Sabtu, 26 Mei 2012

MASTITIS PADA MASA NIFAS


Bagi wanita yang telah melahirkan pasti merasa lega dan bahagia atas kelahiran putra-putrinya. Namun, perlu diperhatikan bahwa bagi wanita pasca melahirkan atau yang biasa disebut dengan masa nifas terdapat beberapa masalah yang perlu menjadi perhatian dan penanganan yang khusus jika telah hal ini telah ia alami. Satu dari beberapa masalah pada masa nifas ini adalah Mastitis.
MASTITIS
Adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tidak disertai infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktsional atau mastitis puerperalis. Kadang-kadang keadaan ini dapat menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat. Abses payudara, pengumpulan nanah local didalam payudara merupakan komplikasi berat dari mastitis. Keadaan ini menyebabkan beban penyakit yang berat dan memerlukan biaya yang sangat besar.
Semakin disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat tehnik menyusui yang buruk merupakan penyebab yang penting, tetapi dalam benak petugas kesehatan, mastitis masih dianggap dengan infeksi payudara.
Mastitis dapat terjadi pada setiap tahap laktasi. Abses payudara juga paling sering terjadi pada 6 minggu pertama pasca kelahiran.
Penyebab Mastitis
·         Stasis ASI
biasanya merupakan penyebab primer, yang disertai atau berkembang menuju infeksi.
·         Infeksi
Menurut Gunter (1958) menyatakan bahwa infeksi (bila terjadi), hal ini bukan primer tetapi akibat darai stagnasi ASI sebagai media pertumbuhan bakteri.
STATIS ASI
Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini dapat  terjadi bila payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat bila bayi tidak menghisap ASI, yang dihasilkan dari sebagian atau seluruh payudara. Penyebabkan termasuk kenyutan bayi yang buruk pada payudara, penghisapan yang tidak efektif, pembatasan frekwensi atau durasi menyusui, dan sumbatan pada saluran ASI.
a.       Bendungan ASI
Pada bendungan, payudara terisi sangat penuh dengan ASI dan cairan jaringan. Aliran vena dan limpatik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat, dan tekanan pada tekanan ASI dan alveoli meningkat. Payudara menjadi bengkak dan edema.
Baik kepenuhan fisiologis maupun bendungan, kedua payudara biasanya terkena. Namun, terdapat beberapa perbedaan penting, yaitu:
-          Payudara yang penuh terasa panas berat dan keras. Tidak terlihat mengkilat, edema atau merah. ASI biasanya mengalir dengan lancar, dan kadang-kadang menetes keluar sacara spontan. Bayi mudah menghisap dan mengeluarkan ASI.
-          Payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri. Payudara dapat terlihat mengkilat dan edema. Putting susu teregang menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengenyut untuk mengisap ASI sampai pembengkakan berkurang. Wanita kadang-kadang menjadi demam. Walaupun demikian, demam biasanya hilang dalam 24 jam. 
b.      Frekuensi menyusui
Bendungan payudara dapat dikurangi apabila bayi disusui tanpa batas. Wanita yang menderita mastitis biasanya karena tidak menyusui atau bayi mereka tidak mau menyusu seperti biasanya.
c.       Kenyutan pada payudara
Nyeri puting dan putting peceh-pecah sering ditemukan pada penderita mastitis. Nyeri putting biasa disebabkan karena kenyutan bayi yang buruk sehingga pengeluaran ASI pun tidak efektif.
INFEKSI
Organisme paling sering ditemukan pada penderita mastitis adalah Stapylococcus aureus,
Staph albus, Escheria colli, dan Streptococcus.
Rute infeksi melalui payudara belum diketahui namun diduga melalui duktus laktiferus ke dalam lobus dengan penyebaran hematogen dan melalui fisura putting susu ke dalam system limfatik.
FAKTOR PREDISPOSISI
·         Umur
·         Paritas
·         Serangan sebelumnya
·         Melahirkan
·         Gizi
·         Fektor kekebalan dalam ASI
·         Stress dan kelelahan
·         Pekerjaan diluar rumah
·         Trauma
Gejala Mastitis
Gajala mastitis non infeksius
-          Adanya “bercak panas” atau nyeri tekan yang akut
-          Ada bercak kecil dan keras pada daerah nyeri tekan tersebut
-          Tidak demam
Gejala mastitis infeksius
-          Lemah dan sakit pada otot-otot seperti flu
-          Sakit kepala
-          Demam
-          Terdapat area luka yang lebih luas pada payudara
-          Kulit payudara tampak kemerahan
-          Payudara terasa keras dan tegang (pembengkakan)
Pencegahan
Mastitis sangat mudah dicegah bila menyusui dilakukan dengan baik sejak awal dan apabila terjadi tanda-tanda mastitis seperti bendungan ASI, nyeri putting, dll segera diobati.
a.       Memberikan pemahaman tentang menyusui
Wanita harus mengetahui mengenai penatalaksanaan menyusui yang efektif dan pemberian makanan bayi dengan tepat. Hal yang harus diperhatikan misalnya:
-          Segera susui bayi setelah proses kelahiran
-          Pastikan bahwa bayi mengenyut payudara dengan baik
-          Menyusui secara eksklusif 6 bulan
-          Atur frekuensi menyusui.
b.      Perawatan pada kehamilan dan persalinan
-          Bayi harus di IMD
-          Rawat gabung itu sangat penting
-          Ibu harus mendapat bantuan dan dukungan mengenai tehnik menyusui yang baik
c.       Penatalaksanaan yang efektif pada payudara yang penuh dan kencang
-          Ibu harus dibantu untuk memperbaiki kenyutan bayinya
-          Dukung ibu untuk menyusui sesering mungkin
-          Pemerasan dapat dilakukan dengan tangan maka bantu ibu untuk memeras susu
-          Lakukan kompres pada payudara
d.      Periksa gejala statis ASI
Bila ibu mempunyai gejala statis ASI maka ibu perlu:
-          Beristirahat
-          Anjurkan untuk lebih sering menyusui
-          Kompres panas kompres dingin
-          Pijat lembut pada daerah benjolan saat menyusui
e.       Pengendalian infeksi
Petugas kesehatan perlu sekali memperhatikan mengenai pencegahan infeksi ini misalnya dengan mencuci tangan sebelum melakukan tindakan, menggunakan sarung tangan DTT bila melakukan tindakan dsb.
Penanganan
jika semua pencegahan telah dilakukan namun mastitis tetap terjadi maka penanganannya harus cepat dan tepat serta cari penyebabnya terlebih dahulu..
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam penanganan mastitis
a.       Memberi dukungan
Mastitis merupakan keadaan yang sangat nyeri sekali sehingga sering membuat ibu depresi dan sangat cemas. Ibu juga akan merasa binggung apakah harus melanjutkan menyusui atau tidak, Tetapi ibu cenderung tidak mau melanjutkan menyusui karena sangat sakit. Maka dari itu ibu harus diberi keyakinan untuk tetap menyusui bayinya dan payudaranya akan pulih kembali.
b.      Pengeluaran ASI dengan efektif
Terapi antibiotic dan simtomatik akan membuat ibu merasa lebih nyaman untuk sementara waktu dan akan semakin buruk bila pengeluaran ASI tidak diperbaiki.
-          Memberi dukungan kepada ibu untuk menyusui bayinya tanpa batas, sesering dan selama mungkin
-          Memperbaiki tehnik menyusui dan kenyutan bayi agar pengeluarannya lebih banyak
-          Peras ASI dengan tangan atau alat pemompa ASI
c.       Terapi antibiotic
Terapi antibiotik biasa dilakukan pada mastitis karena infeksi bakteri. Pemberian antibiotic harus tepat.
Antibiotic
Dosis
Eritromisin
250-500mg setiap 6 jam
Flukloksasilin
250 mg setiap 6 jam
Dikloksasilin
125-500 mg setiap 6 jam peroral
Amoksasilin
250-500 mg setiap 8 jam
Sefaleksin
250-500mg setiap 6 jam
d.      Terapi simptomatik
Terapi nyeri ini biasanya dengan analgesic. Bisa diberikan ibu profen atau paracetamol untuk mengurangi nyeri. Dan pantau suhu tubuh ibu. Namun istirahat juga sangat penting dipertimbangkan sebaiknya tidur jika mungkin karena dengan berbaring akan dapat meningkatkan frekuensi menyusui dan pengeluaran asi nya juga akan lebih baik.
Tindakan yang lain dapat juga dilakukan dengan kompres hangat-dingin pada payudara untuk membantu aliran ASI namun ibu juga harus minum air yang banyak.
ABSES PAYUDARA
Bila abses terbentuk maka pus harus segera dikeluarkan, dapat dilakukan dengan insisi dan penyaliran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar