Rabu, 09 November 2011

Dismenorhea (Nyeri haid)


A.  Dismenore
1.    Definisi
Dismenore adalah nyeri haid menjelang atau selama haid, sampai membuat wanita tersebut tidak bekerja dan harus tidur. Nyeri ini bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan, lekas marah (Mansjoer, 2000 : 372)

Sedangkan menurut Youngson, (2002 : 87) dismenore adalah sakit saat menstruasi yang dialami oleh hampir semua wanita dari waktu kewaktu. Tepat sebelum atau saat keluarnya darah menstruasi, akan timbul rasa sakit yang ritmis, dan mencengkram pada bagian bawah perut serta punggung, yang berlangsung selama beberapa jam, meskipun kadang-kadang bisa sampai sehari, atau bahkan sepanjang daur menstruasi ini.
Dengan mengacu pendapat para ahli tersebut di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa dismenore adalah nyeri haid yaitu nyeri pada daerah panggul yang dialami para wanita menjelang atau selama haid akibat menstruasi dan produksi zat prostaglandin serta dapat mengganggu aktivitas pekerjaan sehari–hari. Nyeri ini bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan dan lekas marah yang berlangsung selama beberapa jam atau kadang-kadang bisa sampai sehari atau bahkan sepanjang daur menstruasi ini.



2.    Dismenorhea primer
a)    Definisi
Adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Dismenore primer terjadi beberapa waktu setelah menarche (haid pertama kali) biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulatoar yang tidak disertai dengan rasa nyeri. Sifat rasa nyeri adalah kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare (Winknjosastro 2004)  
b)   Berdasarkan penyebabnya
Beberapa penyebab yang diduga berperan dalam timbulnya dismenore primer  (Oksparasta 2003) :
a)        Psikis dan konstitusi
b)        Obstruksi canalis cervicalis
c)        Alergi
d)       Neurologis
e)        Vasopresin
f)         Kenaikan kadar prostaglandin
g)        Faktor hormonal
h)        Leukotren
Faktor lain yang dapat menjadi penyebab dismenorea primer adalah faktor psikologis. Faktor-faktor risiko  dismenore primer antara lain nulipara (wanita yang belum pernah melahirkan), obesitas (kegemukan), perokok dan memiliki riwayat keluarga dengan dismenorea.
c)    Berdasarkan berat-ringannya rasa nyeri (Oksparasta, 2003:88)
Berdasarkan berat-ringannya rasa nyeri dismenorea dibagi menjadi,
(1)     Dismenorea ringan, yaitu dismenorea dengan rasa nyeri yang berlangsung beberapa saat sehingga perlu istirahat sejenak untuk menghilangkan nyeri, tanpa disertai pemakaian obat.
(2)     Dismenorea sedang, yaitu dismenorea yang memerlukan obat untuk menghilangkan rasa nyeri, tanpa perlu meninggalkan aktivitas sehari-hari.
(3)     Dismenorea berat, yaitu dismenorea yang memerlukan istirahat sedemikian lama dengan akibat meninggalkan aktivitas sehari-hari selama 1 hari atau lebih.
d)   Tanda gejala dismenore primer (Mansjoer, 2000 : 373)
Dismenorea primer menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada. Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenorea juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah. Dismenorhea primer sering terjadi pada wanita yang belum pernah melahirkan.
3.    Dismenorhea sekunder
a)    Definisi
yaitu dismenorea yang berkaitan dengan kelainan ginekologis, baik kelainan anatomi maupun proses patologis pada pelvis (Winknjosastro 2004).
b)   Penyebab dismenore Sekunder
a)        endometriosis,
b)        infeksi pelvis (daerah panggul),
c)        tumor rahim,
d)       kelainan bentuk uterus,
e)        stenosis kanalis servikalis,
f)         adanya AKDR,
g)        sindrom asherman.
Dismenore sekunder jarang dialami sebelum usia 25 tahun. Biasanya nyeri atau kram mulai 2 hari sebelum menstruasi yang berlangsung selama 2 hari atau lebih. Faktor-faktor risiko dismenore sekunder antara lain infeksi pelvis, penyakit menular seksual dan endometriosis. Keluhan dismenore akan meningkat pada wanita yang mengalami kegemukan, kurang nutrisi, peminum kopi, peminum alkohol, perokok, tidak aktif secara seksual, tidak pernah melahirkan.
c)         Tanda gejala dismenore sekunder (Mansjoer, 2000 : 373)
(1)     Usia lebih tua, jarang sebelum usia 25 tahun
(2)     Cenderung timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur
(3)     Tidak berhubungan dengan siklus paritas
(4)     Nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul
(5)     Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah
(6)     Berhubungan dengan kelainan pelvik
(7)     Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi
(8)     Seringkali memerlukan tindakan operatif
B.  Penatalaksanaan Dismenore
1.    Penanganan dismenorhea primer (Sarwono, 2004).
a)   Penanganan dismenorhea secara farmakologi
1)     Pemberian obat analgetik
Dewasa ini banyak beredar obat-obat analgesik yang dapat diberikan sebagai terapi simptomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di tempat tidur dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi penderitaan. Obat analgesik yang sering di berikan adalah preparat kombinasi aspirin, fenasetin, dan kafein. Obat-obatan paten yang beredar di pasaran ialah antara lain ibu profen, naproxen, asam mefenamat.
2)     Terapi hormonal
Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud membuktikan bahwa gangguan benar-benar dismenore primer, atau untuk memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi.


b)     Penanganan dismenorhea secara non farmakologi
1)     Penerangan dan nasihat
Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenore adalah gangguan   yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita.
2)     Kompres hangat di daerah perut
Suhu panas merupakan ramuan tua yaitu dapat dilakukan dengan kompres handuk panas atau botol air panas pada perut atau punggung bawah. Mandi air hangat juga bisa membantu.
3)        Istirahat yang cukup
Istirahat yang cukup dapat dilakukan dengan tidur siang selama 1 sampai 2 jam sehari dan tidur malan selama 7 sampai 8 jam sehari.
4)        Olahraga yang teratur
Dapat dilakukan dengan jalan pagi  ataupun olahraga lain yang dilakukan secara teratur.
2.      Penanganan pada dismenorrea sekunder (Smith, 2003).
a)    Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik umumnya akan memberikan petunjuk untuk penegakan diagnosis atau diagnosis itu sendiri pada pasien yang memiliki keluhan dismenore atau nyeri pelvis yang sifatnya kronis. Adanya pembesaran uterus yang asimetris atau tidak teratur menandakan suatu myoma atau tumor lainnya. Pembesaran uterus yang simetris kadang muncul pada kasus adenomyosis dan kadang terjadi pada kasus polyps intrauterin. Adanya nodul yang menyebabkan rasa nyeri pada bagian posterior dan keterbatasan gerakan uterus menandakan endometriosis. Gerakan uterus yang terbatas juga ditemukan pada kasus luka pelvis akibat adhesion atau inflamasi. Proses inflamasi kadang menyebabkan penebalan struktur adnexal. Penebalan ini terlihat jelas pada pemeriksaan fisik. Namun, pada beberapa kasus nyeri pelvis, pemeriksaan laparoskopi pada organ pelvis tetap dibutuhkan untuk melengkapi proses diagnose.
b)   Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi
Tes laboratorium pada pasien dismenore sekunder atau nyeri pelvis kronis sangat terbatas. Hitung jenis darah dapat membantu mengevaluasi akibat adanya pendarahan yang terus menerus. Laju enap darah dapat membantu mengidentifikasi adanya proses inflamasi, namun tidak spesifik. Tes radiologi umumnya terbatas untuk etiologi yang tidak berhubungan dengan gynecology, seperti pemeriksaan pada saluran pencernaan dan saluran kemih. Tes ultrasonografi pada pelvis memberikan manfaat yang besar karena memberikan gambaran adanya myoma, tumor adnexal atau tumor lainnya, dan lokasi pemakaian IUD.
c)    Manajemen terapi
Pengobatan untuk dismenore sekunder maupun nyeri pelvis kronis diarahkan untuk mengurangi dan menghilangkan faktor penyebabnya. Meskipun penggunaan analgetik, antispasmodik, dan pil KB dapat memberikan efek yang bermanfaat namun sifatnya hanya sementara. Hanya terapi spesifik yang bertujuan untuk menghilangkan penyebab yang pada akhirnya akan memberikan keberhasilan terapi. Terapi yang bersifat spesifik ini dapat berupa dari penghentian penggunaan IUD sampai dengan terapi menggunakan anti estrogen pada kasus endometriosis. Dapat juga terapi dengan pemindahan polip sampai dengan hysterectomy.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar