Kamis, 10 November 2011

water birth


Melahirkan dalam air, cepat dan tanpa rasa sakit





Ketika memutuskan untuk menjalani persalinan dengan metode water birth, Tanya Djohan tidak punya gambaran sama sekali mengenai bagaimana rasanya melahirkan.
Setelah menikah, saya dan suami harus menunggu selama empat tahun untuk dapat memperoleh momongan. Kesulitan kehamilan ini disebabkan karena ada kista dalam rahim saya. Awalnya kista tersebut berdiameter 2,4 cm, lalu berkembang menjadi 3,8 cm selama empat tahun.
Di tahun 2006, ayah menyarankan saya untuk menjalani operasi pengangkatan kista. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Pada saat saya melakukan pengecekan kista untuk persiapan operasi, ternyata dokter menemukan bahwa saya sudah hamil tujuh minggu. Akhirnya rencana operasi pun dibatalkan, dan saya berkonsentrasi penuh pada kehamilan saya.

Harus Diet untuk Mencairkan Darah
Setelah lega karena berhasil hamil, saya kembali mendapat masalah baru. Dokter menemukan bahwa kekentalan darah saya tinggi, sehingga jika dibiarkan, darah tidak dapat masuk ke dalam plasenta, dan janin dalam kandungan pun tidak akan mendapat suplai makanan sehingga mengancam kehidupannya.
Untuk mengatasi hal itu, saya harus menghindari makan makanan seperti seafood, telur asin, makanan bersantan, kulit dan ayam broiler. Saya hanya boleh makan daging, sayur-sayuran, dan ikan air tawar agar kadar kekentalan darah saya dapat turun. Saya tak masalah pantang makan beberapa jenis makanan, meski kadang-kadang saya rindu juga makan seafood, makanan kegemaran saya. Setiap hari, saya juga harus makan tomat, karena menurut dokter, jus tomat dapat menurunkan kadar kolesterol yang tinggi. Gel berwarna kuning yang menyelubungi biji tomat juga dapat menjaga sel-sel dan partikel kecil yang disimpan dalam plasma darah dan menghambat pembekuan darah. Pembekuan darah dapat menyebabkan kematian pada janin karena darah jadi tidak dapat mengalirkan makanan untuk janin.

Bersalin di Dalam Air
Pada malam tanggal 8 Februari 2007, saya keluar vlek. Saya pun masuk RS Sam Marie di bilangan Jalan Wijaya, Kebayoran Baru. Setelah mengecek kondisi saya, dokter menyatakan saya sudah pembukaan dua. Setelah menjalani pemeriksaan CTG (Cardiotocography, pemeriksaan untuk mengecek detak jantung janin di dalam kandungan, jarak kontraksi, dan lainnya yang berhubungan dengan kondisi sebelum persalinan, red), dokter memutuskan untuk melakukan observasi dan melihat perkembangan kondisi saya selama empat jam ke depan.
Dokter mengatakan saya akan melahirkan sekitar pukul 5 atau 6 pagi esok harinya. Tapi ternyata, itu hanyalah taktik dokter supaya saya tidak stres menunggu-nunggu saat persalinan. Saat itu saya memang panik, karena ini adalah kehamilan pertama saya. Beberapa jam kemudian, saya mulai merasakan kontraksi-kontraksi kecil. Dokter pun memberikan pilihan pada saya: jalan-jalan agar proses persalinan terjadi lebih cepat, atau tidur saja dan berisitirahat. Karena ingin cepat melahirkan, saya pun memilih untuk jalan-jalan di sekitar koridor rumah sakit ditemani oleh suami saya, Hadidjasa.

Memilih Water Birth
Salah satu dokter kenalan saya pernah menyarankan saya untuk melahirkan dengan metode water birth saja, jauh sebelum saya tahu mengenai metode persalinan tersebut. Menurut beliau, rasa sakit yang ditimbulkan dari persalinan di dalam air jauh lebih sedikit daripada proses persalinan lain.
Berdasarkan saran tersebut dan pertimbangan bahwa belum banyak orang yang melakukannya pada saat itu, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba proses persalinan dalam air. Setelah beberapa kali kunjungan kehamilan di RS Sam Marie, saya lalu mengutarakan keinginan saya itu kepada Dr. Otamar Samsudin yang menangani kehamilan saya sejak awal dan kebetulan juga pencipta metode water birth di RS yang sama. Syukurlah beliau mendukung.

Persalinan Yang Cepat
Memasuki tanggal 9 Februari 2007, tepatnya pukul 24.00, saya merasakan kontraksi mulai sering terjadi dalam waktu yang berdekatan, sehingga saya akhirnya harus turun ke ruang bersalin sekitar pukul 01.32 dini hari. Kolam pun segera disiapkan untuk proses persalinan. Di ruang bersalin, saya merasakan kontraksi yang sangat hebat dan sakit sekali. Saya lalu masuk ke dalam kolam pada pukul 01.42.
Setelah berada di dalam kolam, sakitnya kontraksi berangsur –angsur hilang, tetapi saat itu saya merasa seperti kekurangan oksigen dan ingin pingsan. Saya sampai sempat mengatakan pada perawat yang membantu saya bahwa saya tidak sanggup lagi. Perawat terus memberi saya semangat dan mengatakan bahwa saya tidak boleh merasa tidak sanggup. Saya lalu diberi segelas teh hangat agar lebih bertenaga dan tetap terjaga sampai proses persalinan selesai.
Selama tiga menit saya berada di dalam kolam menjelang proses persalinan. Air hangat yang diisikan ke dalam kolam semakin tinggi sampai mencapai batas perut saya, membuat saya lebih relaks. Pukul 01.54 dokter mulai melakukan observasi dan menyuruh saya mengejan sebanyak 5 kali. Tiga menit kemudian, dokter memberitahu bahwa kepala bayi sudah kelihatan, dan saya tinggal mengejan sedikit lagi untuk dapat mengeluarkannya.
Pukul 02.04, kepala bayi sudah keluar sempurna, dan dokter pun memberi saya aba-aba untuk mengejan secara teratur. Pukul 02.07, bayi laki-laki kami, Rayzard Barransya, lahir ke dunia. Prosesnya begitu cepat, sampai-sampai saya tidak merasakan sakitnya mengeluarkan seorang bayi dari rahim saya. Saya malah sempat tidak percaya ketika dokter menyodorkan Rayzard agar dapat saya gendong. Saya pikir hanya di film-film saja wanita yang baru melahirkan diizinkan untuk menggendong bayinya. Ternyata itu juga terjadi pada saya, dan saya merasa sangat lega dan bahagia.
Sampai saat ini, jika ditanya seperti apa sakitnya melahirkan, saya akan menjawab tidak tahu. Saya takjub dengan proses persalinan dalam air yang saya jalani, yang sama sekali tidak mendatangkan rasa sakit. Rayzard yang lahir dengan berat 2,9 kg dan panjang 49 cm pun kini senang bermain di dalam air. Di samping semua itu, saya bersyukur karena berdasarkan hasil pemeriksaan USG terakhir, kista yang semula saya derita ternyata sudah lenyap tak berbekas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar