Rabu, 09 November 2011

KISTA OVARIUM


LANDASAN TEORI
KISTA OVARIUM

  1. DEFINISI
Kista ovarium itu bersifat neoplastik dan non neo plastic. Tumor non neoplastik akibat peradangan umumnya dalam anamnesis menunjukan gejala-gejala ke arah peradangan genetalia dan pada pemeriksaan tumor-tumor akibat peradangan tidak dapat digeraakkan karena perlengkatan. Kista Non neoplastik umumnya tidak menjadi besar dan di antaranya pada lain waktu biasanya hilang sendiri. (Prawirohardjo, 2005:350)
  1. GAMBARAN KLINIK KISTA OVARIUM
Gejala akibat kista ovarium dapat dijbarkan
    1. Akibat Pertumuhan
v            Menimbulkan rasa berat di abdomen bagian bawah
v            Menggnggu miksi atau defekasi
v            Tekanan tumor dapat menimbulkan obstipasi atau odema pada tungkai bawah. Pada tumor yang besar dapat terjadi tdak nafsu makan, rasa sesak
2.      Akibat Altifitas Horomnal
Pada umumnya tumor ovarium tidak mngubah pada haid kecuali pada tumor itu sendiri menimbulkan hormon. Tumor sel granulasa dapat menimbulkan hipermenorea dan archenoblastoma dapat menyebabkan menorea (Prawwirohardjo, 2005; 347)
3.      Akibat Komplikasi
v            Perdarahan intra-tumor
Perdarahan menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan cepat
v            Perputaran  tangkai
Tumor bertangkai sering terjadi perputaran tangkai secara perlahan sehingga tidak banyak menimbulkan rasa nyeri abdomen. Perputaran tungkai mendadak menimbulkan nyeri abdomen mendadak dan segerqa memerlukan tindakan medis.
v            Terjadi infieksi pada tumor
Kerna suatu hal terjadi infeksi kista ovarium sehingga menimbulkan gejala infeksi yaitu badan panas, nyeri pada abdomen, mengganggu aktifitas sehari-hari
v            Robekan dinding Kista
Pada torsi tangkai kista ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumbuh ke dalam ruangan abdomen
v            Deerasi ganas kista ovarium
Keganasan kista ovarium kista sering dijumpai :
v     Kista pada usia sebelum menarche
v     Kista pada usia di atas 45 tahun
                                                                  (Manuba, 1998:418)
    1. Sindrom Meigs
Sindrom yang disebabkan oleh meigs menyebutkan terdapat fibrosa ovarii, asites, hidrotoraks. Dengan tindakan operasi fibiosa ovarii, maka sindrom akan hilan dengan sendirinya.
                                                                                  (Manuba, 1998:418)





KLASIFIKASI
I.                    Tumor ovarii yang beniqna
A.     Kistik
1.      Non Neopastik
a.       Follikel
b.      Lutein
c.       Stein. Leventhal
d.      Endomei
e.       Peradangan tuba oarial
f.        Inclusion germinal
2.      Neoplastik
a.       Cysta denoma mucinosum
b.      Cysta denoma Serosa
c.       Dermoid
B.     Solid
1.      Fribroma
2.      Lymphangioma
3.      Mesothelioma
4.      Osteochondroma
5.      Brenner
II.                 Tumor Ovarii yang maligna
A.     Kisti
1.      Cysta denocarcinoma mucinosum
2.      Cysta denocarcinoma serosum
3.      Epidermoid carcinoma dari kista dermoid
B.     Solid
1.      Carcinoma
2.      Endometrioid carcinoma
3.      Mesonephroma
III.               Tumor maligna yang lain (jarang)
1.      Teratoma
2.      Chorionephithelioma
3.      Sarcoma
4.      Lympoma
5.      Melanoma
IV.              Tumor-tumor dengan potensi endokrin
1.      Dysontogenik : a.   Dysgerminoma, biasanya inert
                                b. Granulosa theca biasanya berpengaruh feminasi
                                c. Arrahenoblastoma biasanya berpengaruh virilisasi
2.      Tumor sisia adignal, biasanya mengadakan virilisasi
3.      Adenoma sel hilus, pengaruhnya virilisasi
4.      Tumor-tumor dengan matrix yang berfunsi
V.                 Metastatik
Misalnya tumor krukenberg
Pembagian lain (Hertiq dan gure) didasarkan atas asalnya tumor :
1.      Epitel Germinal : Cysta denoma serosum mucinosum endometrioid
2.      Jaringan ikat : Saroma fibrosa
3.      Tumor sel benih : Dysgerminoma teratoma choricarcinoma
4.      Stroma gonade : Arrhenoblastoma tumor granulosatecha
5.      Tumor sisia esligial : Mesonephroma tumor sel halus
6.      Tumor melastatik
                                               (Padjajaran, bandung bagian obsetri & ginekologi 1981:122)
  1. DIAGNOSA
Pembesaran pada abnomen bagian bawah merupakan salah satu keluhan yang mendorong wanita untuk melakukan pemerikasaan . Apabila pemeriksaan ditemukan ........... perut bagian bawah dan rongga panggul, maka setelah diteliti sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan, karakteristik apakah dapat dapat dierakkan atau tidak). Pada tumor donum biasanya uterus dapat diraba tersendiri terdapatt dari tumor. Jika tumor oarium tertebak pada garis lincah dalam rongga perut bagian bawah dan tumor itu ............. perlu dipikirkan adanya kehamilan atau kandung kemih penuh. Umumnya dengan memikirkan kemungkinan ini , pada pengambilan anamnesis yang cermat dan disertai pemeriksaan tambahan kemungkiinan ini dapat disinkirkan.
Di negara berkembang, karena tidak dioprasi tumor aarium bisa menjadi besar, sehingga menisi rongga perut. Dalam hal ini kadang-kadang sukar untuk menentuikan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor atau asites fibrosa ovarii 9Sindrom meigs0 dan tumor ovarii menyebabkan asites, tapi bisa di sebabkan oleh penyakit lin seperti sitosis hepatis. Pemeriksaan bimanual sebelum atau sesudah fungsi asites bisa memberi petunjuk apakah ia disebabkan oleh tumor ovarium. Pemeriksaan kimiawi caira dan pemeriksaan histologik sedimen cairan dapat membantu dalam pembuatan dianosis
                                                                                  (Prawirihardjo, 2005:349)
Mmetode yang dapat membantu pembuatan dianosis
1.      Laparoskopi
Pemerikasaan ini untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari oarium atau tidak dan untuk menentukan sifat-sifat tumor itu.
2.      Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat di tentukan letak dan batas tumor. Apakah tumor berasal dari uterus oarium dan kandung kemih, apakah tumor kisti dan solid dapat dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang ebas dan yang tidak
3.      Foto Rongten
Untuk menentukan hidrotoraks, selanjutnya pada kista dermoid kadang-kadang dapt dilihat adanya gigi dalam tumor penggunaan foto rongten pada pielogram intra ena dan pemasukan bubur barium dalam kolon
4.      Parasentesis
Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna untuk menentukan sebab asites perlu diangkat bahwa tindakan tersebut dapa mencemarkan kaum peritosi dengan isi kista bila dinding kista berbusuk
                                                                                       (Prawirihardjo, 2005:350)
  1. PENANGANAN
Dapat dipakai sebagai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasidan tumor non neoplastik tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter 5 cm kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus litium. Jadi tumor non neoplastik tida jarang tumor-tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang sehingga pada pemeriksaan ulanan sebelah beberapa minggu dapat ditemukan ovarium yang kira-kira besarnya normal.
Tindakan operasi pada tumor oarium neoplastik yang tidak ganas adalah pengangkatan tumor dengan mengakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi, jika tumornya besar dan ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan oarium biasanya disertai pengangkatan tuba (salpingo-oofo rektomi). Pada saat operasi kedua oarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah tumor ditemuan pada satu atau dua oarium.
Pada operasi oarium yang di angkat harus segera dibuka apaah ada keganasan atau tidak. Jika keadaan meragukan, perlu ada waktu operasi dilakukan pemeriksaan sediaan yang di bekukan (frozensection) oleh ahli patologi anatomik untuk mendapatkan tumor ganas atau tidak.
Jika terdapat keganasan, operasi yang tepat ialah histerektomi dan salpingo okerektomi bilateral. Akan tetapi pada wanita muda masih ingin mendapatkan keturunan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah (misalnya tumor sel granulosa) dapat dipertanggung jawabkan untuk mengambil resiko dengan melakukan operasi yang tidak beberapa radikal
                                                                                       (Prawirihardjo, 2005:350)
KONSEP DASAR KEBIDANAN DENGAN Cystoma ovarii
I.        Pengkajian
A.     DATA SUBJEKTIF
1.     Biodata
Umur penderita cystoma ovarii rata-rata antara 30-60 th. Pendidikan dan tingkat sosial ekonomi yang rendah  cenderung terkena cystoma ovarii.
(Hanifa, 2005. Hal 381)
2.     Keluhan Utama
Terdapat benjolan di bawah perut. Ada yang terletak di depan uterus dapat menekan kandung kemih dan dapat menimbulkan gangguan nmiksi.
(Prawirohardjo, 2005:347)
3.     Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat kesehatan yang lalu
Ø   Pernah menderita penyakit PMS (Penyakit menular seksual)
Ø   Penyakit yang berhubungan, (andiloma akuminota, gonorea, adnexitis) (Hanifa, hal 382)
b.      Riwayat penyakit
Terdapat benjolan di bagian perut, nyeri abdomen, dismenorea.
c.       Riwayat penyakit keluarga
Adanya faktor heredier, karena prematuritas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu.
4.    Riwayat Perkawinan
Menikah lebih dari satu kali, sering berganti-ganti pasangan (multipartner)
5.    Riwayat KB
Pemakaian KB IUD diduga mempunyai hubungan dengan cystoma ovarii
6.    Riwayat Kebidanan
a.       Riwayat menstruasi
Terdapat nyeri hebat saat menstruasi
b.      Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Tidak bisa memiliki keturunan
7.    Pola kebiasaan sehari-hari
a.       Nutrisi
Kystoma ovarii dapat terjadi penurunan nafsu makan
b.      Eliminasi
Gangguan pada miksi akibat pembesaran cystoma ovarii dan dapat terjadi gangguan defekasi
                                                                           (Prawirohardjo, 2005:347)
c.       Istirahat
Tumor ovarii dapat menyebabkan nyeri abdomen hipermenoria dan arhenoblastoma dapat menebabkan amenorea yang mengganggu istirahat.
d.      Aktifitas
Terganggu akibat rasa nyeri yang timbul
                                                                           (Prawirohardjo, 2005:342)




B.     DATA OBJEKTIF
a.     Keadaan umum baik bila tumor ovarii masih kecil tidak menimbulkan gangguan atau keluhan bila klien mengalami nyeri.
Suhu : Dapat normal maupun mengalami peningkatan apabila terjadi infeksi pada tumor
Nadi : Biasanya bila tenang tidak ada penurunan tekanan
Pernafasan : Dapat mengalami peningkatan sehubungan dengan gejala sekunder yaitu sesak nafas karena adanya sirkulasi O2 dalam darah berkurang sehubungan dengan penurunan kadar Hb karena adanya pendarahan.
                                                                                 (Prawirohardjo, 2005:349)
b.    Pemeriksaan Fisik
Muka :               Pada pasien pada Gynekologis dengan perdarahan banyak pada konjungtiva tampak anemis.
Abdomen :         Teraba adanya masa abnormal pada perut bagian bawah konsisten keras Bentuk tidak teratur, gerakan bebas tidak sakit tapi kadang-kadang ditemui nyeri. Terdapat benjolan pada perut bagian bawah/ rongga panggul
Genetalia :          Dapat terjadi pengeluaran darah pervagina kadang seelumnya terdapat keputihan yang lama.
Anus :                Akan timbula hemoroid, luka dna varises pecah karena keadaan obstipasi akibat penekannan kista ovarii pada remtum.
Ekstermirtas :     Penekanan pada pembuluh darah dan pembuluh limfe dari panggul dapat menyebabkan odem tungkai.
                                                                                  (Hanifa, 2005:391)
c.     Pemeriksaan Penunjang
Ø      USG abdominal dapat membantu dan menegakkan dugaan klinis
Ø      Pemeriksaan Laboratorium
Hb akan terjadi penurunan apabila desertai perdarahan yang hebat
Ø      Terapi
Pengobatan operasi     :                  Pengangkatan tumor ovarii\um
Pengobatan operatif    :      Histerektomi dan salpingoooforektomi bilateral
                                                                           (Prawirohardjo, 2005:349)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar