Kamis, 10 November 2011

PENGARUH BODY IMAGE BAGI POLA KONSUMSI REMAJA

BAB  I
PENDAHULUAN
Fenomena persepsi kecantikan dan image ini tentu saja memilik efek negatif. Efek negatif tersebut adalah apa yang kita sebut dengan ‘korban mode’. Para korban mode ini terjebak pada mode yang sedang trend pada saat itu tanpa melihat apakah mode tersebut cocok dengan dirinya baik dari fisik maupun image dirinya. Efek negatif lainnya adalah beberapa wanita yang berlomba-lomba untuk mengkuruskan badan dengan cara atau metode yang salah. Fenomena ini benar-benar memprihatinkan. Persepsi kurus bagi wanita sekarang ini cenderung menjadi wanita yang benar-benar kurus kering kerontang. Hal inilah kemudian menjadi apa yang kita kenal dengan istilah anorexia nervosa dan bulimia nervosa (http://rainierfarabi.blogspot.com, diambil pada tanggal 6 Mei 2008).
Menurut Roberta Honigman & David J. Castle, body image adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya; bagaimana seseorang mempersepsi dan memberikan penilaian atas apa yang dia pikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas bagaimana kira-kira penilaian orang lain terhadap dirinya. Sebenarnya, apa yang dia pikirkan dan rasakan, belum tentu benar-benar merepresentasikan keadaan yang aktual, namun lebih merupakan hasil penilaian diri yang subyektif.

  
BAB  II
PEMBAHASAN
PENGARUH BODY IMAGE BAGI POLA KONSUMSI REMAJA
Peran masyarakat dan media membawa pengaruh yang besar dalam mendorong seseorang untuk begitu peduli pada penampilan dan image tubuhnya. Sejak dulu di dalam masyarakat sudah terlihat pola-pola bahwa yang cantik, yang ganteng, yang ‘keren’, dan yang langsing, akan lebih populer, disukai dan banyak mendapatkan peluang di sana sini dari pada yang “biasa-biasa saja”. Belum lagi, berbagai media dan iklan bermunculan untuk memperkenalkan keampuhan produk mereka yang tentu saja banyak mendapat sambutan hangat dari masyarakat, baik tua maupun muda, pria maupun wanita. Kehadiran media, tidak dipungkiri semakin mendorong pribadi-pribadi untuk meletakkan standard ideal dirinya seperti yang dikehendaki oleh ‘masyarakat’. Kecantikan dan kesempurnaan fisik, menjadi ukuran ideal bagi seseorang sehingga banyak yang berusaha mengejar kecantikan dan kesempurnaan, dengan bantuan kosmetik, gymnastic, fashion yang up to date, ke salon, sampai dengan melakukan koreksi wajah dan tubuh di sana sini.
Semua itu, bisa saja membuat orang semakin stress ketika dirinya meletakkan penilaian dan penerimaan sosial di atas segala-galanya. Padahal, kesempurnaan atau pun kecantikan itu adalah sebuah nilai yang relatif, karena berbeda antara satu individu dengan yang lain, antara satu budaya dengan yang lain, antara satu masyarakat dengan masyarakat lain (Hill dan Monks (1990) mengungkapkan bahwa remaja merupakan salah satu penilai yang penting terhadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya tadi menuruti persyaratannya, maka hal ini berakibat positif terhadap penialain dirinya. Bila ada penyimpangan-penyimpangan timbullah masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya Studi menyebutkan, gadis remaja sering terjebak dengan pola makan tak sehat, penurunan berat badan secara dratis, bahkan sampai gangguan pola makan. Diantara 2.500 remaja yang mengikuti studi ini, mereka yang mencoba mengontrol berat badannya, tiga kali lipat dibanding remaja lainnya akan mengalami kenaikan berat badan pada lima tahun ke depan. Mereka juga memiliki resiko mengalami ganguan pola makan, seperti memuntahkan kembali makanan, menggunakan pil-pil diet, obat dengan sifat laksatif (memaksa kotoran dari usus keluar dengan paksa) ataupun menggunakan obat pelangsing yang bersifat diuretik (sering buang air kecil) untuk menurunkan bobot tubuh.
Dr. Dianne Neumark-Sztainer dan kolega dari Universitas Minnesota, Minneapolis menulis penemuan mereka di Journal American Dietetic Association. Studi ini menganalisa pola pengontrol berat badan pada 2.516 pelajar di Minnesota, termasuk cara 'diet tak sehat' - seperti menahan diri untuk tak makan apapun atau mengganti makanan dengan minuman diet - dan juga diet yang mereka yakini sebagai 'diet sehat', seperti banyak makan buah dan sedikit konsumsi gula. Hasilnya, 58 persen gadis remaja dan 31 persen remaja pria melakukan pengurangan berat badan secara tak sehat.
Perkembangan media informasi saat ini sedikit banyak telah menyumbangkan pengaruh yang cukup besar bagi pembentukan citra tubuh (body image) pada diri individu. Semakin maraknya penggambaran citra tubuh ’ideal’ di media massa melalui penayangan penggunaan model-model iklan dengan postur tubuh yang ’serupa’, penayangan kontes kecantikan yang mensyaratkan berat dan tinggi badan tertentu, serta penayangan iklan-iklan obat penurun berat badan, seolah-olah semakin menguatkan bahwa bentuk tubuh yang ideal adalah bentuk tubuh yang ’langsing’ sedangkan bentuk tubuh yang ’gendut’ adalah bentuk tubuh yang jelek dan tak diinginkan.
Penggambaran citra tubuh yang lebih berorientasi pada pencarian keuntungan secara materiil tanpa mempertimbangkan dampak pada pembentukkan citra diri dalam masyarakat, telah menghasilkan dampak negatif tersendiri. Remaja sebagai individu yang masih berada pada fase peralihan guna mendapatkan identitas dirinya menjadi sangat mudah terpengaruhi oleh penggambaran media ini. Berbagai upaya untuk mendapatkan bentuk tubuh sebagaimana yang digambarkan media, bisa jadi membuat stress tersendiri bagi para remaja, bahkan pada tingkat yang ekstrim bisa menyebabkan penyimpangan perilaku makan seperti anorexia nervosa dan bulimia nervosa. Untuk itu studi lebih lanjut mengenai citra tubuh (body image) pada remaja pelaku diet perlu dilakukan.
Menurut Roberta Honigman & David J. Castle, body image adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya; bagaimana seseorang mempersepsi dan memberikan penilaian atas apa yang dia pikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas bagaimana kira-kira penilaian orang lain terhadap dirinya. Sebenarnya, apa yang dia pikirkan dan rasakan, belum tentu benar-benar merepresentasikan keadaan yang aktual, namun lebih merupakan hasil penilaian diri yang subyektif.
Studi menyebutkan, gadis remaja sering terjebak dengan pola makan tak sehat, penurunan berat badan secara dratis, bahkan sampai gangguan pola makan. Diantara 2.500 remaja yang mengikuti studi ini, mereka yang mencoba mengontrol berat badannya, tiga kali lipat dibanding remaja lainnya akan mengalami kenaikan berat badan pada lima tahun ke depan. Mereka juga memiliki resiko mengalami ganguan pola makan, seperti memuntahkan kembali makanan, menggunakan pil-pil diet, obat dengan sifat laksatif (memaksa kotoran dari usus keluar dengan paksa) ataupun menggunakan obat pelangsing yang bersifat diuretik (sering buang air kecil) untuk menurunkan bobot tubuh.
CONTOH 
Dampak Buruk Minum Susu
Studi tentang susu telah menunjukkan bahwa konsumsi susu memiliki berbagai efek negatif terhadap konsumen, terutama bagi pemilik kulit gelap. Kebanyakan, susu yang dijual dipasaran tidak diproduksi dengan cara yang sama seperti susu yang diperoleh secara alami dari peternakan. Sapi penghasil susu saat ini adalah sapi yang jarang makan, sakit, atau bunting di mana hormonnya sedang tidak bagus. Hormon ini kemudian masuk ke dalam susu dan memberi efek buruk bagi peminum susu.
Progesteron yang terdapat dalam susu sapi betina bunting terurai menjadi androgen. Androgen adalah hormon steroid yang mengendalikan sifat maskulin dan karakteristik setiap hewan bertulang belakang. Androgen yang paling sering dibahas adalah testosteron.
Beberapa dokter berpikir bahwa perkembangan jerawat yang dialami remaja dapat dikaitkan dengan konsumsi susu yang memiliki kandungan ekstraandrogen. Ketika anak laki-laki memasuki masa puber, misalnya, hormon testosteron bertambah akibat mengonsumsi beberapa gelas susu setiap hari. Kebiasaan ini yang menyebabkan kulit mengalami permasalahan cukup serius.
Selain itu, banyak orang alergi susu, dan manifestasi reaksi ini terlihat pada kulit, seperti dermatitis atopik pada bayi. Dermatitis atopik merupakan peradangan menahun pada lapisan atas kulit yang menyebabkan rasa gatal. Sementara orang dewasa mengalami lactose intolerant, yakni reaksi alergi susu yang dapat berwujud jerawat.

 
BAB  III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
orang semakin stress ketika dirinya meletakkan penilaian dan penerimaan sosial di atas segala-galanya. Padahal, kesempurnaan atau pun kecantikan itu adalah sebuah nilai yang relatif, karena berbeda antara satu individu dengan yang lain, antara satu budaya dengan yang lain, antara satu masyarakat dengan masyarakat lain
B.    SARAN
Janganlah terpengaruh pada hal – hal buruk yang kita dapa dari pengaruh pergaulan sehari – hari kita karena kesehatan adalah asset utama bagi kehidupan sekarang dan  di masa depan


 DAFTAR PUSTAKA


http://trisna19.wordpress.com/2008/04/02/penampilan-para-remaja/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar