Sabtu, 26 November 2011

TUGAS MAKALAH KEPERAWATAN ANAK


“ETIKA DALAM PERAWATAN PEDIATRI”

I. PENDAHULUAN
Isu etik menembus seluruh hubungan antara dokter dan penderita: seberapa banyak informasi yang harus dibuka? Apakah penderita menghabiskan bersama secara tidak jujur sumber-sumber dari seorang dokter atau masyarakat? Haruskah keputusan klinis dibuat oleh penderita, orang tua atau dokter? Dalam ilmu pediatri dilema umum ini dikeruhkan oleh variabel kemampuan penderita, kadang-kadang persaingan keinginan antara orang tua dan anak, dan tradisi lama yang memperlakukan anak secara lebih paternalistik daripada yang bisa diterima penderita dewasa.
Bagian berikut ini mengulas prinsip-prinsip konseptual utama dalam etika medik, mengidentifikasi isu utama dalam dilema umum klinis/etis yang melibatkan anak; mengidentifikasikan area konsensus nyata; dan menyarankan suatu pendekatan prosedur terhadap pengambilan keputusan etik.
Dari latar belakang tersebut di atas dapat diketahuinya bahwa pentingnya perawat dalam meningkatkan mutu pelayanan sekaligus meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi pasiennya khususnya anak-anak yang semata-mata tidak hanya mengedapankan pola keperawatan yang diikuti namun juga mengikuti pola keinginan pasien.
Dalam hal ini penulis ingin menggambarkan Etika Dalam Perawatan Pediatri sebagai salah satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak.

II. I S I
A. ISU KONSEPTUAL
1. Autonomi
Ini adalah prinsip utama dalam etika medik kontemporer (modern). Tujuannya untuk memperbolehkan penderita yang mampu membuat keputusan perawatan kesehatannya sendiri, berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri. Di Amerika Serikat dan banyak negara lain, penderita yang mampu hampir mempunyai hampir mempuyai hak mutlak untuk memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap tubuhnya. Hak ini tidak tergantung pada keputusan rasional penderita. Oleh karena itu, seorang penderita diperbolehkan menolak dana perawatan dengan alasan religius atau alasan-alasan lain, bahkan meskipun orang lain menganggap dia membuat keputusan bodoh atau ceroboh. Prinsip ini khususnya relevan pada remaja, sementara kemampuan penderita mulai menyerupai kemampuan orang dewsa, tetapi anak-anak yang lebih muda juga kadang-kadang yang mampu membuat keputusan perawatan kesehatan sendiri.
2. Kemampuan
Prinsip autonomi berjalin kuat dengan konsep kemampuan, karena hanya penderita yang mampu yang memperoleh hak untuk membuat keputusan perawatan kesehatannya sendiri. Definisi yang paling umum dari kemampuan berdasarkan pada kemampuan penderita untuk memahami konsekuensi yang bakal timbul dari keputusannya dan alternatif yang tersedia. Banyak remaja yang telah memenuhi standar ini, menciptakan konflik potensial ketika mereka masih di bawah pengawasan orang tua.
3. Kebajikan
Ini berkenaan dengan kewajiban menghindari bahaya sebagaimana untuk meningkatkan kemakmuran yang lain. Ini berakar dari pepatah kuno “jangan lakukan kerusakan” suatu pernyataan yang sangat sederhana, karena sedikit keuntungan medik yang bisa dicapai tanpa resiko kerusakan.
Prinsip yang lebih lengkap akan mencakup suatu hal yang tidak menyebabkan kerusakan tanpa suatu hal yang tidak menyebabkan kerusakan tanpa suatu kemungkinan memperoleh balasan yang baik, tetapi individu bervariasi atas apa yang mereka anggap suatu kerusakan atau suatu kebaikan dan seberapa banyak risiko kerusakan yang mereka harapkan untuk memperoleh kemungkinan keuntungan. Keunggulan autonomi telah menyebar di Amerika Serikat, meskipun tidak mutlak, pandangan bahwa penderita yang mampu harus diizinkan untuk memutuskan sendiri bagaimana keseimbangan keuntungan dan kerugian. Campur tangan dalam keputusan ini sering berdasar pada klaim hak paternalisme.
4. Paternalisme
Didefinisikan sebagai campur tangan dalam kebebasan oran lain atas keuntungan bagi dirinya. Hal ini biasanya dianggap menjadi tugas orang tua, meskipun asumsi ini dipertanyakan, dan secara moral tidak adil bagi penderita yang mampu, dengan pengecualian yang terbatas. Banyak dokter secara historis percaya bahwa mereka punya hak dan kewajiban atas paternalistik ini, berdasar pada klaim bahwa kewajiban mereka adalah bermurah hati (beneficence)-untuk meningkatkan kesehatan penderita, bukan atas hak autonominya. Ada banyak dukungan terhadap opini ini yaitu paternalistik dibenarkan paling tidak jika ada kemungkinan terjadi kerusakan yang serius; bila campur tangan dalam kebebasan penderita mungkin mencegah kerusakan; dan jika ada kemungkinan yang masuk akal bahwa penderita memang ingin diperlakukan seperti itu atau kelak akan menghargainya. Pandangan paternalisme memberikan pembenaran atas banyak campur tangan yang dilakukan demi keuntungan anak-anak meskipun mereka jelas-jelas menolak, seperti operasi atas apa yang diduga usus buntu imunitas terhadap penyakit-penyakit serius, tetapi menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan campur tangan yang tidak jelas efektifitasnya, terutama jika anak-anak keberatan atas atau campur tangan untuk tujuan mencegah kerusakan atau tidak jelas.
5. Bicara Benar
Kewajiban untuk mengatakan yang sesungguhnya adalah suatu syarat bagi tiap komunitas moral. Ini mempunyai kepentingan khusus dalam hubungan dokter – penderita, dimana kebenaran adalah esensial karena kemampuan yang tidak sejajar dan karena konsekuensi serius keputusan medik. Gagal dalam menjunjung prinsip ini disebabkan oleh kebohongan aktif, yang salah dalam semua situasi penatalaksanaan perawatan kesehatan, atau dengan menghapus informasi. Penghapusan tidak boleh dilakukan baik untuk tujuan kecurangan maupun manipulasi reaksi penderita. Beberapa orang menganggap semua kecurangan yang sengaja adalah bentuk-bentuk kebohongan yang bisa dibenarkan hanya pada situasi-situasi tertentu.
6. Kepercayaan
Penderita butuh mempercayai dokternya bukan untuk memberikan informasi pribadi pada orang lain, tetapi kepercayaan memberikan seluruh pengungkapan informasi yang relevan bagi penyediaan perawatan kesehatan pribadi yang efektif, dan mencegah kekacauan yang mengancam orang lain dalam suatu komunitas, dan mungkin mengurangi jumlah orang dan biaya perawatan penyakit dan ketidakmampuan lain melalui perawatan dini. Disini dokter berjanji secara implist untuk tidak menyebarkan informasi kecuali atas persetujuan hukum. Pengecualian prinsip ini biasanya terbatas pada situasi dimana terdapat risiko kerusakan fisik serius bagi orang lain yang hanya bisa dicegah dengan membuka informasi (misalnya: melaporkan tersangka penyiksa anak-anak berdasar informasi yang diperoleh dari korban, yang seharusnya menjadi hubungan rahasia).
7. Konflik Kepentingan
Karena anak/penderita biasanya diwakili oleh orang lain, terdapat kecenderungan potensial bagi dokter spesialis anak untuk menerima kepentingan terbaik bagi si anak secara berbeda dengan apa yang dirasakan orang tua atau pendampingnya. Disamping itu rasa tanggung jawab dokter
terhadap anggota keluarga lain dapat melibatkan konflik antara kepentingan keluarga dan kepentingan si anak.
B. PEMBATALAN DAN PENUNDAAN DUKUNGAN HIDUP
Ini adalah etika kepentingan yang harus dihadapi dokter. Dalam ilmu pedriati, isu-isu ini sering mencuat pada periode neonatus, melibatkan bayi-bayi dengan prospek bertahan hidup yang terbatas tanpa keadaan sakit lama yang bermakna. Bagaimanapun juga, kasus-kasus ini hanyalah satu bagian dari pertanyaan umum tentang kebenaran penundaan atau pembatalan dukungan hidup bagi anak-anak dengan penyakit yang bervariasi dari lahir hingga masa remaja.
Ada satu konsensus etik kuat di Amerika Serikat bahwa orang yang mampu mempunyai hak yang hampir mutlak untuk menyiratkan satu hak untuk menolak perawatan kesehatan lebih lama dan kematian jelas merupakan akibat penolakan perlakuan. Terdapat tradisi yang mirip dalam hukum. Contoh yang umum adalah kejadian umum dimana seorang Saksi Yehova menolak transfusi darah; keyakinan religius ini bukanlah aspek esensial atau prinsip legal dalam etika ini. Oleh karena itu, penderita remaja yang dirasa mampu dalam memahami konsekuensi keputusannya, termasuk prospek bertahan hidup dan kualitas hidup jika perlakuan diterima dan kepastian mati jika perlakuan dibatalkan. Harus memainkan peran utama dalam keputusan seperti ini. Kasus lebih rumit melibatkan remaja muda diambang kompetensi dan kekacauan dengan prospek terbatas untuk tetap hidup.
Kebanyakan penderita anak-anak jelas tidak mampu untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan penundaan perawatan. Meskipun orang tua secara tradisional adalah pembuat keputusan bagi anak-anaknya dengan sedikit kontroversi, terdapat peningkatan pertanyaan atas batas otoritas tersbut. Ini biasanya terjadi dalam keputusan yang berkenaan dengan bayi cacat atau sakit parah yang disebut “kontroversi bayi anu”.
1. Dilema “Bayi Anu”
Istilah ini muncul paad tahun 1982 dalam konflik bayi yang mengalami sindroma down dan atas permintaan orang tua. Banyak kasus serupa yang diperkirakan mati dalam usia 6 hari teradi di awal dekade, terutama melibatkan kurang terawatnya bayi lahir dengan sindroma down dan spina bifida. Banyak dari anak-anak itu tampaknya mempunyai masa depan cerah untuk hidup lebih lama dan bahagia, dengan mempercayai bahwa keputusan tidak dibuat berdasarkan kepentingan anak lagipula pada survai besar, kebanyakan dokter spesialis anak mendukung kontrol spesialis anak menyatakan keputusan seperti itu; beberapa dokter spesialis anak menyatakan mereka menganggap tugasnya tidak untuk melayani kepentingan penderita tetapi untuk melayani kepentingan orang tuanya. Problem ini diancukan oleh fakta bahwa banyak keputusan dibuat berdasar asumsi medik yang keliru, termasuk prognosis pesimis yang tidak layak.
Sebagai konsekuensi atas masalah ini, di Amerika Serikat, peraturan-peraturan segera diundangkan di bawah Undang-undang Kejahatan Anak yang melarang pembatalan perawatan medik karena anak mungkin bertahan hidup dengan cacat, namun berat. Undang-undang ini menghapus alasan utama untuk menghentikan penyediaan perawatan kehidupan berkelanjutan dari tiap penderita; yaitu, kemungkinan bahwa keberadaan kelangsungan biologis tidak akan memenuhi kepentingan si penderita dengan tepat karena dia kan cacat sehingga justru membuat beban perawatan menjadi perawatan menyeluruh yang berlebihan bagi neonatus yang sakit parah, didefinisikan sebagai perawatan untuk memperpanjang harapan hidup, yang di mata dokter tidak memenuhi kepentingan si anak.
Usaha untuk menemukan landasan menengah yang dapat diterima antara keadaan kurang perawatan dan perawatan berlebihan menyebabkan meningkatnya dukungan atas suatu pendekatan prosedural yang menentukan apakah kepentingan anak berdasar pada “teori peneliti ideal”. Suatu keputusan secara moral dapat diterima jika dapat disetujui oleh peneliti
etik ideal dengan lima karakteristik: 1. Mengetahui (omniscience); 2. Melihat (omnipercipience), keputusan secara emapati harus mempertimbangkan perasaan mereka yang terlibat; 3. Tidak berdasar kepentingan (disinterest), keputusan tidak berdasar kepentingan-kepentingan tertentu; 4. Tidak memihak (dispassion), keputusan tidak dibuat di bawah kondisi dimana emosi menghalangi pemikiran yang kritis; 5. Konsisten, bentuk alasan etis, berarti bahwa kasus-kasus yang serupa diputuskan serupa pula. Karena tidak ada orang yang memenuhi sifat ideal ini, proses kerja sama digunakan untuk memperkirakan karakteristik ini, seperti etika rumah sakit atau komite pengawas perawatan bayi. Jumlah komite ini meningkat dengan cepat, dan kecenderungan ini diikuti oleh hilangnya problem kurang perawatan. Komite-komite sepeti ini memainkan peran konsultif dalam kasus-kasus dimana orang tua dan staf medik tidak dapat saling setuju atas serangkaian tindakan yang tepat.
2. Pembatalan VS Penundaan Pengobatan
Secara umum diterima bahwa tidak ada perbedaan moral antara pembatalan dan penundaan pengobatan. Meskipun secara historis dan psikologis dokter dan perawat lebih enggan untuk membatalkan pengobatan yang telah berlangsung, penundaan pengobatan dapat disahkan karena dua alasan; pertama, penundaan pengobatan lebih menguntungkan setelah percobaan klinis, memberikan lebih banyak data berkenaan dengan kemungkinan hasil (outcome) daripada jika perlakuan dibatalkan. Etika yang dimulai dengan fakta yang baik, dan biasanya lebih disukai menghindari keputusan final di tengah-tengah ketidak pastian. Kedua, larangan tradisional penundaan pengobatan menyebabkan beberapa dokter membatalkan pengobatan pada bebrapa bayi yang mempunyai prospek keuntungan nyata, karena takut jika hasilnya ternyata suram, tidak ada cara lain selain menjaga penderita tetap hidup sesuai dengan telnologi yang ada; contohnya bayi lahir prematur yang mungil diperkirakan mati dikamar bersalin tanpa memperoleh percobaan klinis, tidak ada dokter di Amerika Serikat yang benar-benar
mampi baik manusiawi maupun kriminal, untuk membatalkan atau menunda setiap perlakuan perpanjangan harapan hidup dari setiap penderita dengan alasan apa pun.
3. Eutansia Aktif VS Eutansia Pasif
Seperti yang disiratkan dalam pembahasan sebelumnya, ada dukungan lias bagi eutansia pasif, memperbolehkan penderita mati karena penyakit intrinsik atau cacat. Sebagai perbandingan, eutansia aktif dianggap lebih problematik dan pada umumnya ditentang. Alasannya adalah hanya sebagian berhubungan dengan keprihatinan atas kepentingan penderita. Jika suatu keputusan telah dibuat maka kelangsungan hidup adalah bukan keinginan si penderita, tampaknya tidak relevan apakah dia mati karena eutansia aktif atau pasif. Tentu saja eutansia aktif mungkin lebih disukai karena kemungkinan memperkecil penderitaan. Tujuannya didasarkan pada kecepatan dan tindakan akhir, menghindari kemungkinan tindakan perubahan jika ternyata ditemukan bahwa keputusan itu salah. Semakin jika ternyata ditemukan bahwa keputusan itu salah. Semakin besar perhatian, tetap saja memiliki efek “lereng yang licin” suatu klaim bahwa memangkas hambatan terhadap suatu pembunuhan akan mempermudah dokter untuk membunuh yang lain, bahwa batas-batas akan samarm, sehingga penderita tanpa keinginan yang jelas untuk mati akan berbahaya. Berdasar catatan dua negara yang memiliki pengalaman terbesar dalam eutansia aktif, yaitu Jerman tahun 1935 dan Belanda Modern, mendukung perhatian ini.

III. PENUTUP
Dalam ilmu pediatri dilema umum ini dikeruhkan oleh variabel kemampuan penderita, kadang-kadang persaingan keinginan antara orang tua dan anak, dan tradisi lama yang memperlakukan anak secara lebih paternalistik daripada yang bisa diterima penderita dewasa.
Salah hal penting dalam praktik perawatan anak adalah kewajibn kewajiban untuk mengatakan yang sesungguhnya, hal tersebut bertujuan sebagai suatu syarat bagi tiap komunitas moral. Ini mempunyai kepentingan khusus dalam hubungan dokter – penderita, dimana kebenaran adalah esensial karena kemampuan yang tidak sejajar dan karena konsekuensi serius keputusan medik.
Meskipun disadari bahwa masih ditemukan kebanyakan penderita anak-anak jelas tidak mampu untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan penundaan perawatan. Meskipun orang tua secara tradisional adalah pembuat keputusan bagi anak-anaknya dengan sedikit kontroversi.
DAFTAR PUSTAKA
Ngastiyah, 1997. Keperawatan Anak Sakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Richard, et. al, 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar