Sabtu, 26 November 2011

MAKALAH DIAPER RASH

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diaper rash, atau yang sering disebut sebagai ruam popok yang sering terjadi pada anak balita. Akibat dari iritasi pada bagian bokong bayi dan kebanyakan bayi baru lahir memiliki iritasi kulit yang tak berbahaya yang biasanya akan hilang sendiri di bulan-bulan pertama.
Ruam popok pernah dialami oleh hampir semua bayi. Hal ini umum terjadi bila sang bayi mengalami diare yang dapat menyebabkan popok lembab atau basah dan biasanya para ibu akan merasa cemas bila kulit bayinya menjadi berbintik-bintik merah. Namun dengan perawatan popok yang baik maka masalah ini akan mudah dan cepat diatasi sehingga para ibu tidak menjadi khawatir lagi.
1.2 Tujuan
Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah :
- Untuk mengetahui masalah-masalah iritasi yang sering terjadi pada bayi terutama diaper rash.
- Mengajakarkan kepada ibu untuk selalu menjaga kulit bayi agar tidak lembab.
- Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi iritasi pada bokong bayi.
- Untuk memberi pengetahuan kepada ibu bahwa diaper rash merupakan hal yang fisiologis pada bayi.

BAB II PEMBAHASAN
 Pengertian
Diaper Rash (Ruam Popok) adalah sebuah ruam atau iritasi di aera popok. Diaper rash merupakan bentuk ruam kontak iritan primer yang paling umum ditemukan, disebabkan oleh kontak kulit dengan urin dan feses yang berkepanjangan, karena urin dan feses mengandung bahan kimia yang bersifat iritan seperti urea dan enzim-enzim usus.
 Penularan
Dermatitis yang mengering atau ruam yang sederhana biasanya tidak menular. Ruam popok yang disebabkan oleh mikroorganisme kadang dapat menjalar ke bagian tubuh lainnya, jika kondisinya memungkinkan (misalnya infeksi jamur yang akan tumbuh dengan baik di tempat yang lembab dan hangat, dapat timbul pada kulit yang sudah teriritasi). Ketika kondisinya tepat dan tidak dilakukan tindakan pencegahan, infeksi seperti ini juga dapat menjalar ke anak lain.
 Jenis-jenis ruam popok
1. Dermatitis yang mengering
 Tanda dan gejala
- Kemerahan dimana terjadi gesekan
- Tidak ada perasaan tidak nyaman
 Penyebab
- Kelembaban
- Gesekan
2. Dermatitis atopik
 Tanda dan gejala : kemerahan disertai gatal
2
 Penyebab : alergi atau kepekaan
3. Dermatitis seborrhea
 Tanda dan gejala :
- Ruam yang merah tua, seringkali disertai kerak kuning
- Dapat dimulai pada atau menyebar ke kulit kepala
- Tidak ada rasa tidak nyaman
 Penyebab : tidak diketahui
4. Dermatitis Candida (jamur)
 Tanda dan gejala :
- Ruam yang merah menyala, peka terhadap sentuhan, meningkat pada daerah antara paha dan perut, dengan kelompok bintil-bintil yang menyebar darinya.
- Terasa tidak nyaman.
 Penyebab :
- Candida albicans (sejenis jamur)
Candida sering menginfeksi ruam kulit yang belum sembuh dalam 3 hari atau lebih.
5. Impetigo
 Tanda dan gejala
- Pada infeksi stafilokokus, terdapat lepuhan yang besar dan berdinding tipis yang bisa pecah dan meninggalkan kerak tipis berwarna kuning kecoklatan.
- Pada infeksi streptokokus, terdapat gelembung tunggal yang tidak nyeri, berisi cairan, dan dikelilingi oleh kulit yang merah seringkali di sekitar hidung, mulut atau telinga. Kemudian bisa pecah, mengeluarkan cairan yang berwarna kekuningan dan membentuk kerak yang kekuningan. Dapat cepat menjalar ke area kulit lainnya.
 Penyebab : bakteri seperti stafilokokus dan streptokokus.
3
6. Intertrigo
 Tanda dan gejala :
- Area kemerahan yang batasnya tidak jelas dimana kulit berkontak dengan kulit.
- Dapat mengeluarkan cairan putih atau kekuningan.
- Dapat terasa perih jika berkontak dengan air kemih.
 Penyebab : menggeseknya kulit dengan kulit.
 Perawatan
Untuk dermatitis yang sederhana dilakukan perawatan sebagai berikut :
1) Basuhlah kulit di daerah popok dengan air, keringkan setiap cerut lipatan kulit bayi baik-baik, dan hindari pemakaian lap berpewangi.
2) Mengurangi kelembaban di area popok. Mengganti popok sesegera mungkin setelah mengetahui anak membasahinya. Dan selalu mengeringkannya (dengan menepuk-nepuk) bagian yang baru dicuci. Pemberian tepung kanji jagung dapat mengurangi kelembaban, dan pengolesan salep ruam popok secara tebal dapat melindungi kulit dari air kemih (mintalah rekomendasi dari dokter anak). Selain itu dapat menggunakan krim penolak air, misalnya jelli atau minyak kastor. Perlindungan seperti ini akan lebih penting jika anda menggunakan popok kain atau tidak dapat segera mengganti popok yang basah.
3) Menambah kontak denagn udara. Biarkan anak untuk berkeliaran di dalam rumah tanpa memakai popok atau celana sekalipun, lebih baik setidaknya sekali sehari (tentunya hanya di area rumah dimana “kecelakaan” buang air tidak akan merusak perabotan). Siapkan pot toilet di dekatnya, untuk menjaga kemungkinan “kecelakaan”. Jika biasanya anak menggunakan celana yang tahan air seperti celana karet atau plastik bersama popok kain, kurangi penggunaan celana ini sebisa mungkin karena celana tersebut berfungsi sebagai penutup yang oklusif, menghalangi proses penguapan kontaktan serta memperbesar penetrasi kontaktan ke dalam kulit. Dan jangan menutupi kulit
4
anak dengan salep ketika anda melakukan hal ini karena salep akan menghalangi kontak kulit dengan udara, seperti ia menghalangi kontak kulit dengan kelembaban.
4) Mengurangi kontak dengan bahan yang mengiritasi. Segeralah mengganti popok yang sudh basah dan terkotori. Jangan menggunakan “tisu” basah tetapi gunakan air hangat dan kapas atau handuk kertas yang lembut untuk membersihkan kulit ketika mengganti popok. Menggunakan sabun tawar tidak lebih dari satu kali sehari. Penambahan bahan mandi dari koloid havermut (misalnya aveeno) ke dalam air mandi mungkin akan menenangkan kulit, terutama pada anak laki-laki yang mengalami ruam popok pada penisnya.
5) Mengganti popok. Ada anak yang bereaksi berbeda terhadap jenis popok lain. Meskipun ruam popok lebih jarang terjadi pada anak yang menggunakan popok sekali pakai, tetapi ada anak yang lebih cocok menggunakan popok kain, ada anak yang lebih cocok terhadap satu merek popok sekali pakai dibandingkan merek lainnya. Bila anda mencuci sendiri popok anak, gunakan setengah cangkir cuka atau pembilas khusus untuk popok. Selain itu pastikan sudah terbilas bersih dan hindari deterjen biologis.
6) Jangan menggunakan : asam borak (yang beracun bila tertelan dan tidak aman untuk disimpan di dalam rumah yang mempunyai anak kecil), bubuk talk atau produk yang mengandung talk (yang jika terhirup dapat menimbulkan masalah pernafasan) atau obat-obatan milik anggota keluarga lainnya, baik yang dibeli berdasarkan resep dokter atau dibeli bebas (beberapa bahan yang ada dalam produk kombinasi, dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit). Hubungi dokter anak agar kondisinya dapat didiagnosa dan diberi resep khusu, jika ruam popok ini memburuk, nyeri, atau bintil-bintil, lepuh, berair, menjadi tukak, luka di ujung penis, tidak menyembuh dalam tiga atau empat hari, atau jika terjadi demam yang tidak jelas sebabnya. (pastikan bahwa anda menanyakan berapa lama obat harus digunakan sampai terjadi perbaikan. Setelah perawatan dimulai, hubungilah dokter kembali jika kondisinya tidak membaik dalam waktu yang telah ditentukan, atau jika bertambah parah).
5
Segeralah hubungi dokter jika anak tampaknya sangat sakit atau jika terdapat pengelupasan yang luas (selebar satu inchi atau lebih).
 Pencegahan
Upaya-upaya pencegahan yang bisa dilakukan antara lain :
- Menjaga kebersihan dan kekeringan area popok (pengolesan tepung kanji jagung akan mengurangi kelembaban).
- Jangan menunggu terlalu lama untuk mengganti popok yang sudah basah.
- Hindari pemberian makanan yang kelihatannya mengiritasi (pada beberapa anak, beberapa makanan yang mengandung asam, misalnya sitrun, menghasilkan tinja yang mengiritasi kulit) dan hindari penggunaan sabun dan tisu basah y ang mengiritasi. Pastikan bahwa anda mencuci tangan dengan setelah mengganti popok dari anak yang mengalami ruam popok yang terinfeksi dan pastikan bahwa hal yang sama dilakukan oleh pengasuh anak, baik di sekolahnya maupun di rumah.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian materi di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1) Ruam popok yang terjadi pada bayi merupakan hal yang fisiologis dan biasa terjadi terutama bila bayi sedang diare.
2) Jika anak biasa menggunakan celana yang tahan air bersama, popok kain, maka kurangi penggunaan celana ini selama memungkinkan.
3) Selalu menjaga kebersihan dan kekeringan area popok dengan cara selalu mengganti popok bayi secepatnya bila popok sudah lembab/basah.
4) Hindarilah pemakaian celana plastik atau karet sebisa mungkin pada bayi, karena dapat menghalangi penguapan kontaktan serta memperbesar kontaktan ke dalam kulit.
5) Dan yang paling utama yaitu pemberian krim mistatin (mycostatin) setiap kali mengganti popok, terutama pada bayi yang mengalami ruam popok yang sudah lama.
7
DAFTAR PUSTAKA B. Merenstein, Gerald. 2002. Buku Pegangan Pediatri. Jakarta : Widya Medika Smith, Dr Tony. 2005. Dokter di Rumah Anda. Jakarta : Dian Rakyat. Eisenbery, Arlene dkk. 1995. Anak di Bawah Tiga Tahun. Jakarta. Arcan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar