Senin, 16 Juli 2012

MAKALAH SPERMISIDA


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Kontrasepsi adalah suatu cara atau alat yang digunakan untuk mencegah kehamilan. Biasanya wanita menggunakan kontrasepsi untuk menunda kehamilan pertamanya dahulu atau menjarangkan kelahiran dengan anak berikutnya.
Dengan adanya berkontrasepsi maka bisa membuat menjadi keluarga sejahterah dan kontrasepsi disediakan dengan sistim kafetaria. Ditahun 2000 program KB telah berhasil mencegah kelahiran sekitar 80 juta jiwa. Bila terjadi peningkatan program KB baik untuk penduduk Indonesia sudah mencapai 2,27 jiwa. Komposisi penduduk Indonesia di tahun 1971 sekitar 118 juta dan ditahun 2008 mencapai 227 juta jiwa.
Wanita di Indonesia untuk berkontrasepsi paling diminati KB suntik dan yang terendah KB Kondom. Menurut Kepala BKKBN dr. Sugiri Sjarief, MPA mengatakan, sebagai suatu kebutuhan, kontrasepsi terkait dengan kebutuhan fisik dan sosial. Sebagai kebutuhan fisik, kontrasepsi memiliki peranan dalam setiap reproduksi yaitu menunda kehamilan, menjarangkan / mengakhiri kesuburan sehingga kontrasepsi yang digunakan sesuai dengan tujuan pengaturan kelahirannya dan kondisi fisik biologisnya.
  1. Salah satu bentuk alat kontrasepsi pertama dalam sejarah adalah vaginal suppository yang dilubrikasi dengan menggunakan madu oleh wanita Mesir pada tempo dulu.
  2. Kondom banyak digunakan pada peradaban kuno dan kebanyakan terbuat dari kain linen dan jaringan binatang.
  3. Pil KB pertama mendapatkan ijin edar di Amerika tahun 1960 dan digunakan oleh setengah juta wanita.
  4. Sekitar 85 % wanita aktif secara seksual yang tidak menggunakan kontrasepsi akan hamil dalam waktu 1 tahun, alasan wanita tidak menggunakan alat tersebut karena kurangnya kesadaran akan resiko terjadinya kehamilan.
  5. Harga dari alat kontrasepsi dijadikan alasan oleh 1/3 wanita untuk tidak menggunakan     alat kontrasepsi.
Prevalensi peserta KB di Indonesia adalah mencapai 66,2 % dengan angka prevalensi peserta KB tertinggi di Bali 77 % dan terendah di Papua 44 %. Salah satu berita disitus milik BKKBN 2,3 juta aborsi tiap tahun dilakukan di Indonesia. Angka kepersertaan KB kaum pria di Indonesia mencapai 5 %.

1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengenal jenis kontrasepsi Spermisida, dan pembahasan dalam makalah ini meliputi beberapa hal sebagai berikut :
  1. Pengertian kontrasepsi Spermisida.
  2. Jenis kontrasepsi Spermisida
  3. Cara kerja kontrasepsi Spermisida
  4. Pilihan kontrasepsi Spermisida
  5. Manfaat kontrasepsi Spermisida
  6. Keterbatasan kontrasepsi Spermisida
  7. Cara pakai kontrasepsi Spermisida
  8. Dan Penanganan bila ada atau terjadi efek samping dari pemakaian kontrasepsi Spermisida.







BAB 2
PEMBAHASAN


2.1. Pengertian
Spermisida adalah alat kontrasepsi yang mengandung bahan kimia (non oksinol-9)  yang digunakan untuk membunuh sperma.
Spermisida merupakan alat kontrasepsi sederhana yang mengandung zat  kimia untuk membunuh sperma, dimasukkan ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan seksual untuk mencegah kehamilan. Sebagai alat kontrasepsi, spermisida dapat digunakan sendiri. Namun demikian, akan jauh lebih efektif bila dikombinasikan dengan alat kontrasepsi lain seperti kondom, diafragma, cervical caps ataupun spons. Bentuk spermisida bermacam-macam, antara lain: aerosol (busa), krim dan jeli, vaginal contraceptive film/tissue, maupun suppositoria.
Contraceptive Technology menyatakan bahwa angka kegagalan dari alat kontrasepsi spermisida ini 18 persen per tahun apabila digunakan dengan benar dan konsisten dan 29 persen apabila digunakan tidak sesuai petunjuk dan kurang berkesinambungan.

2.2. Jenis
Jenis spermisida terbagi menjadi:
  1. Aerosol (busa).
  1. Tablet vagina, suppositoria atau dissolvable film.

  1. Krim.


2.3. Cara Kerja
Cara kerja dari spermisida adalah sebagai berikut:
  1. Menyebabkan sel selaput sel sperma pecah.
  2. Memperlambat motilitas sperma.
  3. Menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.

2.4. Pilihan
Pilihan
1.      Aerosol (busa) akan efektif setelah dimasukkan (insersi).
2.      Aerosol dianjurkan bila spermisida digunakan sebagai pilihan pertama atau metode kontrasepsi lain tidak sesuai dengan kondisi klien.
3.      Tablet vagina, suppositoria dan film sangat mudah dibawa dan disimpan. Penggunaannya dianjurkan menunggu 10-15 menit setelah dimasukkan (insersi) sebelum hubungan seksual.
4.      Jenis spermisida jeli biasanya digunakan bersamaan dengan diafragma.

2.5. Manfaat
Alat kontrasepsi spermisida ini memberikan manfaat secara kontrasepsi maupun non kontrasepsi.
Manfaat kontrasepsi
1.      Efektif seketika (busa dan krim).
2.      Tidak mengganggu produksi ASI.
3.      Sebagai pendukung metode lain.
4.      Tidak mengganggu kesehatan klien.
5.      Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
6.      Mudah digunakan.
7.      Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual.
8.      Tidak memerlukan resep ataupun pemeriksaan medik.
Manfaat non kontrasepsi
Memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual termasuk HBV dan HIV/AIDS.

2.6. Keterbatasan
1.       Efektifitas kurang (bila wanita selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk, angka kegagalan 15 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun dan bila wanita tidak selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk maka angka kegagalan 29 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun).
2.       Spermisida akan jauh lebih efektif, bila menggunakan kontrasepsi lain (misal kondom).
3.       Keefektifan tergantung pada kepatuhan cara penggunaannya.
4.       Tergantung motivasi dari pengguna dan selalu dipakai setiap melakukan hubungan seksual.
5.       Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah spermisida dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual.
6.       Hanya efektif selama 1-2 jam dalam satu kali pemakaian.
7.       Harus selalu tersedia sebelum senggama dilakukan.
Penilaian Klien Meskipun tidak memerlukan pemeriksaan khusus, namun perlu diperhatikan kondisi pengguna alat kontrasepsi spermisida. Hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

2.7.  Cara Pakai Spermisida
Petunjuk Umum
  1. Sebagai alat kontrasepsi, spermisida harus diaplikasikan dengan benar sebelum melakukan hubungan seksual.
  2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum mengisi aplikator (busa atau krim) dan insersi spermisida.
  3. Jarak tunggu 10-15 menit pasca insersi spermisida sebelum melakukan hubungan seksual. Kecuali bentuk spermisida aerosol (busa), tidak memerlukan waktu tunggu karena langsung larut dan bekerja aktif.
  4. Perhatikan petunjuk pemakaian spermisida, baik cara pemakaian maupun penyimpanan dari setiap produk (misal: kocok terlebih dahulu sebelum diisi ke dalam aplikator).
  5. Ulangi pemberian spermisida, bila dalam 1-2 jam pasca insersi belum terjadi senggama atau perlu spermisida tambahan bila senggama dilanjutkan berulang kali.
  6. Menempatkan spermisida jauh ke dalam vagina agar kanalis servikalis tertutup secara keseluruhan.
Di bawah ini merupakan cara pemakaian alat kontrasepsi spermisida sesuai dengan bentuknya:
  1. Aerosol (busa)
Cara pemakaian:
Sebelum digunakan, kocok tempat aerosol 20-30 menit. Tempatkan kontainer dengan posisi ke atas, letakkan aplikator pada mulut kontainer dan tekan untuk mengisi busa. Masukkan aplikator ke dalam vagina mendekati serviks dengan posisi berbaring. Dorong sampai busa keluar. Ketika menarik aplikator, pastikan untuk tidak menarik kembali pendorong karena busa dapat masuk kembali ke pendorong. Aplikator segera dicuci menggunakan sabun dan air kemudian keringkan. Aplikator sebaiknya digunakan untuk pribadi. Spermisida aerosol (busa) dimasukkan dengan segera, tidak lebih dari satu jam sebelum melakukan hubungan seksual.
  1. Krim dan Jeli
Cara pemakaian:
Krim dan jeli dapat dimasukkan ke dalam vagina dengan aplikator dan atau mengoles di atas penis. Krim atau jeli biasanya digunakan dengan diafragma atau kap serviks, atau dapat juga digunakan bersama kondom. Masukkan spermisida 10-15 menit sebelum melakukan hubungan seksual. Isi aplikator dengan krim atau jeli. Masukkan aplikator ke dalam vagina mendekati serviks. Pegang aplikator dan dorong sampai krim atau jeli keluar. Kemudian tarik aplikator keluar dari vagina. Aplikator segera dicuci menggunakan sabun dan air kemudian keringkan. Cara memasukkan spermisida bentuk busa, krim atau jeli dengan inserter.

  1. Kontrasepsi Vagina Film/Tissue
Cara pemakaian:
Sebelum membuka kemasan, terlebih dahulu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Spermisida bentuk film/ tissue ini berupa kotak-kotak tipis yang larut dalam serviks. Untuk menggunakannya, lipat film menjadi dua dan kemudian letakkan di ujung jari. Masukkan jari Anda ke dalam vagina dan dorong film ke dalam vagina mendekati serviks. Keadaan jari yang kering dan cara memasukkan film secepat mungkin ke dalam vagina, akan membantu penempelan dan jari tidak menjadi lengket. Tunggu sekitar 15 menit agar film larut dan bekerja efektif.
Suppositoria
Cara pemakaian:
Suppositoria merupakan spermisida berbentuk kapsul yang dapat larut dalam vagina. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum membuka kemasan. Lepaskan tablet vagina atau suppositoria dari kemasan. Sambil berbaring, masukkan suppositoria jauh ke dalam vagina. Tunggu 10-15 menit sebelum melakukan hubungan seksual. Sediakan selalu tablet vagina atau suppositoria. Cara memasukkan spermisida bentuk suppositoria.


2.8. Penanganan Efek Samping
Beberapa perempuan yang memakainya mengeluh gatal-gatal atau lecet dalam vagina. Pemakaian alat kontrasepsi spermisida juga mempunyai efek samping dan masalah lain. Di bawah ini merupakan penanganan efek samping dan masalah-masalah yang timbul akibat pemakaian spermisida.
Bila spermisida langsung dipakai dalam vagina, dalam bentuk tablet, masukkan 10 sampai 15 menit menjelang berhubungan seks. Spermisida dalam bentuk busa, jeli, atau krim sebaiknya dioleskan persisi sebelum berhubungan seks.
Bila Anda memasukkan spermisida ke dalam vagina, tapi sudah lebih dari 1 jam berlalu dan hubungan seks belum berlangsung juga, tambahkan lagi tabletnya. Jika Anda melakukan hubungan seks berkali-kali secara berurutan, tambahkan spermisida setiap kali.
Efektivitas                   : Kehamilan terjadi pada 6-26/ 100 wanita
Keuntungan                : Tidak mengganggu kesehatan, berfungsi sebagai pelumas,
dapat mencegah PMS bakterial
Kerugian                     : Angka kegagalan tinggi, dapat meningkatkan transmisi virus
HIV, hanya efektif; 1-2 jam, rasa yang tidak enak


BAB 3
PENUTUP


3.1. Kesimpulan dan Saran
Spermisida adalah agen yang menghancurkan membran sel sperma dan menurunkan motilitas (pergerakan) sperma. Tipe spermisida mencakup foam aerosol, krim, vagina suposituria, jeli, sponge (busa) yang dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual.
Gerakan pada waktu berhubungan akan menyebarkan busa sehinga busa akan meliputi leher rahim dan mencegah masuknya sperma ke dalam rahim.  Bahan kimia yang dikandungnya dapat terdiri atas nonoxynol 9 atau nonilfenoksi polietanol. Penggunaan spermisida kurang efektif apabila tidak dikombinasi dengan kontrasepsi lain seperti kondom atau diafragma.
Bila spermisida langsung dipakai dalam vagina, dalam bentuk tablet, masukkan 10 sampai 15 menit menjelang berhubungan seks. Spermisida dalam bentuk busa, jeli, atau krim sebaiknya dioleskan persisi sebelum berhubungan seks.
Bila Anda memasukkan spermisida ke dalam vagina, tapi sudah lebih dari 1 jam berlalu dan hubungan seks belum berlangsung juga, tambahkan lagi tabletnya. Jika Anda melakukan hubungan seks berkali-kali secara berurutan, tambahkan spermisida setiap kali








KEPUSTAKAAN


Birth-control-comparison.info/spermicide.htm diunduh 8 Maret 2010, 05:56 PM. emedicinehealth.com/birth_control_spermicides/article_em.htm diunduh 9 Maret 2010, 12:21 PM. en.wikipedia.org/wiki/Spermicide diunduh 11 Maret 2010, 11:42 AM. health.alberta.ca/documents/Birth-control-Spermicide.pdf diunduh 10 Maret 2010, 7:32 PM. hu-berlin.de/sexology/ATLAS_EN/html/methods_of_contraception.html diunduh 10 Maret 2010, 7:24 PM.
Saifuddin, BA. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. (Bagian Kedua MK 24- MK 27).
Where Women Have No Doctor: A Health Guide for Women, 1997. The Hesperian Foundation, Berkeley, California




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar