Rabu, 16 November 2011

MENGENAL DISTOSIA PADA KEHAMILAN

MENGENAL DISTOSIA PADA KEHAMILAN


1.1 PENGERTIAN
Distosia adalah keterlambatan atau kesulitan persalinan dapat disebabkan oleh kelainan tenaga, kelainan letak, bentuk janin serta jalan lahir.

Jenis-jenis distosia :
Distosia Karena kelainan HIS (tenaga)
Distosia karena kelainan HIS adalah HIS yang tidak normal baik kekuatan maupun sifatnya sehingga memperlambat kelancaran persalinan.

ETIOLOGI
ü   Kelainan HIS sering dijumpai pada primi gravid tua sedangkan inersia uteri sering dijumpai pada multi gravida dan grande multi gravida, tetania uteri, aksi uterus inkoordinasi.
ü  Factor herediter, emosi dan ketakutan.
ü  Salah pimpinan persalinan atau salah pemberian obat-obat seperti oksitoksin dan obat-obat penenang.
ü  Bagian terbawah janin tidak rapat dengan segmen bawah rahim, dijumpai pada kelainan ltak janin dan disproporsi epalo pelvic.
ü  Kelainan uterus misalnya bikornis unifolis.
ü  Kehamilan post matur.



JENIS-JENIS DISTOSIA AKIBAT KELAINAN HIS dan PENANGANAN

1.      Distosia karena inersia uteri
Inersia uteri adalah his yang sifatnya lemah, lebih singkat dan lebih jarang dari His normal. Inersia uteri dibagi atas 2 keadaan :
Ø  Inersia uteri primer
Kelemahan His timbul sejak permulaan persalinan hal ini ibedakan dengan His pendahuluan yang juga lemah dan kadang-kadang menjadi hilang.
Ø  Inersia uteri sekunder
Kelemahan His yang timbul setelah adanya His yang kuat, teratur dan dalam waktu yang lama.
Etiologi
ü  Multipara
ü  kelainan letak janin
ü  disproporsi cepalo pelvic
ü  kehamilan ganda
ü  hidrmnion
ü  uterus bikornis unikolis.
Penanganan :
·         Periksa  keadaan serviks, presentasi dan keadan janin, turunnya bagian terbawah janin dan keadaan panggul. Kemudian buat rencana untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dikerjakan .
·         Berikan oksitosin 5-10 unit dalam 500 cc D5 dimulai dengan 12 tetes/menit, dinaikkan setiap 10-15 menit sampai 40-50 tetes/menit. Maksud dari pemberian adalah, supaya serviks dapat membuka.
·         Pemberian oksitosin tidak usah terus menerus  bila tidak memperkuat His setelah pemberian beberapa lama hentikan dulu dan ibu dianjurkan beristiharat. Pada malam hari berikan obat penenang misalnya valium 10 mg dan besoknya dapat diulang lagi pemberian oksitosin.
·         Bila inersia disertai dengan disproporsi cepalo pelvic maka sebaiknya dilakukan section Caesar.
·         Bila semula His kuat kemudian terjadi inersia buteri sekunder, ibu lemah dan partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 18 jam pada multi gravid tidak ada gunanya memberikan oksitosin drip, sebaiknya  partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obstetric lainnya (ekstraksi vakum, atau forsep atau sc).
2.      Distosia karena Tetania uteri
Tetania uteri adalah His yang terlalu kuat dan terlalu  sering sehingga tidak ada relaksasi rahim.

Penanganan :
·         Berikan obat seperti morfin, luminal dan sebagainya, asal janin tidak akan lahir dalam waktu dekat (4-6 jam)
·         Bila ada tanda-tanda obstruksi, persalinan harus segera diselesaikan dengan sc
·         Pada partus preisipitatus tidak banyak yang dilakukan karena janin lahir tiba-tiba dan cepat
3.      Distosia karena Partus lama atau terlantar
4.      Distosia karena aksi uterus  inkoordinasi
Sifat yang berubah-ubah, tidak ada koordinasi dan sinkronisasi antara kontraksi. Jadi kontraksi tidak efisien dalam mengadakan pembukaan dan pengeluaran janin. Pada bagian atas dapat terjadi kontraksi tapi bagian tengah tidak, sehingga menyebabkan terjadinya lingkaran kekejangan sehimgga janin tidak dapat maju.
Etiologi
ü  Pemberian oksitosin yang berlebihan atau ketuban pecah lama yang disertai infeksi
Komplikasi
Hipoksia janin karena gangguan sirkulasi uteroplasentar
Penanganan:
·         Untuk mengurangi rasa takut, cemas dan tonus otot berikan obat-obat anti sakit dan penenang (sedative dan analgetika) seperti morfin, petidin dan valium
·         Bila persalinan yang berlangsung lama dan berlanjut-lanjut selesaikan partus menggunakan hasil pemeriksaan dan evaluasi dengan ekstraksi vakum, forsep atau sc.  

JENIS-JENIS DISTOSIA KARENA KELAINAN LETAK JANIN DAN PENANGANANNYA
1.      Kelainan pada letak kepala
·         Presentasi puncak kepala
Bagian terbawah adalah puncak kepala pada pemeriksaan dalam teraba uub yang paling rendah dan uub sudah berputar ke depan.
Etiologi
§  Kelainan panggul (panggul picak )
§  Kepala bentuknya bundar
§  Anak kecil atau mati
§  Kerusakan dasar panggul

·         Presentasi muka
Letak kepala tengadah defleksi sehingga bagian kepela yang yang terletak paling rendah adalah muka.
Etiologi
ü  Primer : ancepalus, hidrocepalus, congenital anomaly, congenital shortening of the servical muscle, struma, kista leher, lilitan tali pada leher beberapa kali
ü  Sekunder : panggul sempit, tanggal menunggung di samping kepala, makrosomia, plasenta previa, grande multi para, pergerakan anak bebas misal pada hidramnion dan perut gantung, posisi uterus miring.
Penanganan
§  Bila ada indikasi untuk menyelesaikan partus segera, pada anak hiduplakukan ekstraksi vkum atau forcep pada pembukaan lengkap, pada anak mati lakukan embriotomi dan pada mento posterior, pembukaan kecil dan primi gravid lakukan sc
§  pada penempatan dahi, anjurkan ibu tidur miring kesamping sebelah dagu
§  usaha untuk merubah letak: repossi mento anterior menjadi posterior, cara SCHATZ, cara ZANGEMEISTER-THORN
§  lakukan observasi secara teliti, biasanya 80-90 dapat lahir normal
·         Presentasi dahi
Kedudukan kepala dianytara fleksi maksimal dan defleksi maksimal shingga dahi merupakan bagian terendah. Pada umumnya presrentasi dahi merupakan kedudukan sementara, dan sebagian besar akan berubah menjadi presentasi muka dan belakang kepala.
Etiologi
ü  Anak kecil atau sudah meninggal
ü  Pemenpatan bayi persisten
ü  Panggul sempit
ü  Janin besar
Penanganan :
§  Pada janin kecil dan panggul luas penanganan sama seperti pada presentasi muka
§  Pada presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal tidak dapat dilakukan persalinan pevaginam spontan sehingga harus dilakukan sc.
§  Bila persalinan maju atau ada harapan presentasi dahi dapat berubah menjadi presentsasi belakang kepala atau muka tidak perlu dilakukan tindakan.
§  Bila pada akhir kala I kepala belum masuk rongga panggul, presentasi dapat diubah dengan prasat THORN, bila tidak berhasil dapat dilakukan sc.
§  Bila kala II tidak mengalami kemajuan, meskipun kepala sudah masuk rongga panggul lakikan sc.
·         Posisi okciput posterior persisten
UUK tidak berputarke epan, tetapi tetap berada di belakang
Etiologi
ü  Panggul anthropoid, endroid dan kesempitan midpelvis
ü  Letak punggung janin dorsoposterior
ü  Putar paksi tidak berlangsung pada: perut gantung, janin kecil atau mati, arkus pubis sangat luas, dolichocephali, panggul sempit.
Penanganan
§  Sabar menunggu, karena ada harapan UUK akan memutar ke depan dan janin akan lahir spontan.
§  Ibu berbaring miring kea rah punggung janin
§  Bila ada indikasi dan syarat telah terpenuhi, dilakukan ekstraksi forsepdengan 2 cara: menurut SCANZONI atau menarik saja dengan UUK di belakang.
·         Letak belakang kepala untuk melintang
UUK masih di samping walaupun kepala sudah di dasar panggul karena keterlambatan putar paksi.
Etiologi
ü  Kelemahan his pada kala II
ü  Panggul picak
ü  Janin kecil atau mati
ü  Kepala janin bundar
Penanganan
§  Observasi dan tunggu, karena jika His kuat terjadi putaran UUK ke depan dan janin lahir spontan
§  Ibu diminta berbaring kea rah punggung jani
§  Dapat dicoba memutar UUK ke depan dengan koreksi manual, caranya ibu jari diletakkan pada UUK, jari-jari lainnya pada okciput lalu dicoba reposisi sehingga UUK berada di bawah simpisis
§  Beri utero tonika bila His lemah, jika indikasi dan syarat terpenuhi lakukan ekstraksi forsep menurut LANGE

·         Letak tulang uu
Terdiri dari : positio occiput pubica (anterior) dan positio occiput sacralis (posterior).
Etiologi
ü  Anciklitismus permanen biasa pada panggul picak
Penanganan :
§  Observasi persalinan dengan teliti karena masih dapat lahir spontan
§  Coba manual orrection
§  Syarat ok lakukan versi dan akstraksi, bila anak mati lakukan embriotomi,
§  Sc jika ada indikasi
§  Yang berbahaya adalah letak tulang ubun-ubun belakng karena ada ancaman rupture uteri bagian belakangrahim yang pada pemeriksaan tidak kita ketahui.
2.      Letak sungsang
Janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokkong di bagian bawah kavum uteri
Etiologi
ü  Janin mudah bergerak seperti pada Multiparitas, hidramnion, janin kecil (premature)
ü  prematuritas,
ü  kehamilan ganda,
ü  fiksasi kepala pada PAP tidak baik atau tidak ada missal pada panggul sempit, hidrocepalus, anensefalus, plasenta previa, tumor-tumor pada pelvis
ü  kelainan bentuk uterus (uteri arkuatus, bikornis, mioma uteri),
ü  implantasi plasenta di kornu fundus uteri.
ü  Janin sudah lama mati
Penanganan
§  Syarat ok Lakukan versi luar pada kehamilan 34-38 minggu
§  Jika masih letak sungsang lahirkan janin dengan prasat BRACHT (bokong ditangkap, tangan diletakkan pada paha dan sacrum, kemudian janin ditarik keatas. Biasanya dilakukan pada janin kecil dan multipara
§  Lakukan manual aid atau dibantu cunam jika ahu dan kepala tidak dapat dilahirkan dengan prasat BRACHT

3.      Letak lintang
Adalah letak memanjang janin menyilang dari sumbu memanjang ibu secara tegak lurus (90°). Bila sudut yang dibentuk kedua sumbu ini maka disebut obliquelie, biasanya sermentara karena kemudian akan berubah posisi longitudinal pada persalinan.
Etiologi
ü  Relaksasi berlebih dinding abdomenakibat multiparitas, uterus abnormal ( uterus arkuatus atau subseptus)
ü  Panggul sempit
ü  Pendulum dari dinding abdomen
ü  Plasenta previa
ü  Tumor daerah panggul
ü  Insersi plasenta di fundus
ü  Bayi premature
ü  Kehamilan ganda
ü  Hidramnion
Penanganan
§  Sewaktu hamil usahakan jadi letak membujur (bokong atau kepala), pada primi lakukan versi luar pada usia kehamilan 34 minggu sedangkan multi pada usia 36 minggu.
§  Sewaktu partus lahirkan secara pervaginam dengan versi dan ekstraksi atau embriotomi bila janin sudah meninggal. Bisa juga perabdominam : sc
§  Lakukan versi luar asal pemukaan belum 4 cm dan ketuban belum pecah. Pada primi gravida bila versi luar rtidak berhasil segera lakukan sc.
§  Pada multi gravida, riwayat obstetric baik, panggul sempit (-), makrosomia (-), tunggu dan awasi sampai pembukaan serviks lengkap, lalu lakukan versi ekstraksi.
§  Pada letak lintang kasep bila janin masih hidup segera sc, jika sudah ma lahirkan pervaginam secara dekapitasi.

4.      Presentasi rangkap
Keadaan dimana bagian kecil janin menumbung di samping bagian besar janin dan bersama-sama memasuki panggul misalnya tangan disamping kepala, kaki disamping kepala atau tangan disamping bokong.
Etiologi
ü  Panggul sempit
ü  Janin yang kecil atau mati
ü  Multipara
ü  Gemeli

Penanganan
§  Tunggu dan observasi
§  Reposisi jika perlu
§  Ibu dalam posisi trendelenburg dan disusruh tidur miring kearah yang berlawanan
§  Jika Panggul sempit dan tali pusat menumbung lakukan sc
JENIS-JENIS DISTOSIA KARENA KELAINAN JANIN ,BESAR JANIN DAN PENANGANANNYA
1.   Klasifikasi kelainan bentuk dan besar janin
Ø  Distosia kepala : hidrosefalus, kepala besar dan higroma koli atau tumor di leher.
Ø  Distosia bahu : bahu janin lebar seperti anak kingkong.
Ø  Distosia perut : hidropos fetalis, asites, akardiakus
Ø  Distosia bokong : meningokel, spinal bifida, dan tumor pada bokong janin.
Ø  Kembar siam/ double monster
Etiologi :
ü  Kehamilan posterem
ü  Habitus indolen
ü  Orang tua yang besar
ü  Eritroblastosis
ü  Hipertiroidisme
ü  Diabetes mellitus
Penanganan :
§  SC dilakukan pada disproporsi sefalo dan feto velfis
§  Episiotomi dilakukan pada kesukaran melahirkan bahu dan janin hidup, kledotomi unilateral dan bilateral dilakukan untuk memperkecil bahu.
§  Embriotomi dilakukan apabila janin meninggal


2.         Pertumbuhan janin yang berlebihan
Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 gram dan jarang melebihi 5000 gram. Yang dinamakan bayi besar ialah bila berat badannya lebih dari 4000 gram Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3% dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4%. Pada panggul normal, janin dengan berat badan 4000 - 5000 gram pada umumnya tidak mengalami kesulitan dalam melahirkannya. Pada janin besar, faktor keturunan memegang peranan penting.

Etiologi
ü  diabetes mellitus
ü  postmaturitas
ü  grande multipara
Penanganan
§  Pada disproporsi sevalopelvik karena janin besar, seksio sesarea perlu dipertimbangkan
§  Pada persalinan  pervaginam: Kesulitan melahirkan bahu tidak selalu dapat diduga sebelumnya. Apabila kepala sudah lahir sedangkan bahu sulit dilahirkan, hendaknya dilakukan episiotomi niediolateral yang cukup luas, hidung serta mulut janin dibersihkan
§  kemudian kepala ditarik curam ke bawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur
§  Bila tidak berhasil, tubuh janin diputar dalam rongga panggul, sehingga bahu belakang menjadi bahu depan dan lahir di bawah simfisis. Bila dengan cara ini pun belum berhasil, penolong memasukkan tangannya ke dalam vagina dan berusaha melahirkan lengan belakang janin dengan menggerakkan di muka dadanya
§  Untuk melahirkan lengan kiri digunakan tangan kanan penolong, dan sebaliknya
§  Kemudian bahu depan diputar ke diameter miring dari panggul guna melahirkan lengan depan.
§  Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan, dapat dilakukan kleidotomi pada satu atau kedua klavikula untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir.
3.         Hidrosefalus
Hidrosefalus ialah keadaan di mana terjadi penimbunan cairan serebrospinalis dalam ventrikel otak, sehingga kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel biasanya antara 500 sampai 1500 ml, akan tetapi kadang-kadang dapat mencapai 5 liter. Hidrosefalus seringkaii disertai kelainan bawaan lain seperti misalnya spina bifida. Karena kepala janin terlalu besar dan tidak dapat berakomodasi di bagian bawah uterus, maka sering ditemukan dalam letak sungsang. Bagaimana pun letaknya, hidrosefalus akan menyebabkan disproporsi sefalopelvik dengan segala akibatnya

Diagnosis hidrosefaus pada letak sungsang lebih sulit dan sering baru dibuat setelah dialami kesulitan dalam kelahiran kepala, di mana teraba kepala yang besar menonjol di atas simfisis. Pemeriksaan rontgenologik pada hidrosefalus dengan janin dalam letak sungsang tidak dapat memberi kepastian, karena kepala normal pada letak sungsang dapat memberi gambaran seolah-olah sangat besar. Untuk menghindarkan kesalahan pada pemeriksaan rontgenologik harus diperhatikan beberapa hal:
1)      muka janin sangat kecil bila dibandingkan dengan tengkorak;
2)      kepala berbentuk bulat, berbeda dengan kepala biasa yang berbentuk ovoid;
3)      bayangan tulang kepala sangat tipis. Untuk menghilangkan keragu-raguan dapat pula dibantu dengan pemeriksaan secara ultrasonik atau M.R.I. Kemungkinan hidrosefalus harus dipikirkan apabila:
1)      Kepala tidak masuk ke dalam panggul, pada persalinan dengan panggul normal dan his kuat;
2)      Kepala janin teraba sebagai benda besar di atas simfisis.

Penanganan
§  Persalinan pada wanita dengan janin hidrosefalus perlu dilakukan pengawasan yang seksama, karena bahaya terjadinya ruptura uteri selalu mengancam.
§  Pada hidrosefa yang nyata, kepala janin harus dikecilkan pada permulaan persalinan.
§  Pada pembukaan 3 cm cairan cerebrospinalis dikeluarkan dengan pungsi pada kepala menggunakan jarum spinal; setelah kepala mengecil, bahaya regangan segmen bawah uterus hilang, sehingga tidak terjadi kesulitan penurunan kepala ke dalam rongga panggul.
§  Bila janin dalam letak sungsang, pengeluaran cairan dari kepala yang tidak dapat lahir dilakukan dengan pungsi atau perforasi melalui foramen oksipitalis magnum atau sutura temporalis.
§  Dianjurkan pula untuk mencoba melakukan ventrikulosentesis transabdominal dengan jarum spinal; dalam hal ini kandung kencing harus dikosongkan lebih dahulu.

4.         Tali pusat menumbung
keadaan dimana tali pusat teraba keluar dan ketuban sudah pecah.
Etiologi
ü  Letak sungsang
ü  Letak lintang
ü  Panggul sempit
ü  Hidrosefalus dan anensevalus
ü  Hidramnion
ü  Plasenta frevia
ü  Plasenta letak rendah
Penanganan
v  Letak kepala
§  SC bila pembukaan masih kecil
§  Pada pembukaan sudah lengkap ekstrasi pakum atau forsep bila kepala dengan ukuran terbesar sudah melewati PAP, SC atau versi dan ekstraksi bila kepala goyang.
v  Letak lintang
§  Lakukan SC
v  Letak sungsang
§  Tunggu pembukaan lengkap. Ekstraksi kaki

JENIS-JENIS DISTOSIA KARENA KELAINAN JALAN LAHIR
1.      Kelainan pada vulva
ü  Edema vulva dijumpai pada eklamsi dan gangguan gizi atau persalinan yang lama.
ü  Stenosis vulva akibat perlukaan atau infeksi dengan parut yang kaku dapat mengecilkan vulva.
ü  Tumor vulva berupa bartholini atau kista.
2.      Kelainan pada vagina
ü  Stenosis vagina congenital
ü  Tumor vagina berupa kista gardner
3.      Kelainan pada servik uteri
4.      Kelainan pada ovarium

JENIS-JENIS DISTOSIA KARENA KELAINAN  BENTUK PANGGUL DAN PENANGANANNYA
Jenis kelainan panggul
Caldwell dan Moloy è 4 jenis pokok yaitu :
1.               Panggul ginekoid dengan pintu atas panggul yang bundar, atau dengan diameter transversa yang lebih panjang sedikit daripada diameter anteroposterior dan dengan panggul tengah serta pintu bawah panggul yang cukup luas;
2.               Panggul antropoid dengan diameter anteroposterior yang lebih panjang daripada diameter transversa, dan dengan arkus pubis menyempit sedikit;
3.               Panggul android dengan pintu atas panggul yang berbentuk sebagai segitiga berhubungan dengan penyempitan ke depan, dengan spina iskiadika menonjol ke dalam dan dengan arkus pubis menyempit;
4.               Panggul platipelloid dengan diameter anteroposterior yang jelas lebih pendek daripada diameter transversa pada pintu atas panggul dan dengan arkus pubis yang luas.

Menurut klasifikasi yang dianjurkan oleh Munro Kerr yang diubah sedikit, panggul-panggul yang terakhir ini dapat digolongkan sebagai berikut.
1.               Perubahan bentuk karena kelainan pertumbuhan intrauterin: a) panggul Naegele; b) panggul Robert; c) split pelvis; d) panggul asimilasi.
2.               Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang-tulang panggul dan/ atau sendi panggul.. a) rakitis; b) osteomalasia; c) neoplasma; d) fraktur; e) atrofi, karies, nekrosis; f) penyakit pada sendi sakroiliaka dan sendi sakrokoksigea.
3.               Perubahan bentuk karena penyakit tulang belakang: a) kifosis; b)skoliosis; c) spondilolistesis.
4.               Perubahan bentuk karena penyakit kaki a) koksitis; b) luksasio koksa; c) atrofi atau kelumpuhan satu kaki.

1.         Kesempitan pada pintu atas panggul

Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm, atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya). Oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaan serviks. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin, ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsus funikuli. Pada panggul picak turunnya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala, sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintangan pada semua ukuran; kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. Selanjutnya moulage kepala janin dapat dipengaruhi oleh jenis asinklitismus; dalam hal ini asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme yang terakhir gerakan os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simfisis, sedang pada asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang.

2.      Kesempitan panggul tengah
Dengan sakrum melengkung sempurna, dinding-dinding panggul tidak berkonver foramen iskiadikum mayor cukup luas, dan spina isikiadika tidak menonjol ke dalam, dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. Ukuran terpenting, yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri roentgenologik, ialah distansia interpinarum. Apabila ukuran ini kurang dari 9,5 cm, perlu kita waspada terhadap kemungkinan kesukaran pada persalinan, apalagi bila diameter sagittalis posterior pendek pula. Pada panggul tengah yang sempit, lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterior persisten atau presentasi kepala dalam posisi lintang tetap (transverse arrest). 

3.      Kesempitan pintu bawah pangggul
Pintu bawah panggul tidak merupakan bidang yang datar, tetapi terdiri atas segi tiga depan dan segi tiga belakang yang mempunyai dasar yang sama, yakni distansia tuberum. Apabila ukuran yang terakhir ini lebih kecil daripada biasa, maka sudut arkus pubis mengecil pula (kurang daripada 80O) Agar supaya dalam hal ini kepala janin dapat lahir diperlukan ruangan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul. Dengan diameter sagitalis posterior yang cukup panjang persalinan per vaginam dapat dilaksanakan, walaupun dengan perlukaan luas pada perineum Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagittalis posterior kurang dari 15 em, timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa.  

Bahaya pada ibu

a.       Partus lama yang seringkali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil, dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis, dan infeksi intrapartum.
b.      Dengan his yang kuat, sedang kemajuan janin dalam jalan lahir tertahan, dapat timbul regangan segmen bawah uterus dan pembentukan lingkaran retraksi patologik (Bandl). Keadaan ini terkenal dengan nama ruptura uteri mengancam; apalagi tidak segera diambil tindakan untuk mengurangi regangan, akan timbul ruptura uteri. c. Dengan persalinan tidak maju karena disproporsi sefalopelvik, jalan lahir pada suatu tempers mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul. Hal itu menimbulkan gangguan sirkulasi dengan akibat terjadinya iskemia dan kemudian nekrosis pada tempat tersebut. Beberapa hari post partum akan terjadi fistula vesikoservikalis, atau fistula vesikovaginalis, atau fistula rektovaginalis.

Bahaya pada janin

a.            Partus lama dapat meningkatkan kematian perinatal, apalagi jika ditambah dengan infeksi intrapartum.
b.            Prolapsus funikuli, apabila terjadi, mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin dan memerlukan kelahirannya dengan segera apabila ia masih hidup.
c.            Dengan adanya disproporsi sefalopelvik kepala janin dapat melewati rintangan pada panggul dengan mengadakan moulage. Moulage dapat dialami oleh kepala janin tanpa akibat yang jelek sampai batas-batas tertentu, akan tetapi apabila hal tersebut dilampaui, terjadi sobekan pada tentorium serebelli dan intrakranial.
d.            Selanjutnya tekanan oleh promontorium atau kadang-kadang oleh simfisis pada panggul picak menyebabkan perlukaan pada jaringan di atas tulang kepala janin, malala dapat pula menimbulkan fraktur pada os parietalis.

 

Penanganan
Dewasa ini 2 tindakan dalam penanganan disproporsi sefalopelvik yang dahulu banyak dilakukan tidak diselenggarakan lagi. Cunam tinggi dengan menggunakan axis-traction forceps dahulu dilakukan untuk membawa kepala janin - yang dengan ukuran besarnya belum melewati pintu atas panggul - ke dalam rongga panggul dan terus keluar. Tindakan ini yang sangat berbahaya bagi janin dan ibu, kini diganti oleh seksio sesarea yang jauh lebih aman. Induksi partus prematurus umumnya juga tidak dilakukan lagi. Keberatan tindakan ini ialah kesulitan untuk menetapkan: a) apakah janin walaupun belum cukup bulan, sudah cukup tua dan besar untuk hidup dengan selamat di luar tubuh ibu; dan b) apakah kepala janin dapat dengan aman melewati kesempitan pada panggul bersangkutan.
Dewasa ini 2 cara merupakan tindakan utama untuk menangani persalinan pada disproporsi sefalopelvik, yakni seksio sesarea dan partus percobaan. Di samping itu kadang-kadang ada indikasi untuk melakukan simfisiotomia dan kraniotomia, akan tetapi simfisiotomia jarang sekali dilakukan di Indonesia, sedangkan kraniotomia hanya dikerjakan pada janin mati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar