Sabtu, 03 Desember 2011

MAKALAH PROMKES DIARE, DBD, IMUNISASI BCG

BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang

Setiap tahun kasus tenang penyakit diare semakin meningkat. Angka kesakitan dan kematian masih terus bertambah. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang diare menimbulkan rasa ketakutan berlebihan terhadap diare. Selain itu, belum optimalnya peran serta masyarakat dalam pencegahan serta pengendaliannya. Tidak sedikit anggota masyarakat yang menderita sakit perut yang mungkin tidak disebabkan Diare menjadi ketakutan berlebihan sehingga minta rawat inap di rumah sakit. Di samping itu, masyarakat belum banyak mempunyai pemahaman tepat dan benar tentang pencegahan dan pengendalian vektor Diare. Akibatnya, peran serta masyarakat terhadap pencegahan dan pengendaliannya masih sangat kurang. Sering di masyarakat, masih banyak yang tidak peduli terhadap asupan makan makanan yang mereka konsumsi yang pada akhirnya menimbulkan diare. Pada beberapa gerakan penyuluhan dalam rangka pencegahan diare sering salah sasaran.

B. TUJUAN    
Tujuan umum : Meningkatkan pemahaman masyarakat  tentang pentingnya pencegahan diare.
            Tujuan khusus :
1.    Masyarakat mampu mencegah timbulnya penyakit diare.
2.    Meningkatkan prilaku hidup bersih dan sehat.
3.    Masyarakat tidak lagi berprilaku sembarangan.
4.    Masyarakat dapat mengetahui pentingnya kebersihan makanan yang akan dikonsumsi
5.    Berperan aktif dalam upaya kegiatan kesehatan.

 C. RUMUSAN MASALAH

·         Apakah definisi penyakit diare?
·         Apa saja penyebab penyakit diare?
·         Bagaimana tanda dan gejala penyakit diare?
·         Bagaimana cara pencegahan penyakit diare?
·         Bagaimana pengobatan penyakit diare?
·         Siapakah sasaran promosi kesehatan pada penyakit diare?
·         Apakah tujuan promosi kesehatan diare?

D. METODE PENULISAN

Metode penulisan yang digunakan pada penyusunan makalah ini adalah menggunakan metode pustaka dan study literature, dengan mencari dan mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti website, internet dan buku-buku yang ada.


 BAB II

PROPOSAL PROGRAM PROMOSI KESEHATAN
DENGAN PENYAKIT GASTRITIS

A. PENDAHULUAN

Nama kegiatan           : Promosi Kesehatan
Masalah                      : Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai diare
Pokok bahasan           : Penyakit saluran pencernaan
Sub pokok bahasan    : Diare
Sasaran                       : Masyarkat di RW 3
Pelaksana                   : Mahasiswa Akper Depkes Baturaja
                                      Tingkat IIA
Waktu                          : 30 menit (10.00-10.30 WIB)
Pertemuan ke-1          : 25 November 2011
Tempat                        : Air Gading, Baturaja

B. Panitia Pelaksana
Panitia pelaksana terdiri dari mahasiswa tingkat IIA Poltekkes Depkes Palembang Prodi Keperawatan Baturaja. Susunan panitia pada kegiatan promosi kesehatan ini adalah sebagai berikut :
Ketua              : Yuriendo Najimi
Sekertaris       : Defri Aryanti
Bendahara       : Defri Aryanti
Moderator       : Septia Reni

C. Tujuan promosi kesehatan

Tujuan penyuluhan pencegahan penyakit Diare yaitu:
Tujuan umum :
1.    Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pencegahan diare.
2.    Meningkatkan perilaku masyarakat untuk berprilaku hidup sehat
3.    Meningkatkan status kesehatan masyarakat
Tujuan khusus :
1.    Masyarakat mampu mencegah timbulnya penyakit diare.
2.    Meningkatkan prilaku hidup bersih dan sehat.
3.    Masyarakat tidak lagi berprilaku sembarangan.
4.    Masyarakat dapat mengetahui pentingnya kebersihan makanan yang akan dikonsumsi
5.    Berperan aktif dalam upaya kegiatan kesehatan.

D. Sasaran promosi kesehatan
            a. Tatanan rumah tangga
      Sasaran di rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga secara keseluruhan didesa Air Gading, Baturaja yang terbagi dalam :
1.)   Sasaran Primer
Adalah sasaran utama  dalam rumah tangga yang akan dirubah prilakunya atau anggota keluarga yang bermasalah.
2.)   Sasaran Sekunder
Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu dalam keluarga yang bermasalah misalnya, kepala keluarga, ibu, orang tua, tokoh keluarga, kader tokoh agama, tokoh masyarakat, petugas kesehatan dan sector terkait.
3.)    Sasaran tersier
Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsure pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya promosi kesehatan misal, kepala desa, lurah, camat, kepala Puskesmas, guru, tokoh masyarakat.
           
b. Kemungkinan hambatan dan kesuitan.
      Hambatan yang mungkin dihadapi adalah sulitnya mengumpulkan warga dan terbatasnya waktu dan dana yang tersedia.
            c. Sumber daya yang potensial.
      Tokoh kunci di masyarakat dapat menjadi mitra dalam pemberdayaan masyarakat adalah ketua RT, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader kesehatan dan tokoh pemuda.
            d. Penyebab permasalahan yang bersifat prilaku dan budaya.
      Adanya prilaku masyarakat yang tidak sehat seperti kurangnya kebersihan makanan, kurangnya pengetahuan akan pentingnya kebersihan..

E. Metode Promosi
            Metode yang akan digunakan dalam promosi kesehatan penyuluhan pencegahan penyakit diare adalah penyuluhan langsung, pemasangan poster, penyebaran leaflet, serta meberikan contoh konkrit berupa foto-foto dan slide untuk pengetahuan tentang Diare.

F. Penyusunan Rencana pelaksanaan dan Evaluasi
            Penyusunan Rencana pelaksanaan dan Evaluasi tentang kapan pelaksanaan dan evaluasi akan dilaksanakan, dimana, sasaran serta siapa yang akan melakukan pelaksanaan dan evaluasi.

G. Pokok materi

1.    Pengertian penyakit diare.
2.    Penyebab penyakit diare.
3.    Tanda dan gejala penyakit diare.
4.    Pencegahan penyakit diare.
5.    Pengobatan penyakit diare.
6.    Perawatan pada penderita diare.

H. Kegiatan Belajar Mengajar
1.    Metode                                    : Ceramah, Tanya jawab.
2.    Langkah-langkah kegiatan     :
a.    Kegiatan pra pembelajaran
1.    Mempersiapkan materi, media dan tempat.
2.    Memberikan salam
3.    Perkenalan
4.    Kontrak waktu
b.    Membuka pembelajaran
1.    Menjelaskan pokok bahasan
2.    Menjelaskan tujuan
3.    Apersepsi
c.    Kegiatan inti
1.    Penyuluh menjelaskan materi diare.
2.    Sasaran menyimak materi daire.
3.    Sasaran mengajukan pertanyaan tentang diare.
4.    Penyuluh menjawab pertanyaan.
5.    Penyuluh menyimpulkan jawaban.
d.    Penutup
1.    Evaluasi
2.    Penyuluh dan sasaran menyimpulkan materi
3.    Memberi salam

I. Media dan sumber
Media        : Leaflet (terlampir),  Power Point , gambar
Sumber     : berbagai referensi buku dan internet

J. Evaluasi
1.    Prosedu           : Pre Test dan Post Test
2.    Jenis test         : Pertanyaan secara lisan
3.    Butir soal         : 6

a.    Jelaskan pengertian penyakit Diare !
b.    Jelaskan penyebab penyakit Diare !
c.    Jelaskan tanda dan gejala penyakit Diare !
d.    Jelaskan cara pencegahan penyakit Diare !
e.    Jelaskan cara pengobatan penyakit diare !
f.     Jelaskan cara merawat penderita diare !

BAB III
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Diare
Diare (atau dalam bahasa kasar disebut menceret) (BM = diarea; Inggris = diarrhea) adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki kandungan air berlebihan. Di Dunia ke-3, diare adalah penyebab kematian paling umum kematian balita, dan juga membunuh lebih dari 1,5 juta orang per tahun

B. Penyebab
Diare disebabkan oleh infeksi dari lumen saluran cerna, dan dindingnya seperti akibat dari komplikasi penyakit lain di luar saluran cerna. Bisa juga karena sejenis zat racun yang tidak sesuai dan atau tidak bisa dikenal oleh saluran cerna yang berasal dari makanan atau minuman.
Kuman Penyebab adalah amuba, kebanyakan adalah kelompok shigella dan salmonella (termasuk Salmonella typhi, dan para typhi A dan B, demam typhoid dan paratyphoid, dan masih banyak lagi jenis salmonella lainnya, termasuk salmonella typhimurium0. belakangan ternyata jenis Campilobacter diakui merupakan penyebab diare yang utama di seluruh dunia.
Pada bayi yang hanya berbaring di dalam boks dan juga minum susu saja, terutama yang tinggal di daerah yang sanitasinya kurang baik, maka jenis Clastridium juga merupakan penyebab diare (sering terdapat pada daging babi maupun sapi).
Diare yang berat sering disebabkan oleh kuman Vibrio, terutama Vibrio cholera. Penyebab lainnya juga dari kelompok protozoa (misalnya, jenis Amoeba, Blantidium, dan Giardia yang langsung menginfeksi saluran cerna, dan malaria sebagai akibat komplikasinya). Begitu juga beberapa jenis cacing seperti cacing bulat (Nematoda), cacing dalam darah (seperti Schistosoma dan Fasciolopsis). Diare yang berat kadang-kadang disertai dengan keluarnya darah bersama tinja, mungkin karena racun yang dihasilkan kuman penyebab (endotoksin). Toksin atau racun, bisa juga dari makanan dan minuman yang masuk seperti air dan susu yang tercemar. Toksin meresap ke dinding saluran cerna menimbulkan luka sehingga berdarah. Kuman yang paling sering bertanggung jawab jawab atas kejadian ini adalah Staphylococus aureus, beberapa jenis Salmonella dan kuman yang masuk golongan enteropathik Eschercia coli. Karena gangguan proses penyerapan makanan, mungkin diare lebih populer diistilahkan oleh awam sebagai sebagai gangguan pencernaan (malabsorbtion), tinja sering berlemak, sering merupakan tahap awal kekurangan vitamin. Pada zaman dahulu sewaktu rombongan Colombus mengelilingi dunia, karena terlalu lama dalam pelayaran tidak makan sayuran dan buah-buahan segar maka kekurangan vitamin C (scorbutl sprue) disertai infeksi sejenis Protozoa. Seperti jenis Giardia lambia dan sejenis cacing Capillaria. Gejala ini juga terjadi pada anak-anak yang kekurangan enzym pencernaan khususnya enzym lactase untuk mencerna susu.
Diare yang kronis yaitu, hilang lalu timbul kembali, bisa jadi disebabkan oleh infeksi yang terus menerus oleh jenis Shigella, Entamoeba, dan Schistosoma sebagaimana udah disebutkan di atas.
Pada keadan seperti ini terjadi pada perubahan pada sel epitel dinding saluran cerna yang merupakan permulaan terjadi perdangan usus besar yang kronis (Colitis chronica) dan selaput lendir usus besar akan berkerut. Lama kelamaan bisa menjadi keganasan (carcinoma=kanker), sehingga diare makin berat dan kadang-kadang disertai tinja berdarah.
Infeksi virus bisa menimbulkan diare ringan sampai berat. Diare karena virus tidak terlalu menginfeksi langsung pada saluran cerna, tetapi karena infeksi menurunkan daya tahan tubuh secara umum.

C. Tanda dan Gejala Penyakit Diare
Gejala yang biasanya ditemukan adalah buang air besar terus menerus disertai mual dan muntah. Tetapi gejala lainnya yang dapat timbul antara lain pegal pada punggung,dan perut berbunyi.
Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, rasa malu karena sering ke toilet dan terganggunya aktivitas sehari-hari; diare yang berat juga dapat menyebabkan kehilangan cairan (dehidrasi) dan kehilangan elektrolit seperti natrium, kalium, magnesium dan klorida.
Jika sejumlah besar cairan dan elektrolit hilang, tekanan darah akan turun dan dapat menyebabkan pingsan, denyut jantung tidak normal (aritmia) dan kelainan serius lainnya. Resiko ini terjadi terutama pada anak-anak, orang tua, orang dengan kondisi lemah dan penderita diare yang berat.

Hilangnya bikarbonat bisa menyebabkan asidosis, suatu gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah.
Pertama-tama, dipastikan dulu apakah diarenya timbul tiba-tiba dan untuk sementara waktu atau menetap. Dilihat juga apakah:
  • Penyebabnya adalah perubahan makanan
  • Terdapat gejala lain seperti demam, nyeri dan ruam kulit
  • Ada orang lain yang juga memiliki gejala yang sama.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan contoh tinja. Pemeriksaan tinja meliputi bentuknya (cair atau padat), baunya, ditemukannya lemak, darah atau zat-zat yang tidak dapat dicerna, dan jumlahnya dalam 24 jam.

Bila diare menetap, dilakukan pemeriksaan mikroskopik tinja untuk:
  • Mencari sel-sel, lendir, lemak dan bahan lainnya
  • Menemukan darah dan bahan tertentu yang menyebabkan diare osmotik
  • Mencari organisme infeksius, termasuk bakteri tertentu, amuba dan Giardia.

Bila secara sembunyi-sembunyi mengkonsumsi pencahar, maka pencahar yang diminum bisa ditemukan dalam contoh tinja. Untuk memeriksa lapisan rektum dan anus dapat dilakukan sigmoidoiskopi. Kadang-kadang perlu dilakukan biopsi (pengambilan contoh lapisan rektum untuk pemeriksaan mikroskop).
D. Perawatan pasien diare
Perawatan untuk diare melibatkan pasien mengonsumsi sejumlah air yang mencukupi untuk menggantikan yang hilang, lebih baik bila dicampur dengan elektrolit untuk menyediakan garam yang dibutuhkan dan sejumlah nutrisi. Untuk banyak orang, perawatan lebih lanjut dan medikasi resmi tidak dibutuhkan.
Diare di bawah ini biasanya diperlukan pengawasan medis:
  • Diare pada balita
  • Diare menengah atau berat pada anak-anak
  • Diare yang bercampur dengan darah.
  • Diare yang terus terjadi lebih dari 2 minggu.
  • Diare yang disertai dengan penyakit umum lainnya seperti sakit perut, demam, kehilangan berat badan, dan lain-lain.
  • Diare pada orang bepergian (kemungkinan terjadi infeksi yang eksotis seperti parasit)
  • Diare dalam institusi seperti rumah sakit, perawatan anak, institut kesehatan mental.
E. Pengobatan Diare
Diare merupakan suatu gejala dan pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Kebanyakan penderita diare hanya perlu menghilangkan penyebabnya, misalnya permen karet diet atau obat-obatan tertentu, untuk menghentikan diare.Kadang-kadang diare menahun akan sembuh jika orang berhenti minum kopi atau minuman cola yang mengandung cafein.
Untuk membantu meringankan diare, diberikan obat seperti difenoksilat, codein, paregorik (opium tinctur) atau loperamide. Kadang-kadang, bulking agents yang digunakan pada konstipasi menahun (psillium atau metilselulosa) bisa membantu meringankan diare Untuk membantu mengeraskan tinja bisa diberikan kaolin, pektin dan attapulgit aktif.
Bila diarenya berat sampai menyebabkan dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus. Selama tidak muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan yang mengandung air, gula dan garam.
Jika seseorang atau balita telah terserang diare, langkah awal yang dapat dilakukan adalah:
  • Berikan minum dan makan secara normal untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang;
  • Untuk bayi dan balita, teruskan minum ASI (Air Susu Ibu);
  • Berikan garam Oralit.
  • Segeralah priksakan penderita ke dokter apabila diare berkelanjutan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan.





F. Pencegahan diare
Diare dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Adapun cara pencegehan diare dapat dilakukan dengan cara:
-       Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting yaitu:
1)    sebelum makan,
2)    setelah buang air besar,
3)    sebelum memegang bayi,
4)    setelah menceboki anak
5)    sebelum menyiapkan makanan;

-       Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi;
-       Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
-       Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.
 
 BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
            Promosi Kesehatan tentang penyuluhan Diare memang penting bagi sasaran yaitu masyarakat Air Gading Baturaja. Untuk menambah kesadaran tentang pentingnya berprilaku sehat terhadap dilingkungan. Serta dapat meningkatkan status kesehatan dalam pencegahannya terhadap Diare.

DAFTAR PUSTAKA

Angga. 2008. http://anggasite.blogspot.com/Makalah tentang diare - Pengertian diare - Laporan pendahuluan diare - Makalah Diare _ peutuah.html
Fitriani, Sinta. 2010. Promosi Kesehatan. Jakarta: Graha Ilmu.
Tambunan, Hetty. 2009. http:/hetty.wordpress.com/diare/promosi-kesehatan-untuk-kader.html

PROMKES DEMAM BERDARAH
 
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang

Setiap memasuki awal dan akhir musim hujan kita selalu disibukkan oleh terjadinya kenaikan kasus atau kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD). Kejadian tersebut selalu berulang dan meresahkan sehingga masyarakat dihantui ketakutan tertular atau terinfeksi virus dengue penyebab DBD. Sebab, DBD dapat secara cepat menimbulkan kematian. Sektor kesehatan dari tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/ kota bahkan sampai ke pelayanan terdepan, para pejabat publik selalu kewalahan mengatasi masalah KLB DBD yang sampai saat ini belum mampu dikendalikan dengan baik.
Angka kesakitan dan kematian masih terus bertambah. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang DBD menimbulkan rasa ketakutan berlebihan terhadap infeksi virus dengue. Selain itu, belum optimalnya peran serta masyarakat dalam pencegahan serta pengendaliannya. Tidak sedikit anggota masyarakat yang menderita demam yang mungkin tidak disebabkan DBD menjadi ketakutan berlebihan sehingga minta rawat inap di rumah sakit. Di samping itu, masyarakat belum banyak mempunyai pemahaman tepat dan benar tentang pencegahan dan pengendalian vektor DBD. Akibatnya, peran serta masyarakat terhadap pencegahan dan pengendaliannya masih sangat kurang. Sering di berbagai pemukiman/rumah-rumah, termasuk di asrama banyak jentik nyamuk aedes di tempat-tempat penampungan air; baik di tipe perumahan tertata maupun yang tidak tertata. Bahkan, tidak jarang jentik nyamuk aedes ditemukan dalam jumlah cukup banyak di fasilitas umum, seperti sekolah, kantor, tempat-tempat ibadah. Pada beberapa gerakan kebersihan dalam rangka pencegahan dan pengendalian nyamuk DBD sering salah sasaran.
Yang dilakukan adalah membersihkan saluran pembuangan limbah, drainase, dan sampah sehingga tempat penampungan air sebagai habitat perkembangbiakan nyamuk DBD tidak tersentuh. Gerakan kebersihan tersebut tidak salah dan sangat bagus untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).Apabila, hal itu bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan DBD tidak tepat sasaran. Gerakan tersebut membuktikan bahwa pemahaman masyarakat tentang DBD dan cara pengendalian vektor masih belum baik.
Pengetahuan atau pemahaman tentang DBD, cara pencegahan, dan pengendaliannya secara baik dan benar oleh masyarakat, aparat pemerintah, dan lintas sektor terkait, termasuk LSM dan tokoh masyarakat akan meningkatkan kepedulian, kemampuan, dan peran sertanya secara tepat. Dengan demikian, diharapkan mempunyai daya ungkit yang positif dalam mencegah terjadinya penularan dan KLB DBD di Indonesia.
Karena itu, perlu dilakukan terobosan baru untuk meningkatkan pemaham terhadap masyarakat melalui penyuluhan, kampanye, atau promosi kesehatan tentang DBD, vektor, cara penularan, serta cara pencegahan dan pengendaliannya secara berkesinambungan.
DBD merupakan salah satu penyakit menular yang berbasis lingkungan. Artinya, kejadian dan penularannya dipengaruhi berbagai faktor lingkungan. Tiga faktor lingkungan yang berpengaruh, antara lain lingkungan biologi, fisik, sosialbudaya. Lingkungan biologi, seperti virus dengue sebagai penyebab/ agen penyakit, nyamuk aedes sebagai penular disebut sebagai vektor DBD, manusia sebagai penjamu atau hospes yang menderita sakit dengue dan DBD, faktor-faktor biologi lain, seperti musuh alami nyamuk (bakteri, predator, parasit, parasitoid) dan vegetasi lainnya.
Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk vektor, masyarakat umum menyebut sebagai nyamuk demam berdarah, yaitu nyamuk aedes, aedes aegypti sebagai vektor utama, dan Ae albopictus sebagai vektor sekunder. Nyamuk aedes warna hitam dan belang-belang sehingga sering disebut sebagai nyamuk harimau, lebih banyak menggigit manusia sehingga disebut bersifat antropofilik. Nyamuk aedes aegypti sebagai vektor DBD sangat efektif, di samping rentan terhadap virus dengue juga bersifat multiple feeding. Artinya, aedes aegypti dalam menghisap darah sampai kenyang sering berpindah hospes dari satu orang ke orang lain. Sifat ini meningkatkan risiko penularan pada masa KLB karena satu nyamuk aedes infektif dalam satu hari akan mampu menularkan virus dengue kepada lebih dari satu orang (calon pasien). Kebiasaan menggigit atau menghisap darah hospes terjadi pada siang hari, puncak aktivitas menggigit antara pukul 06.00-10.00 dan sore hari antara pukul 16.00-18.00. Di Indonesia, vektor DBD sebagai nyamuk pemukiman. Artinya, berada dan ditemukan di daerah pemukiman penduduk. Habitat perkembangbiakan stadium pradewasa,yaitu telur, larva, dan pupa, terdapat di segala jenis tempat penampungan air, seperti bak mandi, penampungan air minum, pot bunga, kaleng bekas, drum, ban bekas, aksila pohon, talang air, tempat minum unggas.Wadah ini yang berisi air bersih, relatif jernih dan tidak langsung kontak dengan tanah.

B. TUJUAN
           
Tujuan umum : Meningkatkan pemahaman masyarakat  tentang pentingnya pencegahan demam berdarah dengan 3M.
            Tujuan khusus :
1.    Masyarakat mampu mencegah timbulnya penyakit demam berdarah.
2.    Meningkatkan prilaku hidup bersih dan sehat.
3.    Masyarakat tidak lagi berprilaku sembarangan.
4.    Masyarakat dapat menghilangkan jentik-jentik nyamuk penyebab demam berdarah.
5.    Berperan aktif dalam upaya kegiatan kesehatan.

 BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Demam Berdarah (DBD)
Demam berdarah (DB) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Terdapat empat jenis virus dengue berbeda, namun berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam berdarah. Virus dengue merupakan virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Penyakit demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang lembab. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya terdapat 50-100 juta kasus infeksi virus dengue di seluruh dunia.

B. Penyebab
Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Gejala demam berdarah baru muncul saat seseorang yang pernah terinfeksi oleh salah satu dari empat jenis virus dengue mengalami infeksi oleh jenis virus dengue yang berbeda. Sistem imun yang sudah terbentuk di dalam tubuh setelah infeksi pertama justru akan mengakibatkan kemunculan gejala penyakit yang lebih parah saat terinfeksi untuk ke dua kalinya. Seseorang dapat terinfeksi oleh sedikitnya dua jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus yang sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang terbentuk.
Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya. Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke keturunannya melalui telur (transovarial).Beberapa penelitian menunjukkan bahwa monyet juga dapat terjangkit oleh virus dengue, serta dapat pula berperan sebagai sumber infeksi bagi monyet lainnya bila digigit oleh vektor nyamuk.
Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada seseorang yang memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi pertama. Selain itu, risiko demam berdarah juga lebih tinggi pada wanita, seseorang yang berusia kurang dari 12 tahun, atau seseorang yang berasal dari ras Kaukasia.
C. Tanda dan Gejala Penyakit Demam Berdarah
Masa tunas / inkubasi selama 3 – 15 hari sejak seseorang terserang virus dengue, Selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda dan gejala demam berdarah sebagai berikut :
1.    Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 – 40 derajat Celsius).
2.    Pada pemeriksaan uji torniquet, tampak adanya jentik (puspura) perdarahan.
3.    Adanya bentuk perdarahan dikelopak mata bagian dalam (konjungtiva), Mimisan (Epitaksis), Buang air besar dengan kotoran (Peaces) berupa lendir bercampur darah (Melena), dan lain-lainnya.
4.    Terjadi pembesaran hati (Hepatomegali).
5.    Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.
6.    Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari ke 3 – 7 terjadi penurunan trombosit dibawah 100.000 /mm3 (Trombositopeni), terjadi peningkatan nilai Hematokrit diatas 20% dari nilai normal (Hemokonsentrasi).
7.    Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual, muntah, penurunan nafsu makan (anoreksia), sakit perut, diare, menggigil, kejang dan sakit kepala.
8.    Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi.
9.    Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan pegal/sakit pada persendian.
10.  Munculnya bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.

D. Pencegahan Penyakit Demam Berdarah
A. Bagaimana Cara Mencegah DBD ?
  • Untuk mencegah penyakit DBD, nyamuk penularnya (Aedes Aegypti) harus diberantas, sebab vacsin untuk pencegahannya belum tersedia
  • Cara tepat untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti adalah memberantas jentik-jentiknya di tempat berkembang biaknya. Cara ini dikenal sebagai "Gerakan 3M" yaitu menguras, menutup, menimbun
  • Olehkarena tempat-tempat berkembang biaknya terdapat di kamar-kamar dalam asrama dan tempat-tempat umum, seperti pemandian umum. Maka setiap mahasiswa harus melaksanakan "3M" secara teratur sekuang-kurangnya seminggu sekali
B. Bagaimana Cara melaksanakan "3M" ?
Untuk mencegah penyakit DBD setiap mahasiswa dianjurkan untuk melaksanakan "3M" di kamar atau di rumah dan halaman masing-masing dengan melibatkan seluruh warga asrama, dengan cara sebagai berikut :
  1. Menguras bak mandi sekurang-kurangnya 1 minggu sekali
  2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, ember-ember.
  3. Mengganti air Vas bunga/tanaman air seminggu sekali
  4. Mengganti air tempat minum burung
  5. Menimbun barang-barang bekas yang dapat menampung air
  6. Menabur bubuk abete atau altosid pada tempat-tempat penampungan air yang sulit dikuras atau di daerah yang air bersih sulit didapat, sehingga perlu penampungan air hujan
E. Pengobatan Demam Berdarah
Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi perdarahan, mencegah atau mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).
Penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah platelet menurun drastis. Selanjutnya adalah pemberian obat-obatan terhadap keluhan yang timbul, misalnya :
  1. Paracetamol membantu menurunkan demam
  2. Garam elektrolit (oralit) jika disertai diare
  3. Antibiotik berguna untuk mencegah infeksi sekunder
Lakukan kompress dingin, tidak perlu dengan es karena bisa berdampak syok. Bahkan beberapa tim medis menyarankan kompres dapat dilakukan dengan alkohol. Pengobatan alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum jus jambu biji bangkok, namun khasiatnya belum pernah dibuktikan secara medik, akan tetapi jambu biji kenyataannya dapat mengembalikan cairan intravena dan peningkatan nilai trombosit darah.

 
BAB III
Perencanaan Promosi

A. Tujuan Promosi Kesehatan

Tujuan penyuluhan pencegahan penyakit Demam berdarah yaitu:
Tujuan umum :
1.    Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang pentingnya pencegahan demam berdarah dengan 3M.
2.    Meningkatkan perilaku mahasiswa untuk berprilaku hidup sehat
3.    Meningkatkan status kesehatan mahasiswa di asrama
Tujuan khusus :
1.    Masyarakat mampu mencegah timbulnya penyakit demam berdarah.
2.    Meningkatkan prilaku hidup bersih dan sehat.
3.    Masyarakat tidak lagi berprilaku sembarangan.
4.    Masyarakat dapat menghilangkan jentik-jentik nyamuk penyebab demam berdarah.
5.    Berperan aktif dalam upaya kegiatan kesehatan.

B. Sasaran promosi kesehatan

a. Mahasiswa yang tinggal di asrama Poltekes Palembang Prodi Keperawatan Baturaja
      Sasaran di asrama adalah seluruh anggota asrama secara keseluruhan terbagi dalam :
1.)   Sasaran Primer
Adalah sasaran utama  dalam asrama yang akan dirubah prilakunya atau anggota asrama yang bermasalah.
2.)   Sasaran Sekunder
Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu dalam asrama yang bermasalah misalnya, Pengawas Asrama, Ketua Asrama, petugas kesehatan asrama dan sector terkait.
3.)   Sasaran tersier
Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsure pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya promosi kesehatan misal, Kepala Prodi keperawatan Baturaja, Poltekes Palembang. Pengawas Asrama, Para Dosen terkait.
           
b. Kemungkinan hambatan dan kesulitan.
      Hambatan yang mungkin dihadapi adalah sulitnya mengumpulkan mahasiswa dan terbatasnya waktu dan dana yang tersedia.
           
c. Penyebab permasalahan yang bersifat prilaku dan budaya.
      Adanya prilaku mahasiswa yang tidak sehat seperti membuang sampah sembarangan, tidak berpola hidup sehat, dan kurangnya kesadaran dari mahasiswa asrama tentang pentingnya pencegahan timbulnya penyakit demam berdarah dikalangan asrama.

C. Metode Promosi
            Metode yang akan digunakan dalam promosi kesehatan penyuluhan pencegahan penyakit demam berdarah adalah penyuluhan langsung, pemasangan poster, penyebaran leaflet, serta meberikan contoh konkrit berupa foto-foto dan slide untuk pengetahuan tentang DBD.

D. Penyusunan Rencana pelaksanaan dan Evaluasi
            Penyusunan Rencana pelaksanaan dan Evaluasi tentang kapan pelaksanaan dan evaluasi akan dilaksanakan, dimana, sasaran serta siapa yang akan melakukan pelaksanaan dan evaluasi.

  BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
            Promosi Kesehatan tentang penyuluhan DBD memang penting bagi sasaran yaitu mahasiswa yang tinggal di asrama. Untuk menambah kesadaran tentang pentingnya berprilaku sehat terhadap dilingkungan. Serta dapat meningkatkan status kesehatan dalam pencegahannya terhadap DBD.


PROMKES IMUNISASI BCG 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Data statistik menunjukkan makin banyak penyakit menular bermunculan dan senantiasa mengancam kesehatan. Setiap tahun diseluruh dunia, ratusan ibu, anak-anak dan dewasa meninggal karena penyakit yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi tentang pentingnya Imunisasi. Bayi-bayi yang baru lahir, anak-anak usia muda yang bersekolah dan orang dewasa sama-sama memiliki resiko tinggi terserang penyakit-penyakit menular yang mematikan.Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik dan sangat vital agar bayi-bayi, anak-anak muda dan orang dewasa terlindungi hanya dengan melakukan Imunisasi.
Di Indonesia, ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan pada anak-anak, yakni BCG, polio, campak, DTP, dan hepatitis B. Menurut badan kesehatan dunia (WHO), kelima jenis vaksin tersebut diwajibkan karena dampak dari penyakit tersebut bisa menimbulkan kematian dan kecacatan. Selain yang diwajibkan, ada pula jenis vaksin yang dianjurkan, misalnya Hib, Pneumokokus (PCV), Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, dan Varisela. Dalam makalah ini hanya akan membahas mengenai imunisasi BCG.

1.2. Tujuan Makalah
a.       Untuk memenuhi tugas mata kuliah Promosi Kesehatan
b.      Untuk lebih memahami materi mengenai imunisasi.
c.       Untuk mengetahui manfaat imunisasi BCG.

1.3. Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode library research. Maksudnya, pengumpulan data dengan membaca literature dan buku – buku perpustakaan. Dan sebagian mencari sumber dari media elektronik.

1.4. Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud dengan imunisasi BCG?
b.      Berapa kali jumlah pemberian imunisasi BCG?
c.       Pada usia berapa bulan imunisasi BCG diberikan?
d.      Dimana letak penyuntikan imunisasi BCG?
e.       Bagaimana tanda keberhasilan vaksinasi BCG?
f.       Bagaimana efek samping dari imunisasi BCG?
g.      Apa manfaat dari vaksin BCG?

 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin).
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti unuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT, Campak, dan melalui mulut seperti vaksin polio.
Imunisasi BCG adalah vaksinasi hidup yang diberikan pada bayi untuk mencegah terjadinya penyakit TBC. (Dirjen PPM dan PLP, 1989 : 71). Vaksin BCG merupakan vaksin hidup yang berasal dari bakteri. Vaksin BCG adalah vaksin beku kering seperti campak berbentuk bubuk.BCG berasal dari strain bovinum M. Tuberculosis oleh Calmette dan Guerin yang mengandung sebanyak 50.000 – 1.000.000 partikel/ dosis. Bakteri ini menyebabkan TBC pada sapi tapi tidak pada manusia. Vaksin ini dikembangkan pada tahun 1950 dari bakteri M. tuberculosis yang hidup, karenanya bisa berkembang biak dalam tubuh dan diharapkan bisa mengindus antibody seumur hidup.

2.2. Jumlah Pemberian
Cukup 1 kali, karena vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang terbentuk akan memiliki kualitas yang sama dengan yang terinfeksi secara alami. Oleh karena itu, antibodi yang dihasilkan melalui vaksinasi sudah tinggi. Berbeda dari vaksin yang berisi kuman mati, umumnya memerlukan booster atau pengulangan.

2.3. Usia Pemberian
Kelompok umur yang rentan terserang TB adalah usia balita, terutama usia kurang dari 1 tahun. Hal ini disebabkan anak umumnya punya hubungan erat dengan penderita TB dewasa, seperti dengan ibu, bapak, nenek, kakek, dan orang lain yang serumah. Karena itulah, vaksin BCG sudah diberikan kepada anak sejak berusia kurang dari 1 tahun, yaitu usia 2 bulan. Di usia ini sistem imun tubuh anak sudah cukup matang untuk mendapat vaksin BCG. Namun, bila ada anggota keluarga yang tinggal serumah atau kerabat yang sering berkunjung ke rumah menderita TB, maka ada baiknya bayi segera diimunisasi BCG setelah lahir. Bila umur bayi sudah terlewat dari 2 bulan, sebelum dilakukan vaksinasi hendaknya jalani dulu tes Mantoux (tuberkulin). Gunanya untuk mengetahui, apakah tubuh si anak sudah kemasukan kuman Mycobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi BCG dilakukan apabila tes Mantoux negatif.

2.4. Lokasi Penyuntikan
Yang dianjurkan oleh WHO adalah di lengan kanan atas. Cara menyuntikkannya pun membutuhkan keahlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Bila dilakukan di paha, proses menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal. Para orangtua juga tak perlu khawatir dengan luka parut yang bakal timbul di lengan, karena umumnya luka parut tersebut tidaklah besar.

2.5. Tanda Keberhasilan Vaksinasi 
         Muncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-8 minggu. Tidak menimbulkan nyeri dan tidak diiringi panas. Bisul akan sembuh sendiri, mengering dan meninggalkan luka/jaringan parut. Jika bisul tak muncul, jangan cemas. Bisa saja dikarenakan cara penyuntikan yang salah, mengingat cara penyuntikan perlu kehlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Apalagi bila dilakukan di paha, proses menyuntiknya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal.
Jadi, meski bisul tak muncul, antibodi tetap terbentuk, hanya saja dalam kadar rendah. Imunisasi BCG pun tak perlu diulang, karena di daerah endemis TB, infeksi alamiah akan selalu ada. Dengan kata lain, anak akan mendapat vaksinasi alamiah.
Kontraindikasi      
Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani pengobatan steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV), serta tidak
dapat diberikan pada anak berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux positif. Adanya penyakit kulit yang berat/menahun seperti : eksim, furunkulosis dan sebagainya.

2.6. Efek samping
Umumnya tidak ada. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha) , tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3 – 6 bulan. Biasanya akan sembuh sendiri.
Reaksi yang mungkin terjadi:
a.       Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustula (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut.
b.      Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher bagian bawah (atau selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha), tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan.
Komplikasi yang mungkin timbul adalah:
·         Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.
·         Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.

2.7. Manfaat Vaksin BCG
Tujuan dari pemberian imunisasi BCG terhadap anak balita 0-1 tahun adalah untuk mencegah penyakit TBC. Telah diketahui bahwa penyakit TBC mudah sekali menular, sedangkan pada masa bayi telah diketahui pula sangat peka terhadap serangan penyakit, apalagi terhadap penyakit menular. Tentunya memberikan peluang yang sangat besar untuk terkena penyakit menular atau TBC kalau anak tersebut tidak diimunisasi BCG.
Oleh karena itu, imunisasi BCG sangat penting diberikan sedini mungkin.
Kesehatan anak di waktu kecil akan menentukan kesehatan dan kesejahteraan anak di waktu dewasa nantinya. Dengan imunisasi BCG dapat mencegah terjadinya komplikasi yang serius penyakit TBC, misalnya TBC dapat menjadi TBC otak yang mengakibatkan anak menjadi bodoh dan cacat di waktu kecil dan pastinya pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu di masa dewasa nantinya. Selain itu kuman TBC juga dapat menyerang berbagai organ tubuh seperti : paru-paru, tulang, kelenjar getah bening, sendi, ginjal, dan hati. Untuk itu, pemberian imunisasi BCG secara dini sangatlah diperlukan.
TBC sendiri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis. Masa inkubasinya berbeda dari penyakit lain. Pada penyakit lain, inkubasi diartikan sebagai tenggang waktu antara mulai masuknya bibit penyakit sampai munculnya gejala seperti demam. Sedangkan pada TBC, masa inkubasi dihitung dari masuknya kuman hingga timbulnya pembesaran getah bening di dalam paru-paru yang kadang tidak memperlihatkan gejala. Masa inkubasi ini rata-rata berlangsung antara 8-12 minggu. Di saat itulah dokter sudah bisa mengatakan si kecil telah positif mengidap TBC. Setelah masa inkubasi barulah timbul gejala.

Anak umumnya mengidap TBC lantaran tertular orang dewasa. Pada orang dewasa, bakteri penyebab TBC masuk ke paru-paru kemudian menyerang dinding saluran napas dengan membentuk rongga yang berisi nanah dan bakteri TBC. Setiap kali yang bersangkutan batuk, bakteri TBC yang berukuran kurang dari 10 mikron ikut terlontar keluar dan melayang-layang di udara. Kalau anak yang sehat menghirup udara yang kebetulan mengandung bakteri TBC, maka ia berkemungkinan terkena.
Namun pada anak-anak, bakteri yang ikut masuk tadi hanya menyerang jaringan paru-paru. Jadi, tidak sampai menyerang dinding saluran napas/bronchus. Itulah sebabnya, anak yang menderita TBC umumnya tidak memperlihatkan gejala batuk. Karena tidak pernah batuk, bakteri jadi tidak pernah keluar dan anak tidak akan pernah menularkan penyakitnya kepada orang lain. Fase ini dinamakan sebagai TBC tertutup.
Meski begitu, pada anak-anak dengan status gizi sangat buruk, bakteri TBC bisa saja menyerang saluran bronchusnya hingga menimbulkan rongga bernanah berisi bakteri TBC seperti layaknya TBC pada orang dewasa. Anak akan sering terbatuk dan ikut keluarlah nanah dan bakteri yang bercokol di tubuhnya. TBC anak yang seperti ini bersifat menular dan fasenya bukan tertutup lagi, melainkan sudah terbuka. 
Hal yang perlu diwaspadai dari penyakit ini adalah terjadinya komplikasi. Komplikasi terjadi karena bakteri yang masuk ke paru-paru tidak bisa dilawan oleh sel darah putih. Akibatnya, bakteri tersebut masuk ke aliran darah dan menyerang organ-organ vital seperti tulang, sendi panggul, otak, dan lain-lain. Hal ini umumnya terjadi pada anak yang belum mendapat vaksinasi BCG atau bisa juga karena ibu menderita TBC di masa hamil dan kemudian menularkannya pada bayi melalui ASI. Risiko tertular makin besar bila si anak memiliki kondisi gizi buruk.
Tes untuk mendeteksi
Tidak  mudah untuk memvonis seorang anak mengidap TBC. Dibutuhkan serangkaian tes dan konsultasi langsung dengan keluarga untuk menemukan jawaban pastinya:
1.      Tes Rontgen
Tes ini untuk mengetahui ada tidaknya flek paru pada anak. Sayangnya hasil foto rontgen tak bisa dijadikan patokan mutlak. Sebab, flek paru pada anak untuk menentukan sebuah penyakit tidaklah khas. Artinya, flek yang disebabkan oleh TBC dan asma, contohnya, relatif sama. Ini berbeda dengan orang dewasa, foto flek paru akibat TBC pada orang dewasa umumnya sedikit berawan pada bagian atas, sedangkan pada penderita asma berawan pada bagian bawah.
Selain itu, anak yang tidak ada flek parunya saat di-rontgen bukan berarti bebas dari TBC. Bisa saja dia tidak terkena TBC paru, tapi TBC tulang hingga hasilnya tidak tampak. Pemeriksaan rontgen ini tentu saja mesti diikuti tes lainnya.
2.      Tes Mantoux
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kadar sel darah putih (leukosit) pada anak. Jika jumlah sel leukosit menunjukkan peningkatan tajam melebihi standar normal (>10 milimeter), ada kemungkinan yang bersangkutan menderita TBC. Meningkatnya sel darah putih ini berguna untuk melawan bakteri TBC. Pemeriksaan ini umumnya dilanjutkan dengan screening untuk menentukan apakah ia positif terkena TBC atau tidak. Pemeriksaan ini juga mesti dilakukan hati-hati, karena bukan berarti anak yang jumlah leukositnya rendah negatif pastilah TBC. Mungkin saja si anak berstatus gizi sangat buruk, hingga tubuhnya tidak bisa memproduksi sel darah putih, alias kekebalan tubuhnya terganggu.
3.      Tes Darah  
Ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana laju endap darahnya. Selain bisa juga ditemukan adanya antibodi TBC. Jika laju endap darahnya kurang baik dan ditemukan antibodi TBC, besar kemungkinan si kecil terkena TBC.



4.      Wawancara  
Untuk mengetahui riwayat perjalanan penyakit anak, wawancara mesti dilakukan secara detail. Beberapa yang hal yang biasanya ditanyakan antara lain lamanya demam, siapa saja anggota keluarga yang berpotensi kemungkinan menularkan penyakit, adakah keluarga yang mengidap TBC. Semua pertanyaan itu sangat penting untuk menegakkan diagnosa TBC pada anak.
 
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Imunisasi BCG termasuk salah satu dari 5 imunisasi yang diwajibkan. Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan virus tubercel bacili yang hidup di dalam darah. Itulah mengapa, agar memiliki kekebalan aktif, dimasukkanlah jenis basil tak berbahaya ke dalam tubuh, alias vaksinasi BCG (Bacillus Calmette Guerin).
Imunisasi BCG wajib diberikan, seperti diketahui, Indonesia termasuk negara endemis TB dan salah satu negara dengan penderita TB tertinggi di dunia. TB disebabkan kuman Mycrobacterium tuberculosis, dan mudah sekali menular melalui droplet, yaitu butiran air di udara yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun bersin. Gejalanya antara lain: berat badan anak susah bertambah, sulitmakan, mudah sakit, batuk berulang, demam, berkeringat di malam hari, juga diare persisten. Masa inkubasi TB rata-rata berlangsung antara 8-12 minggu.
Untuk mendiagnosis anak terkena TB atau tidak, perlu dilakukan tes rontgen untuk mengetahui adanya vlek, tes Martoux untuk mendeteksi peningkatan kadar sel darah putih, dan tes darah untuk mengetahui ada-tidak gangguan laju endap darah. Bahkan, dokter pun perlu melakukan wawancara untuk mengetahui, apakah si kecil pernah atau tidak, berkontak dengan penderita TB.
Jika anak positif terkena TB, dokter akan memberikan obat antibiotik khusus TB yang harus diminum dalam jangka panjang, minimal 6 bulan. Lama pengobatan tak bisa diperpendek karena bakteri TB tergolong sulit mati dan sebagian ada yang “tidur”. Karenanya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Selain menhindarianak berkontak dengan penderita TB, juga meningkatkan daya tahan tubuhnya yang salah satunya melalui pemberian imunisasi BCG.

DAFTAR PUSTAKA

1.      www.google.com
2.      www.astaqauliyah.com

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar