Kamis, 17 November 2011

KEGAGALAN KB

KB DAN KONTRASEPSI


KELUARGA BERENCANA
(Menurut Fakultas Kedokteran bagian OBGIN Universitas Padjajaran Bandung), Pengertian KB  secara Umum adalah :
            Suatu usaha mengatur banyaknya jumlah kelahiran sedemikian rupa, sehingga bagi ibu maupun bayinya dan bagi ayah sertaa keluargaanya atau masyarakat yang bersangkutan.

Pengertian KB secara Khusus adalah :
            Keluarga Berencana dalam kehidupan sehari-hari berkisar pada pencegahan konsepsi atau pencegahan terjadinyaa pembuahan atau mencegah pertemuan antara sel mani dari laki-laki dan sel telur dari wanita sekitar persetubuhan.

Guna mencapai tujuan tersebut, maka ditempuh kebijaksanaan mengkategorikaan tiga fase untuk mencapai sasaran yaitu :
a.       Fase menunda perkawinan/kesuburan
b.      Fase menjarangkan kehamilan
c.       Fase menghentikan / mengakhiri kehamilan / kesuburan

Maksud kebijaksanaan tersebut yaitu untuk menyelamatkan ibu dan anak akibat melahirkan pada usia muda, jarak kelahiran yang terlalu dekat dan melahirkan pada usia tua.

KONTRASEPSI
(Menurut Depkes RI, 1993) Kontrasepsi berasal dari kata : Kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuaaan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. Jadi kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut.
Cara kerja kontrasepsi : (Menurut Depkes RI, 1993)
a.       Mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi
b.      Melumpuhkan sperma
c.       Menghalangi pertemuan sel telur dengan sperma.
(Buku Pedoman Petugas Fasilitas Pelayanan KB)

Cara /metode kontrasepsi yang digunakan sebagai usaha medik dalam KB :
a.       Pantang Berkala (Menurut Depkes RI, 1993)
Syarat utama metode pantang berkala adalah patrun menstruasi teratur dan kerjasama dengan suami harus baik. Metode pantang berkala mempunyai kegagalan tinggi bila patrun menstruasi tidak teratur. Apalagi  kerjsama dengan suami tidak mungkina dilakukan. Patrun menstruasi teratur merupakan syarat penting karena dengan menstruasi teratur dapat memberikan petunjuk masa subur. Perhitungan masa subur dapat dilakukan bersama suami sehingga suami-istri mempunyai pengertian yang sama. Kerjsama dengan suami perlu ditekankan karena masa hidup ovum dan spermatozoa dalam alat genetalia wanita cukup panjang.
Metode pantang berkala dikenal 2 sistem, yaitu :
  1. Pantang berkala dengan sistem kalender
Dikenal dengan nama sistem Ogino-Knaus, nama orang yang meneliti terjadinya ovulasi sekitar 12 sampai 16 hari sebelum menstruasi. Kelemahan sistem ini sulit menilai menstruasi yang akan datang. Metode ini memerlukan sistem menstruasi yang teratur sehingga dapat memperhitungkan masa subur untuk menghindari kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seks. Masa subur wanita dapat dihitung dengan melakukan perhitungan minggu subur sbb :
a.       Menstruasi wanita terautur antara 26 sampai 30 hari
b.      Masa subur dapat diperhitungkan, yaitu menstruasi hari pertama ditambah 12 yang merupakan hari pertama minggu subur dan akhir minggu subur adalah hari pertama menstruasi ditambah 19.
c.       Puncak minggu subur adalah hari pertama menstruasi ditambah 14.
Sebagai contoh, seorang wanita mendapat menstruasi tanggal 5 januari 2007. maka perhitungan minggu suburnya adalah antara 17 sampai 24 januari, sehingga menghindari hubungan seks untuk mencegah kehamilan. Sistem pantang berkala dengan kalender mempunyai kegagalan berkisar 15% sampai 20%.
  1. Pantang berkala dengan sistem suhu basal
Telah diketahui bahwa penurunan suhu basal sebanyak ½ sampai 10 C pada hari ke-12 sampai ke-13 menstruasi, dimana ovulasi terjadi pada hari ke-14. setelah menstruasi suhu akan naik lebih dari suhu basal sehingga siklus menstruasi yang disertai “ovulasi” terdapat temperatur “bifasik”.
Pantang berkala dengan sistem pengukuran suhu basal memerlukan pengetahuan dan metode pengukuran yang akurat, sehingga dapat bermanfaat. Kegagalan sistem suhu basal sekitar 10% sampai 20%. Kelemahan sistem pantang berkala adalah pengukuran suhu basal merepotkan dan tidak akurat, hanya dapat digunakan oleh mereka yang terdidik dan hanya berguna pada siklus menstruasi 20 sampai 30 hari.

b.      Spermiside (Menurut Manuaba, 1998)
Spermiside adalah bahan kimia yang menghentikan gerak dan mematikan spermatozoa di dalam vagina. Sebelum mereka dapat membuahi telur. Bahan kimia yang aktif berbentuk tablet, pessaries, foam/busa, cream dan lapisan tipis yang haruss ditempatkan di dalam vagina setinggi tingginya dekat cervix. Foam dan cream juga bertindak sebagai penghalang terhadap spermatozoa yang mau masuk kedalam cervix. Obat-obat tersebut dapat dipakai sebagai usaha tunggal untuk kontrasepsi tetapi akan lebih berhasil apabila bersamaan dengan itu sang suami juga memakai kondom. Spermiside harus dipakai 5-10 menit sebelum melakukan hubungan badan. Penguncian vagina yang membersihkan dan menghilangkan daya kerja spermiside janganlah dilakukan dalam waktu 8 jam setelah selesai melakukan hubungan badan. Spermiside lebih banyak dipakai oleh pria untuk menutupi zakar sebelum dimasukkan, lebih manjur apabila dipakainya bersamaan dengan kondom.
Kekurangan spermiside adalah :
  1. Merepotkan menjelang hubungan senggama
  2. Nilai kepuasaan berkurang
  3. Dapat menimbulkan iritasi atau alergi
  4. Kejadian hamil tinggi sekitar 30% sampai 35% karena pemasangan tidak sempurna atau terlalu cepat melakukan senggama.

c.       Kontrasepsi Hormonal
(Menurut Manuaba, 1998) Sejarah penemuan kontrasepsi hormonal mulai dari 1897 ketika Board menduga bahwa korpus luteum dapat menghambat terjadinya ovulasi. Fellmer pada tahun 1912 mempelajari pengaruh korpus luteum terhadap mamae dan uterus. Moore dan Price mengetahui fungsi kelenjar hipofisis dan estrogen serta progesteron dapat dibalik. Corquodale, Thayer dan Doisy antara tahun 1930 sampai 1936 mengisolasi estrogen dan progesteron.
Laboratorium Syntex pada tahun 1956 menemukan progesteron sintesis dengan nama Norethisterone. Pada tahun 1960 Rock, Pincus dan Garcia mencoba progesteron sebagai kontrasepsi oral dengan hasil yang memuaskan. Pada tahun 1963 Goldzieher membuat pil KB oral sekuensial. Pada perkembangan dan percobaan selanjutnya telah dibuat berbagai pil KB dengan tujuaan meningkatkan efektivitas mengurangi efek samping, dan meminimalkan keluhaan peserta KB.

Mekanisme Kerja Kontrasepsi Hormonal
Perkembangan IPTEK hormonal telah mempelajari bahwa estrogen dan progesteron memberikan umpan balik terhadap kelenjar hipofisis melalui hipotalamus sehingga terjadi hambatan terhadap perkembangan folikel dan proses ovulasi.
Melalui hipotalamus dan hipofisis dapat menghambat pengeluaran FSH sehingga perkembangan dan kematangan folikel de Graaf tidak terjadi. Disamping itu progesteron dapat menghambat pengeluaran hormon luteinizing (LH). Estrogen mempercepat peristaltik tuba sehingga hasil kontrasepsi mencapai uteruss endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi.
Fungsi komponen progesteron :
1.      Rangsangan balik ke hipotalamus dan hipofisis, sehingga pengeluaran LH tidak terjadi dan menghambat ovulasi.
2.      Progesteron mengubah endometrium, sehingga kapasitasi spermatozoa tidak berlangsung.
3.      Mengentalkan lendir serviks sehingga sulit ditembus spermatozoa
4.      Menghambat peristaltik tuba, menyulitkan konsepsi
5.      Menghindari implantasi, melalui perubahan struktur endometrium

Kontrasepsi Hormonal Pil
Kontrasepsi hormonal pil telah menghambat penelitian panjang, sehingga sebagian besar wanita dapat menerima tanpa kesulitan, dengan patrun menstruasi normal serta durasi antara 4 sampai 6 hari. Disamping durasi 4 sampai 6 hari, masih terdapat patrun menstruasi wanita :
1.      Wanita tergolong durasi menstruasi kurang dari 4 hari, memerlukan pil KB dengan efek estrogen tinggi.
2.      Wanita dengan durasi menstruasi lebih dari 6 hari memerlukan pil KB dengan efek estrogen yang rendah.
Berbagai pabrik farmasi telah memasarkan pil KB dengan kelebihan dan kekurangannya, sehingga dapat memilih sesuai keberadaan wanita itu. Pada setiap pil terdapat perbandingan kekuatan estrogen (lebih dominan estrogen) atau progesteronik (dominan progesteron) melalui penilaian patrun menstruasi.  (Menurut Nelson, 2000) Pil dapat mengahambat ovulasi dan tingkat kehamilannya 2,4% per tahun.
Sifat khas kontrasepsi hormonal adalah sbb :
a.       Komponen estrogen menyebabkan mudah tersinggung, tegang, retensi dan garam, berat badan bertambah, menimbulkan nyeri kepala, perdarahan banyak saat menstruasi, meningkatkan pengeluaran leukorea, menimbulkan perlunakan serviks.
b.      Komponen progesteron menyebabkan payudara tegang, acne (jerawat), kulit dan rambut kering, menstruasi berkurang, kaki dan tangan sering kram, liang senggama kering.

Keuntungan memakai pil KB : (Menurut Manuaba, 1998)
1.      Bila diminum pil sesuai dengan aturaan dijamin berhasil 100%.
2.      Dapat dipakai pengobatan beberapa masalah :
-          Ketegangan menjelang menstruasi
-          Perdarahan menstruasi yang tidak teratur
-          Nyeri saat menstruasi
-          Pengobatan pasangan mandul
3.      Pengobatan penyakit endometriosis
4.      Dapat meningkatkan libido

Kerugian memakai pil KB : (Menurut Manuaba, 1998)
1.      Harus minum pil secara teratur
2.      Dalam waktu panjang menekan fungsi ovarium
3.      Penyulit ringan :
-          Berat badan bertambah
-          Rambut rontok
-          Tumbuh acne
-          Mual sampai muntah
4.      Mempengaruhi fungsi hati dan ginjal

Macam-macam pil KB : (Menurut Manuaba, 1998)
1.      Pil kombinasi
Tiap tablet berisi estrogen dan progesteron dalam dosis tertentu. Biasanya di dalam satu rangkaian terhadap 20, 21, atau 22 tablet, misal : Prevision (20), Oval-Eugynon-Ovulan (21), Lyndiol (22)

2.      Pil Sequential (urutan)
Pil ini mengandung komponen yang disesuaikan dengan sistem hormonal tubuh. Biasanya terdiri dari 21 tablet. Di dalam rangkaian tersebut No. 1 s/d 15 atau 16 berisi estrogen. Tablet no. 16 atau 17 dan berikutnya berisi campuran estrogen dan progesteron.
3.      Progesteron : Hanya mengandung progesteron dipergunakan ibu postpartum
4.      KB darurat hormonal : digunakan segera setelah hubungan seks.

Sistem Kemasan Pil (Menurut Manuaba, 1998)
a.       Sistem 28 : Peserta KB pil terus minum pil tanpa pernah berhenti
b.      Sistem 22/21 : Peserta KB pil berhenti minum pil selama 7 sampai 8 hari dengan mendapat kesempatan menstruasi.
Untuk memudahkan masyarakat, pil KB sistem 28 lebih banyak dipergunakan karena mudah memberikan penerangan, terutama bagi mereka dengan pendidikan rendah.

Petunjuk Pemakaian Pil KB (Menurut Manuaba, 1998)
1.      Minumlah pil KB dengan teratur
2.      Bila lupa, maka pil KB harus diminum menjadi dua buah
3.      Bila perdarahan, tidak memerlukan perhatian karena belum diadaptasi
4.      Gangguan ringan dalam bentuk : mual-muntah, sebaiknya diatasi bila komplikasi yang berat dalam bentuk perdarahan dan mual muntah berlebihan, penderita harus dilakukan konsultasi atau rujuk ke RS.

Kapan pil KB mulai diminum : (Menurut Manuaba, 1998)
1.      Pada postpartum dapat mulai dengan Expluton yang mengandung komponen progesteron :
a.       Tidak mengganggu pengeluaran ASI
b.      Efektif sampai laktasi dihentikan
c.       Kesulitan dapat timbul : perdarahan spotting, tidak mendapat menstruasi berkepanjangan.
2.      Post abortus atau hari kelima menstruasi
Dapat dipakai pil KB sistem sekuensial (kombinasi)
3.      Ganti cara pemakaian pil KB
a.       Segera dapat mulai minum pil KB
b.      Dapat dipakai kombinasi atau sekuensial
c.       Dapat terjadi perubahan patrun menstruasi

Indikasi Pemakaian Pil  : (Menurut Depkes RI, 1993)
-          Tidak sedang hamil
-          Tidak ada kontra indikasi

Kontra indikasi pemakaian pil : (Menurut Depkes RI, 1993)
a.       Kanker buah dada dan organ reproduksi
b.      Penyakit kuning atau pernah menderita penyakit hati dalam 3 tahun terakhir.
c.       Penyakit pembuluh darah
d.      Tekanan darah tinggi
e.       Gangguan jantung atau lemah jantung
f.       Perdarahan abnormal
g.      Varises
h.      Sakit kepala yang hebat
i.        Penyakit kencing manis (Diabetes Melitus)
j.        Asma

Efek Samping (Menurut Depkes RI, 1993)
Gejala-gejala sampingan penggunaan pil kontrasepsi disebabkan oleh adanya gangguan keseimbangan hormon estrogen dalam tubuh. Gejala tersebut bersifat subyektif maupun objektif. Biasanya hanya sementara, ringan, terdapat pada semua pemakai pil dan hilang dengan sendirinya setelah dua sampai tiga bulan.
Gejala subyektif, misalnya : perasaan mual, muntah-muntah, perasaan pusing, rasa sakit dan pembesaran buah dada, nafsu maka bertambah, perasaan lelah, gelisah, dan mudah tersinggung.
Gejala obyektif, misalnya : Tekanan darah tinggi, berat badan bertambah atau berkurang pigmentasi pada kulit muka (chloasma), jerawat (acne), keputihan (candidiasis vaginal) dan gangguan pola perdarahan, yaitu  berkurangnya perdarahan waktu haid (spotting) dan  darahan antar hadi (break through bleeding).

Penanggulangan gejala efek samping (Menurut Depkes RI, 1993)
a.       Perdarahan diluar haid (spotting, break through bleeding)
Bila spotting ringan berikan penjelasan kepada peserta KB bahwa keadaan tersebut hanya bersifat sementara. Bila agak lama, berikan pil KB 1-2 sehari, selama beberapa hari sampai spotting hilang. Atau diganti dengan pil KB dengan kadar estrogen lebih tinggi.
b.      Rasa mual
Berikan vitamin B6, ganti dengan pil yang mengandung estrogen lebih rendah atau ganti dengan cara KB lainnya.
c.       Chloasma
Hentikan penggunaan pil, ganti dengan cara KB lainnya.
d.      Acne
Ganti dengan pil yang mengandung estrogen yang lebih tinggi dengan progesteron yang tidak bersifat androgenik
e.       Candidiasis Vaginal
Berikan antimycotic, ganti dengan pil yang mengandung estrogen lebih tinggi. Dan kalau tidak menolong, maka pemakaian pil dihentikan sementara dengan menggunakan cara KB lainnya.
f.       Nyeri Kepala
Ganti dengan pil yang mengandung estrogen lebih rendah atau hentikan penggunaan pil, ganti dengan cara KB lainnya.

g.      Penambahan berat badan
Bila penambahan berat badan banyak dan progresif, maka pemakaian pil sebaiknya dihentikan, dan ganti dengan cara KB lainnya.
h.      Varises / thrombophlebitis
Hentikan penggunaan pil dan peserta KB perlu mendapat perawatan khusus.
i.        Hipertensi
Apabila lebih dari 160/105 mmHg, maka penggunaan pil perlu dihentikan dan peserta KB perlu mendapat perawatan khusus.
j.        Kegagalan (kehamilan)
Apabila terjadi kegagalan (kehamilan) pemakaian pil, sebaiknya pil dihentikan dan peserta KB supaya dirujuk ke dokter/dokter ahli untuk tindakan penanggulangan.

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN
DENGAN KEGAGALAN KB TERHADAP Ny. N
DI RB DO’A IBU SEKAMPUNG
LAMPUNG TIMUR
2007


I.        PENGUMPULAN DATA DASAR
A.     Data Subjektif
  1. Identitas / Biodata
Nama Istri : Ny. N                                  Nama Suami          : Tn. B
Umur          : 24 th                                    Umur            : 28 th
Pendidikan : SMA                                   Pendidikan    : SMA
Pekerjaan   : IRT                                     Pekerjaan      : Wiraswasta
Agama       : Islam                                   Agama          : Islam
Jl. Anggrek No. 10       
 
Suku           : Jawa                                    Suku             : Jawa
Donomulyo, Sekampung
Lampung TImur       
 
Donomulyo, Sekampung
Lampung TImur       
 
Alamat       : Jl. Anggrek No. 10             Alamat          :
                     

  1. Anamnesa pada tanggal 21 Desember 2007 Pkl. 09.00 WIB
a.       Keluhan Utama saat masuk
Ibu mengatakan hamil anak ke-2 usia kehamilan 38 minggu. Mengeluh perutnya sakit menjalar sampai ke pinggang, mules-mules sejak jam 05.00 WIB, mengeluarkan lendir bercampur darah dari vagina. Ibu mengatakan sebenarnya masih menggunakan alat kontrasepsi, yaitu KB pil.
b.       Tanda-tanda persalinan
Ibu datang pukul 09.00 WIB, his (+) dengan lama his 20 detik kekuatan sedang. His muncul 2-3 x dalam 10 menit.
c.       Pengeluaran pervaginam
Lendir bercampur darah, tidak ada pengeluaran air ketuban

d.      Riwayat kehamilan
HPHT       : 25-03-2007
TP             : 01-01-2008
ANC dilakukan secara teratur di tempat bidan
e.       Riwayat imunisasi
Selama hamil ibu imunisasi 2 x Di Bidan Lastri
Pertama    : 8 Agustus 2007
Kedua       : 15 September 2007
f.        Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir
Ibu merasakan sebelum mulas perutnya, dirasakan janin sangat kuat, setelah mulas perutnya timbul, ibu merasakan gerakan janin sedikit berkurang.
g.       Riwayat persalinan yang lalu
No
Anak ke
Tgl. Lahir
Jenis Persalinan
Penolong
JK
BB/TB
Ket
1
1
31-01-2005
Spontan
Bidan
LK
3 kg/49 cm
Sehat

h.       Makan dan minum terakhir
Sebelum mulas timbul, ibu makan dan minum biasa
Makan      : 3 x / hari
Minum      : 5-7 gelas/hari
Tapi setelah mulas pada perutnya timbul, ibu mengatakan tidak nafsu makan tapi banyak.
i.         Buang air besar terakhir
Ibu BAB 1 x terakhir pada pukul 05.30 WIB
j.         Buang air kecil terakhir
Ibu mengatakan sering BAK hari ini
k.       Istirahat / tidur
Ibu biasanya tidur 6-8 jam tiap harinya, tapi setalah ibu merasa mulas sampai pengkajian ini dilakukan ibu tidak dapat tidur lagi.
l.         Psikologi
Ibu mengatakan takut dan cemas dengan keadaannya saat ini, ibu hamil tetapi masih menggunakan alat kontrasepsi pil.

B.     Pemeriksaan Fisik
1.       Keadaan umum ibu : baik                   Kesadaran : Composmentis
2.       Sebelum hamil BB      : 55 kg
Sesudah hamil BB      : 65 kg
Kenaikan BB selama hamil : 10 kg
3.       Tanda-tanda vital       : TD     : 120/70 mmHg           RR       : 24 x/menit
Pols     : 80 x / menit               Temp   : 370 C
4.       Pemeriksaan Fisik
      a.    Kepala        : Tidak ada benjolan dan lesi
      b.   Rambut      :  Kotor, mudah rontok, ada ketombe
      c.    Mata           :  Bentuk simetris, konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik
      d.   Hidung       :  Bentuk simetris, keadaan bersih tidak ada polip
      e.    Mulut dan gigi      : Bersih, bibir pecah-pecah, ada caries gigi
      f.    Telinga       :  Bentuk simetris, bersih, fungsi pendengaran baik
      g.   Leher          :  Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
      h.   Dada          :  Simetris, puting susu menonjol, colostrum ada
      i.    Abdomen   :  Tidak ada bekas operasi
1.   Leopold I      :  TFU pertengahan px-pusat
                               TFU= 32 cm, TBJ : 3100 gram.
       2.   Leopold II    :  Teraba panjang, melengkung disebelah kanan (puka) dan disebelah kiri teraba bagian-bagian kecil (ekstremitas)
       3.   Leopold III   :  Bagian terendah kepala
       4.   Leopold IV   :  Bagian terendah sudah masuk PAP
       5.   Auskultasi     : DJJ 134/menit
       6.   Keadaan kandung kemih kosong




      j.    1.   Ekstermitas atas                                 2.   Ekstermitas bawah :
                   Tidak ada oedem                                      Tidak ada oedem
                   Jari tangan lengkap                                   Tidak ada varises
                   Fungsi ekstremitas baik                            Reflek patela (+)
                                                                                    Fungsi ekstremitas baik
k.Genetalia
      Inspeksi      : Pada vulva maupun vagina tidak ada oedem dan varises, tidak ada cedera dan bekas luka dan perdarahan, perineum tidak ada bekas luka.
      Pengeluaran pervaginam lendir bercampur darah
l.         Rectum      :  Ibu mengatakan hari ini sudah BAB, keadaan rektum kosong, perineum elastis.
5.       Pemeriksaan dalam pukul 09.30 WIB
Perineum elastis, vulva slym ada, dinding vagina teraba rugae dan tidak ada benjolan, promontorium tidak teraba, portio tipis, pembukaan 3 cm, ketuban (+), presentasi kepala, penurunan 4/5, His 3x setiap 10 menit lamanya 20 detik, kepala di hodge II.

Pengawasan Kala I
Tgl.
Waktu
Pemb. Serviks
Kondisi Ibu
DJJ
Penurunan Kepala
Ketuban/ Penyusupan
TD
Pols
RR
Temp
Obat/
cairan
yang diberikan
Kontraksi
21/12/07
09.30
3 cm
110/70
78
18
360 C
-
Kekuatan sedang, selama 20 detik, 3x dalam 10 menit
134x/menit
4/5
+/0
21/12/07
10.00

110/70
78
18
360 C
-
Kekuatan sedang, selama 20 detik, 2x dalam 10 menit
134x/menit

+/0
21/12/07
10.30

110/70
77
20
360 C
-
Kekuatan sedang, selama 20 detik, 3x dalam 10 menit
134x/menit

+/0
21/12/07
11.00

110/70
78
20
36,50 C
-
Kekuatan sedang, selama 20 detik, 3x dalam 10 menit
135x/menit

+/0
21/12/07
11.30

120/70
78
20
36,50 C
-
Kekuatan sedang, selama 20 detik, 3x dalam 10 menit
135x/menit

+/0
21/12/07
12.00

120/70
79
21
370 C
-
Kekuatan sedang, selama 30 detik, 3x dalam 10 menit
135x/menit

+/0
21/12/07
12.30

120/70
78
22
370 C
-
Kekuatan sedang, selama 30 detik, 3x dalam 10 menit
134x/menit

+/0
21/12/07
13.00

120/70
80
22
370 C
-
Kekuatan sedang, selama 35 detik, 3x dalam 10 menit
134x/menit

+/0
21/12/07
13.30
7 cm
120/70
80
22
36,50 C
-
Kekuatan sedang, selama 35 detik, 3x dalam 10 menit
134x/menit
3/5
+/0

II.     Interpretasi Data Dasar
1.       Diagnosa
Ibu G2P1A0, hamil aterm 38 minggu, janin tunggal, hidup, intrauterine presentasi kepala, puka in partu kala I fase laten
Dasar :
1.       Ibu mengatakan hamil anak ke dua
2.       HPHT : 25-3-2007                  TP : 1-1-2007
3.       Ibu mengatakan mulas dan nyeri perut dibagian bawah serta mengeluarkan lendir kecoklatan bercampur  darah.
4.       Pada pemeriksaan dalam pukul 10.30 WIB didapat pembukaan 3 cm. Perineum elastis, vulva slym ada, dinding vagina teraba rugae, dan tidak ada benjolan, portio tipis, ketuban positif, presentasi kepala, penurunan 4/5, kepala di hodge  II, his 3 x setiap 10 menit lamanya 20 deitk.

Masalah :
Gangguan rasa nyaman yaitu nyeri pinggang karena adanya his dan cemas.
Dasar :
Ibu merasa nyeri karena adanya his
Ibu terlihat gelisah dan kesakitan

Kebutuhan :
1.      Dukungan psikologi untuk mengurangi rasa cemas, dan sebagai suport.
2.      Penyuluhan cara mengurangi rasa nyeri
3.      Pemantauan kemajuan persalinan
4.      Pemberian pemenuhan cairan dan nutrisi pada ibu
5.      Menganjurkan suami/keluarga untuk mendampingi selama persalinan
III.  Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Potensial terjadinya partus lama
Dasar : Ibu inpartu kala I awal

IV.  Identifikasi Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera/Kolaborasi
Kolaborasi dengan dokter bila ada komplikasi pada kala I

V.     Rencana Asuhan
1.       Jelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini
a.       Observasi kala I menggunakan partograf
b.       Persiapan ruangan untuk persalinan
c.       Persiapan perlengkapan, bahan-bahan, dan obat-obat yang dibutuhkan
d.      Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis
2.       Penyuluhan cara mengatasi rasa nyeri
a.       Jelaskan penyebab nyeri/mulas pada ibu dan keluarga
b.       Ajari ibu cara mengurangi rasa nyeri
c.       Libatkan suami dan keluarga untuk memberi dukungan
3.       Penyuluhan cara mengedan efektif
a.       Jelaskan ibu mengedan efektif
b.      Ajarkan ibu mengedan efektif
c.       Observasi cara mengedan ibu
4.       Anjurkan ibu untuk minum dan makan makanan yang ringan
5.       Pertolongan persalinan yang aman dan nyaman
a.       Siapkan alat-alat perlengkapan persalinan
b.       Siapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan bahan-bahan perlengkapan serta obat-obatan yang diperlukan
c.       Hargai privasi ibu
d.      Siapkan lingkungan yang bersih dan aman untuk ibu
e.       Anjurkan ibu untuk mencari posisi yang nyaman bagi ibu

VI.  Implementasi Langsung
1.       Memberitahukan pada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan
a.       Kondisi ibu saat ini memasuki kala I persalinan
b.       Kondisi bayinya sehat dengan posisi normal DJJ 134 x/menit
c.       Memantau kemajuan persalinan dengan partograf mengenai DJJ, TD, Pols, His setiap 30 menit, pembukaan serviks, penurunan bagian terendah, setiap 4 jam.
2.       Melakukan penyuluhan cara mengatasi rasa nyeri
a.       Menjelaskan pada ibu tentang penyebab nyeri, nyeri disebabkan karena adanya kontraksi pada dinding rahim yang akan membantu mendorong janin untuk turun.
b.       Mengajarkan cara mengatasi nyeri, ibu dianjurkan jalan-jalan bila masih bisa atau ibu dianjurkan untuk mencari posisi yang nyaman dengan posisi miring ke kiri, agar pembukaan serviks lebih cepat.
c.       Menganjurkan ibu untuk menarik nafas panjang dan tidak meneran sampai pembukaan serviks lengkap.
d.      Melibatkan suami untuk membantu mengusap perut ibu.
3.       Memberikan penyuluhan cara mengedan efektif
a.       Menjelaskan manfaat mengedan efektif pada ibu, apabila ibu mengedan dengan baik dapat membantu mempercepat penurunan kepala dan pengeluaran bayi.
b.       Mengajarkan ibu cara mengejan efektif, dilakukan pada saat his dan telah memasuki kala II persalinan, ibu menarik napas panjang dan menahannya. Kedua kaki ibu ditarik ke arah perut dengan kedua tangan berada dilipat paha kepala diangkat dan melihat ke perut sehingga lengkungan badan dapan membantu mendorong.
4.       Menganjurkan ibu untuk minum air putih, teh, atau susu serta makan makanan ringan.
5.       Pertolongan persalinan yang aman dan nyaman
a.       Menyiapkan alat-alat yang sudah disterilkan
Partus set      :  Gunting episiotomi, gunting umbilikus, klem tali pusat, setengah kohcr, sarung tangaan, kateter nelaton.
Heating set    :  Nal folder, cut get, pinset dan klem
b.       Menyiapkan persalinan dan kelahiraan bayi dengan baik dan bahan-bahan perlengkapan serta obat-obatan yang diperlukan seperti oksitosin, lidokain, dan metergin.
c.       Menghargai privasi ibu, seperti menuturp pintu kamar dan menutup tirai jendela
d.      Menyiapkan lingkungan yang bersih, yaitu tempat tidur dan lingkungan yang bersih.
e.       Menganjurkan ibu untuk mencari posisi yang nyaman seperti miring kiri, miring kanan atau posisi duduk, atau menghidupkan kipas angin bila ibu merasa panas.
f.        Menyiapkan perlengkapan pelindung diri : mitela, kacamata, schort, masker, sarung tangan, dan sepatu boat.

VII.     Evaluasi
1.       Ibu mengerti dengan kondisinya saat ini bahwa ibu memasuki kala I fase laten
2.       Hasil pengawasan kala I dengan partograf
a.       DJJ                                   : 134 x/menit
b.       Penurunan kepala             : 4/5
c.       TTV                                  : TD ; 110/70, Pols : 78 x/menit,
                                                  RR : 18 x/menit, Temp : 360 C
d.      Pembukaan serviks           : 3 cm
e.       Frekuensi His                   : 3 x dalam 10 menit, kekuatan sedang
                                                  lamanya 20 detik.
3.       Ibu sudah lebih tenang, dengan kondisinya saat ini untuk menjalani proses persalinan dengan suami disampingnya yang mendampinginya.
4.       Ibu berbaring ke sebelah kiri untuk mengurangi rasa nyeri
5.       Ibu mengerti dengan penjelasan tentang cara mengedan efektif dan ibu dapat melakukannya dengan baik.
6.       Ibu mau minum air putih tapi ibu tidak mau makan makanan ringan.

Kala II
S       :  Ibu mengatakan mulas seperti ingin BAB dan keluar air dari kemaluannya

O      : Dilakukan pemeriksaan dalam pukul 17.30 WIB dengan hasil :
             1.   Dinding vagina tidak dapat kelainan
             2.   Konsistensi portio lunak, tipis, efficement 100%
             3.   Pembukaan serviks 10 cm, ketuban sudah pecah
             4.   Presentasi : Kepala, penurunan kepala di H. IV, ubun-ubun kanan depan (UUK)
             5.   DJJ           : 136 x/menit, teratur.

A      :  1.   Diagnosa
                   Ibu G1P0A0 inpartu kala II dengan kegagalan KB
                   Dasar   :  a.    Kontraksi uterus 5x dalam 10 menit, lamanya 45 detik
                                  b.   Pembukaan lengkap
                                  c.    Portio tidak teraba, ketuban sudah pecah, perineum menonjol, vulva membuka, anus mengembang.
                                  d.   DJJ : 136 x/menit
                                  e.    Ibu sebelumnya masih menggunakan alat kontrasepsi pil
             2.   Masalah : Ibu cemas menghadapi persalinan
                   Dasar   :  a.    Ibu memasuki kala II persalinan
                                  b.   Ibu terlihat cemas dan gelisah
             3.   Kebutuhan :
                   a.    Penyuluhan cara relaksasi
                   b.   Pertolongan persalinan yang aman dan nyaman
                   c.    Bimbingan ibu pada saat meneran

P       :  1.   Jelaskan kondisi ibu pada saat ini bahwa pembukaan serviks sudah 10 cm dan ibu memasuki proses persalinan untuk melahirkan bayinya.
             2.   Lakukan pengawasan kala II menggunakan partograf, pantau tenaga ibu, kontraksi uterus, pantau penurunan presentasi janin dan DJJ setelah kontraksi.
             3.   Anjurkan ibu untuk mengejan bila his datang
             4.   Lakukan pertolongan persalinan, lahirkan kepala, bahu dan tubuh bayi, kemudian lakukan observasi pernafasan.
                   Bayi lahir pukul 18.00 WIB:
                   BB : 3000 gr                     Jenis Kelamin  : laki-laki         Apgar  : 7/8
                   PB : 49 cm                       Anus                : (+)                
             5.   Lahirlah bayi seluruhnya pukul 18.00 WIB.
             6.   Bersihkan mulut bayi dengan menggunakan kassa untuk membebaskan jalan napas.
             7.   Letakkan bayi diatas handuk, keringkan bayi klem tali pusat dan potong tali pusat.
             8.   Observasi perdarahan pervaginam

Kala III
S       :  Ibu mengatakan perutnya terasa mulas

O      :  1.   K/U baik, kesadaran : composmentis
             2.   TD 110/80 mmHg,   RR : 22 x/menit,  Pols : 82 x/menit, Temp : 370 C
             3.   Jumlah perdarahan : 400 cc

A      :  1.   Diagnosa Ibu P2A0 partu kala III
                   Dasar   :  a.    Ibu telah selesai partus kala II pukul 14.00 WIB,           BB : 3000 gr, PB : 49 cm, Jenis Kelamin : laki-laki
                                  b.   Uterus teraba bulat dan keras, TFU 2 jari dibawah pusat
                                  c.    Plasenta belum lahir
             2.   Masalah  : Potensial terjadinya retensio plasenta
                   Dasar   :  a.    Ibu mengatakan nyeri pada perut bagian bawah
                                  b.   Plasenta belum lahir
                                  c.    Kontraksi uterus baik
                                  d.   TFU 2 jari di bawah pusat
             3.   Kebutuhan    :  a.   Pemenuhan nutrisi dan cairan
                                            b.   Segera lakukan manajemen aktif kala III

P       :  1.   Jelaskan kondisi ibu pada saat ini bahwa ibu akan melahirkan plasenta
             2.   Lakukan pemeriksaan TTV
             3.   Lakukan manajemen aktif kala III
                   a.    Pemberian oksitosin 10 IU / IM
                   b.   Lakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT)
             4.   Lahirkan plasenta
                   Plasenta lahir lengkap pukul 18.10 WIB
                   a.    Katiledon dan selaput utuh
                   b.   Panjang tali pusat       : 40 cm
                   c.    Lebar plasenta            : 15 cm
                   d.   Berat plasenta            : 500 gram
                   e.    Tebal plasenta            : 2 cm
                   f.    Insersi                         : marginal
             5.   Lakukan masase fundus selama 15 detik
             6.   Lakukan vulva hygiene, bersihkan daerah perineum ibu
             7.   Libatkan keluarga dalam memberikan motivasi dan dukungan pada ibu

Kala IV
S       :  Ibu mengatakan perutnya terasa mulas, badannya terasa pegal dan lemas

O      :  1.   Pemeriksaan tanda vital
                   TD : 110/70 mmHg, RR : 22 x/menit, Pols : 84 x.menit,                 Temp : 37,50 C       
             2.   Keadaan kandung kemih kosong
             3.   TFU 2 jari dibawah pusat
             4.   Kontraksi uterus baik
             5.   Perdarahan pervaginam 150 cc
             6.   Bayi lahir pukul 14.00 WIB, BB : 3000 gram, jenis kelamin : laki-laki

A      :  1.   Diagnosa    : Ibu P4A0 partus spontan pervaginam, partus kala IV
                   Dasar   :  a.    Ibu partus spontan pervaginam pukul 14.00 WIB
                                  b.   Plasenta lahir lengkap pukul 14.10 WIB
                                  c.    Pengeluaran lochea rubra
                                  d.   Kontraksi uterus baik
                                  e.    TFU 2 jari di bawah pusat
             2.   Masalah  : Potensial terjadi perdarahan post partum
                   Dasar   :  1.   Plasenta lahir pukul 18.10 WIB
                                  2.   Perdarahan pervaginam berupa lochea rubra
             3.   Kebutuhan    :  1.   Penyuluhan tentang personal hygiene
                                            2.   Mobilisasi dini
                                            3.   Penyuluhan tentang pemberian ASI sedini mungkin
                                            4.   Penyuluhan tentang nutrisi ibu menyusui

P       :  1.   Berikan penyuluhan tentang personal hygiene
             2.   Pemenuhan mobilisasi dini
                   a.    Ibu miring kekanan dan miring ke kiri
                   b.   Ibu boleh berjalan sesudah 6 jam
             3.   Berikan penyuluhan tentang pentingnya pemberian ASI sedini mungkin
             4.   Berikan penyuluhan tentang pemenuhan nutrisi bagi ibu menyusui.
                  

DAFTAR PUSTAKA


Dep.Kes., RI, 1993, Buku Pedoman Petugas Fasilitas Pelayanan KB, Jakarta

Manuaba, IBG., 1998, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan, ; Jakarta : EGC

Nelson, 2000, Ilmu Kesehatan Anak Volume 1, Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar