Kamis, 24 November 2011

MASALAH-MASALAH DALAM MENYUSUI



PENDAHULUAN

Kegagalan  dalam   proses  menyusui  sering  dsi ebabkan  karena  timbulnya  beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian ibu yang tidak paham masalah ini, kegagalan menyusui sering dianggap problem pada anak saja.

Masalah dari ibu yang timbul selama menyusui dapat dimulai sejak sebelum persalinan (periode antenatal), pada masa pasca persalinan dini, dan pasca masa persalinan lanjut. Masalah menyusui dapat pula diakibatkan karena keadaan khusus. Selain itu ibu sering benar  mengeluhkan  bayinya  sering  menangis,  ayau  menolak menyusu,  dsb  yang sering  diartikan  bahwASInya tidak  cukup,  atau  ASInya  tidak enak,  tidak  baik  atau apapun pendapatnya sehingga sering menyebabkan diambilnya keputusan untuk menghentikan menyusui.

Masalah pada bayi umumnya berkaitan dengan manajemen laktasi, sehingga bayi sering menjadi bingung puting atau sering menangis, yang sering diinterprestasikan oleh ibu dan keluarga bahwa ASI tidak tepat untuk bayinya.

A. Masalah Menyusui Masa Antenatal


Pada  masa  antenatal,  masalah  yang  sering  timbul  adalah:  kurang/salah  informasi putting susu terbenam (retracted) atau putting susu datar.

Kurang / salah informasi


Banyak ibu yang merasa bahwa susu formula itu sama baiknya atau malah lebih baik dari  ASI  sehingga  cepat  menambah  susu  formula  bila merasa  bahwa  ASI  kurang. Petugas kesehatanpun masih banyak yang tidak memberikan informasi pada saat pemeriksaan  kehamilan  atau  saat  memulangkan  bayi.  Sebagai  contohbanyak ibu/petugas kesehatan yang tidak mengetahui bahwa:

§  Bayi pada minggu-minggu pertama defekasinya encer dan sering, sehingga dikatakan bayi  menderta  diare  dan  sering kali  petugas  kesehatan  menyuruh  menghentikan


menyusui. Padahal sifat defekasi bayi yang mendapat kolostrum memang demikian karena kolostrum bersifat sebagai laksans.
§  AS belu kelua pad har pertam sehingg bay diangga perl diberikan minuman lain, padahal bayi yang baru lahir cukup bulan dan sehat mempunyai persediaa kalor da caira yang   dapa mempertahankannya   tanpa   minuman selama beberapa hari. Disamping itu, pemberian minuman sebelum ASI keluar akan memperlambat pengeluaran ASI oleh bayi menjadi kenyang dan malas menyusu.
§  Karena   payudar berukura keci diangga kurang   menghasilkan  AS padahal

ukuran payudara tidak menentukan apakah produksi ASI cukup atau kurang karena ukura ditentuka ole banyaknya   lema pada   payudar sedangka kelenjar penghasil  ASI  sambanyaknywalaupun  payudarkecil  dan  produksi  ASI  dapat tetap mencukupi apabila manajemen laktasi dilaksanakan dengan baik dan benar.

Informasi yang perlu diberikan kepada ibu hamil/menyusui antara lain meliputi :


§  Fisiologi laktasi

§  Keuntungan pemberian ASI

§  Keuntungan rawat gabung

§  Cara menyusui yang baik dan benar

§  Kerugian pemberian susu formula

§  Menunda pemberian makanan lainnya paling kurang setelah 6 bulan.


Putting susu datar atau terbenam


Putting  yang  kurang  menguntungkan  seperti  ini  sebenarnya  tida selalu  menjadi masalah.  Secarumum  ibu  tetap masih  dapat  menyusui bayinydan  upaya  selama antenatal  umumnya  kurang  berfaedah,  misalnya  dengan  memanipulasi Hofman, menarik-nerik puting, ataupun penggunaan brest shield dan breast shell. Yang paling efisien untuk memperbaiki keadaan ini adalah isapan  langsung bayi yang kuat. Maka sebaiknya tidak dilakukan apa-apa, tunggu saja sampai bayi lahir, segera setelah pasca lahir lakukan :

§  Skin-to-skin kontak dan biarkan bayi mengisap sedini mungkin

§  Biarkan bayi mencari” putting kemudian mengisapnya, dan bila perlu coba berbagai posisi untuk mendapat keadaan yang paling menguntungkan. Rangsang putting biar dapat keluar sebelum bayi mengambilnya.


§  Apabila  putting  benar-benar  tidak  bisa  muncul,  dapat “ditarik dengan  pompa putting susu (nipple puller), atau yang paling sederhana dengan sedotan spuit yang dipakai terbalik.
§ Jika tetap mengalami kesulitan, usahakan agar bayi tetap disusui dengan sedikit penekanan  pada  areola  mammae  dengan  jari  sehingga  terbentuk dot  ketika memasukkan putting susu ke dalam mulut bayi.
§  Bila  terlalu  penuh  ASI  dapat  diperas  dahulu dan  diberikan  dengan  sendok  atau cangkir,  atau  teteskan  langsung  kmulut  bayi.  Bilperlu  lakukan ini  hingg1-2 minggu.

B. Masalah Menyusui Pada Masa Pasca Persalinan Dini


Pada  masa  ini,  kelainan  yang  sering  terjadi  antara  lain  :  putting  susu  datar,  atau terbenam, putting susu lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat dan mastitis atau abses.

1. Putting susu lecet


Pada  keadaan  ini  seringkali  seorang  ibu  menghentikan  menyusui  karena  putingnya sakit. Yang perlu dilakukan adalah :

§  Cek bagaimana perlekatan ibu-bayi


§  Apakah  terdapat  Infeksi  Candida  (mulut  bayi  perlu  dilihat). Kulit  merah,  berkilat, kadang gatal, terasa sakit yang menetap, dan kulit kering bersisik (flaky)

Pada keadaan putting susu lecet, yang kadang kala retak-retak atau luka, maka dapat dilakukan dengan cara-cara seperti ini :

§  Ibu dapat terus memberikan ASInya pada keadaan luka tidak begitu sakit.

§  Olesi  putting  susu  dengan  ASI akhir  (hind  milk),  jangan  sekali-sekali  memberikan obat lain, seperti krim, salep, dan lain-lain.
§  Putting  susu  yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu  kurang lebih

1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam.

§  Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya SAI tetap dikeluarkan dengan tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri.
§  Cuci payudara sekali saja sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan sabun.


2. Payudara bengkak


Dibedakan antara payudara penuh, karena berisi ASI, dengan payudara bengkak. Pada payudara penuh; rasa berat pada payudara, panas dan keras. Bila diperiksa ASI keluar, dan tidak ada demam. Pada payudara bengkak; payudara udem, sakit, puting kencang, kulit mengkilat walau tidak merah, dan bila diperiksa/isap ASI tidak keluar. Badan bisa demam  setelah  24  jam.  Hal  ini terjadi  karena  antara  lain  produksi  ASI  meningkat, terlambat menyusukan dini, perlekatan kurang baik, mungkin kurang sering ASI dikeluarkan dan mungkin juga ada pembatasan waktu menyusui.

Untuk mencegah maka diperlukan (1) menyusui dini (2) perlekatan yang baik (3) menyusui on demand/ Bayi harus lebih sering disusui. Apabila terlalu tegang, atau nayi tidak dapat menyusu sebaiknya ASI dikeluarkan dahulu, agar ketegangan menurun. Dan untuk merangsang reflex Oxytocin maka dilakukan :

§  Kompres panas untuk mengurangi rasa sakit.


§  Ibu harus rileks


§  Pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah payudara)


§  Pijat ringat pada payudara yang bengkak (pijat pelan-pelan kea rah tengah)


§  Stimulasi payudara dan putting


Selanjutnya  kompres  dingin  pasca  menyusui,  untuk  mengurangi udem.  Pakailah  BH

yang sesuai. Bila terlalu sakit dapat diberikan obat analgetik.


3. Mastitis atau abses payudara


Mastitis  adalah  peradangan  padpayudara.  Payudarmenjadi  merah,  bengkak kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Di dalam terasa ada masa padat (lump), dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurangnya ASI diisap/dikeluarkan atau pengisapan yang  tak  efektif.  Dapat  jugkarena  kebiasaan  menekan  payudardengan  jari  atau akrena tekanan baju/BH. Pengeluaran ASI yang kurang baik pada payudara yang besar, terutama pada bagian bawah payudara yang menggantung.


Ada dua jenis Mastitis ; yaitu yang hanya karena milk stasis adalah Non Infective Mastitis dan yang telah terinfeksi bakteri : iInfective Mastitis. Lecet pada puting dan trauma pada kulit juga dapat mengundang infeksi bakteri. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan:

§  Kompres hangat/panas dan pemijatan


§  Rangsang Oxtocin; dimulai pada payudara yang tidak sakit, yaitu stimulasi putting, pijat leher-punggung, dan lain-lain.

§  Pemberian antibiotik; Flucloxacilin atau Erythromycin selama 7-10 hari.


§  Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa nyeri.


§  Kalau  sudah  terjadi  abses  sebaiknya  payudara  yang  sakit  tidak  boleh  disusukan karena mungkin memerlukan tindakan bedah.

C. Masalah Menyusui Pada Masa Pasca Persalinan Lanjut


Yang  termasuk  dalam  masa  pasca persalinan  lanjut  adalah  sindrom  ASI  kurang,  ibu bekerja.

1. Sindrom ASI kurang

Sering kenyataannya ASI tidak benar-benar kurang. Tanda-tanda yang mungkin sajaASI benar kurang antara lain:
§  Bayi  tidak  puas  setiap  setelah menyusui,  sering  kali  menyusu,  menyusu  dengan waktu yang sangat lama. Tapi juga terkadang bayi lebih cepat menyusu. Disangka produksinya berkurang padahal dikarenakan bayi telah pandai menyusu.
§  Bayi sering menangis atau bayi menolak menyusu

§  Tinja bayi keras, kering atau berwarna hijau

§  Payudara tidak membesar selama kehamilan (keadaan yang jarang), atau ASI tidak

“dating”, pasca lahir.


Walaupun ada tanda-tanda tersebut perlu diperiksa apakah tanda-tanda tersebut dapat dipercaya.

Tanda bahwa ASI benar-benar kurang, antara lain :


§  BB (berat badan) bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per bulan

§  BB lahir dalam waktu 2 minggu belum kembali


§  Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam; cairan urin pekat, baud an warna kuning.

Cara mengatasinya disesuaikan dengan penyebab, terutama dicari pada ke 4 kelompok factor penyebab :

1. Faktor  tehnik  menyusui,  keadaan  ini  yang  paling  sering  dijumpai,  a.I.  masalah frekuensi, perlekatan, penggunaan dot/botol dan lain-lain
2. Faktor psikologis, juga sering terjadi

3. Faktor fisik ibu (jarang); a.I. KB, kontrasepsi, diuretic, hami , merokok, kurang gizi, dll

4. Sangat jarng, adalah factor kondisi bayi, missal : penyakit, abnormalitas dan lain-lain


Ibu dan bayi dapat saling membantu agar produksi ASI meningkat dan bayi terus memberikan isapan efektifnya. Pada keadaan-keadaan tertentu dimana produksi ASI memang tidak memadai maka perlu upaya yang lebih, misalnya pada relaktasi, maka bila perlu dapat dilakukan pemberian ASI dengan suplementer yaitu dengan pipa nasogastrik atau pipa halus lainnya yang ditempelkan pada putting untuk diisap bati dan ujung lainnya dihubungkan dengan ASI atau formula.

2. Ibu yang bekerja


Seringkali alas an pekerjaan membuat seseorang ibu berhenti menyusui. Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dianjurkan pada ibu menyusui yang bekerja :
§  Susuilah bayi sebelum ibu bekerja

§  ASI dikeluarkan untuk persediaan di rumah sebelum berangkat kerja

§  Pangosongan payudara di tempay kerja, setiap 3-4 jam

§  ASI dapat disimpan dilemari pendingin dan dapat diberikan pada bayi saat ibu bekerja dengan cangkir
§  Pada saat ibub dirumah, sesering mungkin bayi disusui, dang anti jadwal menyusuinya sehingga banyak menyusui di malah hari
§  Keterampilan mengeluarkan ASI dan merubah jadwal menyusui sebaiknya telah mulai dipraktekkan sejak satu bulan sebelum kembali bekerja
§  Minum dan makan makanan yang bergizi dan cukup selama bekerja dan selama menyusui nayinya.


Pengeluaran ASI :


Keluarkan  ASI  sebanyak  mungkin  dan  tamping  ke  cangkir  atau  tempat/teko  yang bersih. Ada ibu yang dapat mengeluarkan sampai 2 cangkir (400-500 ml) atau lebih walaupun setelah  bayi selesai menyusui. Tetapi meskipun hanya 1 cangkir (200 ml) sudah bisa untuk pemberian 2 kali A 100 ml.

Penyimpanan ASI :


§  6-8 jam di temperature ruangan (19o-25 o  C), bila masih kolostrum (susu awal, 1-7 hari) bisa sampai 12 jam
§  1-2 hari di lemari es (4 oC)

§  Bertahun dalam deep freezer (-18 oC)


ASI  beku  perlu  dicairkan  dahulu  dalam  lemari  es  4 o C.  ASI  kemudian  tidak  boleh dimasakkan, hanya dihangatkan dengan merendam cangkir dalam air hangat.

D Masalah Menyusui Pada Keadaan Khusus


a. Ibu melahirkan dengan bedah Caesar


Segera rawat gabung,jika kondisi ibu dan bayi membaik,dan menyusui segera.


b. Ibu sakit


Ibu  yang  menderita  Hepatitis  dan  AIDS,  tidak  diperkenankan  untuk  menyusui, namun pada masyarakat yang tidak dapat membeli PASI, ASI tetap dianjurkan.

c. Ibu hamil


Tidak ada bahaya bagi ibu maupun janin, perlu diperhatikan untuk makan lebih banyak. Jelaskan perubahan yang dapat terjadi: ASI berkurang, kontraksi uterus.


Masalah Pada Bayi


A.  Bayi sering menangis


Perhatika seba bay menangis janga biarka bay menangis terlal lama, puaskan menyusu.

Sebab bayi menangis :


·   Bayi merasa tidak aman

·   Bayi merasa sakit

·   Bayi Basah

·   Bayi kurang gizi

Tindakan  ibu  :  ibu  tidak  perlu cemas,  karena  akan  mengganggu proses  laktasi, perbaiki posisi  menyusui, periksa pakaian bayi: apakah basah, jangan biarkan bayi menangis terlalu lama.

B.  Bayi bingung putting


Nipple Confusion adalah keadaan yang terjadi karena bayi mendapat susu formula dalam  botol  berganti-ganti dengan menyusu pada ibu. Terjadi karena mekanisme menyusu pada puting berbeda dengan botol.

Tanda-tanda : mengisap puting seperti menghisap dot, menghisap terbutus-putus dan sebentar, bayi menolak menyusu.

Tindakan: jangan mudah memberi PASI,jika terpaksa berikan dengan sendok atau pipet.

C.  Bayi premature


Susui  dengan  sering,walau  pendek-pendek,  rangsang  dengan  sentuh langit-langit bayi dengan jari ibu yang bersih,  jika tidak dapat menghisap berikan dengan pipa nasogastrik, tangan, dan sendok.


Uraian sesuai dengan umur bayi :


·    Bayi umur kehamilan < 30 mgg : BBL < 1250 gr. Biasanya diberi cairan infus selama 24-48 jam. Lalu diberikan ASI menggunakan pipa nasogastrik

·    Usia 30-32 mgg : BBL 1250 1500 gram.


Dapa menerim AS dari sendok  kal sehari,   namu masih   menerima makanan lewat pipa, namun lama kelamaa makanan pipa makin berkurang dan ASI ditingkatkan.

·    Usia 32-34 mgg : BBL 1500-1800 gram.


Bayi mulai menyusui langsung dari payudara namun perlu sabar.


·    Usia > 34 mgg: BBL > 1800 gram.


Mendapatkan semua kebutuhan dari payudara.


D.  Bayi kuning


Pencegahan : segera menyusui setelah lahir, dan jangan dibatasi atau susui sesering mungkin.

Berikan  bayi  kolustrum,  kolustrum  mengandung  purgatif ringan,  yang  membantu bayi untuk mengeluarkan mekonium. Bilirubin dikeluarkan melalui feses jadi kolustrum berfungsi mencegah dan menghilangkan bayi kuning.

E.  Bayi kembar


Ibu  optimis  ASI  nya  cukup,  susui  dengan football  position,  susui  pada  payudara dengan bergantian untuk variasi bayi, dan kemampuan menghisap mungkin berbeda

F.  Bayi sakit


Tidak ada alasan untuk menghentikan pemberian ASI. Untuk bayi tertentu seperti diare, justru membutuhkan lebih banyak ASI untuk rehidrasi.

Yakinkan ibu bahwa alam telah menyiapkan air susu bagi semua makhluk, sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu semua ibu sebenarnya sanggup menyusui bayi kembar.


G.  Bayi sumbing


Bayi tidak akan mengalami kesulitan menyusui, cukup dengan berikan posisi yang sesuai, untuk sumbing pallatum molle ( langit-langit lunak ), dan pallatum durum ( langit-langit keras)

Manfaat  menyusui  bagi  bayi  sumbing  melatih  kekuatan otot  rahang  dan  lidah, memperbaiki perkembangan bicara, mengurangi resiko terjadinya otitis media.

Untuk bayi dengan palatoskisis ( celah pada langit-langit )  : Menyusui dengan posisi duduk,  putting  dan  areola  pegang  saat  menyusui,  ibu  jari  ibu digunakan  sebagai penyumbat lubang, kalau mengalami labiopalatoskisis, berikan ASI dengan sendok, pipet, dot panjang

H. Bayi dengan lidah pendek ( Lingual Frenulum )


Keadaan ini jarang terjadi, dimana bayi mempunyai jaringan ikat penghubung lidah dan  dasar  mulut  yang  tebal  dan kaku,  sehinggmembatasi  gerak  lidah,  dan  bayi tidak dapat menjulurkan lidah untuk menangkap puting.

Cara menyusui : Ibu  membantu  dengan menahan kedua bibir bayi segera  setelah bayi dapat menangkap puting dan areola dengan benar.

I Bayi yang memerlukan perawatan


Ibu  ikut  dirawat  supaya pemberian  ASI  bisa  dilanjutkan.  Seandainya  tidak memungkinkan,  ibu  dianjurkan  untuk  memerah  ASI  setiap  3  jam dan  disimpan didalam lemari untuk kemudian sehari sekali daiantar kerumah sakit.

Perlu ditandai pada botol waktu ASI tersebut ditampung, sehingga dapat diberikan sesuai jam nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar