Minggu, 24 Juni 2012

MAKALAH KOMUNIKASI INTERPERSONAL/KONSELING (KIP/K)


                                                                BAB I
                                                                  PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN
Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan. Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atau ide yang dipertukarkan. 

B. PENYAJIAN
1.      Pengertian Komunikasi Interpersonal atau Konseling ( KIP/K )
Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang dilakukan dari orang ke orang, bersifat 2 arah baik secara verbal dan non verbal, dengan saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau individu atau antar individu di dalam kelompok kecil.
Konseling adalah proses pemberian informasi objektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik, bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut ( Saifudin, Abdul Bari : 2002 ).
Montersen ( 1964 : 301 ) mendefinisikan konseling sebagai suatu proses antar-pribadi, dimana satu orang dibantu oleh satu orang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya. Willian Ratingan ( 1967: 114-115 ), mendeskripsikan konseling sebagai usaha untuk membantu seseorang menolong dirinya sendiri.
Suatu komunikasi interpersonal belum tentu suatu konseling tetapi konseling selalu merupakan komunikasi interpersonal. Orang yang memberi bantuan  dalam konseling disebut konselor. Sedangkan orang yang diberi konseling disebut konseli. Dalam kebidanan konseli disebut juga Klien dalam konseling hubungan atau pertalian antara konselor dengan klien memegang peranan yang penting bagi keberhasilan konseling, dan ini berbeda dengan hubungan pada situasi lain.
a.      Konseling merupakan bentuk percakapan wawancara
Wawancara sebagai alat pengumpul data digunakan untuk mendapatkan informasi yang berkenaan dengan pendapat, aspirasi, harapan, persepsi, keinginan dan lain- lain dari individu atau responden. Caranya melalui pertanyaan – pertanyaan yang sengaja diajukan kepada individu. Konseling merupakan salah satu bentuk wawancara.

b.     Kelebihan wawancara :
Apabila pertanyaan yang diajukan dan jawaban yang diberikan dilakukan secara lisan, maka ini disebut wawancara. Bila pertanyaan yang diajukan dan jawaban yang diberikan secara tertulis, disebut kuesioner.
1)      Kelebihan wawancara :
a)       Pertanyaan bila lebih bebas dan mendalam
b)      Hubungan dapat dibina lebih baik sehingga respon lebih bebas menggunakkan pendapatnya.
c)       Dapat direkam dan lebih lengkap ( komprehensif )
d)      Sifat data primer
e)       Dapat mengklarifikasi yang tidak jelas
f)       Banyak digunakan dalam penelitian sosial dan pendidikan.
2)      Jenis wawancara
1.      Terstruktur : jawaban telah dipersiapkan, ada laternatif jawabannya. Keuntungan mudah diolah dan dianalisis.
2.      Tak terstruktur ( bebas ) : tidak perlu menyiapkan jawaban, klien bebas menjawab. Keuntungannya informasi lebih padat dan lengkap. Sulit dianalisis karena jawaban aneka ragam sehingga perlu pengaktagorian.



3)      Tips wawancara yang efektif
1)       Ciptakan suasana terbuka
2)       Jangan memotong pembicaraan
3)       Berikan perhatian
4)       Jangan bersifat evaluatif
5)       Tenggang rasa atau bijaksana
2.      Faktor Penghambat KIP/K
a.      Faktor Individual. Orientasi kultural ( keterikatn budaya ) merupakan faktor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari :
1)      Faktor fisik: kepekaan panca indera ( kemampuan untuk melihat, mendengar), usia, jender ( jenis kelamin ).
2)      Sudut pandang : nilai- nilai
3)      Faktor sosial : sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial, peran sosial.
4)      Bahasa.
b.      Faktor- faktor yang berkaitan dengan interkasi
1)      Tujuan dan harapan terhadap komunikasi
Ini biasanya terjadi apabila dalam suatu komunikasi/ konseling, komunikator tidak memberikan konseling sesuai kebutuhan klien, maka apa yang disampaikan komunikator tidak akan didengar atau diperhatikan oleh klien karena tidak sesuai dengan harapannya. Untuk menghindari hal tersebut sudah seharusnya seorang komunikator memiliki kemampuan untuk menganalisa masalah klien sehingga dapat memberikan konseling sesuai dengan kebutuhan klien. Dengan demikian tujuan dan harapan dari kedua belah pihak dapat tercapai.
2)      Sikap terhadap interkasi
Sikap terbuka dan bersahabat sangat mendukung komunikasi, tetapi sebaliknya orang yang tertutup dan kurang bersahabat akan sulit untuk diajak komunikasi, biasanya orang seperti ini mempunyai sifat introved sehingga susah untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi. Mendapatkan klien yang seperti ini sebagai seorang bidan harus mampu memancing percakapan dan menggunakan pertanyaan- pertanyaan terbuka.
3)      Pembawaan diri seseorang terhadap orang lain ( seperti kehangatan, perhatian, dukungan ).
Pembawaan diri seseorang sangat mempengaruhi komunikasi. Orang sombong, sinis dan tidak memberikan dukungan merupakan hambatan komunikasi yang harus mampu kita hadapi. Kadang- kadang sebagai menusia biasa kita sebagai petugas kesehatan sudah merasa malas dahulu untuk memberikan konseling pada orang semacam itu. Tapi kita harus menyingkirkan sikap seperti itu dan harus profesional. Cobalah untuk bersahabat dan tidak menggurui, tetapi harus menguasai kontens/ materi yang akan kita berikan. Dengan sikap seperti itu biasanya mereka akan merubah sikapnya.
4)      Sejarah hubungan
Sejarah hubungan adalah sesuatu yang telah lampau tetapi akan sangat berpengaruh dimasa sekarang atau masa datang. Orang yang punya hubungan kurang harmonis dimasa lalu dan tiba- tiba bertemu dalam suatu konsultasi/ konseling akan menyebabkan sikap canggung dan malas untuk bertemu. Tapi sekali lagi kita sebagai tenaga kesehatan harus profesional dalam menhadapi ini, lupakan sejenak masalah yang lalu dan hadapi klien sesuai masalah yang harus dipecahkan oleh klien saat ini. Tidak perlu mengungkit- ungkit masa lalu dan pura- puralah lupa kalau pernah ada hubungan/ masalah yang kurang harmonis dimasa lalu.
c.          Faktor Situsiasional
Situasi selama melakukan komunikasi sangat mempengaruhi keberhasilan komunikasi, lingkungan yang tenang dan terjaga privasinya merupakan situasi yang sangat mendukung, begitu pula sebaliknya komunikasi yang dilakukan ditempat keramaian akan sangat mengganggu pendengaran.


d.      Kompetensi dalam melakukan percakapan
Agar komunikasi interpersonal berjalan lancar dan mendatangkan hasil yang diharapkan, baik komunikator maupun komunikan perlu memiliki kemampuan dan kecakapan dalam melakukan komunikasi interpersonal.
Kompetensi KIP adalah tingkat dimana perilaku kita dalam komunikasi interpersonal sesuai dan cocok dengan situasiu dan membantu kita mencapai tujuan komunikasi interpersonal yang kita lakukan dengan orang lain. Dengan kompetensi, perilaku komunikasi kita akan sesuai dengan peraturan- peraturan dalam KIP dan membantu mencapai tujuan komunikasi. Agar komunikasi interpersonal berhasil kita perlu memiliki keterampilan dalam komunikasi interpersonal baik sosial maupun behavioral. Kompetensi tersebut meliputi :
a.       Empati (  emphati ) adalah kecakapan memahami perasaan dan pengertian orang lain.
b.      Perspektif sosial adalah kecakapan melihat kemungkinan – kemungkinan perilaku yang diambil oleh orang yang kita ajak komunikasi.
c.       Kepekaan ( sensitivity ) terhadap sesuatu hal dalam KIP.
d.      Pengetahuan akan situasi pada saat melakukan KIP.
e.       Memonitor diri adalah kemampuan menjaga ketepatan perilaku dan pengungkapan komunikan.
f.       Kecakapan dalam tingkah laku antara lain keterlibatan dalam berinteraksi.
3.      Pengaruh Pemahaman Diri Terhadap Proses KIP/K
a.      Memahami diri sendiri
Memahami diri bertujuan untuk mengetahui dan mengenal siapakah diri kita, apakah persepsi orang lain terhadap diri kita sama atau tidak. Misal mungkin anda merasa ramah, namun menurut orang lain anda judes dan lain- lain. Pemahaman diri meliputi pengetahuan tentang siapa aku, aku kelemahanku, bagaimana perasaanku, apa keinginanku dsb. Kita perlu memahami diri kita agar apa yang menjadi diri kita agar apa yang menjadi potensi dari dalam diri kita pertahankan ayau bahkan kita tingkatkan dan apa yang menjadi kelemahan dan kekurangan kita bisa kita rubah atau kita tutupi, agar menjadi lebih baik, sehingga hal ini akan mengantar kita kearah kesuksesan.
b.      Pengetahuan, keterampilan, sikap yang dimiliki konselor
Perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga aspek yaitu aspek kogniktif, aspek psikomotor dan aspek afektif ( perasaan, sifat, sikap ).
Pengetahuan yang harus dimiliki Bidan tidak hanya pengetahuan kebidanan saja tapi dalam semua bidang ilmu. Antara lain pengetahuan tentang psikologis, kesehatan reproduksi, kebidanan dan kandungan, keluarga berencana, kesehatan neonatus, bayi dan balita, ilmu sosial budaya, pengetahuan tentang hubungan antar manusia, komunikasi interpersonal, pengetahuan tentang konseling dan sebagainya.
Keterampilan yang perlu dimiliki Bidan tentunya semua keterampilan yang sesuai dengan kompetensi Bidan yaitu ada sembilan kompetensi Bidan. Dalam komunikasi dan konseling keterampilan yang harus dapat dikuasai Bidan adalah keterampilan dalam melakukan komunikasi antara lain : terampil dalam membantu memecahkan masalah yang dihadapi klien, terampil dalam melakukan komunikasi interpersonal, terampil dalam menggunakan alat bantu visual untuk pemberian informasi, terampil dalam mengatasi masalah genting yang dihadapi klien, terampil membantu klien mengambil keptusan dan sebagainya.
      Adapun sikap yang sebaiknya dimiliki bidan adalah mempunyai motivasi yang tinggi untuk membantu orang lain, bersikap ramah, sopan santun, menerima klien apa adanya, empati terhadap klien membantu dengan ikhlas, terbuka terhadap pendapat orang lain.
c.       Pengaruh pemahaman diri terhadap KIP/K
Pentingnya pemahaman diri adalah karena Bidan bekerja dengan melibatkan banyak aspek, orang dan kondisi. Bidan perlu memahami bahwa setiap orang mempunyai bio- psiko-sosial-spritual yang berbeda. Sehingga perlu pemahaman diri untuk menghadapi orang dengan berbagai karakteristik. Bidan harus mampu memahami untuk bisa menghadapi kecemasan, kemarahan, kesedihan dan kegembiraan klien. Bidan harus mengetahui bagaimana dia harus mengambil sikap, dan ini bisa menghindarkan dari hal- hal yang tidak diinginkan. Bayangkan apabila Bidan sendiri tidak memahami dirinya, dia tidak tahu bisa mengendalikan diri, misalnya Bidan yang mudah marah.
BAB II
KETERAMPILAN OBSERVASI

A. PENDAHULUAN
Melatih kepekaan observasi adalah keteramoilan dasar dalam membina komunikasi efektif. Yang perlu kita observasi adalah tingkah laku verbal, non verbal dan kesenjangan antara tingkah laku verbal dan non verbal.
Bidan perlu mengamatu tingkah laku verbal dan non verbal untuk mengidentifikasi pesan- pesan yang tidak sinkron/ tidak sejalan dan campur aduk. Seorang bidan yang tajam pengamatannya akan mengetahui bahwa ada beberapa konflik atau ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal dan non verbal, antara apa yang diucapkan dan dikerjakan. 
B. PENYAJIAN
1.      Keterampilan Observasi
a.      Tingkah laku/komunikasi non verbal
1)      Komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal. Dengan kata lain komunikasi verbal dan non verbal merupakan kegiatan yang saling melengkapi dan selalu dilakukan secara bersamaan. Komunikasi nin verbal dapat berbentuk bahasa tubuh, tanda, tindakan/ perbuatan atau objek.
a)       Bahasa Tubuh
Bahasa tubuh ini meliputi ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, postur tubuh dan gaya gaya berjalan, sound, gerak isyarat.
b)      Tanda
Tanda dalam komunikasi non verbal menggantikan kata- kata misalnya bendera, rambu- rambu lalu lintas, dsb
c)        Tindakan atau perbuatan
Tindakan atau perbuatan secara khusus tidak menggantikan kata- kata tetapi mengandung makna, misalnya pakaian, aksesori dandan, dll. Dari pakaian atau aksesoris dandanan maka bisa kita ketahui sosial ekonomi atau gaya orang tersebut.
d)      Objek
Objek juga secara khusus tidak mengganti kata tetapi mempunyai makna, misalnya pakaian, aksesori dandan, dll. Dari pakaian atau aksesoris dandanan maka bisa kita ketahui sosial ekonomi atau gaya orang tesebut.
e)       Warna
Kita sering menggunakan warna untuk menunjukkan suasana emosional, citra rasa, keyakinan agama, politik dll. Di Indonesia warna merah muda adalah feminin ( warna roamntis, jatuh cinta ), warna biru adalah maskulin, warna hijau sering diasosiasikan dengan islam dan muslim karena dipercaya sebagai warna surga, warna putih sebagai warna suci, murni dan bersih.
f)       Fungsi komunikasi non verbal
Komunikasi non verbal dapat berfungsi untuk
v  Melengkapi komunikasi verbal
Misalkan ada anak kecil yang bertengkar maka, selain dengan kata- kata kita melerai biasanya diikuti dengan mata yang melotot.
v  Menekankan komunikasi verbal
Misalkan dalam suatu rapat ada orang yang tidak sependapat maka dia berkata saya akan out dari ruangan sambil menutup pintu keras- keras.
v  Membesar- besarkan komunikasi non verbal
Misalkan bercerita tentang gurila yang tubuhnya besar sambil melebar- lebarkan tangannya kesamping
v  Melawan komunikasi verbal
Misalnya saat orang mengatakan tidak malu tetapi pipi dan wajahnya memerah
v  Meniadakan komunikasi non verbal
Misalnya kita dipaksa untuk memberikan uang lalu kita katakan ini uangnya sambil memasukkan uang itu ke saku.


2)      Komunikasi verbal
Adalah komunikasi yang menggunakan kata- kata, entah lisan maupun tertulis. Melalui kata- kata, perasaan, emosi, pemikiran, gagasan bisa diungkapkan. Dalam komunikasi verbal ini bahasa memegang peranan penting. Bahasa verbal merupakan sarana utama untuk menyatakan perasaan, pikiran dan maksud kita. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana perasaan, pikiran dan maksud kita.
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana bahasa bisa muncul dimuka bumi ini. Menurut Lary L. Barker bahasa memiliki 3 fungsi yaitu penamaan, interaksi dan transmisi informasi ( Mulyana, 2007 ).
Komunikasi verbal menyangkut beberapa aspek, yakni : vocabulary (perbendaharaan kata- kata), racing ( kecepataan ), intonasi suara, humor, singkat, timing ( waktu yang tepat ).
b.      Pengamatan dan Penafsiran Interprestasi
Pengamatan objektif adalah berbagai tingkah laku yang bisa kita lihat dan kita dengar. Penafsiran atau interpretasi adalah kesan terhadap apa yang kita lihat dan kita dengar. Interpretasi dapat diartikan sebagai suatu usaha konselor untuk memberitahukan suatu arti kepada konseli.
Tahap- tahap interpretasi meliputi :
1)      Refleksi perasaan, yaitu konselor tidak pergi jauh dari apa yang dikatakan klien, dengan refleksi perasaan apa yang ada dihati klien didengar oleh konselor.
2)      Klarifikasi yaitu menjelaskan apa yang tersirat dalam perkataan klien.
3)      Refleksi yaitu penilaian konselor terhadap apa yang diungkapkkan klien.
4)      Konfrontasi yaitu konselor membawa kepada perhatian cita- cita dan perasaan klien yang tersirat tetapi tidak disadari.
5)      Interpretasi yaitu konselor memperkenalkan konsep- konsep, hubungan dan pertalian baru yang berakar dalam pengalaman klien.
c.       Keterampilan Membina Hubungan Baik
Dalam konseling, bidan yang baik adalah bidan yang selalu berusaha untuk membina hubungan baik dengan klien. Dan ini akan terjadi bila ada kerjasama diantara keduanya. Keterampilan membina hubungan baik merupakan dasar dari proses kmonikasi interpersonal bidan dengan klien, dengan petugas kesehatan yang lain, tokoh masyarakat dan sebagainya. Dalam membina hubungan baik perlu memberikan dukungan atau motivasi kepada klien.
1)      Tiga hal penting yang perlu diperhatikan agar hubungan baik mantap.
a)      Menunjukkan tanda perhatian verbal
b)      Menjalin kerjasama
c)      Memberikan respon yang positif, pujian, dukungan.
2)      Sikap dan perilaku dasar yang dibutuhkan
Keterampilan membina hubunganh baik merupakan dasar dari komunikasi interpersonal. Membina hubungan baik bisa kita awali dengan sikap hangat, menghormati, menerima klien apa adanya, empati dan tulus. Hubungan baik harus dimulai sejak awal hubungan dan tetap dipertahankan seterusnya. Perilaku bidan yang mendukung terciptanya hubungan baik antara lain : Memberi salam dengan ramah, mempersilahkan duduk, tidak memotong pembicaraan, menjaga kerahasiaan klien, tidak menilai klien dll. Selain itu sikap yang perlu dimiliki adalah SOLER yang merupakan singkatan dari :
S :  Face your squaerely ( mengahadap ke klien ) dan  /nod at client        senyum / mengangguk ke klien )
O : open and non judgemental facial expressio ( ekspresi muka   menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai )
L : Lean towards client/ tubuh condong ke klien
E : Eye contact in aculturally acceptable manner/ kontak mata sesuai cara, budaya setempat.
R : Relaxed and freindy manner ( santai dan sikap bersahabat )  
           
3)      Beberapa sikap yang bisa diamati dalam membina hubungan baik
( Sumber : Tarigan, 2002 )
No
Tingkah Laku Yang Diamati
Ya
Tidak
catatan
1.
Menyediakan lingkungan fisik yang dapat membuat klien merasa nyaman.



2.
Menyambut dan mempersilahkan duduk dengan ramah



3.
Duduk menghadap klien.



4.
Senyum dan mengangguk



5.
Ekspresi wajah menunjukkan mendengar dengan penuh perhatian



6.
Tubuh condong ke klien



7.
Kontak mata/ tatapan mata sesuai yang diterima budaya setempat



8.
Santai dan sikap bersahabat



9.
Volume suara memadai



10.
Intonasi dan kecepatan berbicara memadai



11.
Memberi pujian/dikungan



12.
Menyampaikan akan menjaga kerahasiaan



13.
Tidak mengintererupsi/memotong pembicaraan klien



14.
Tidak melakukan penilaian ( menyalahkan, komentar negatif )



15.
Menanyakan alasan kedatangan klien



16.
Menghargai apapun pertanyaan maupun pendapat klien




d.      Mendengar Aktif
Menjadi pendengar aktif bagi konselor sangat penting karena :
1)       Menunjukkan kepedulian
2)       Merangsang dan memberanikan klien bereaksi secara spontan terhadap konselor,
3)       Menimbulkan situasi yang mengajarkan,
4)       Klien membutuhkan gagasan- gagasan baru
Untuk mencapai tujuan dari komunikasi perlu saling memahami dan saling mendengarkan. Dalam komunikasi terapeutik bidan perlu mempelajari keterampilan mendengar aktif.
Untuk menjadi pendengar yang baik konselor harus memiliki kemampuan sebagai berikut :
1)       Mampu berhubungan dengan orang diluar kalangannya
2)       Mempunyai cara- cara untuk membantu klien
3)       Memperlakukan klien untuk menimbulkan respon yang bermakna
4)       Bertanggung jawab bersama klien dalam konseling


Dalam komunikasi interpersonal konseling ada 4 bentuk mendengarkan yang bisa digunakan sesuai situasi yang dihadapi
1)       Mendengar pasif ( diam )
Mendengarkan memerlukan keterampilan dan latihan yang terus-menerus, dengan mendengarkan kita akan memperoleh informasi yang lengkap dari klien. Meskipun ini memerlukan kesabaran. Di Indonesia mendengar pasif biasanya dilakukan saat klien menceritakan masalahnya, berbicara tanpa henti, mengebu- gebu dengan perasaan kesal atau sedih, saat klien berhenti bicara sejenak, konselor dapat diam untuk memberi kesempatan klien berpikir dan menenangkan diri.
 
2)      Memberi tanda perhatian verbal
Konselor perlu memberikan respon pada klien dengan menggunakan kata- kata atau perhatian verbal. Hal ini dilakukan untuk memberikan motivasi pada klien agar semangat dalam berbicara.
3)      Membuka pembicaraan, undangan untuk berbicara ( mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi )
Mengajukan pertanyaan dilakukan apabila konselor belum puas dengan jawaban yang diberikan klien, perlu klarfikasi mengenai hal yang diungkapkan klien, menandakan konselor mengikuti alur pembicaraan klien.
4)      Mendengar aktif : memberikan umpan balik/ merefleksikan isi ucapan dan perasaan yaitu merangkum, merefleksikan isi uacapan ( paraphrasing ) dan refleksi perasaan.
e.       Kemampuan Bertanya
Bertanya merupakan keterampilan yang cukup penting dan strategis dalam proses komunikasi baik dalam memulai, selama proses atau ataupun dalam mengakhiri.
Keterampilan bertanya dapat dikembangkan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1)       Perhatikan suasana konseling klien
2)       Kuasai materi yang berkaitan dengan pertanyaan
3)       Ajukan pertanyaan dengan cara yang jelas dan terarah, serta tidak keluar dari topik
4)       Segera beri respon/ umpan balik terhadap jawaban pertanyaan yang diajukan dengan sikap yang baik dan empati.
Jenis pertanyaan :
1)      Pertanyaan tertutup : pertanyaan tertutup yang jawabannya sudah pasti dan ini biasanya hanya membutuhkan jawaban “ ya atau Tidak’ untuk mengumpulkan informasi yang faktual ( biasanya diawal percakapan ).
2)      Pertanyaan terbuka : merupakan pertanyaan yang menuntut jawaban yang menungkinkan adanya berbagai macam jawaban, dan memberi kebebasan menjawab pada klien. Ini akan menuntut partisipasi aktif dari klien dan merupakan cara efektif untuk menggali informasi dari klien.
3)      Pertanyaan mendalam : dimaksudkan untuk menggali lebih mkendalam apa yang sudah diungkapkan oleh klien, sehingga informasi didapat secara lengkap dan mendetail. Melengkapi dan menggali lebih dalam hal- hal yang diperlukan, terutama yang bersifat privasi, untuk melakukan ini memerlukan pendekatan dan keakraban dan didasarkan saling percaya, dimana ini memerlukan teknik yang khusus agar tidak bias.
4)      Pertanyaan mengarahkan/sugestif : mengarahkan berarti Bidan mengarahkan apa yang dibicarakan klien. Tidak selalu tepat digunakan pada berbagai kondisi. Pertanyaan mengarahkan ini sebaiknya dihindari oleh Bidan dan biarkan klien mengungkapkan perasaannya secara spontan.
Bertanya efektif :
Ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan agar Bidan bisa bertanya secara efektif :
1)      Gunakan intonasi suara yang menunjukkan perhatian, minat dan keakraban. Jangan terlalu cepat/lambat atau terlalu keras/ lemah. Karena suara yang terlalu lemah dan lambat akan susah didengar dan sering membuat ngantuk karena seolah- olah kita dibuai oleh suara seperti itu. Begitu pula suara yang terlalu keras akan membuat telinga sakit dan mengurangi konsentrasi untuk mendengar.
2)      Gunakan kata- kata yang difahami klien, karena bahsa- bahasa ilmiah yang tidak dipahami klien tidak akan bisa terjadi atau bahkan menyebabkan salah arti. Ini sering terjadi pada bidan- bidan diawal pekerjaannya. Istilah- istilah kebidanan sering digunakan untuk berkomunikasi dengan klien yang tidak memahami istilah tersebut.
3)      Ajukan pertanyaan satu persatu. Jangan mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Karena ini tidak efektif kadang klien hanya ingat pertanyaan yang terakhir saja sehingga kita harus mengulang- ulang lagi. Sehingga ajukan pertanyaan satu persatu agar bisa terjawab sesuai apa yang kita butuhkan.
4)      Tunggu jawaban dengan penuh minat, jangan memotong. Biarkan klien menyelesaikan kalimatnya karena pemotongan ditengah kalimat bisa menimbulkan salah persepsi.
5)      Gunakan kata- kata yang mendorong klien untuk tetap bicara. Dengan demikian klien merasa diperhatikan dan lebih semangat untuk mengungkapkan pembicaraannya.
6)      Bila harus menanyakan hal yang sangat pribadi, jelaskan mengapa hal itu harus ditanya. Kadang- kadang klien malu untuk mengungkapkan dan menutupi hal- hal tersebut. Dengan penjelasan bahwa hal itu untuk tujuan penyembuhan dll maka klien akan mengungkapkan secara sukarela dan terbuka.
7)      Hindari penggunaan kata tanya “ mengapa “ karena kemungkinan kita dapat merasa disahkan. 

                
BAB III
MACAM-MACAM KLIEN DALAM ASUHAN KEBIDANAN

A. PENDAHULUAN
Mengingat tugas yang perlu dulaksanakan seorang bidan maka setelah memperoleh pendidikan, bidan diharapkan mempunyai keterampilan berpikir, berkomunikasi dan menguasai keterampilan praktis. Bidan dalam pekerjaannya sehari- hari perlu membantu pasien menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi pasien. Untuk itu dia harus mampu memahami berbagai penyakit dan upaya kesehatan serta mampu mengkomunikasikannya baik pada pasien perorangan maupun pada masyarakat. Lingkup berkomunikasi tak kalah pentingnya bagi seorang bidan untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, Bidan harus mampu berkomunikasi dengan pasien dalam proses anamnesis, pemeriksaan fisik, menjelaskan hasil pemeriksaan bahkan bidan dikomunitas juga harus mampu berkomunikasi dengan masyarakat agar program kesehatan yang direncanakan dapat berjalan dengan baik.

B. PENYAJIAN
1.      Macam – Macam Klien Dalam Asuhan Kebidanan
Dalam pelayanan kebidanan, sesuai dengan wewenang dan lingkup pelayanan, maka Bidang konseling kebidanan ( BK ) meliputi :
a.      Komunikasi pada bayi dan balita
Bayi merupakan mahkluk yang menakjubkan, diciptakan untuk memberikan dan menerima kebahagiaan, ditakdirkan untuk makan, tidur, beristirahat dan bermain kapanpun mereka mau. Bayi belum bisa berkata- kata, sebagai gantinya bayi menangis untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Komunikasi bayi dimulai sejak dia lahir ke dunia, dimulai ketika bayi mulai menangis sampai bayi dapat bicara lancar, adapun prosesnya dari bayi menangis sampai bisa berkata- kata belum dipahami secara pasti.


1)      Perkembangan Komunikasi
Fase pertumbuhan dan perkembangan komunikasi pada bayi meliputi :
a)      Fase prelinguistic ( fase sebelum bicara )
Suara pertama yang dikeluarkan bayi baru lahir adalah tangis sebagai rekasi sehubungan perubahan tekanan udara dan suhu luar uterin. Kebutuhan dikomunikasikan lewat tangis sampai usia satu tahun, pada saat usia anak dua sampai tiga minggu seharusnya orang tua sudah dapat membedakan tangis bayi. Biasanya bayi menangis karena lapar, pantat basah, kesakitan atau minta perhatian.
b)     Kata pertama
v  Usia 10-12 bulan tumbuh pengertian pasif dari bahasa
v  Kata pertama mungkin tidak disadari oleh orang tuanya karena anak banyak akal untuk mengerti perlu mendengar apa yang dikatakan anak sehubungan dengan apa yang dikerjakan misal namun bisa berarti mama, bisa berarti makan.
v  Anak memberikan reaksi yang berbeda pada satu kata ucapkan dengan intonasi pada usia 4-5 bulan. Ketika ada orang bilang diam sambil membentak akan berbeda ketika orang berkata diam untuk menenangkan tangisan.
v  Bicara sesungguhnya mulai usia 12- 18 bulan karena sudah bisa dimengerti maksudnya.
v  Satu kata mengandung satu kalimat, misal mengatakan makan maka berarti saya mau makan.
v  Menggunakan empat kata usia lima belas bulan, sepuluh kata usia delapan belas bulan, lima puluh kata usia dua tahun dan anak sudah bisa bereaksi terhadap perintah orang tuanya.
c)      Kalimat pertama
v  Usia dua tahun anak mulai menyusun kata
v  Periode ini dikenal sebagai pembicaraan komplit.
v  Kalimat anak seperti juga kata pertama, punya arti pribadi dan tidak ikut aturan tata bahasa. Misal anak bilang makan berarti aku mau makan. Jadi orang tua atau orang disekitarnya harus tanggap terhadap kata- kata anak tersebut.
v  Kadang- kadang disusun kombinasi kata yang aneh dan merubah- rubah huruf/kata karena sulit mengucapkan satu nama. Contoh perahu diucapkan pelahu.
d)     Kemampuan bicara egosentris dan memasyarakat
Psikolog Perancis Jean Peeget mengkategorikan anak usia empat sampai sebelas tahun keatas berbicara egosentris dan memasyarakat.  Kemampuan bicara egosentris ( berpusat pada diri sendiri ) dibedakan tiga macam :
·         Repetitif ( pengulangan ). Kata yang didengar diulang – ulang.
·         Menolong ( berbicara satu arah ) biasa pada anak pra sekolah., anak bicar sendiri memainkan banyak peran dengan berkata- kata sendiri.
·         Menolong kolentif. Beberapa anak berkumpul dalam suatu tempat tapi mereka bicara sendiri – sendiri biasanya asyik memainkan maianannya sendiri.
e)      Perkembangan semantik
Semantik adalah pengetahuan yang mempelajari arti dari kata pada bahasa yang diajarkan. Anak pertama kali memahami arti konkrit dan jenis kata konkrit kemudian mulai mengetahui arti dan jenis kata abstrak.
2)      Faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa
a)      Intelegensi ( kecerdasan ). Ini jelas mempengaruhi bahasa, misalnya idiot akan lebih lambat perkembangan bahasanya dibanding anak- anak yang punya intelegensi normal atau rugi.
b)      Jenis kelamin. Tahun pertama tidak banyak perbedaan, setelah itu wanita lebih superior. Usia sekolah akhir setara kembali dalam perbendaharaan kata, laki- laki lebih unggul dalam kata- kata tertentu, wanita unggul dalam tata bahasa.
c)      Bilingual ( dua bahasa ). Penelitian kontradiktif anak dengan dua bahasa lambat perkembangan bahasanya.
d)     Status tunggal atau kembar. Pada anak kembar rangasang bicara kurang dari orang lain.
e)      Rangsangan/dorongan orang tua. Ibu yang orientasi objek dan tidak kritis/instruktif anak lebih cepat dalam perkembangan bahasa.
f)       Sosial ekonomi. Sosial ekonomi tinggi lebih unggul ditunjang fasilitas.
3)      Cara- cara dalam memberikan dukungan rangsangan aktif adalah :
a)      Memperbaiki model orang tuanya : orang tua didorong untuk melengkapi diri dan jadi model yang baik, mempelajari bahasa yang baik, komunikatif sesuai tingkat perkembangan anak.
b)      Mendorong kemampuan komunikasi, baik verbal maupun non verbal
c)      Berikan anak pengalaman untuk dapat berbicarakan
d)     Mendorong anak untuk mendengar
e)      Mendorong anak berbicara sebagai pengganti tindakan aksi
f)       Gunakan kata yang pasti dan benar. Meskipun anak belum bisa menyebutkan R misal pelmen untuk menyebut permen tapi orang tua harus tetap menyebutnya permen.
4)       Prinsip komunikasi efektif
 Yang harus kita perhatikan saat komunikasi dengan anak :
a)      Kesabaran mendengar. Cobalah dengarkan seluruh ucapan anak, jangan memotong sedikit pun kata- kata mereka. Sebagian besar orang tua tak tahan tidak memotong pembicaraan anak, karena merasa lebih tahu dan lebih tua.
b)      Role playing. Bermain peran sebagai guru, ayah ibu, polisi- penjahat, dokter hewan dan sebagainya akan membuat anak- anak mampu mengekspresikan segala emosi, perasaan, pikiran dan keinginan mereka secara bebas.
c)      Tepat guna. Bila anak melakukan kesalahan, tegurlah pada saat itu juga. Bukan tindakan bijaksana apabila kita menunda kemarahan/teguran sampai ayah pulang dari kantor atau mengungkit-ungkit kesalahan anak yang sudah lalu.

  
BAB IV
KESIMPULAN

A.    KESIMPULAN
Pentingnya pemahaman diri adalah karena Bidan bekerja dengan melibatkan banyak aspek, orang dan kondisi. Bidan perlu memahami bahwa setiap orang mempunyai bio- psiko-sosial-spritual yang berbeda. Sehingga perlu pemahaman diri untuk menghadapi orang dengan berbagai karakteristik. Bidan harus mampu memahami untuk bisa menghadapi kecemasan, kemarahan, kesedihan dan kegembiraan klien.
Mengingat tugas yang perlu dulaksanakan seorang bidan maka setelah memperoleh pendidikan, bidan diharapkan mempunyai keterampilan berpikir, berkomunikasi dan menguasai keterampilan praktis. Bidan dalam pekerjaannya sehari- hari perlu membantu pasien menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi pasien. Untuk itu dia harus mampu memahami berbagai penyakit dan upaya kesehatan serta mampu mengkomunikasikannya baik pada pasien perorangan maupun pada masyarakat.
B.     Saran
Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan. Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atau ide yang dipertukarkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar