Jumat, 18 November 2011

IMUNISASI DPT


BAB I. PENDAHULUAN

Hingga kini imunisasi masih menjadi andalan dalam mengendalikan penyebaran berbagai penyakit infeksi, khususnya penyakit yang banyak menjangkiti anak-anak. Menurut para pakar imunisasi dunia, sedikitnya sebanyak 10 juta jiwa dapat diselamatkan pada tahun 2006 melalui kegiatan imunisasi. Bahkan hingga tahun 2015 sebanyak 70 juta jiwa anak-anak di negara miskin dapat diselamatkan dari penyakit-penyakit infeksi yang umumnya menjangkiti mereka (www.depkes.go.id, 2006).
Itulah sebabnya, pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau seandainya terkenapun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal. Dalam hal ini imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi DPT. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar anibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan Anti Tetanus Serum (ATS) pada orang yang mengalami luka kecelakaan (www.sarikata.com, 2005). Pada tahun 2005 Depkes RI menyatakan bahwa lebih dari 10 juta balita meninggal tiap tahun, dengan perkiraan 2,5 juta meninggal (25%) akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin yang kini ada maupun yang terbaru. Oleh karena itu sangat jelas bahwa imunisasi sangat penting untuk mengurangi seluruh kematian anak. Dalam era globalisasi dan komunikasi tanpa batas, yang berdampak pada peningkatan kerentanan dalam penyebaran penyakit, membuat peran imunisasi semakin vital (Depkes RI, 2006).
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan)
adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking (naila.rad.net.id, 2003). Pada tahun 2005 Departemen Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa lebih dari 10 juta balita meninggal tiap tahun, dengan perkiraan 2,5 juta meninggal (25%) akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin yang kini ada maupun yang terbaru. Oleh karena itu sangat jelas bahwa imunisasi sangat penting untuk mengurangi seluruh kematian anak. Dalam era globalisasi dan komunikasi tanpa batas, yang berdampak pada peningkatan kerentanan dalam penyebaran penyakit, membuat peran imunisasi semakin vital (Depkes RI, 2006). Keberhasilan program imunisasi untuk mencapai target yang diharapkan akan sangat tergantung dari hasil cakupan program tersebut dan pada akhir Pelita IV ditentukan bahwa cakupan imunisasi harus mencapai 65% dan pada tahun 1990 secara nasional Indonesia dapat mencapai status Universal Child Immunization (UCI) yaitu mencakup 80% untuk HB1, Polio3 dan campak sebelum anak berusia 1 tahun dan cakupan HB2, Polio dan DPT minimal 90% (Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi di Indonesia, 2001). Pada Pelita VII tahun 2002 anak yang berusia di bawah 1 tahun sudah mendapatkan imunisasi lengkap 100% untuk semua jenis imunisasi, karena dampak dari kurangnya pemberian imunisasi pada anak dapat mengakibatkan penyakit-penyakit infeksi (Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, 2001). Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan (2006) diketahui pada tahun 2005 jumlah cakupan bayi yang diimunisasi sebanyak 143.908 bayi dengan jumlah sasaran sebanyak 291.725 bayi (49,33%) sedangkan pada tahun 2006 jumlah cakupan bayi yang diimunisasi sebanyak 127.113 bayi dengan jumlah sasaran sebanyak 341.730 bayi (37,19%).
Dalam upaya peningkatan cakupan imunisasi bayi, orangtua sangat penting peranannya khususnya ibu yang mempunyai bayi dan balita, dimana sangat jelas terlihat bahwa sang anak sangat tergantung akan perhatian ibunya, dalam hal ini memperhatikan kekebalan dan daya tahan tubuh si anak. Hal ini berarti bahwa pengetahuan seorang ibu tentang imunisasi khususnya DPT sangat diperlukan.
Fenomena lain yang tampak pada saat peneliti melakukan pre survey di Desa Padang Manis adalah bahwa masih banyak ibu-ibu yang tidak mengerti tentang pentingnya imunisasi DPT, dari sebagian besar ibu-ibu yang ikut serta memberikan imunisasi DPT pada anaknya diketahui banyak pula ibu-ibu yang sekedar ikut-ikutan saja tanpa mengetahui manfaat atau kegunaan dari imunisasi DPT. Selain itu kekhawatiran ibu terhadap anaknya yang diimunisasi DPT yang kemudian panas dan demam juga dapat mengakibatkan meningkatnya kecemasan ibu. Berdasarkan latar belakang dan fenomena di atas, kami sangat tertarik untuk menyusun makalah tentang imunisasi DPT.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Imunisasi
2.1.1 Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah pemberian kekebalan (anti body) dengan cara memasukan vaksin kedalam tubuh untuk mencegah atau terhindar dari kuman penyakit (Markum, 1997). Imunisasi adalah kekebalan kepada anak/ibu hamil terhadap beberapa jenis penyakit agar anak/ibu tersebut terhindar dari penyakit tertentu (Depkes RI, 1996)
2.1.2 Tujuan Pemberian Imunisasi
1. Agar anak mendapat/memperoleh kekebalan terhadap beberapa jenis penyakit tertentu.
2. Menurunkan angka kematian dan kesakitan.
3. Mencegah akibat buruk lebih lanjut dari PD3I/mencegah timbulnya cacat.

2.1.3 Macam-macam Imunisasi serta penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi:
1. Imunisasi BCG melindungi anak terhadap penyakit TBC
2. Imunisasi DPT mencegah penyakit Difteri, Pertusis dan Tetanus
3. Imunisasi Polio mencegah penyakit Polio/Kelumpuhan

Merupakan vaksin yang mengandung virus / kuman polio yang telah dimatikan untuk mencegah kelumpuhan. Cara pemberian diberikan 3x pada umur 3 bulan dengan interval 4 – 6 minggu. Imunisasi ulang diberikan tiap 3 tahun
4. Imunisasi Campak mencegah penyakit Campak

Merupakan vaksin yang diberikan pada bayi sebagai pencegahan terhadap penyakit campak diberikan 3 x dengan interval 4 – 6 minggu. Imunisasi ulangan diberikan setelah 5 tahun dari imunisasi pertama
5. Imunisasi TT mencegah penyakit tetanus
6. Hepatitis B mencegah penyakit Hepatitis/Penyakit Kuning.

2.2 Imunisasi DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus)

2.2.1 Difteria
1. Pengertian
Difteria ialah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Cornebacterium diphtheriae. Mudah menular dan yang diserang terutama traktus respiratorius bagian atas dengan tanda khas terbentuknya pesudomembran dan dilepaskannya eksotoksin yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal.
2. Etiologi
Disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae, bakteri gram positif yang bersifat polimorf tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Pewarnaan sediaan langsung dapat dilakukan dengan biru metilen atau biru loluidon dan dilepaskannya. Basil ini dapt ditemukan dengan sediaan langsung dari lesi.
3. Sifat basil
Polimorf, gram positif, tidak bergerak dan tidak membentuk spora, mati pada pemanasan 60o C selama 10 menit, tahan sampai beberapa minggu daam es, air susu dan lendir yang telah mengering.
4. Patogenesis
Basil hidup dan berkembang biak pada traktus respiratorius bagian atas terlebih-lebih bila terdapat peradangan kronis pada tonsil, sinus dan lain-lain. Tetapi walaupun jaring basil membentuk pseudomembran dan melepaskan eksotoksin. Pesudomembran dapat timbul lokal atau kemudian menyebar dari faring atau tonsil ke laring dan seluruh traktus respiratorius bagian atas, sehingga menimbulkan gejala yang lebih berat. Kelenjar getah bening sekitarnya akan mengalami hiperplasia dan mengandung toksin.

5. Epidemiologi
Penularan umumnya melalui udara, berupa infeksi droplet, selain itu dapat pula melalui benda atau makanan yang terkontaminasi.
6. Imunitas
Pada bayi baru lahir sampai dengan usia 3 bulan terdapat imunitas bawaan walaupun pada uji Schick ditemukan 15% positif, kemudian sampai umur 6 bulan 50% uji Schick positif dan umur sampai 1 tahun 90% uji Schick positif. Mulai umur 1 tahun berangsur-angsur turun lagi sampai umur 17 tahun memberi hasil 15% uji Schick positif.
7. Klasifikasi
Biasanya pembagian dibuat menurut tempat atau lokalisasi jaringan yang terkena infeksi. Pembagian berdasarkan berat ringannya penyakit juga diajukan oleh Bech, dkk. (1950) dalam Hasan et.all. (2002) sebagai berikut:
a. Infeksi ringan
Pseudomembran terbatas pada mukosa hidung atau fausial dengan gejala hanya nyeri menelan.
b. Infeksi
Pseudomembran menyebar lebih luas sampai ke dinding posterior faring dengan edema ringan laring yang dapat diatasi dengan pengobatan konservatif.
c. Infeksi
Diserta gejala sumbatan jalan nafas yang berat, yang hanya dapat diatasi dengan trakeostomi. Juga gejala komplikasi miokarditis, paralisis atau pun nefritis dapat menyertainya.
8. Gejala Klinis
Masa tunas 2-7 hari. Selanjutnya gejala klinis dapat dibagi dalam gejala umum dan gejala lokal serta gejala akibat eksotoksin pada jaringan yang terkena.
2.2.2 Pertusis
1. Etiologi
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusiss atau Hemophilus pertusiss, adenovirus tipe 1, 2, 3 dan 5 ditemukan dalam traktus respiratorius, trakts gastrointestinalis dan traktus genitourinarius penderita pertusis bersama-sama Bordetella pertusiss atau tanpa adanya bordetella pertusis. Pula didapatkan B. parapetusis.
2. Patologi
Lesi biasanya terdapat pada bronkus dan bronkiolus, namun mungkin terdapat perubahan-perubahan pada selaput lendir trakea, laring dan nasofaring. Basil biasanya bersarang pada silia epitel torak mukosa, menimbulkan eksudasi yang mukopurulen. Lesi berupa nekrosis bagian basal dan tengah sel epitel torak, diserta infiltrat neutrofil dan makrofag.
3. Gejala Klinis
Masa tunas 7-14 hari, penyakit dapat berlangsung sampai 6 minggu atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium, yaitu: 1) Stadium kataralis, 2) stadium spasmodik, 3) stadium konvalensi.
4. Komplikasi
a. Alat pernafasan
Dapat terjadi otitis medis (sering pada bayi), bronkitis, bronkopneumonia, atelaktasis yang disebabkan sumbatan mukus, emfisema (dapat juga terjadi emfisema mediastinum, leher, kulit pada kasus yang berat), bronkiektasis, sedangkan tuberkulosis yang sebelumnya telah ada dapat terjadi bertambah berat.
b. Alat pencernaan
Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi, prolapsus rektum atau hernia, yang mungkin timbul karena tingginya tekanan intrabdominal, ulkus pada ujung lidah karena lidah tergosok pada gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk, stomatitis.
c. Susunan saraf
Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan elektrolit akibat muntah-muntah. Kadang-kadang terdapat kongesti dan edema otak, mungkin pula terjadi perdarahan otak.
d. Lain-lain
Dapat pula terjadi perdarahan lain seperti epistaksis, hemoptisis dan perdarahan subkonjungktiva.


2.2.3 Tetanus
1. Etiologi
Penyebab penyakit ini ialah Clostridium tetani yang hidup anaerob, berbentuk spora selama di luar tubuh manusia, tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Toksin ini dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit dan merupakan tetanospamin yaitu toksin yang neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot.
2. Patogenesis
Biasanya penyakit ini terjadi setelah luka tusuk yang dalam misalnya luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal.
3. Gejala Klinis
Masa tunasnya 5-14 hari, tetapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh antiserum. Penyakit ini biasanya terjadi medadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher.
4. Komplikasi
a. Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) di dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi, sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi.
b. Asfiksia
c. Atelektasis karena obstruksi oleh sekret
d. Fraktura kompresis

BAB III KESIMPULAN
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking.
Dalam upaya peningkatan cakupan imunisasi bayi, orangtua sangat penting peranannya khususnya ibu yang mempunyai bayi dan balita, dimana sangat jelas terlihat bahwa sang anak sangat tergantung akan perhatian ibunya, dalam hal ini memperhatikan kekebalan dan daya tahan tubuh si anak.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.baca&id=960, (2005).
Imuni-sasi Pada Balita.
http://naila.rad.net.id/detail.aspx?id=N091, (2006).
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=1532 (70
Nakita, (2006). Panduan Tumbuh Kembang Anak. PT. Sarana Kinasih Satya Sejati. Jakarta.
Surachmad Winarno, 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah. Penerbit: Tarsiro. Jakarta.
Sjaefoellah, et.all, (1999). Ilmu Penyakit Dalam.: Balai Penerbit FKUI: Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar