Senin, 16 Juli 2012

Makalah Histerektomi (Operasi Pengangkatan Rahim)


BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Rahim merupakan jaringan otot yang kuat terletak di pelvis minor diantara kandung kemih dan rectum. Dinding belakang dan dinding depan rahim dan bagian atas rahim tetutup peritonium. Sedangkan bagian bawahnya berhubungan dengan kandung kemih. Untuk mempertahankan posisinya rahim disangga oleh beberapa ligamentum, jaringan ikat dan parametrium. Dinding rahim terdiri dari tiga lapisan :
  1. Peritonium
Peritonium meliputi dinding rahim bagian luar dan menutupi bagian uterus peritonium merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah limfe serta urat syaraf.
    • Tonjolan yang tepat diatas tulang selangka di dekat kemaluan wanita;
    • Bibir besar pada alat kelamin wanita bagian luar
    • Bibir kecil pada alat kelamin wanita bagian luar
    • Organ erektil kecil pada amniota betina
    • Bagian luar alat kelamin wanita
    • Jaringan konektif yang menguatkan tulang
    • Jaringan ikat penyangga.
  1. Lapisan otot
Susunan otot rahim terdiri dari tiga lapisan, yaitu : lapisan luar, dalam, dan tengah. Lapisan luar berbentuk cup melengkung dari fundus uteri menuju ligamentum. Lapisan dalam berasal dari osteum tuba uteri sampai osteum uteri internum. Lapisan tengah terletak diantara ke-2 lapisan tersebut, membentuk lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan tengah ditembus oleh pembuluh darah ateri dan vena. Lengkungan serabut otot ini membentuk angka delapan, sehingga saat terjadi kontraksi pembuluh darah terjepit rapat, dengan demikian pendarahan dapat terhenti.
  1. Endometrium (selaput lendir kavum uteri)
Endometrium Pada endometrium terdapat lubang kecil yang merupakan muara dari kelenjar endometrium. Variasi tebal tipisnya, fase pengeluaran lendir endometrium ditentukan oleh perubahan hormonal dalam siklus menstruasi.
Kedudukan uterus dalam tulang panggul ditentukan oleh otot rahim sendiri, otot tonus ligamentum yang menyangga dan tonus otot-otot dasar panggul. Ligamentum yang menyangga uterus adalah ligamentum latum, ligamentum rotundum, dan ligamentum infundibulopelvikum.
Histerektomi berasal dari bahasa yunani yakni hystera yang berarti “rahim” dan ektmia yang berarti “pemotongan”. Histerektomi berarti operasi pengangkatan rahim.  Beberapa keadaan yang memerlukan pengangkatan rahim :
  1. Mioma uteri
  2. Endometriosis berat dan Adenomiosis
  3. Kanker mulut rahim dan badan rahaim
  4. Kanker indung telur
Pelaksanaan histerektomi dengan pendekatan vaginal sebagai cara pengangkatan kandungan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dianggap lebih baik dibanding dengan teknik yang lain. Para dokter bedah ginekologi mempunyai kewajiban memberikan akses cara operasi yang paling baik yang bisa dilakukan dalam suasana klinis yang ada. (Prof Dr dr H Ibnu Pranoto SpOG(K) SpAnd
‘Histerektomi Vaginal sebagai Cara Pengangkatan Kandungan untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Wanita’. dalam histerektomi maka jalan yang paling baik pendekatan vaginal atau histerektomi vaginal yang merupakan rute primer paling baik.
Pelaksanaan itu dilanjutkan dengan kolporafi anterior, perineoplasti yang merupakan operasi vaginoplasti dan memberikan kepuasan seksual bagi pasangan yang masih aktif. Penggunaan metode histerektomi abdominal masih lebih banyak dibandingkan dengan histerektomi vaginal, namun saat ini penggunaan metode histerektomi vaginal meningkat karena beberapa keuntungan.
Histerektomi abdominal merupakan tindakan operasi yang invasif pada perempuan dengan kelainan ginekologik. Prosedur terbaru yaitu histerektomi laparoskopik memerlukan kemampuan operasi yang tinggi, sedang histerektomi vaginal tidak memiliki luaran yang lebih buruk dan dinilai lebih aman.

1.2. Tujuan
Berdasar kan latar belakang di atas, maka tujuan dari penyususnan makalah ini adalah untuk membahas tentang Histerektomo (Operasi Pengangkatan Rahim). Yang bertujaun untuk :
1.      Mengetahui Anatomi Rahim Wanita
2.      Mengetahui Pngertian Histerektomi
3.      Mengetahui Etiologi dari Operasi Histerektomi
4.      Mengetahui Klasifikasi Histerektomi
5.      Agar mahasiswi dapat Mengetahui dan memahami dengan lebih jelas tentang cara melakukan Opeasi Histerektomi
6.      Agar Mahasiswi Mengetahui dan Memahami dengan lebih jelas Teknik Operasi Histerektomi
7.      Dan mengetahui apa efek samping dan komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien setelah melakukan Operasi Histerektomi







BAB 2
PEMBAHASAN



2.1. Anatomi Rahim

 
Rahim atau uterus adalah organ reproduksi betina yang utama pada kebanyakan mamalia, termasuk manusia. Salah satu ujungnya adalah serviks, membuka ke dalam vagina, dan ujung satunya yang lebih luas, yang dianggap badan rahim, disambung di kedua pihak dengan tabung Fallopian. Rahim terdapat dalam berbagai bentuk dan ukuran di organisme yang berbeda. Pada manusia adalah berbentuk buah pir. Beberapa organisme seperti kelinci, kambing dan kuda mempunyai rahim bipartite atau "bertanduk".
Rahim ditempatkan di pelvis dan dorsal (dan biasanya agak kranial) ke kandung kemih dan ventral ke rektum. Rahim ditahan pada tempatnya oleh beberapa ligamen. Di luar kehamilan, ukuran garis tengahnya adalah beberapa sentimeter. Rahim kebanyakan terdiri dari otot. Lapisan permanen jaringan itu yang paling dalam disebut endometrium. Pada kebanyakan mamalia, termasuk manusia, endometrium membuat lapisan pada waktu-waktu tertentu yang, jika tak ada kehamilan terjadi, dilepaskan atau menyerap kembali.
Lepasnya lapisan endometrial pada manusia disebabkan oleh menstruasi (dikenal dengan istilah "datang bulan" seorang wanita) sepanjang tahun-tahun subur seorang wanita. Pada mamalia lain mungkin ada siklus yang panjang selama enam bulan atau sesering beberapa hari saja. Fungsi utama rahim menerima pembuahan ovum yang tertanam ke dalam endometrium, dan berasal makanan dari pembuluh darah yang berkembang secara khusus untuk maksud ini. Ovum yang dibuahi menjadi embrio, berkembang menjadi fetus dan gestates sampai kelahiran.
Karena rintangan anatomis seperti pelvis, rahim didorong sebagian ke dalam perut sampai perluasannya selama kehamilan. Di kehamilan pun rahim manusia beratnya hanya sekitar sekilogram (2.2 pon)

2.2.  Pengertian  Histerektomi
  1. Histerektomi adalah operasi pengangkatan kandungan (rahim, uterus) seorang wanita. Dengan demikian, setelah menjalani histerektomi seorang wanita tidak mungkin lagi untuk hamil dan mempunyai anak. Histerektomi biasanya dilakukan karena berbagai alasan. Penyebab yang paling sering dilakukan histerektomi adalah adanya kanker mulut rahim atau kanker rahim.
  2. Operasi pengangkatan kandungan (histerektomi) merupakan pilihan berat bagi seorang wanita. Pasalnya, tindakan medis ini menyebabkan kemandulan dan berbagai efek lainnya. Oleh karena itu, histerektomi hanya dilakukan pada penyakit-penyakit berat pada kandungan (uterus).
  3. Banyak hal yang dapat 'memaksa' praktisi medis dan pasien untuk memilih tindakan pengangkatan kandungan. Fibroid atau mioma merupakan salah satu penyebab tersering. Penyebab lainnya adalah endometriosis, prolapsus uteri (uterus keluar melalui vagina), kanker  (pada uterus, mulut rahim, atau ovarium), perdarahan per vaginam yang menetap, dan lain-lain.


2.3.  Etiologi
    • Fibroid, yaitu tumor jinak rahim, terutama jika tumor ini menyebabkan perdarahan berkepanjangan, nyeri panggul, anemia, atau penekanan pada kandung kencing.
    • Endometriosis, dimana dinding rahim bagian dalam seharusnya tumbuh di rahim saja, tetapi ikut tumbuh di indung telur (ovarium), tuba Fallopi, atau organ perut dan rongga panggul lainnya.
    • Prolapsus uteri, yaitu keluarnya kandungan melalui vagina.



2.4.  Klasifikasi
1.      Histerektomi parsial (subtotal). Pada histerektomi jenis ini, kandungan diangkat tetapi mulut rahim (serviks) tetap ditinggal. Oleh karena itu, penderita masih dapat terkena kanker mulut rahim, sehingga masih perlu pemeriksaan Pap smear secara rutin.
2.      Histerektomi total, yaitu mengangkat kandungan termasuk mulut rahim.
3.      Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral, yaitu pengangkatan uterus, mulut rahim, kedua tuba fallopi, dan kedua ovarium. Pengangkatan ovarium menyebabkan keadaan seperti menopause.
4.      Histerektomi radikal, dimana histerektomi diikuti dengan pengangkatan bagian atas vagina serta jaringan dan kelenjar limfe di sekitar kandungan. Operasi ini biasanya dilakukan pada beberapa jenis kanker tertentu.
5.      Selain itu, histerektomi dapat dilakukan melalui irisan di perut atau melalui vagina. Pilihan teknik ini tergantung pada jenis histerektomi yang akan dilakukan, jenis penyakit yang mendasari, dan berbagai pertimbangan lain.

 
2.5.  Cara Melakukan Operasi Histerektomi
Sedangkan cara operasi histerektomi juga terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1.      Histerektomi abdominal, dimana pengangkatan kandungan dilakukan melalui irisan pada perut, baik irisan vertikal maupun horisontal (Pfanenstiel). Keuntungan teknik ini adalah dokter yang melakukan operasi dapat melihat dengan leluasa uterus dan jaringan sekitarnya dan mempunyai cukup ruang untuk melakukan pengangkatan uterus. Cara ini biasanya dilakukan pada mioma yang berukuran besar atau terdapat kanker pada uterus. Kekurangannya, teknik ini biasanya menimbulkan rasa nyeri yang lebih berat, menyebabkan masa pemulihan yang lebih panjang, serta menimbulkan jaringan parut yang lebih banyak.


2.      Histerektomi vaginal, dilakukan melalui irisan kecil pada bagian atas vagina. Melalui irisan tersebut, uterus (dan mulut rahim) dipisahkan dari jaringan dan pembuluh darah di sekitarnya kemudian dikeluarkan melalui vagina. Prosedur ini biasanya digunakan pada  prolapsus uteri. Kelebihan tindakan ini adalah kesembuhan lebih cepat, sedikit nyeri, dan tidak ada jaringan parut yang tampak.



CONTOH GAMBAR OPERASI HISTERETOMI VAGINAL
 
 


3.      Histerektomi laparoskopi. Teknik ini ada dua macam yaitu histeroktomi vagina yang dibantu laparoskop (laparoscopically assisted vaginal hysterectomy, LAVH) dan histerektomi supraservikal laparoskopi (laparoscopic supracervical hysterectomy, LSH). LAVH mirip dengan histerektomi vagnal, hanya saja dibantu oleh laparoskop yang dimasukkan melalui irisan kecil di perut untuk melihat uterus dan jaringan sekitarnya serta untuk membebaskan uterus dari jaringan sekitarnya. LSH tidak menggunakan irisan pada bagian atas vagina, tetapi hanya irisan pada perut. Melalui irisan tersebut laparoskop dimasukkan. Uterus kemudian dipotong-potong menjadi bagian kecil agar dapat keluar melalui lubang laparoskop. Kedua teknik ini hanya menimbulkan sedikit nyeri, pemulihan yang lebih cepat, serta sedikit jaringan parut.


Setelah histerektomi, siklus haid atau menstruasi akan berhenti dan wanita tidak dapat lagi hamil. Jika pada histerektomi juga dilakukan pengangkatan ovarium (indung telur), maka dapat timbul menopause dini.
Pada umumnya tindakan pengangkatan rahim ini dilakukan menggunakan teknik open surgery, dengan membuat sayatan sekitar 15 cm pada dinding perut.
Namun saat ini tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara yang lebih baik, yakni melalui vagina atau menggunakan laparoskopi. Kedua tindakan ini  lebih baik dibandingkan dengan open surgery karena waktu penyembuhan yang lebih cepat, nyeri pasca  operasi lebih ringan, serta tidak meninggalkan jaringan parut (bekas luka) besar di peut. Pada operasi  pengangkatan rahim melalui vagina bahkan tidak ada luka sama sekali di perut.  Laparoskopi memberi keuntungan dapat melihat keadaan organ di sekitar rahim sehingga apabila  didapatkan perlengketan atau kelainan pada organ di sekitar rahim, lebih mudah untuk melakukan  tindakan untuk memperbaikinya.

2.6.  Teknik Operasi
Tindakan pengangkatan rahim menggunakan laparoskopi dilakukan menggunakan anestesi (pembiusan)  umum atau total. Waktu yang diperlukan bervariasi tergantung beratnya penyakit, berkisar antara 40 menit hingga tiga jam. Pada kasus keganasan stadium awal, tindakan histerektomi radikal dapat pula  dilakukan menggunakan laparoskopi. Untuk ini diperlukan waktu operasi yang relatif lebih lama.
Apabila dilakukan histerektomi subtotal, maka jaringan rahim dikeluarkan menggunakan alat khusus yang disebut morcellator sehingga dapat dikeluarkan melalui llubang 10 mm.
Apabila dilakukan histerektomi total, maka jaringan rahim dikeluarkan melalui vagina, kemudian vagina dijahit kembali.
Operasi dilakukan umumnya menggunkan empat lubang kecil berukuran 5 10 mm, satu di pusar dan tiga di perut bagian bawah. 
 
2.7.  Komplikasi dan efek samping
Komplikasi histerektomi menggunakan laparoskopi pada umumnya sama dengan tindakan operasi  laparoskopi lainnya, diantaranya :
  • Cedera pada organ sekitar seperti usus, kandung kencing, ureter. Hal ini terutama timbul apabila didapatkan  perlengketan hebat pada organorgan tersebut.
  • Perdarahan : perdarahan yanga cukup banyak kadangkala memerlukan transfusi darah
  • Infeksi : Jarang dijumpai
  • Perubahan teknik operasi menjadi open surgery : pada beberapa keadaan misalnya perlengketan yang sangat hebat, operasi laparoskopi lebih membawa resiko sehingga open surgery lebih dipilih.


















BAB 3
PENUTUP


3.1. Kesimpulan
  1. Histerektomi adalah operasi pengangkatan kandungan (rahim, uterus) seorang wanita. Dengan demikian, setelah menjalani histerektomi seorang wanita tidak mungkin lagi untuk hamil dan mempunyai anak.
  2. Histerektomi biasanya dilakukan karena berbagai alasan. Penyebab yang paling sering dilakukan histerektomi adalah adanya kanker mulut rahim atau kanker rahim. Beberapa penyebab lain adalah :
    • Fibroid, yaitu tumor jinak rahim, terutama jika tumor ini menyebabkan perdarahan berkepanjangan, nyeri panggul, anemia, atau penekanan pada kandung kencing.
    • Endometriosis, dimana dinding rahim bagian dalam seharusnya tumbuh di rahim saja, tetapi ikut tumbuh di indung telur (ovarium), tuba Fallopi, atau organ perut dan rongga panggul lainnya.
    • Prolapsus uteri, yaitu keluarnya kandungan melalui vagina.
    • Dan lain-lain.

3.2. Saran
Selain itu, histerektomi dapat dilakukan melalui irisan di perut atau melalui vagina. Pilihan teknik ini tergantung pada jenis histerektomi yang akan dilakukan, jenis penyakit yang mendasari, dan berbagai pertimbangan lain.
Pemulihan dari operasi histerektomi biasanya berlangsung dua hingga enam minggu. Selama masa pemulihan, pasien dianjurkan untuk tidak banyak bergerak yang dapat memperlambat penyembuhan bekas luka operasi. Dari segi makanan,? disarankan untuk menghindari makanan yang menimbulkan gas seperti kacang buncis, kacang panjang, brokoli, kubis dan makanan yang terlalu pedas. Seperti setelah operasi lainnya, makan makanan yang kaya protein dan meminum cukup air akan membantu proses pemuihan.




























KEPUSTAKAAN



Bacaan :
Dey, S. K., Lim, H., Das, S. K., Reesee, J., Paria, B.C., Daikoku, T., and Wang, H. 2003.  Molecular Cues to Implantation. Endocrine Reviews. 95, 7191-7196.
Hakimi, M. 1996. Fisiolgi dan Patologi Persalinan. Yayasan Essentia Medica. Jakarta.
Manuaba, I. 1998. Ilmu kebidana dan Penyakit Kandungan. EGC. Jakarta.
Sylvia, W. C., James, C., Page, M and Korach, K.S. 1999. Disruption of estrogen signaling does not prevent progesterone action in the estrogen receptor knockout mouse   uterus. J. Biochemistry Vol. 96 3646-3651.
Abercrombie. 1993. Kamus Lengkap Biologi. Erlangga. Jakarta.
Bibhas, C., Paria., Ma, W., Tan, J., Raja, S., Sonjoy, K., Sudhansu, K., Dey. Brigid, L., M., Hogan. 2000.  Cellular and molecular responses of the uterus to embryo implantation can be elicited by locally applied growth factors.  J. Dev. Bio. 98, 1047-1052.

Internet :
WikiPedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Hysterectomy
MecineNet: http://www.medicinenet.com/hysterectomy/article.htm
WomensHealth: http://www.womenshealth.gov/faq/hysterectomy.cfm
WomensHealthChannel: http://www.womenshealthchannel.com/hysterectomy/index.shtml

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar