalis menyebabkan flour yang putih berbau, sedangkan candida albicans menyebabkan flour dengan gumpalan putih atau kuning dan menyebabkan gatal yang sangat.
    Cara mengatasinya adalah :
-       Mengganti celana dalam jika terasa basah.
-       Jika selesai BAK hendaknya vagina disiram dengan air.
2.  Secara bijaksana ibu diajarkan mengenai tanda-tanda bahaya dalam kehamilan, seperti :
-       Perdarahan dari kemaluan
-       Oedema dari muka atau jari
-       Sakit kepala yang keras
-       Pengelihatan yang kabur
-       Nyeri perut
-       Muntah-muntah yang keras
-       Demam tinggi



2.1.4    Perubahan Fisiologi Ibu Hamil
Perubahan sistem tubuh pada kehamilan meliputi :
1. Sistem Respirasi
    Dengan bertambahnya usia kehamilan dapat menyebabkan desakan pada Diafragma, karena usus-usus tertekan oleh Uterus yang membesar kearah diafragma sehingga kebutuhan O2 meningkat kira-kira 20% sehingga wanita hamil bernafas lebih dalam dari biasanya, yaitu yang lebih menonjol adalah pernafasan dada.
2. Sistem Kardio Vaskuler
    Peredaran darah dipengaruhi oleh :
-     Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin.
- Hubungan langsung antara Arteri dan Vena pada sirkulasi Retroplasenta.
- Pengaruh hormon Estrogen dan Progesteron yang meningkat.
3. Sistem Urinaria
    Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing  tertekan oleh Uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering kencing dan keadaan ini akan hilang dengan makin tuanya kehamilan tetapi keluhan ini akan timbul lagi pada waktu kepala janin mulai turun kebawah PAP.
4. Perubahan Hormon dan Sistem Pencernaan
    Pengeluaran HCL akan meningkatkan karena pengaruh dari hormon Estrogen yang meningkat sehingga makanan akan lebih lama di dalam lambung dan yang dicernakan akan lebih lama dalam usus-usus, dan karena pengaruh hormon Progesteron pun dapat menimbulkan gerak usus yang berkurang sehingga dapat menyebabkan Obstipasi.
5.  Sistem Integument
    Karena pengaruh Stimulating Hormon Lobus Hipofisis Anterior dan pengaruh Suprakanalis Hyperpigmentasi pada kulit sehingga terjadi perubahan Deposit Pigment dan Hyperpigmentasi akan menghilang setelah persalinan.
6.  Sistem Reproduksi
    Kehamilan mempengaruhi seluruh reproduksi Ginetalia wanita :
-   Uterus
    Uterus bertambah besar dari besarnya 30 gr menjadi 1000 gr
    Ukuran panjang 32 cm, lebar 24 cm dan ukuran muka belakang 22 cm.
    Tinggi Fundus Uteri
    28 minggu : 3 jari atas pusat/sepertiga jarak antara pusat dan prosesus xypoieleus
    32 minggu : setengah jarak pusat dan prosesus xypoieleus
    36 minggu : 3 jari dibawah prosesus xypoieleus
    40 minggu : fundus uteri turun setinggi 3 jari dibawah prosesus xypoieleus, oleh karena saat ini kepala janin telah masuk PAP.
-   Vagina dan Vulva
    Karena pengaruh estrogen terjadi perubahan pada vagina dan vulva. Akibat Hipervaskularisasi, vagina dan vulva terlihat lebih merah atau kebiruan. Warna liviel pada vagina dan portio servik disebut tanda Chadwick
-   Ovarium
    Pada awal kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditaris sampai terbentuknya plasenta kira-kira pada kehamilan 16 minggu dan akan mengecil setelah plasenta terbentuk. Diperkirakan korpus luteum adalah tempat sintetis dari relaxin pada awal kehamilan.
-   Perubahan Payudara
    Payudara akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan untuk persiapan pemberian ASI saat laktasi dan payudara akan membesar dan tegang akibat hormone Somatomammotrepin, Estrogen, dan Progesteron
    Perubahan Payudara :
ü  Payudara lebih besar
ü  Areola mamae hyperpigmentasi
ü  Glandula mongomerry makin tampak
ü  Puting susu makin menonjol
7.  Sistem Metabolisme
    Kehamilan mempunyai efek pada metabolisme, karena itu wanita hamil perlu mendapat makanan yang bergizi dan nutrisi yang tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan pemberian ASI.
    Perubahan metabolisme
-       Metabolisme basale naik sebesar 15 - 25% dari semua terutama pada trimester III
-       Keseimbangan asam basa menurun dari 155 meg/liter sampai 145 meg/liter disebabkan oleh hemogulasi darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan janin.
-       Kebutuhan protein wanita hamil makin tinggi untuk keperluan pertumbuhan janin dan persiapan laktasi.
-       Makanan yang diperlukan protein tinggi, kebutuhan kalori, lemak dan kabohidrat serta protein yang diperlukan ½ gr/kg/BB.
-       Kebutuhan mineral
      Kalsium ½ kg/hari, fosfor 2 gr/hari, zat besi ibu hamil ½ kg perminggu

2.1.5    Tanda-Tanda Kehamilan
          Tanda-tanda kehamilan terdiri dari 2 yaitu :
2.1.5.1       Tanda-tanda pasti
              Tanda-tanda pasti timbul pada kehamilan yang sudah lanjut, yaitu diatas 4 bulan, dengan menggunakan Ultrasound, terdiri dari :
1. Adanya gerakan janin
2. Adanya detak jantung janin dapat didengar pada kehamilan 12 minggu.
3. Pada foto rontgen terlihat tulang-tulang janin


2.1.5.2       Tanda-tanda dugaan hamil
1.  Tanda  Subyektif
-  Amenorea (terlambat datang bulan)
-  Mual (Mause) dan muntah (emesis)
- Sering miksi karena rahim yang membesar sehingga menekan kandung kemih
-  Ngidam
-  Konstipasi atau Obstipasi
-  Payudara tegang
-  Epulsi (Hipertropi gusi dapat terjadi bila hamil)
-  Varices/penampakan pembuluh darah vena
-  Hiper pigmentasi
ü Pada kulit
ü Pada sekitar pipi (cloasma gravidarum)
ü Pada dinding perut (linea alba menjadi linea pusca/nigra, striele albican, striele, liviele).
ü Pada areola dan papilla mamae.
2.  Tanda Obyektif
-   Pembesaran, perubahan bentuk dan konsistensi rahim
-   Perubahan pada servik
-   Kontraksi Broxton Higks (adanya kontraksi dan uterus bila dirangsang)
-  Ballotement (lensing didalam rahim)
-  Meraba pergerakan anak/bagian anak.
-  Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif.
-      Adanya tanda chadwicks (selaput lender volva dan vagina membiru)


2.1.6 Masalah – masalah yang sering timbul selama hamil
2.1.6.1 Trimester I
    -     Mual, muntah
    -     Penggunaan obat terhadap janin yang dikandungnya
    -     Kebutuhan Nutrisi
    -     Perdarahan (abortus, KET, molahidasidosa)
    -     Perubahan body image tubuh (khususnya bagi ibu hamil yang masih dalam usia remaja atau muda (usia 12-19 tahun)
2.1.6.2 Trimester II
    -     Perdarahan (abortus, KET, molahidasidosa)
    -     Penambahan BB dan tekanan darah
    -     Rasa ketidaknyamanan
    -     Aktifitas sexsual yang meningkat
2.1.6.3 Trimester III
-     Konstipasi
-     Penambahan BB yang berlebihan
-     Anemia
-     Toxsemia
    -     Perdarahan kehamilan lanjut dan persalinan (placenta previa dan rupture uteri)


2.3     Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan
          Adalah aktivitas atau intervensi yang dilaksanakan oleh bidan kepada klien yang mempunyai kebutuhan atau permasalahan khususnya dalam bidang KIA/KB.
2.3.1    Pengkajian Data
          Data yang dikaji meliputi data subyektif dan obyektif, langkah awal yang penting dalam memberikan asuhan kebidanan adalah pengkajian data.
2.3.1.1Data Subyektif
              Merupakan data yang didapat dari Tanya jawab antara penderita dan pemeriksa (Anamnesa). Dari Tanya jawab ini banyak keterangan  yang dapat diperoleh dan membantu menegakkan diagnosa dan prognosa kehamilan meliputi :
a.   Identitas
    Pada anamnesa sosial ditanyakan :
    -     Nama klien dan suami                                      
    -     Agama
   -      Umur            
   -      Kebangsaan
   -      Pekerjaan  
   -      Alamat, dan lain-lain
Pada umumnya anamnesa sosial memberikan gambaran mengenai latar belakang penderita seperti :
ü Taraf pendidikan
ü Status sosial ekonomi
ü Keadaan rumah tangga
ü Adat istiadat
b.  Alasan kunjungan saat ini/ keluhan utama. Apakah penderita datang untuk pemeriksaan  kehamilan ataukah ada keluhan lain yang penting.

c.    Riwayat Kebidanan
    Riwayat Menstruasi
    Tanyakan :
ü  Siklus menstruasi
ü  Lamanya
ü  Wananya
ü  Baunya
ü  Menarche
ü  HPHT dan TP
    Anamnesa haid memberikan kesan pada kita tentang fungsi alat kandungan, haid teratur atau tidak, haid terakhir dan siklusnya dipergunakan untuk memperhitungkan tanggal persalinan.
   
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.
Anak
Ke-
Suami
Ke-
UK
Jenis
persalinan
penolong
penyulit
BB/
PB
Jenis
Kelamin
Hidup/
mati
Meneteki
KB













Pertanyaan ini sangat mempengaruhi prognosa persalinan karena jalannya persalinan yang lampau adalah hasil ujian-ujian dari segala faktor yang mempengaruhi persalinan.
d.  Riwayat kehamilan ini/ANC/TT
    Ditanyakan pada ibu apakah sudah memeriksakan kehamilannya dan apakah sudah mendapatkan suntikan TT1 dan TT2
e.   Riwayat Kesehatan
1.      Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita.Tanyakan apakah ibu menderita penyakit kronis seperti Jantung, Ginjal, Asma/TBC, Paru, DM, Hipertensi
2.      Riwayat penyakit keluarga/keturunan
      Tanyakan apakah ibu menderita suatu penyakit keluarga/keturunan seperti Jantung, Hipertensi, DM, keturunan kembar, dan lain-lain
3.      Perilaku kesehatan
          Ditanyakan apakah ibu senang merokok, alkohol, narkoba, obat-obatan, jamu, binatang peliharaan
f.   Riwayat Psikososial
ü  Kehamilan ini direncanakan/diterima
ü  Perasaan tentang kehamilan ini, apakah menerima
g.  Pola kehidupan sehari-hari
1.      Pola Nutrisi
          Berapa kali sehari ibu makan dan minum dengan komposisi menu seimbang/cukup mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, air dan mineral
2.      Pola Eliminasi
          Apakah BAB teratur dan BAK lancar tiap harinya
3.      Pola Aktivitas sehari-hari
          Berapa jam sehari tidur malam dan tidur siang, apakah ibu melakukan hubungan seksual selama hamil. Apakah ibu dapat melakukan pekerjaan/aktivitas selama hamil
4.      Personal hygiene
          Berapa kali ibu mandi, gosok gigi, ganti celana dalam sehari-hari, dan berapa kali mencuci rambut.
h.  Latar Belakang Budaya
          Ibu menganut ada apa, apakah ada pentangan makanan
i.    Dukungan Keluarga
          Apakah keluarga mendukung kehamilan ini.
 
2.3.1.2      Data Obyektif
Adalah data yang didapat dari hasil pemeriksaan klien, hasil laboratorium dan tes diagnostic yang lain. Data ini untuk mendukung Assesment, antara lain :
1. Pemeriksaan Umum
    -     Kesadaran:    Composmentis/Apatis/Pelirium/Samolle sopar/koma
    -     KU: ibu baik/lemah
    -     TB/BB: > /45 cm dan seimbang dengan BB kenaikan sekitar 0,4 kg-0,5 kg/minggu
-     Tekanan darah: (N) 110/70, 120/80 mmhg
-     Denyut nadi  : (N) 84 - 88 x/mnt
-     Suhu      : (N) 36,5 – 37,5 oc
-     RR   : (N) 12 – 20 x/mnt                      
2. Pemeriksaan obstetric
    Ukuran panggul luar
- Distanesia spinarum              :   23 – 26 cm
- Distanesia cristarum              :   26 – 29 cm
- Bodeloque                            :   18 – 20 cm
- Lingkar panggul                    :   80 – 90 cm
3. Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
ü Rambut :     hitam, lebat, tidak bau, tidak berketombe.
ü Muka     :     Chloasma gravida         :   ada/tidak
                        Conjungtiva                  :   Anemi/tidak
                        Sklera                            :   icterus/tidak
ü Leher :
    -     Pembesaran kelenjar getah bening ada/tidak
-     Struma/kelenjar gondok : ada/tidak
-     Pembesaran vena jogularis : ada/tidak 

ü Perut :
    * Striae        : lividae (pada primigravida = hitam)
* Albican (pada multigravida = putih)
* Linea  : nigra
* Pembesaran : perut ibu membesar sesuai dengan umur kehamilan
ü Vulva    :
    -     warna            : apakah merah kebiruan
    -     Luka parut  : tidak terdapat luka parut
ü Keluaran      :   apakah keluaran flour albus/tidak
ü Varices        :   apakah ada/tidak
ü Odema        :   apakah ada/tidak
ü Anus  :   ada hemorhoid/tidak
ü Ektremitas : atas/bawah
- Varices : ada/tidak
-  Odema : ada/tidak
ü Palpasi
    TFU : menentukan tinggi fundus uteri
    Leopord I    : menentukan TFU dan bagian janin dalam fundus dan konsistensi fundus
    Leopord II  :
    -     Menentukan batas samping rahim kanan-kiri
    -     Menentukan letak punggung janin
    -     Pada letak lintang, tentukan dimana kepala janin
    Leopord III :
    -     Menentukan bagian terbawah janin
    -     Apakah bagian terbawah tersebut sudah masuk atau masih goyang.
    Leopord IV :
    -     Menentukan bagian terbawah janin dan berapa jauh janin sudah masuk pintu atas panggul  

 ü Auskultasi
    Dilakukan  dengan Stetoskop monoaural dan Doptone dengan  Stetoskop dapat didengar bermacam-macam bunyi yang berasal dari anak :
- Djj 
- Bising tali pusat
- Gerakan anak
    Dari Ibu :
- Bising rahim
- Bunyi aorta
- Bising usus
4. Perkusi
    Reflek patella kanan/kiri =

4)  Pemeriksaan Penunjang
    Darah  : Hb
    11 gr % :     tidak anemia
    9 – 10 gr %  :   Anemia ringan
    7 – 8 gr %    :   Anemia sedang
    < 7 gr %      :   Anemia berat
    Albumin      :   (-)
    Reduksi :     (-)

2.3.2    Identifikasi Data
Hari / Tgl
Data Dasar
Diagnosa/Masalah









2.3.3Diagnosa Potensial
              Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.

2.3.4    Tindakan Segera
              Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk  dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. 

2.3.5    Intervensi
2.3.5.1.1Memberikan hasil pemeriksaan kehamilan
2.3.5.1.2Memberikan HE : Mengajari ibu tentang ketidaknyamanan yang dialami ibu dan beri penjelasan perubahan-perubahan yang terjadi pada trimester III.
                  Konseling tentang gizi, kebersihan diri, istirahat, aktivitas sehari-hari, perawatan payudara.
                  Memberi penjelasan kepada ibu mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan.
2.3.5.1.3Memberikan tablet tambah darah, multivitamin.
2.3.5.1.4Anjurkan untuk control ulang sesuai jadwal.

2.3.6    Implementasi
          Dilakukan sesuai dengan rencana tindakan.

2.3.7    Evaluasi
          Dilakukan setelah implementasi selesai perlu dilakukan apakah rencana perlu dilanjutkan/tidak

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian
3.1.1    Data Subyektif
Anamnese tanggal : 05-03-2007      Jam : 11.30         Oleh : Ari Setiyarini
3.1.1.1 Identitas
Nama klien   :  Ny “I”
Umur   :  23 Tahun
Bangsa/suku        :  Indonesia/Jawa
Agama     :  Islam
Pendidikan    :  SD
Pekerjaan      :  IRT
Penghasilan  :  -
Alamat     : Rungkut kidul Gg. IV No. 24
Nama Suami        :  Tn “C”
Umur   :  30 tahun
Bangsa/Suku        :  Indonesia/Jawa
Agama     :  Islam
Pendidikan    :  SMA
Pkerjaan :  Wiraswasta
Penghasilan  :  Rp. 1.100.000
Alamat                          : Rungkut kidul Gg. IV No. 24
   
3.1.1.2      Alasan kunjungan saat ini/keluhan
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kandungannya dengan keluhan terjadi odeme pada ekstrimitas bawah/kaki
3.1.1.3      Riwayat kebidanan
Riwayat Menstruasi
-    Siklus menstruasi      : 30 hari 
-    Menarche        : 13 Tahun
-    Lama           : 6 hari  
-    HPHT          : 20-08-2006
-    TP          : 27-05-2007
-    Warna              : Merah
-    Bau              : Amis



Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
No
Suami
Ke
UK
Jenis
Persalinan
Penolong
Penyulit
BB/PB
Jenis
Kelamin
Hidup/
Mati
Meneteki
KB


HAMIL INI










3.1.1.4      Riwayat Kehamilan Sekarang
          Ibu memeriksakan kehamilannya 6x, TT 2x, gerak anak pertama kali pada usia kehamilan 3 bln
3.1.1.5      Riwayat Kesehatan
1.  Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita
Ibu mengatakan bahwa ia tidak mempunyai penyakit berat seperti asma, jantung, DM, Typus, Hipertensi, TBC.
2.  Riwayat penyakit keluarga/keturunan
    Ibu juga mengatakan bahwa ia tidak mempunyai penyakit keturunan seperti : DM, Typus, Hipertensi, TBC, DM dan ibu juga tidak mempunyai keturunan Gemili.
3.  Prilaku Kesehatan
Ibu tidak pernah minum jamu-jamuan, tidak minum alkohol, tidak merokok, tidak minum obat-obatan, tidak mempunyai hewan piaraan dan jika ibu/keluarga sakit berobat ke PKM, BPS, RS 
3.1.1.6  Keadaan Psikologi
Ibu mengatakan suami dan keluarga sangat menginginkan kehamilan ini karena merupakan kehamilan yang pertama
3.1.1.7  Pola Kehidupan Sehari-hari
1.  Pola Nutrisi
Ibu mengatakan nafsu makan ibu baik dan biasanya makan 3x sehari dengan porsi nasi, sayur, lauk pauk, buah, susu dan minum air putih ± 8 – 9 gelas/hari.

2.  Pola Eliminasi
Ibu mengatakan BAB 4 kali seminggu, tekstur lembek, warna kuning kecoklatan, bau kas dan tidak ada darah dan lendir. BAK 4-5 kali sehari, warna jernih, tidak nyeri.
3.  Pola Aktivitas sehari-hari
1.  Istirahat dan tidur
          Ibu mengatakan kurang nyenyak tidur karena kakinya odema. Tidur siang ±1 jam (13.00-14.00) dan tidur malam ± 7  jam ( 21.30 – 03.30)
2.  Seksualitas
          Ibu mengatakan jarang melakukan hubungan seksual karena tuanya usia kehamilan dan hanya 1x dalam seminggu.
3.  Pekerjaan/Aktivitas
          Ibu mengatakan sebagai IRT biasa melakukan pekerjaan ringan seperti : menyapu, mengepel, mencuci piring.
4.  Personal Hygiene
          Ibu mengatakan biasa mandi 3x sehari, gosok gigi 2x sehari pagi dan malam hari, ganti celana dalam 2-3 kali sehari dan mencuci rambut 3x seminggu.
3.1.1.8   Latar Belakang Budaya
Ibu mengatakan menganut adat jawa dan tidak ada pantangan makanan.
3.1.1.9      Dukungan Keluarga
    Ibu mengatakan keluarga sangat mendukung kehamilan ini dan keluarga sangat memperhatikan dan mempersiapkan persalinan.

 3.1.2    Data Obyektif
3.1.2.1      Pemeriksaan Umum
Kesadaran       :  Composmetis
KU            :  ibu baik
TB             :  150 cm
BB             :  55 Kg
TD             :  120/80 mmhg
Lila            :  23 cm
Suhu      :  37 oC
Nadi      :  76 x/mnt
RR             :  18 x/mnt
3.1.2.2      Pemeriksaan Obsterik
Ukuran panggul luar
1. Distantia spinarum    :  24 cm
2. Distantia cristarum    :  26 cm
3. Bodeluque       :  19 cm
4. Lingkar panggul  :  83 cm
3.1.2.3      Pemeriksaan Fisik
1.  Inspeksi
Rambut : bersih, tidak berketombe, kulit kepala tidak luka
Muka     : Chloasma gravidarum : tidak ada
Mata  :   Conjungtiva    :  tidak anemis
Sklera    : tidak icterus
Telinga  :   tidak ada serumen
Hidung  :   Polip            : tidak ada
               Sekret       : tidak ada  
Mulut              : Pembesaran tonsil     : tidak ada
          Karies gigi     : tidak ada
 
Leher:
-    Pembesaran kelenjar getah bening :   tidak ada
-    Struma                                      :  tidak ada
-    Pembesaran vena jugularis      : tidak ada
    Dada: Simetris
    Payudara:    - Kebersihan                              : bersih
    - Bentuk      : bulat tegang
    - Areola        : hiperpigmentasi
    - Putting susu  : menonjol
- Keluaran                    : colostrum belum keluar
    Perut:
-    Strie       : lividae
-    Linea     : nigra
-    Bekas luka operasi : tidak ada
-    Pembesaran :  sesuai usia kehamilan
    Vulva    :
-    Warna          : merah kebiruan
-    Luka parut       : tidak ada
-    Keluaran          : tidak ada keluaran cairan
-    Varises        : tidak ada
-    Odem          : tidak ada
-    Kebersihan  : bersih
    Anus  :  Bersih dan tidak hemorroid
    Ekstremitas atas/bawah :
-    Varises : -/-
-    Oedem  : -/+

 2.  Palpasi
Leopord I: TFU 3 jari diatas pusat (27 cm) , dan pada bagian fundus uteri teraba bagian lunak, tidak bulat dan tidak melenting
Leopord II: Teraba bagian keras, memanjang seperti papan disebelah kiri perut ibu dan disebelah kanan perut ibu teraba bagian kecil dari janin.
Leopord III: Teraba bagian keras, bulat, melenting pada bagian bawah perut ibu dan tidak dapat digoyangkan
Leopord IV: Kedua tangan pemeriksa divergen
3.  Auskultasi:  DJJ (+) 136 x/mnt
4.  Perkusi: reflek patella knan dan kiri positif
3.1.2.4 Pemeriksaan Penunjang
 1. Darah   :  - Hb: 12,4 gr%
    2. Urine :  - Albumin: negatif
                 - Reduksi: negatif

3.2          Identifikasi  Data
Data Dasar
Diagnosa/Masalah
S : - Ibu mengatakan hamil ini yang pertama
- Ibu mengatakan HPHT tanggal 20-8-2006
- Ibu merasakan gerakan janin pertama kali 4 bulan yang lalu
O :  Keadaan umum baik
HPHT  : 20-08-2006
TP       : 27-05-2007
T         : 120/80 mmhg
N        : 76x / mnt
RR      : 18 x/mnt
S         : 37 oC
BB      : 55 kg
TB      : 150 cm

Palpasi perut
Leopord I : 2 jari diatas pusat, dan pada bagian fundus uteri teraba bagian lunak, tidak bulat dan tidak melenting
Leopord II : Teraba bagian keras, memanjang seperti papan disebelah kiri perut ibu dan disebelah kanan perut ibu teraba bagian kecil dari janin.
Leopord III :        Teraba bagian keras, bulat, melenting pada bagian bawah perut ibu dan tidak dapat digoyangkan
Leopord IV   :    tangan pemeriksa divergen
Inspeksi  : cloasma gravidarum tidak ada, conjungtiva : tidak anemis, sclera : tidak icterus
Auskultasi  : DJJ (+) 136 x/menit
Perkusi        :  reflek patela kanan kiri positif   

G1 P00000, uk 29 mgg, tunggal, hidup, let kep V, Puki, kesan jalan lahir normal, ku ibu dan janin baik
S: Ibu mengatakan bagian ekstrimitas bawah/kaki bengkak/odeme
O: Aktivitas ibu sehari-hari agak terganggu karena terjadi pembengkakan pada kaki
Odeme pada ekstrimitas bawah/kaki

3.3          Diagnosa Potensial
Tidak ada

3.4          Tindakan Segera
Tidak ada

3.5          Intervensi
Diagnosa/ Masalah
Intervensi
Rasional
G1P00000, uk 29 mgg, tunggal, hidup, let kep V, Puki, kesan jalan lahir normal, ku ibu dan janin baik
Tujuan: setelah dilakukan Asuhan Kebidanan selama ±20 menit diharapkan dapat diketahui secara dini kemungkinan adanya kelainan pada ibu dan agar kehamilan, persalinan dan nifas berlangsung normal, ibu dan bayi sehat.

Kriteria:
Tidak timbul komplikasi dan penyulit dalam kehamilan yang ditandai :
-     TTV dalam batas normal
T: 110/70-130/90 mmHg
N: 69-100 x/menit
RR: 16-18 x/menit
S: 36-37ºC
-     TFU sesuai umur kehamilan
-     DJJ dalam batas normal 120-160 x/menit




Intervensi:
1. Lakukan pendekatan terapeutik dengan klien

5.    


1)   Dengan pendekatan terapeutik pada klien diharapkan terjalin komunikasi yang baik dengan klien dan adanya kerja sama yang terbuka

2. Lakukan pemeriksaan 7 T
2)   Mengetahui apakah ibu dalam keadaan fisiologis atau patologis

3. Jelaskan hasil pemeriksaan
3)   Ibu mengetahui perkembangan dan pertumbuhan janinnya serta ibu mengetahui kesehatannya

4. Berikan Health Education
-     Nutrisi
4)
-     Ibu hamil banyak membutuhkan nutrisi dalam  jumlah yang banyak dan kualitas yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan janin serta untuk menjaga kesehatan selama hamil

-     Personal Hygiene
-     Dengan adanya peningkatan hormon selama masa kehamilan mengakibatkan sekresi lendir vagina berlebihan sehingga di daerah vagina terasa lembab dan kadang-kadang gatal

-    Tanda-tanda bahaya kehamilan
-     Mengetahui deteksi dini komplikasi pada ibu hamil

-     Beri multivitamin tambahan
-     Dengan memberikan multivitamin ibu akan mendapatkan suplemen tambahan yang dibutuhkan ibu selama hamil

-     Motivasi ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2 minggu lagi atau sewaktu-waktu jika ada keluhan
-     Deteksi dini adanya komplikasi



Odeme pada ekstrimitas bawah/kaki
1. Beri penjelasan tentang penyebab odeme dan informasi pada ibu bahwa kehamilannya normal
1)   Beri penjelasan tentang penyebab odeme pada ekstrimitas bawah pada triwulan III karena adanya tekanan dari rahim yang semakin membesar sehingga kandung kemih tertekan dan sirkulasi darah bagian bawah tidak lancar

2. Anjurkan pada ibu supaya mengurangi aktivitas seperti : berjalan, naik turun tangga serta menganjurkan agar posisi kaki lebih tinggi dari badan atau bisa juga kaki di sangga memakai bantal
2)   Aktivitas yang terlalu banyak akan menyebabkan sirkulasi darah pada ekstrimitas bawah tidak bisa kembali keatas dan akan menimbulkan odeme yang semakin membengkak

3. Kaki diletakan di tempat yang lebih tinggi dari badan
3)   Ibu dapat mengurangi bengkak pada kakinya

3.6 Implementasi
Diagnosa/ Masalah
Implementasi
G1P00000, uk 29 mgg, tunggal, hidup, let kep V, Puki, kesan jalan lahir normal, ku ibu dan janin baik
1. Melakukan pendekatan terapeutik kepada klien dengan cara:
-     Menyapa dan memberi salam
-     Mendengarkan keluhan
2.   Melakukan pemeriksaan 7 T
-     Timbang
-     Tensi
-     TFU
-     TT (2 x 1)
-     Tablet besi
-     Tes penyakit menular
-     Temu Wicara

3. Menjelaskan hasil pemeriksaan kehamilan pada ibu

4. Memberikan Health Education tentang :
-     Nutrisi
-     Personal Hygiene
-     Tanda-tanda bahaya kehamilan
a.  Perdarahan pervagina
b.   Sakit kepala yang hebat
c.    Pengelihatan kabur
d.   Bengkak pada wajah dan jari-jari tangan
e.    Ketuban pecah dini
f.    Gerakan janin tidak teraba

-     Memberikan tablet multivitamin:
§   Fe 1x1
§   Kalk 1x1
§   BC 3x1

-     Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2 minggu lagi atau sewaktu-waktu jika ada keluhan

Odeme pada ekstrimitas bawah/kaki
1.   Memberikan penyuluhan tentang penyebab odeme yang terjadi karena adanya penekanan dari rahim yang semakin membesar sehingga kandung kemih ikut tertekan dan sirkulasi darah bagian bawah tidak lancar.

2.   Menganjurkan agar ibu mengurangi aktivitas seperti : berjalan, naik turun tangga serta menganjurkan agar posisi kaki lebih tinggi dari badan atau bisa juga kaki disangga dengan bantal

3.   Meletakkan kaki di tempat yang lebih tinggi dari badan

3.7 Evaluasi
Hari/tanggal : Senin, 5 maret 2007    Jam : 11.50
Diagnosa :
S :  Ibu mengatakan mengerti dan memahami penjelasan yang telah disampaikan oleh petugas
O :     Ibu mengerti dan paham. Hal ini ditunjukan dengan mengangguk-anggukan kepala, ibu bisa mengulangi kata-kata yang disampaikan.
Keadaan umum baik
T         : 120/80 mmhg
N        : 76x / mnt
RR      : 18 x/mnt
S         : 37 oC
A :     G1P00000, UK 29 mgg, tunggal, hidup, let kep V, Puki, kesan jalan lahir normal, ku ibu dan janin baik
P  :     Rencana dilanjutkan
          Evaluasi pada saat kunjungan berikutnya
- Memeriksa 7T
- Menjelaskan tanda-tanda persalinan
- Memotivasi ibu untuk kunjungan ulang berikutnya

Odeme pada ekstrimitas bawah :
S  :   Ibu mengatakan mengerti dengan semua hasil diskusi
O :   Ibu mengangguk dan duduk dengan tenang
Keadaan umum baik
T         : 120/80 mmhg
N        : 76x / mnt
RR      : 18 x/mnt
S         : 37 oC
A :   Masalah sudah teratasi sebagian
P  :   Lanjutkan rencana
        Klien agar tidak terlalu banyak beraktivitas

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan pada Ny “I” G1P00000 UK 29 minggu di Puskesmas Medokan Ayu, dapat disimpulkan :
-    Tahap pengkajian pada ibu hamil primigravida perlu dilakukan dengan teliti dan selengkap mungkin, karena data yang diperoleh akan diperlukan dalam kelengkapan selanjutnya.
-    Dalam analisa data dan menegakkan diagnosa kebidanan pada dasarnya mengacu pada tinjauan pustaka, adanya perubahan dan kesenjangan dengan tinjauan pustaka tergantung pada kondisi ibu hamil.
-    Interpretasi Data Dasar adalah mengidentifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
-    Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial            membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.
-    Intervensi/perencanaan untuk mengatasi masalah klien sebaiknya didiskusikan dengan klien agar benar-benar mempu dilaksanakan.
-    Pelaksanaan merupakan wujud dari perencanaan akan tetapi tidak semua rencana dapat dilaksanakan.
-    Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses Asuhan Kebidanan dan merupakan penilaian berhasil tidaknya asuhan yang kita laksanakan.

4.2 Saran
4.2.1    Bagi Petugas
              Meningkatkan peranan sebagai bidan dan fungsinya sebagai pelayanan kesehatan dan lebih meningkatkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki agar dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya.
4.2.2    Bagi Klien
              Untuk keberhasilan dalam Asuhan Kebidanan diperlukan kerjasama yang baik dengan klien dalam usaha memecahkan masalah
4.2.3   Bagi Pendidikan
Hendaknya lebih banyak dalam memberikan bimbingan kepada mahasiswa untuk keberhasilan dari mahasiswa
4.2.4   Bagi Mahasiswa
Hendaknya mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dan harus menguasai materi yang telah diberikan.

 DAFTAR PUSTAKA

Dep.Kes.RI, 2002, Pedoman bagi petugas kesehatan
Sastra Winata, Sulaiman, 1983. Obstetri Fisiologi, FK UNPAD, Bandung
Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obsterti Fisiologi.
Obsterti Patologi, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Prawirohardjo, Sarwono, 1999. Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka, Jakarta

ADAPTASI PATERNAL

 ordan (1990) mendeskripsikan 3 proses perkembangan yang dialami oleh calon ayah, yaitu mengaitkan dengan realitas akan kehamilan dan anak, mengenal peran orang tua dari keluarga dan lingkungan masyarakat, serta berusaha melihat relevansi akan childbearing.
Realitas akan kehamilan dan anak
Pria akan menunjukkan reaksi bangga dan gembira ketika diberitahu tentang berita kehamilan istrinya, walaupun akan menunjukkan gejala ambivalen seperti istrinya, terutama dalam hal komitmen dan penambahan tanggung jawab. Kehadiran janin akan menjadi nyata bagi calon ayah saat mendengarkan denyut jantung janin, merasakan pergerakan janin, serta melihat janin melalui sonogram.
Mengenal peran orangtua
Selama masa kehamilan dan melahirkan, tanggung jawab utama pria yaitu memberikan dukungan penuh kepada istrinya. Mereka terkadang kecewa karena hanya dianggap sebagai pendukung dan penolong, bukan sebagai bagian dari calon orang tua. Maka dari itu, diadakan grup pendukung atau kelas bagi calon ayah mengenal perannya lebih jauh. Di forum ini pria lain yang sudah berpengalaman berbagi pengalamannya dalam menghadapi kehamilan, melahirkan, dan bahkan mengasuh anak.
Peran dari keterlibatan ayah
Calon ayah terkadang mengobservasi pria lain yang sudah menjadi ayah dan mencoba bersikap seperti seorang ayah untuk menentukan kenyamanan dan kesesuaian dengan konsepnya akan peran seorang ayah. Calon ayah mencari informasi tentang perawatan dan tumbuh-kembang bayi, sehingga dapat mempersiapkan diri untuk tanggung jawab yang baru.
Meskipun mendapatkan pengetahuan yang banyak akan persiapan menjadi ayah, akan tetapi tetap saja belum siap untuk mempelajarinya saat ini, sehingga mungkin masih abstrak akan pengetahuan dan pelatihan tentang perawatan bayi. Maka dari itu, perawat harus mengulang kembali informasi-informasi tersebut setelah bayi lahir, sehingga pengetahuannya menjadi relevan dengan praktiknya.
Referensi
bidandesa.com/psikologi-pada-ibu-hamil.html diunduh 25 april 2011 10:19 PM
Depkes RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Cetakan Ke III. Jakarta.
Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya
ocw.gunadarma.ac.id/course/diploma-three-program/study-program-of-midwife-practices-d3/asuhan/perubahan-dan-adaptasi-psikologis-dalam-kehamilan diunduh 25 april 2011 10:16 PM
patriani-gift.blogspot.com/2009/03/perubahan-psikologi-pada-ibu-hamil.html diunduh 25 april 2011 11:02 PM
Pusdiknakes. 2001. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan Fisiologis Bagi Dosen Diploma III Kebidanan. Buku 2 Asuhan Antenatal.
Sulistyowati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika
Widyastuti, S. Adaptasi Psikososial Pada Masa Kehamilan. scribd.com/doc/37479306/Adaptasi-Psikososial-Pada-Masa-Kehamilan

Kata Kunci

adaptasi psikososial pada ibu hamil, foto cara memakai kondom, gambar perkembangan janin, adaptasi kehamilan, adaptasi fisik dan psikososial pada ibu post partum, silabus askeb I, makalah askeb II PERUBAHAN SISTEM KARDIOVASKULER, makalah adaptasi psikologi pada ibu hamil, materi asuhan kebidanan pada ibu hamil, respon ayah, pergeseran paradigma dalam asuhan kehamilan doc, mengenal psikososial, materi askeb 1, manajemen kebidanan pusdiknakes 2001, makalah tentang respon dan adaptasi lingkungan, makalah perubahan fisiologi ibu bersalin kala I perubahan kardiovaskuler, makalah persiapan persalinan bagi ibu dan bidan, who psikososial pada ibu hamil, perkembangan, pertanyaan adaptasi dari model kebidanan, sumarah 2010 perawatan ibu bersalin ( asuhan kebidanan pada ibu bersalin) yogyakarta:fitramaya, silabus tentang ibu hamil untuk d3 kebidanan, silabus askeb kehamilan DIII kebidanan, silabus askeb 1 doc, senam nifas menurut.

























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar