Jumat, 18 November 2011

MAKALAH INFERTILITAS

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apabila banyaknya pasangan infertil di indonesia dapat diperhitungkan dari banyaknya wanita yang pernah menikah dan tidak mempunyai anak yang masih hidup,maka menurut sensus penduduk terdapat 12% baik di desa maupun dikota,atau kira-kira 3 juta pasangan infertil diseluruh indonesia. Ilmu kedokteran masa kinibaru berhasil menolong 50% pasangan infertil memperoleh anak yang diinginkannya.Itu berarti separuh nya lagi terpaksa menempuh hidup tanpa anak,mengangkat anak(adopsi),poligini,atau bercerai.Berkat kemajuan teknologi kedokteran,beberapa pasangan telah dimungkinkan memperoleh anak dengan jalan inseminasi buatan donor,”Bayi tabung”, atau membesarkan janin di rahim wanita lain. Di Indonesia masih langka sekali dokter yang berminat dalam ilmu infertilitas.Kalaupiun ada,masih terlampau sering dokter dan perawatnya belum menghayati duka nestapa pasangan yang ingin anak itu.Msih terlampau banyak pasangan yang terpaksa harus menahan perasaannya karena tidak merasa disapa,bahkan dilarang banyak bicara oleh dokternya.Mereka berobat dari satu dokter -kedokter lain karena kurang bimbingan dan penyuluhan tentang cara-cara pengelolaan pasangan infertil.
Sesungguhnya keluarga berencana demi kesehatan tidak pernah lengkap tanpa penanggulangan masalah infertilitas.ditinjau dari sudut kesehatan,keluarga berencana harus meliputi pencegahan dan pengobatan infertilitas,apalagi kalau kejadiannya sebelum pasangan memperoleh anak-anak yang diinginkannya.Lagipula penaggulangan infertilitas berdampingan dengan pelayanan keluarga berencana itu membuat yang terakhir lebih mudah dapat diterima,karena program seperti itu jelas memperhitungkan kebahagiaan dan keesjahteraan keluarga.
1
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui berbagai faktor yang mengakibatkan terjadinya infertilitas(kemandulan)
2. Mengetahui macam-macam tanda-tanda dan gejala infertilitas
3. Untuk mengetahui bagaimana cara pemeriksaan infertilitas
4. Untuk mengetahui bagaimana cara menaggulangi infertilitas.
5. Menyelesaikan penugasan mata kuliah Gynekologi
2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Infertilitas
Infertilitas adalah ketidakmampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidop oleh suami yang mnghamilkannya.jadi infertiltas yaitu disfungsi satu pasangan yangtidak sanggupmenjadikan kehamilan dan anak hidup. Infertilitas dibagi menjadi dua,yaitu infertilitas primer dan skunder :
1. Infertilitas primer ialah kalau istri belumpernah hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan.
2. Infertilitas skunder ialah kalau istri pernah hamil,akan tetapi kemudian tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut. Hal ini harus dibedakan dengan kemandulan, karena kemandulan (sterilitas) adalah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan misalnya pada pria yang telah melakukan vasektomi atau mengalami kastrasi (kebiri) dan atau wanita yang mengalami pengangkatan rahim atau mengalami tubektomi. (1:345)
2.2 Tanda-tanda Infertilitas Jika seorang wanita pada usia enam belas tahun atau tujuh belas tahun hingga tiga puluh atau tiga puluh lima tahun tidak dapat mengalami kehamilan walaupun ia melakukan hubungan seksual, maka hal ini bisa dipandang sebagai kasus sterilitas dan infertilitas . Akan tetapi, sterilitas ini mungkin berasal dari pihak wanita ataupun pihak pria. Kerap kali masyarakat memandang bahwa seorang wanita mandul padahal sterilitas sebenarnya diderita pihak pria.
3
Kemandulan dapat berawal dari pihak isteri, suami ataupun suami isteri. Kemandulan yang bermula dari isteri pada umumnya karena keadaan ovum atau traktus reproduksinya yang tidak memenuhi syarat dan tidak dapat berfungsi baik/normal. Sedangkan hampir semua kasus kemandulan (dan subfertilitas) yang berawal dari pihak pria disebabkan oleh jumlah sperma yang tidak memenuhi syarat atau mutu lain sperma dan air mani yang dibawah syarat baik. normal. Lebih kurang sepuluh persen (10 %) pasangan suami isteri (pasutri) pernah mengalami problem kemandulan/infertilitas ini semasa usia reproduksinya. Diperkirakan setiap tahun bertambah dua juta pasangan mandul. Menurut data yang ada, menunjukkan bahwa 40 % – 45 % penyebab infertilitas berasal dari pihak suami/pria, 45 % – 50 % dari pihak isteri/wanita. Sedangkan 5 % - 10 % tidak dapat dipastikan penyebabnya. Kemandulan pada pria pada umumnya disebabkan oleh banyak faktor/hal dan salah sa tunya adalah faktor genetik
Kapankah seseorang dikatakan tidak subur (infertile)?
Untuk memastikan ketidaksuburan seseorang harus melalui serangkaian pemeriksaan atau tes-tes baik untuk pria maupun wanita. Sebaiknya anda
4
berkonsultasi dengan dokter kebidanan anda tentang tes-tes apa saja yang perlu anda lakukan.
Penyebab ketidaksuburan (infertilitas) infertilitas merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut pasangan yang gagal untuk hamil dan mempunyai anak setelah berusaha selama setahun. Perempuan yang berhasil hamil namun selalu mengalami keguguran juga bisa disebut mandul. Kehamilan merupakan hasil dari suatu proses komplek yang terdiri dari : Seorang perempuan harus menghasilkan sel telur yang berasal dari indung telur atau ovarium. Sel telur harus bergerak menuju rahim melalui saluran tuba. Dalam perjalanan ini, sel sperma dari laki laki harus membuahi sel telur. Telur yang sudah dibuahi kemudian harus menempel pada dinding rahim bagian dalam.
Kemandulan terjadi bila keempat proses diatas mengalami gangguan, kemandulan bukan hanya monopoli kaum perempuan. Akan tetapi Faktor perempuan hanya sepertiga dari total kasus kemandulan, sepertiganya lagi merupakan faktor laki laki dan sepertiga sisanya merupakan gabungan antara faktor laki laki dan perempuan. Kemandulan pada laki laki umumnya disebabkan oleh : Gangguan pada pabrik sperma sehingga sel sperma yang dihasilkan sedikit atau tidak sama sekali. Gangguan pada kemampuan sel sperma untuk mencapai sel telur dan membuahinya. Masalah ini biasanya disebabkan oleh karena bentuk sperma yang tidak normal sehingga pergerakannya pun tidak normal. Kadang kala masalah sperma ini sudah dibawa sejak lahir, namun masalah ini bisa juga didapat setelah usia dewasa.
5
Beberapa gaya hidup yang tidak bersahabat dengan sperma antara lain : Suka minum alkohol. Suka menggunakan narkoba. Polusi udara. Merokok. Masalah kesehatan lainnya. Obat obatan yang tidak jelas. Penggunaan radiasi dan kemoterapi untuk pengobatan kanker. Umur.
Gangguan yang paling sering dialami perempuan mandul adalah gangguan ovulasi. Bila ovulasi tidak terjadi maka Berdasarkan catatat WHO, diketahui penyebab infertilitas pada perempuan di antaranya, adalah: faktor Tuba fallopii (saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%, endometriosis 6%, dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 40%.
Ini artinya sebagian besar masalah infertilitas pada perempuan disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi.
1. Gangguan pada organ reproduksi
Ada beberapa gangguan yang biasanya terdapat pada vagina, di antaranya:
- Tingkat keasaman tinggi
6
2. Bila terjadi infeksi pada vagina, biasanya kadar keasaman dalam vagina akan meningkat. Kondisi ini akan menyebabkan sperma mati sebelum sempat membuahi sel telur. Kadar keasaman vagina juga menyebabkan vagina mengerut sehingga perjalanan sperma di dalam vagina terhambat.
- Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur). Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. Terakhir adalah gangguan pada saluran telur. Di dalam saluran inilah sel telur bertemu dengan sel sperma. Jika terjadi penyumbatan di dalam saluran telur, maka sperma tidak bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic Inflammatory Disease) atau penyakt infeksi yang disebabkan oleh jamur klamidia.
3. Gangguan Ovulasi. Ovulasi atau proses pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal. Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui sebagai salah satu penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang normal. Ovarium polikistik disebabkan oleh kadar hormon androgen yang tinggi dalam darah. Kadar androgen yang berlebihan ini mengganggu hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dalam darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan mengkibatkan folikel sel telur tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga pada gilirannya ovulasi juga akan terganggu.
4. Kegagalan implantasi.
Setelah sel telur dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang memiliki kadar hormon progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh antara
7
lain karena struktur jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang memadai.
5. Endometriosis Endometriosis adalah istilah untuk menyebutkan kelainan jaringan endometrium (rahim) yang tumbuh di luar rahim. Jaringan abnormal tersebut biasanya terdapat pada ligamen yang menahan uterus, ovarium, Tuba fallopii, rongga panggul, usus, dan berbagai tempat lain. Sebagaimana jaringan endometrium normal, jaringan ini mengalami siklus yang menjadi respon terhadap perubahan hormonal sesuai siklus menstruasi perempaun. (5)
Factor yang penting yang dapat mempengaruhi kesuburan, antara lain:
1. Usia : Untuk pria puncak kesuburan adalah usia 24-25 tahun dan 21-24 tahun untuk wanita, sebelum usia tersebut kesuburan belum benar matang dan setelahnya berangsur menurun.
2. Frekuensi hubungan seksual :
3. Lingkungan : baik fisik, kimia maupun biologis (panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi, dll).
4. Gizi dan nutrisi : terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu.
5. Stress psikis : mengganggu siklus haid, menurunkan libido & kualitas spermatozoa, dll.
Penyebab infertilitas dapat digolongkan atas dasar anatomi organ dan atau fungsinya. Penyebab pada laki-laki:
1. Kelainan anatomi : hypo-epispadia (kelainan letak lubang kencing), micropenis (penis sangat kecil), undescencus testis (testis masih dalam perut/lipat paha), dll.
2. Gangguan fungsi : disfungsi ereksi berat (impotensi), ejakulasi retrograde (ejakulasi balik), dll.
8
3. Gangguan spermatogenesis : oligo/terato/asthenozoospermia (kelainan jumlah, bentuk, gerak sperma).
4. Lain-lain : hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantung testis), varikokel (varises pembuluh darah balik testis), imunologis, infeksi, dll.
Penyebab pada wanita:
1. Faktor vagina : vaginismus (kejang otot vagina), vaginitis (radang/infeksi vagina), dll.
2. Faktor cervix (mulut rahim) : polip (tumor jinak), stenosis (kekakukan mulut rahim), non hostile mucus (kualitas lendir mulut rahim jelek), anti sperm antibody (antibodi terhadap sperma), dll.
3. Faktor uterus (rahim) : myoma (tumor otot rahim), endometritis (radang sel. lendir rahim), endometriosis (tumbuh sel. lendir rahim bukan pada tempatnya), uterus bicornis, arcuatus, asherman’s syndrome, retrofleksi (kelainan bentuk dan posisi rahim), prolap (pemburutan, penyembulan rahim ke bawah).
4. Faktor tuba fallopi (saluran telur) : pembuntuan, penyempitan, pelengketan saluran telur (bisa karena infeksi atau kelainan bawaan).
5. Faktor ovarium (indung telur) : tumor, kista, gangguan menstruasi (amenorhoe, oligomenorhoe dengan/tanpa ovulasi). Organ ini berinteraksi dengan pusat pengendali hormon di otak (hypothalamus dan hipofisis) dalam mengatur siklus menstruasi.
6. Faktor lain : prolactinoma (tumor pada hipofisis), hiper/hypotroid (kelebihan/kekurangan hormon tiroid), dll.(2:453)
Saat seseorang dikatakan tidak subur (infertile) Untuk memastikan ketidaksuburan seseorang harus melalui serangkaian pemeriksaan atau tes-tes baik untuk pria maupun wanita. Sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter kebidanan anda tentang tes-tes apa saja yang perlu anda lakukan. (5)
9
Pemeriksaan yang dapat dilakukan pria adalah: Pemeriksaan analisa sperma. factor sperma adalah factor tunggal penyebab infertile yang terpenting dari suami, dimana berkisar antara 40-50%. Oleh karena itu setiap suami dengan pasangan infertile harus diperiksa cairan maninya yang mengandung sperma. Sebelum pemeriksaan ini, suami diharapkan tidak melakukan hubungan seksual sekurang-kurangnya selama 3 hari. Menurut WHO, nilai nomal untuk analisa sperma adalah : Likuifaksi 30 menit Volume > 2,0 ml Konsentrasi sperma > 20 juta/ml Jumlah sperma ± 40 juta Motilitas/pergerakan sperma > 50 % Morfologi/bentuk sperma > 30 % bentuknya normal WBC (sel darah putih) < 1 juta/ml pH (keasaman cairan mani) 7,2 – 7,8 Bila hasil analisa sperma suami brbeda dari hasil diatas, maka hasil sperma dapat dikatakan abnormal. Untuk itu dapat dilanjutkan dengan pemerikasaan lebih lanjut antara lain :
1. Ditelusuri apakah ada riwayat terpapar dengan suhu tinggi, bahan kimia atau obat-obatan tertentu.
2. Pemeriksaan genitalia pria, apakah ada kelainan anatomi atau fungsi.
3. Ukuran testis dinilai, pemeriksaan skrotum untuk meihat adanya varicocel.
4. Pada kasus azoospermia (tidak ada sperma), perlu diperiksa kadar FSH (follicle stimulation hormone) yang bila kadarnya naik > 3 kali lipat, menunjukkan adanya kegagalan testis (buah zakar).
Pria dikatakan infertilitas absolute bila dijumpai adanya azoospermia disertai dengan kenaikan kadar FSH. (5)
10
Pemeriksaan pada wanita
1. Faktor vagina. Pameriksaannya dapat meliputi periksa inspekulo, periksa dalam, pemeriksaan mikroskopik cairan vagina. Hal ini untuk menentukan adanya kelainan anatomi atau fungsi dan menilai apakah ada mikroorganisme yang menyebabkan gangguan atau infeksi.
2. Faktor serviks (leher rahim). Pemeriksaannya meliputi periksa inspekulo, periksa dalam, uji pasca senggama, uji lendir serviks, dan biakan bila perlu. Dari semua pemeriksaan, uji lendir serviks memegang peranan penting karena infertilitas dapat disebabkan oleh sperma yang gagal menembus lendir serviks dan hal ini biasanya akibat reaksi imunologis. Untuk uji lendir serviks dapat dilakukan pemeriksaan uji pasca senggama yaitu: Sebelumnya pasangan melakukan hubungan seksual pada hari pertama dari dua hari masa praovulasi atau saat ovulasi. Setelah ejakulasi, pasien terlentang selama 20 menit dan pergi ke dokter dalam waktu 8-12 jam kemudian, untuk diambil sediaan lendir serviksnya. Lalu dilakukan pemeriksaan mikroskopik untuk menentukan derajat penetrasi lendir serviks dengan menghitung jumlah sperma yang bergerak.
Hasil tes dikatakan positif bila > 20 sperma aktif yang berarti factor imunologis dapat dikesampingkan. Hasil tes yang negative tidak memberikan intrepetasi apapun.
3. Faktor uterus. Dilakukan pemeriksaan dalam, biopsy endometrium, biakannya bilamana perlu, histerosalphyngography, dan laparoskopi.
4. Faktor tuba fallopi. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara antara lain : pertubasi atau uji rubin bertujuan memeriksa patensi tuba. Tuba mengalami sumbatan bila tekanan gas naik atau bertahan sampai 200 mmHg, kalau naiknya hanya 80-100 mmHg berarti salah satu atau kedua tubanya masih paten ( ovum/telur dapat keluar menuju rahim). Pemeriksaan dilakukan saat haid bersih dan sebelum ovulasi, atau pada hari ke-10 siklus haid.
11
histerosalphyngography. Tujuannya sama dengan pertubasi hanya saja kurang aman karena ada kemungkinan terpapar radiasi pada pemeriksaan berulang, akan tetapi pemeriksaan ini lebih akurat. laparoskopi. Tujuannya untuk melihat apakah ada endometriosis sekaligus untuk melihat tuba. Hanya saja ini merupakan tindakan operatif jadi lebih baik dilkukan bila ada indikasi medis.
5. Faktor ovarium. Pemeriksaan meliputi bagaimana riwayat haid, perubahan lendir serviks, suhu basal badan, sitologi vaginal hormonal, biopsy endometrium, dan pemeriksaan hormonal. Laparaskopi dapat pula menjadi diagnostic ovulasi. Yang paling penting dalam pemeriksaan ini adalah menentukan ada tidaknya ovulasi, karena ovulasi menunjukkan adanya telur yang diproduksi oleh indung telur (ovarium) agar dapat dibuahi oleh sperma pria. Pemeriksaan ovulasi dapat dilakukan dengan pemeriksaan hormonal berupa : Mengukur kadar progesterone serum yang dilakukan pada pertengahan fase luteal atau minggu ke-3 dari siklus haid. Dikatakan hasil positif (ada ovulasi) bila kadar progesterone 3 – 10 ng/ml. Mengukur kadar luterinizing hormone (LH) dalam plasma darah setiap hari pada fase luteal untuk mengetahui saat ovulasi. Hal ini berguna untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk melakukan senggama agar keberhasilan pembuahan tinggi.
Pada kasus amenorrhea (tidak ada haid), oligomenorrhea (siklus haid > 35 hari atau lama haid < 3 hari) atau haid yang sangat tidak teratur, dilakukan pemeriksan poros hypothalamus-hipofisis-ovarium dengan menentukan kadar LH-FSH dan prolaktin.(1:498) Cara untuk mengatasi infertilitas Diharapkan sebelum memulai terapi, pasangan berkonsultasi dengan dokter mengenai terapi yang tepat yang sesuai denan keadaan medisnya. Adapun terapi yang dapat diterapkan antara lain :
12
Pada pria, antara lain :
1. Terapi medis berupa pemberian obat-obatan atau hormone misalnya untuk memperbaiki jumlah sperma.
2. Terapi bedah bila berkenaan dengan kelainan anatomis atau masalah bedah yang berkaitan dengan kasus infertilitas pada pria misalnya varicocele.
3. Pada kasus azoospermis atau oligospermis yang berat, dimana kehamilan terjadi sangat jarang maka tindakan yang terbaik adalah melakukan AID ( artificial inseminasi donor). Metode ini dengan cara menempatkan sperma dalam saluran reproduksi wanita tidak dengan cara melakukan hubungan seksual dimana sperma berasal dari donor (orang lain). AID yang dilakukan setiap bulan selama satu tahun dapat memungkinkan kehamilan sebesar 65 %.
4. Bila hanya terdapat sebuah spermatozoa maka dapat dilakukan metode ICSI ( intracytoplasmic sperm injection) , metode dimana sebuah spermatozoa disuntikkan dalam sitoplasma ovum.
5. Bila nilai analisa sperma normal dan hasil uji pasca senggama maka dapat dilakukan inseminasi sediaan sperma dan dilakukan inseminasi intra uterin yaitu menempatkan spermatozoa yang sudah dipisahkan dari cairan mani ke dalanm ruang rahim dengan menggunakan kateter kecil.
Pada wanita, antara lain:
1. Terapi medis berupa pemberian obat-obatan atau hormone misalnya untuk memperbaiki induksi ovulasi.
2. Terapi bedah bila berkenaan dengan kelainan anatomis atau masalah bedah yang berkaitan dengan kasus infertilitas pada wanita misalnya tumor mulut rahim dll.
3. Condom therapy, dimana kondom dipakai secara terus-menerus setiap berhubungan seks selama lebih kurang 6-8 bulan. Dalam kurun waktu tersebut, diharapkan kadar antibodi telah menurun dan tidak ada lagi di daerah reproduksi wanita, sehingga sperma yang selama ini diaglutinasikan atau dimobilisasikan oleh antibodi menjadi bebas dan mampu bergerak untuk bermigrasi sampai di saluran tuba falopii (saluran telur) dan bertemu dengan sel telur tanpa halangan.
13
4. Pada kasus anovulasi (tidak ada telur) diberikan obat induksi ovulasi desertai dengan hubungan seksual yang terjadwal.
5. Pada kasus lendir serviks yang buruk dimana tidak dapat diatasi dengan obat-obatan, dapat dilakukan antara lain : IVF ( in vitro fertilization) yaitu pembuahan sel telur ibu dengan sperma di luar tubuh (bayi tabung). GIFT ( gamet intra fallopian transfer ) yaitu menempatkan sel telur ibu dan sperma ke dalam ujung distal tuba fallopi/saluran telur. ZIFT ( zygote intra fallopian transfer ) yaitu bila telah terjadi pembuahan di luar tubuh dengan cara IVF maka hasil pembuahan (zygote) diletakkan ke dalam saluran telur/tuba fallopi melalui kanulasi trans abdominal.
Keberhasilan mengatasi infertilitas itu tergantung dari kerja sama suami-istri dan dokter dalam pemeriksaan infertilitas untuk mengetahui penyebabnya, sehingga dapat dilakukan pengobatan dan terapi yang baik yang diharapkan dapat menambah peluang terjadinya kehamilan.(3:235)
2.3 Pemeriksaan infertilitas
Pada tahap awal sebaiknya pasangan suami istri memeriksakan diri secara bersama-sama, kemudian pemeriksaan suami dan istri dilakukan terpisah. Syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut:
1) Istri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk mendapat anak selama 12 bulan.Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila:
a. Pernah mengulangi keguguran berulang
b. Diketahui mengidap kelainan endokrin
c. Pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut dan
d. Pernah mengalami bedah ginekologik
2) Istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter.
3) istri pasangan infertil yangberumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan ini.
14
4) Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah satu anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan istri atau anaknya.
Tahapan pemeriksaan adalah :
I. Tahap wawancara
Tahap awal merupakan wawancara untuk pengumpulan data-data pasien tentang jatidiri, riwayat kesehatan, riwayat perkawinan terdahulu dan sekarang, riwayat infertilitas, riwayat hubungan seksual, dan riwayat reproduksi.
II. Tahap pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik baik suami maupun istri meliputi :
1. Keadaan fisik secara umum, seperti tinggi, berat, sebaran rambut, dll.
2. Keadaan alat-alat reproduksi, seperti testis, vagina, klitoris, rahim, dll.
III. Tahap pemeriksaan laboratorium
1. Pria Analisis sperma untuk mengetahui mutu air mani dan spermatozoanya, meliputi jumlah sperma/ml, bentuk, gerakan, jumlah dan persentase yang hidup serta pencairan air mani.
2. Wanita
o Pemantauan ovulasi, untuk menentukan apakah ovarium menghasilkan sel telur yang matang. Pemantauan ovulasi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara :
1. Riwayat siklus haid: siklus haid yang teratur dan normal, nyeri per-tengahan siklus, perdarahan atau peningkatan luah atau cairan va-gina (vaginal discharge), mastalgia prahaid menandakan ovulasi telah terjadi.
2. Uji pakis: pemeriksaan pada hari ke-23-28 siklus haid, istri diminta datang untuk pengambilan getah serviks dari kanal endoserviks ke-mudian dikeringkan pada gelas objek dan diperiksa pengaruh estro-gen. Jika tidak terdapat pola daun pakis dan kristal getah serviks berarti ovulasi telah terjadi.
3. Suhu Basal Badan (SBB): SBB diperiksa setiap bangun pagi hari se-belum melakukan aktivitas apapun. Nilainya ditandai
15
pada kertas grafik. Jika wanita berovulasi, grafik akan memperlihatkan pola bifasik dengan tukik pada pertengahan siklus.
4. Sitologi vagina atau sitologi endoserviks: memantau perubahan pada sel-sel yang tereksfoliasi selama fase luteal (pengaruh progesteron).
5. Biopsi endometrium (mikrokuretase): dapat dilakukan secara poliklinis dengan pembiusan ringan atau tanpa pembiusan. Dengan memakai kuret kecil. Dilakukan pada 5-7 hari sebelum hari haid berikutnya.
6. Laparoskopi diagnostik : melihat secara langsung adanya bintik ovu-lasi atau korpus luteum sebagai hasil ovulasi.
7. Peneraan hormon: menentukan kadar hormon dalam darah, urin mau-pun liur (saliva). Histeroskopi: dapat memperlihatkan lukisan endometrium yang bening kekuningan, yang sesuai dengan fase luteal.
8. Ultrasonografi: dapat memantau perkembangan folikel dan menentukan saat ovulasi. Pemeriksaan dilakukan secara serial.
o Penilaian rahim dan saluran telur dapat dilakukan dengan beberapa cara :
1. Biopsi endometrium: selain untuk penilaian ovulasi, juga dapat untuk pemeriksaan histologik lain, misalnya biakan terhadap tuberkulosis, menilai adanya hiperplasia endometrium. Terkadang dijumpai adanya hiperplasia fokal meskipun siklus berovulasi berdasarkan peneraan homon P plasma pada pertengahan fase luteal. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksan rasio P/E2 dan PRL/E2 bersamaan dengan biopsi endometrium.
2. Uji insuflasi/pertubasi: CO2 ditiupkan melalui kanal serviks dan dibuat rekaman kymograf terhadap tekanan uterus, perubahan tekanan ber-arti tuba Falloppii paten. Gas ini juga dapat didengar dengan stesto-skop atau dilihat dengan sinar X.
16
3. Hidrotubasi: prinsipnya sama dengan pertubasi hanya yang diguna-kan adalah cairan yang mengandung antibiotika Kanamycin 1 gram, deksametason 5 mg dan antipasmodik cair.
4. Histerosalpingogram: dilakukan pada paro-pertama siklus haid, laru-tan radioopak disuntikkan melalui kanal serviks ke dalam rahim dan saluran telur. Perjalanan larutan tersebut dipantau di layar dengan penguat bayangan.
5. Histeroskopi : melihat secara langsung keadaan permukaan endome-trium.
6. Laparoskopi : melihat secara langsung dan menguji patensinya de-ngan menyuntikkan larutan biru metilen atau indigokarmin, dan de-ngan melihat pelimpahannya ke dalam rongga peritoneal. Laparoskopi juga dapat memperlihatkan perlekatan pelvis, endometriosis, dan patologi ovarium tetapi tidak dapat menggambarkan keadaan rongga uterus.
7. Ultrasonografi atau endosonografi: menilai bentuk, ukuran, serta patologi uterus maupun tebal endometrium.
o Analisis infeksi TORSH-KM (toksoplasma, rubella, sitomegalus, herpes sim-pleks, klamidia, mikoplasma).
o Uji pasca-sanggama (UPS) untuk melihat apakah air mani sudah memancar dengan baik ke puncak vagina selama sanggama. UPS dilakukan 2-3 hari sebelum perkiraan ovulasi. Pasien diminta datang 2-8 jam setelah sangga-ma normal. Getah serviks diisap dari kanal endoserviks dan diperiksa de-ngan mikroskop, jika terdapat 20 spermatozoa per lapang pandang besar (LPB= x400) maka kemungkinan hamil cukup besar, antara 1-20 spermatozoa per LPB sudah memuaskan.
IV. Pemeriksaan Lanjutan
Pemeriksaan endoskopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan alat teleskop (teropong) yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh melalui saluran alami (kanal serviks: pada histeroskopi; kanal servik-rongga rahim, mulut saluran telur: pada tuboskopi/Falloposkopi), suatu pembedahan
17
kecil (di daerah pusar atau umbilikus: pada laparoskopi; di puncak cekungan vagina belakang atau forniks posterior: pada hidrolaparoskopi). Ada 4 (empat) macam endoskopi dalam bidang ginekologi:
1. Histeroskopi atau teropong rongga rahim
2. Laparoskopi atau teropong rongga perut
3. Tuboskopi/Falloposkopi atau teropong rongga salutan telur
4. Hidrolaparoskopi atau teropong rongga panggul disertai penggenangan cairan
Histeroskopi digunakan untuk melihat keadaan saluran mulut rahim, rongga rahim, mulut dalam saluran telur, besarnya rongga rahim, warna atau kejernihan selaput rahim, untuk membedakan polip endometrium dan leiomiom submukosum; untuk memastikan perlekatan dalam rahim dan kelainan bawaan dalam rahim; untuk me-ngenali kelainan-kelainan pada histerogram; serta untuk penatalaksanaan operasi pada sekat rahim yang menyebabkan keguguran berulang. Laparoskopi digunakan untuk melihat berbagai kelainan di dalam rongga panggul (pelvis) atau rongga perut (abdomen) misalnya kista (tumor) indung telur (ova-rium), tumor rahim (miom uterus), perlekatan di rongga panggul akibat infeksi atau endometriosis, bintil-bintil (lesi) endometriosis yang tidak terlihat dengan alat ultrasonografi, pembengkakan saluran telur (hidrosalpinks), dan juga bebe-rapa kelainan bawaan rahim seperti rahim dua-tanduk (uterus bikornis) atau tiadanya indung telur (agenesis ovarii). Tuboskopi atau Falloposkopi digunakan untuk melihat bagian dalam saluran telur, baik permukaannya maupun rongganya, misalnya adakah perlekatan akibat infeksi, penyempitan bawaan, dan hilangnya bulu getar (silia) selaput lendir (mu-kosa) saluran telur. Hidrolaparoskopi merupakan suatu teknik mutakhir untuk melihat suatu gangguan fungsi dan anatomik ujung saluran telur atau cekungan di belakang rahim (kavum Douglas), misalnya perlekatan ujung saluran telur (fimbria), endometriosis, miom uterus subserum di bagian belakang rahim atau kista ovarium.
18
Pemeriksaan endoskopi tidak dilakukan begitu saja pada semua wanita, melainkan harus dengan dasar yang jelas, misalnya pada wanita infertil yang telah melaku-kan pemeriksaan infertilitas dasar sebelumnya tetapi belum diketahui penyebab infertilnya, dan pada wanita yang diduga adanya endometriosis, miom, tumor atau kanker rahim. (4:334)
2.4 Penatalaksanaan Pasangan Infertilitas
Perkembangan penanganan pasangan infertilitas telah maju sehingga memudahkan untuk mendapatkan kehamilan:
a. Melakukan anamnesa suami istri:
- Bersama-sama
- Masing-masing
Pengobatan ketidaksuburan (infertilitas) Sekitar 50% pasangan infertil dapat berhasil hamil. Hal ini memberikan rasa optimistik baik bagi dokter maupun pasiennya. Tindakan-tindakan diagnostik seringkali pula merupakan rangsangan pengobatan, misalnya pemeriksaan vaginal dan sondase uterus dapat menaikkan laju kehamilan sebesar 10-15%. Uji patensi tuba bersama dengan dilatasi dan kuretase ternyata dapat menggandakan laju pembuahan. Setiap kelainan yang ditemui selama pemeriksaan selalu perlu diobati. Beberapa jenis pengobatan berdasarkan sebab-sebab infertilitas dapat dilihat sebagai berikut:
Penyebab infertilitas
Jenis pengobatan
Suami
Hidrokel
Aspirasi atau eksisi
Varikokel
Ligasi
Bendungan vasa atau epididimis
Operasi pintas
Oligozoospermia
FSH dan hCG, FIV dengan SSIS
19
Gangguan spermatogenesis
Hindari berendam air panas dan pemakaian celana ketat
Istri
Tuberkulosis
Tuberkulostatika
Endometriosis
Operasi, koagulasi listrik atau laser, progesteron, danazol, medroksiprogesteron asetat, dehidroretroprogesteron, antiprogestin, anastrosol
Miom uterus operabel
Operasi konservatif
Spasme tuba
Hiosin amilnitrit, triemonium
Obstruksi tuba
Operasi rekonstruksi, FIV
Gangguan ovulasi
Pemicuan ovulasi (klomifen sitrat, epimestrol, tamoksifen, siklofenil, metformin, pioglutazon, hMG/hCG, FSH-murni, GnRH); pelubangan (drilling) ovarium
Pengobatan rekayasa reproduksi Apabila setelah pemeriksaan dan pengobatan infertilitas masih belum berhasil juga. Pasangan infertil bisa mengambil jalan adopsi atau melakukan rekayasa reproduksi yang merupakan pemecahan terakhir dari penanganan pasangan infertil. Beberapa macam rekayasa reproduksi adalah : Inseminasi buatan: penaburan spermatozoa suami ke dalam saluran reproduksi istri. Ada 5 macam inseminasi yaitu:
1. Inseminasi intravaginal: spermatozoa disebarkan ke dalam liang vagina.
2. Inseminasi paraservikal: spermatozoa ditaburkan ke dalam puncak kubah vagina yang disebut forniks. Bagian ini mengelilingi leher rahim sehingga sangat dekat dengan mulut luar rahim (ostium uteri eksternum).
3. Inseminasi intraservikal: spermatozoa dimasukkan melalui mulut luar rahim dan ditempatkan di saluran leher rahim (kanal serviks).
20
4. Inseminasi intrauterin: spermatozoa yang sudah terpilih dan tersaring dimasukkan melalui mulut luar rahim dan ditempatkan jauh ke dalam, sehingga berada di dalam rongga rahim dekat dengan mulut dalam saluran telur (ostium tuba internum).
5. Inseminasi intraperitoneal: spermatozoa yang sudah terpilih dan tersaring dimasukkan melalui tembusan di puncak kubah vagina langsung ke dalam rongga perut (rongga peritoneum).
6. Tandur-alih gamet intra-tuba (TAGIT), yaitu pemindahan benih (sel telur dan spermatozoa) ke dalam saluran telur melalui laparoskopi.
7. Tandur-alih pronuklei intra-tuba (TAPIT), yaitu pembuahan di luar tubuh (ekstrakorporal) dengan pemindahan pronuklei ke dalam saluran telur melalui laparoskopi.
8. Tandur-alih zigot intra-tuba (TAZIT), yaitu pembuahan di luar tubuh dengan pemindahan hasil pembuahan (zigot) ke dalam saluran telur melalui laparoskopi.
9. Fertilisasi in vitro (FIV) atau bayi tabung, yaitu pembuahan di luar tubuh dengan penandur-alihan embrio ke selaput permukaan dalam rongga rahim dengan bantuan kanula kecil melalui saluran leher rahim. (5)
21
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat penulis ambil dari makalah ini antara lain: Kemandulan dapat berawal dari pihak isteri, suami ataupun suami isteri. Kemandulan yang bermula dari isteri pada umumnya karena keadaan ovum atau traktus reproduksinya yang tidak memenuhi syarat dan tidak dapat berfungsi baik/normal. Sedangkan hampir semua kasus kemandulan (dan subfertilitas) yang berawal dari pihak pria disebabkan oleh jumlah sperma yang tidak memenuhi syarat atau mutu lain sperma dan air mani yang dibawah syarat baik. normal. Gangguan yang paling sering dialami perempuan mandul adalah gangguan ovulasi. Bila ovulasi tidak terjadi maka Berdasarkan catatat WHO, diketahui penyebab infertilitas pada perempuan di antaranya, adalah: faktor Tuba fallopii (saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%, endometriosis 6%, dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 40%. Ini artinya sebagian besar masalah infertilitas pada perempuan disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi. Tahapan pemeriksaan adalah :
I. Tahap wawancara
II. Tahap pemeriksaan fisik
III. Tahap pemeriksaan laboratorium
IV. Pemeriksaan Lanjutan
22
3.2 Saran
Dari makalah di atas penulis dapat menyimpulkan saran,Adapun saran sebagai berikut yaitu:
1. sebaiknya pasangan suami istri sebelum menikah memeriksakan keadaan reproduksinya
2. Perbanyaklah mengkonsumsi makanan yang dapat menyuburkan alat-alat reproduksi
3. Perbanyaklah melakukan aktifitas atau olahraga
4. Hindari mengkonsumsi alkohol dan merokok
5. Periksakan diri sesering mungkin kedokter kandungan.
23
DAFTAR PUSTAKA
1. Wiknjosastro, H.(1999).Ilmu kandungan, Yayasan Bina pupita SP:jakarta.
2. Bagian Gynekologi FK UNPAD. (1997).Gynekologi:Bandung.
3. Liewellyn-Jones,Derek .(2001). Dasar-dasar Obstetri dan Gynekologi, hipokrates:Jakarta.
4. Manuaba,Ida bagus gde .(2001). Kapita selekta penatalaksanaan rutin Obstetri Gyekologi dan KB,EGC: Jakarta.
5. http://medisiana.com/viewtopic.php?p=434#434

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar