Senin, 16 Juli 2012

MAKALAH KB SUHU BASAL


BAB 1
PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang
Metode kontrasepsi sempurna belum dapat diciptakan oleh manusia. Setiap metoda kontrasepsi memiliki keuntungan dan kerugian masing- masing. Terkadang seorang wanita mencoba berbagai macam alat kontrasepsi sebelum menemukan metoda kontrasepsi yang cocok dan memuaskan. Bidan perlu memberikan pertimbangan-pertimbangan yang membantu seorang wanita memilih metoda yang paling memenuhi kebutuhan mereka.
Pertimbangan-pertimbangan tersebut antara lain:
1.        Keamanan
2.        Perlindungan terhadap penyakit menular seksual
3.        Efektifitas
4.        Pilihan pribadi dan kecendrungan
5.        Education needed
6.        Efek samping
7.        Pengaruh pada kepuasan seksual
8.        Ketersediaan
9.        Biaya
10.    Agama dan kepercayaan
11.    Budaya
12.    Informed consent
Metoda kontrasepsi
a.       Tujuan penggunaan kontrasepsi Dalam keluarga berencana, penggunaan metoda kontrasepsi menjadi sangat penting dengan tujuan
1.      Menunda kehamilan
2.      Menjarangkan kehamilan
3.      Meniadakan kehamilan ( mengakhiri kesuburan )
Jenis-jenis metoda kontrasepsi Beberapa jenis metoda kontrasepsi yang dapat dipakai adalah :
1.      Metoda biologi/alamiah
2.      Metoda kimiawi
3.      Metoda mekanik
4.      Metoda pembedahan
Metode keluarga berencana alami telah banyak digunakan di masa lalu oleh berbagai kelompok agama seperti penganut Katolik Roma.. Metode ini dilakukan dengan mengamati perubahan tubuh tertentu yang menandai ovulasi. Dari informasi ini, pasangan dapat memilih pantang coitus dan menggunakannya sebagai metode keluarga berencana mereka, atau menggunakan masa subur ini untuk emlakukan koitus untuk meningkatkan kehamilan, yang disebut sebagai kesadaran kesuburan.
Metode keluarga berencana alami sebelumnya disebut pantang berkala, masa aman dan metode irama. Baru belakangan ini metode tersebut dipromosikan kepada wanita sebagai suatu metode kesadaran terhadap kesuburan, dan seiring makin banyak wanita menunda kehamilan, metode ini menjadi pilihan yang semakin popular. Pada tahun 1930, Ogino di Jepang dan pada tahun 1933, Knaus di Australia, menemukan bahwa konsepsi berlangsung di antara siklus menstruasi, dan masa dari ovulasi ke masa menstruasi berikutnya selalu sama tanpa mempertimbangkan siklus tersebut.
Dengan menggunakan informasi ini mereka mengembangkan metode kalender. Pada masa ini metode perubahan lender serviks diperhatikan oleh Seguy dan Vimeux. Pada tahun 1947 Ferin mula-mula memperhatikan bahwa suhu tubuh seorang wanita berubah pada saat ovulasi. Namun, temuan ini todak digunakan sampai tahun 1964. Drs. John dan Evelyn Billings menggunakan temuan ini untuk merumuskan mtode Billings, saat ini dikenal dengan metode serviks. Sebagai seorang bidan tugas kitalah untuk mengubah pola masyarakat yang dulunya tidak menggunakan kontrasepsi menjadi menggunakan kontrasepsi. Apalagi kontrasepsi alamiah ini mudah diterapkan. Di sini akan dibahas resume mengenai kontrasepsi alamiah dengan suhu basal.

1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain:
1.      Memenuhi tugas mata kuliah Pelayanan KB
2.      Mengetahui Pengertian kontrasepsi alamiah dengan suhu basal
3.      Mengetahui Tujuan pencatatan suhu basal
4.      Mengetahui keuntungan dan kerugian metode suhu basal
5.      Mengetahui efek samping dan efetifitas metode suhu basal
6.      Dan mengatahui faktor yang mempengaruhi metode suhu basal


BAB 2
ISI


2.1.  Pengertian Suhu Basal
Suhu basal adalah suhu yang diukur waktu pagi segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas apa-apa.

2.2. Tujuan Pencatatan Suhu Basal
Tujuan pencatatan suhu basal untuk mengetahui kapan terjadinya masa subur/ovulasi. Suhu basal tubuh diukur dengan alat yang berupa termometer basal. Termometer basal ini dapat digunakan secara oral, per vagina, atau melalui dubur dan ditempatkan pada lokasi serta waktu yang sama selama 5 menit.
Suhu normal tubuh sekitar 35,5-36 derajat Celcius. Pada waktu ovulasi, suhu akan turun terlebih dahulu dan naik menjadi 37-38 derajat kemudian tidak akan kembali pada suhu 35 derajat Celcius. Pada saat itulah terjadi masa subur/ovulasi.
Kondisi kenaikan suhu tubuh ini akan terjadi sekitar 3-4 hari, kemudian akan turun kembali sekitar 2 derajat dan akhirnya kembali pada suhu tubuh normal sebelum menstruasi. Hal ini terjadi karena produksi progesteron menurun.
Apabila grafik (hasil catatan suhu tubuh) tidak terjadi kenaikan suhu tubuh, kemungkinan tidak terjadi masa subur/ovulasi sehingga tidak terjadi kenaikan suhu tubuh. Hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya korpus luteum yang memproduksi progesteron. Begitu sebaliknya, jika terjadi kenaikan suhu tubuh dan terus berlangsung setelah masa subur/ovulasi kemungkinan terjadi kehamilan. Karena, bila sel telur/ovum berhasil dibuahi, maka korpus luteum akan terus memproduksi hormon progesteron. Akibatnya suhu tubuh tetap tinggi.
2.3.  Suhu Basal Sebagai Kontrasepsi
Metode suhu tubuh dilakukan dengan wanita mengukur suhu tubuhnya setiap hari untuk mengetahui suhu tubuh basalnya. Setelah ovulasi suhu basal ( BBt / basal body temperature ) akan sedikit turun dan akan naik sebesar ( 0,2 – 0,4 ° C ) dan menetap sampai masa ovulasi berikutnya.
Hal ini terjadi karena setelah ovulasi hormone progesterone disekresi oleh korpus luteum yang menyebabkan suhu tubuh basal wanita naik, Aturan perubahan suhu:
  1. Mengukur suhu pada waktu yang hampir sama setiap pagi ( sebelum bangkit dari tempat tidur ) dan mencatat suhu ibu pada kartu yang telah disediakan oleh instruktur KBA.
  2. Memakai catatan suhu pada kartu tersebut untuk 10 hari pertama dari siklus haid untuk menentukan suhu tertinggi dari suhu yang normal, rendah. Mengabaikan suhu tinggi yang disebabkan oleh demam atau gangguan lain.
  3. Menarik garis pada 0,05°C – 0,1°Cdi atas suhu tertinggi dari 10 suhu 10 hari tersebut. Ini dinamakan garis pelindung ( cover line ) atau garis suhu.
  4. Masa tak subur mulai pada sore setelah hari ketiga berturut-turut suhu berada di atas garis pelindung tersebut
Catatan :
    1. Jika salah satu dari 3 suhu tersebut di bawah garis pelindung (cover line ) selama perhitungan 3 hari, ini mungkin tanda bahwa ovulasi belum terjadi. Untuk menghindari kehamilan menunggu sampai 3 hari berturu-turut suhu tersebut di atas garis pelindung sebelum memulai senggama.
    2. Ketika mulai masa tak subur, tidak perlu untuk mencatat suhu basal ibu. Ibu dapat berhenti mencatat sampai haid berikut mulai dan bersenggama sampai hari pertama haid berikutnya.
2.4. Kerugian
  1. Membutuhkan motivasi
  2. Perlu diajarkan oleh spesialis keluarga berencana alami
  3. Suhu tubuh basal dipengaruhi oleh penyakit, ganggiuan tidur, stress, alcohol dan obat-obatan, misalnya aspirin
  4. Apabila suhu tubuh tidak diukur pada sekitar waktu yang sama setiap hari akan menyebabkan ketidakakuratan suhu tubuh basal
  5. Tidak mendeteksi permulaan masa subur sehinggamempersulit untuk mencapai kehamilan
  6. Membutuhkan masa pantang yang lama, karena ini hanyalah mendeteksi pasca ovulasi.

2.5. Keuntungan
  1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasangan terhadap masa subur
  2. Membantu wanita yang mengalami siklus tidak teratur dengan cara mendeteksi ovulasi
  3. Dapat membantu menunjukan perubahan tubuh lain seperti lender serviks
  4. Berada dalam kendali wanita
  5. Dapat digunakan mencegah atau meningkatkan kehamilan

2.6. Efek Samping
Pantang yang terlampau lama dapat menimbulkan stress atau frustasi. Hal ini dapat diatasi dengan pemakaian kondom atau tablet wanita sewaktu senggama.

2.7. Efektifitas
Daya guna teoritis adalah 15 kehamilan per 100 wanita pertahun. Daya guna pemakaian adalah 20 – 30 kehamilan per 100 tahun – wanita. Daya guna dapat ditingkatkan dengan menggunakan pula cara rintangan, misalnya kontom atau obat spermisida di samping pantang berkala.

2.8. Faktor yang Mempengaruhi Keandalan Metode Suhu Basal Tubuh
Adapun faktor yang mempengaruhi keandalan metode suhu basal tubuh antara lain:
    1. Penyakit.
    2. Gangguan tidur.
    3. Merokok dan atau minum alkohol.
    4. Penggunaan obat-obatan ataupun narkoba.
    5. Stres.
    6. Penggunaan selimut elektrik.

2.9. Petunjuk Bagi Pengguna Metode Suhu Basal Tubuh
Aturan perubahan suhu/temperatur adalah sebagai berikut:
  1. Suhu diukur pada waktu yang hampir sama setiap pagi (sebelum bangun dari tempat tidur).
  2. Catat suhu ibu pada kartu yang telah tersedia.
  3. Gunakan catatan suhu pada kartu tersebut untuk 10 hari pertama dari siklus haid untuk menentukan suhu tertinggi dari suhu yang “normal dan rendah” dalam pola tertentu tanpa kondisi-kondisi di luar normal atau biasanya.
  4. Abaikan setiap suhu tinggi yang disebabkan oleh demam atau gangguan lain.
  5. Tarik garis pada 0,05 derajat celcius – 0,1 derajat celcius di atas suhu tertinggi dari suhu 10 hari tersebut. Garis ini disebut garis pelindung (cover line) atau garis suhu.
  6. Periode tak subur mulai pada sore hari setelah hari ketiga berturut-turut suhu tubuh berada di atas garis pelindung/suhu basal.
  7. Hari pantang senggama dilakukan sejak hari pertama haid hingga sore ketiga kenaikan secara berurutan suhu basal tubuh (setelah masuk periode masa tak subur).
  8. Masa pantang untuk senggama pada metode suhu basal tubuh labih panjang dari metode ovulasi billings.
  9. Perhatikan kondisi lendir subur dan tak subur yang dapat diamati.
BAB 3
PENUTUP


3.1. Kesimpulan dan Saran
Suhu tubuh wanita dewasa menjadi rendah dan tinggi secara reguler setiap kali setelah masa ovulasi. Suhu tubuh kita akan tetap rendah hingga masa ovulasi, kemudian menjadi tinggi setelah masa ovulasi. Akan turun menjadi lebih rendah lagi setelah menstruasi.
Khusus untuk wanita, ini cara bagaimana mengetahui suhu basal tubuh yang ideal. Bagi pria, terutama suami, ini juga tips dan trik yang harus dikuasai, karena dengan menghafal setiap perubahan suhu basal sang istri, bisa memprediksi kapan sang istri berada pada masa subur.
Perbedaan antara suhu tinggi dan rendah kurang dari 1°C. Suhu tubuh yang diukur untuk mengecek masa-masa rendah dan tingginya suhu tubuh merupakan suhu basal tubuh.
Suhu basal tubuh idealnya diukur di dalam mulut segera saat kita bangun tidur setiap pagi. Jika kita merekam suhu basal tubuh hingga beberapa bulan, kita akan melihat perubahan yang unik. Dari perubahan suhu basal tubuh tersebut, kita dapat memprediksi masa ovulasi dan menstruasi kita, kemudian kita dapat mengontrol kelahiran. Jika menstruasi kita tidak teratur kita bisa mendapatkan saran yang tepat berdasarkan rekaman/record suhu basal tubuh kita dari dokter kita.
Caranya penggunaannya adalah dengan mengukur suhu basal tubuh kita setiap pagi secara reguler, segera waktu kita bangun tidur, sebelum kita melakukan kegiatan apapun, bergerak ataupun stretching.
Alat ukur tersebut (seperti thermometer biasa) dimasukkan ke dalam mulut diletakkan di bawah lidah bagian paling ujung kanan/kiri kemudian, mulut kita tutup selama pengukuran berlangsung.


DAFTAR PUSTAKA


Everett, Suzanne. 2004. BUku Saku Kontrasepsi dan Kesehatan Seksual Reproduktif. Jakarta : EGC. Sifudin, Abdul Bari. 2006.
Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Wiknjosastro, Hanifa. 2006.
Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo




















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar