Jumat, 16 Desember 2011

MAKALAH IKTERUS

A. Definisi
1. Ikterus
Adalah perubahan warna kuning pada kulit, membrane mukosa, sclera dan organ lain yang disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin di dalam darah dan ikterus sinonim dengan jaundice.
2. Ikterus Fisiologis
Ikterus fisiologis menurut Tarigan (2003) dan Callhon (1996) dalam Schwats (2005) adalah ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
• Timbul pada hari kedua – ketiga
• Kadar bilirubin indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg % pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % per hari pada kurang bulan
• Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % perhari
• Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg %
• Ikterus hilang pada 10 hari pertama
• Tidak mempunyai dasar patologis
3. Ikterus Pathologis/ hiperbilirubinemia
Ikterus patologis/hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam darah mencapai nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Ikterus yang kemungkinan menjadi patologis atau hiperbilirubinemia dengan karakteristik sebagai berikut :
a. Menurut Surasmi (2003) bila :
• Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran
• Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg % atau > setiap 24 jam
• Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg % pada neonatus < bulan dan 12,5 % pada neonatus cukup bulan
• Ikterus disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD dan sepsis)
• Ikterus disertai berat lahir < 2000 gr, masa gestasi < 36 minggu, asfiksia, hipoksia, sindrom gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia, hiperkapnia, hiperosmolalitas darah.
b. Menurut tarigan (2003), adalah :
Suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan hiperbilirubinemia bila kadar bilirubin mencapai 12 mg % pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi yang kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg % dan 15 mg %.
4. Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak. Kern Ikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus cukup bulan dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg %) dan disertai penyakit hemolitik berat dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern ikterus secara klinis berbentuk kelainan syaraf spatis yang terjadi secara kronik.

B. Jenis Bilirubin
Menuru Klous dan Fanaraft (1998) bilirubin dibedakan menjad dua jenis yaitu:
1. Bilirubin tidak terkonjugasi atau bilirubin indirek atau bilirubin bebas yaitu bilirubin tidak larut dalam air, berikatan dengan albumin untuk transport dan komponen bebas larut dalam lemak serta bersifat toksik untuk otak karena bisa melewati sawar darah otak.
2. bilirubin terkonjugasi atau bilirubin direk atau bilirubin terikat yaitu bilirubin larut dalam air dan tidak toksik untuk otak.

C. Etiologi
Etiologi hiperbilirubin antara lain :
1. Peningkatan produksi
• Hemolisis, misalnya pada inkompalibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan rhesus dan ABO.
• Perdarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran
• Ikatan bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolic yang terdapat pada bayi hipoksia atau asidosis
• Defisiensi G6PD (Glukosa 6 Phostat Dehidrogenase)
• Breast milk jaundice yang disebabkan oleh kekurangannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta), diol (steroid)
• Kurangnya enzim glukoronil transferase, sehingga kadar bilirubin indirek meningkat misalnya pada BBLR
• Kelainan congenital
2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya sulfadiazine.
3. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti infeksi, toksoplasmasiss, syphilis.
4. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ektra hepatic.
5. Peningkatan sirkulasi enterohepatik, misalnya pada ileus obstruktif.

D. Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Keadaan yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia.
Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan ada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada syaraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl.
Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin indirek akan mudak melewati darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah, hipoksia, dan hipolikemia.

E. Tanda dan Gejala
Menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi :
a. Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada neonatus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
b. Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis, gengguan pendengaran, paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis).
Sedangakan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik) pada kulit, membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar bilirubin darah mencapai sekitar 40 µmol/l.

F. Komplikasi
Terjadi kern ikterus yaitu keruskan otak akibat perlangketan bilirubin indirek pada otak. Pada kern ikterus gejala klinik pada permulaan tidak jelas antara lain : bayi tidak mau menghisap, letargi, mata berputar-putar, gerakan tidak menentu (involuntary movements), kejang tonus otot meninggi, leher kaku, dn akhirnya opistotonus.

G. Pemeriksaan Penunjang
Bila tersedia fasilitas, maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
• Pemeriksaan golongan darah ibu pada saat kehamilan dan bayi pada saat kelahiran
• Bila ibu mempunyai golongan darah O dianjurkan untuk menyimpan darah tali pusat pada setiap persalinan untuk pemeriksaan lanjutan yang dibutuhkan
• Kadar bilirubin serum total diperlukan bila ditemukan ikterus pada 24 jam pertama kelahiran

H. Penilaian Ikterus Menurut Kramer
Ikterus dimulai dari kepala, leher dan seterusnya. Dan membagi tubuh bayi baru lahir dalam lima bagian bawah sampai tumut, tumit-pergelangan kaki dan bahu pergelanagn tangan dan kaki seta tangan termasuk telapak kaki dan telapak tangan.
Cara pemeriksaannya ialah dengan menekan jari telunjuk ditempat yang tulangnya menonjol seperti tulang hidung, tulang dada, lutut dan lain-lain. Kemudian penilaian kadar bilirubin dari tiap-tiap nomor disesuaikan dengan angka rata-rata didalam gambar di bawah ini :

Tabel hubungan kadar bilirubin dengan ikterus
Derajat
Ikterus Daerah Ikterus Perkiraan kadar Bilirubin (rata-rata)
Aterm Prematur
1 Kepala sampai leher 5,4 -
2 Kepala, badan sampai dengan umbilicus 8,9 9,4
3 Kepala, badan, paha, sampai dengan lutut 11,8 11,4
4 Kepala, badan, ekstremitas sampai dengan tangan dan kaki 15,8 13,3
5 Kepala, badan, semua ekstremitas sampai dengan ujung jari

I. Diagnosis Banding Ikterus
Anamnesis Pemeriksaan Pemeriksaan penunjang atau diagnosis lain yang sudah diketahui Kemungkinan diagnosis
• Timbul saat lahir hari ke-2
• Riwayat ikterus pada bayi sebelumnya
• Riwayat penyakit keluarga: ikterus, anemia, pembesaran hati, pengangkatan limfa, defisiensi G6PD Sangat ikterus
Sangat pucat
Hb<13>8 mg/dl pada hari ke-1 atau kadar Bilirubin>13 mg/dl pada hari ke-2 ikterus/kadar bilirubin cepat
Bila ada fasilitas: Coombs tes positif
Defisiensi G6PD
Inkompatibilitas golongan darah ABO atau Rh Ikterus hemolitik akibat inkompatibilitas darah
• Timbul saat lahir sampai dengan hari ke2 atau lebih
• Riwayat infeksi maternal Sangat ikterus
Tanda infeksi/sepsis: malas minum, kurang aktif, tangis lemah, suhu tubuh abnormal Lekositosis, leukopeni, trombositopenia Ikterus diduga karena infeksi berat/sepsis
• Timbul pada hari 1
• Riwayat ibu hamil pengguna obat
• Ikterus hebat timbul pada hari ke2
• Ensefalopati timbul pada hari ke 3-7
• Ikterus hebat yang tidak atau terlambat diobati
• Ikterus menetap setelah usia 2 minggu

• Timbul hari ke2 arau lebih
• Bayi berat lahir rendah Ikterus

Sangat ikterus, kejang, postur abnormal, letragi
Ikterus berlangsung > 2 minggu pada bayi cukup bulan dan > 3 minggu pada bayi kurang bulan
Bayi tampak sehat
Bila ada fasilitas: Hasil tes Coombs positif
Faktor pendukung: Urine gelap, feses pucat, peningkatan bilirubin direks Ikterus akibat obat
Ensefalopati
Ikterus berkepenjangan (Prolonged Ikterus)
Ikterus pada bayi prematur
J. Penatalaksanaan
Berdasarkan pada penyebabnya maka manajemen bayi dengan hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1. Menghilangkan anemia
2. Menghilangkan antibody maternal dan eritrosit teresensitisasi
3. Meningkatkan badan serum albumin
4. Menurunkan serum bilirubin
Metode terapi hiperbilirubinemia meliputi : fototerapi, transfuse pangganti, infuse albumin dan therapi obat.
a. Fototherapi
Fototerapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan transfuse pengganti untuk menurunkan bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorescent light bulbs or bulbs in the blue light spectrum) akan menurunkan bilirubin dalam kulit. Fototerapi menurunkan kadar bilirubin dengan cara memfasilitasi ekskresi bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorpsi jaringan merubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah fotobilirubin berikatan dengan albumin dan di kirim ke hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke empedu dan di ekskresikan kedalam duodenum untuk di buang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh hati. Hasil fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine.
Fototerapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab kekuningan dan hemolisis dapat menyebabkan anemia.
Secara umum fototerapi harus diberikan pada kadar bilirubin indirek 4-5 mg/dl. Noenatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus difototerapi dengan konsentrasi bilirubin 5 mg/dl. Beberapa ilmuwan mengarahkan untuk memberikan fototerapi profilaksasi pada 24 jam pertama pada bayi resiko tinggi dan berat badan lahir rendah.
Tabel Terapi
Berikut tabel yang menggambarkan kapan bayi perlu menjalani fototerapi dan penanganan medis lainnya, sesuai The American Academy of Pediaatrics (AAP) tahun 1994
Bayi lahir cukup bulan (38 – 42 minggu)
Usia bayi (jam) Pertimbangan terapi sinar Terapi sinar Transfuse tukar bila terapi sinar intensif gagal Transfuse tukar dan terapi sinar intensif
Kadar bilirubin Indirek serum Mg/dl
<24
25 -48 >9 >12 >20 >25
49 – 72 >12 >15 >25 >30
>72 >15 >17 >25 >30

Bayi lahir kurang bulan perlu fototerapi jika:
Usia (jam) Berat lahir <>2000 g kadar bilirubin
<> 4 > 4 > 5
25 - 48 > 5 > 7 > 8
49 - 72 > 7 > 8 > 10
> 72 > 8 > 9 > 12

Panduan terapi sinar berdasarkan kadar bilirubin serum
Saat timbul ikterus Bayi cukup bulan sehat kadar bilirubin, mg/dl: (µmol/l) Bayi denagn factor resiko (kadar bilirubin, mg/dl:µmol/l)
Hari ke 1 Setiap terlihat ikterus Setiap terlihat ikterus
Hari ke 2 15 (260) 13 (220)
Hari ke 3 18 (310) 16 (270)
Hari ke 4 dst 20 (340) 17 (290)

b. Transfusi Pengganti
Transfuse pengganti atau imediat didindikasikan adanya faktor-faktor :
1. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu
2. Penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir
3. Penyakit hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama
4. Kadar bilirubin direk labih besar 3,5 mg/dl di minggu pertama
5. Serum bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl pada 48 jam pertama
6. Hemoglobin kurang dari 12 gr/dl
7. Bayi pada resiko terjadi kern Ikterus
Transfusi pengganti digunkan untuk:
1. Mengatasi anemia sel darah merah yang tidak susceptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap antibody maternal
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan serum ilirubin
4. Meningkatkan albumin bebas bilirubin dan meningkatkan keterikatan dangan bilirubin
Pada Rh Inkomptabilitas diperlukan transfuse darah golongan O segera (kurang dari 2 hari), Rh negative whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B. setiap 4 -8 jam kadar bilirubin harus di cek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil

c. Therapi Obat
Phenobarbital dapat menstimulus hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi bilirubin dan mengekskresikannya. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan Phenobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi). Coloistrin dapat mengurangi bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus enterohepatika

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat Penyakit
Perlunya ditanyakan apakah dulu pernah mengalami hal yang sama, apakah sebelumnya pernah mengkonsumsi obat-obat atau jamu tertentu baik dari dokter maupun yang di beli sendiri, apakah ada riwayat kontak denagn penderiata sakit kuning, adakah rwayat operasi empedu, adakah riwayat mendapatkan suntikan atau transfuse darah. Ditemukan adanya riwayat gangguan hemolissi darah (ketidaksesuaian golongan Rh atau darah ABO), polisitemia, infeksi, hematoma, gangguan metabolisme hepar, obstruksi saluran pencernaan dan ASI, ibu menderita DM.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pemeriksaan derajat ikterus, ikterus terlihat pada sclera, tanda-tanda penyakit hati kronis yaitu eritema palmaris, jari tubuh (clubbing), ginekomastia (kuku putih) dan termasuk pemeriksaan organ hati (tentang ukuran, tepid an permukaan); ditemukan adanya pembesaran limpa (splenomegali), pelebaran kandung empedu, dan masa abdominal, selaput lender, kulit nerwarna merah tua, urine pekat warna teh, letargi, hipotonus, reflek menghisap kurang/lemah, peka rangsang, tremor, kejang, dan tangisan melengking.
3. Pengkajian Psikososial
Pengkajian psikososial antara lain dampak sakit pada anak hubungan dengan orang tua, apakah orang tua merasa bersalah, merasa bonding, perpisahan dengan anak.
4. Perpisahan Keluarga
Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut, apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang sama, tingkat pendidikan, kemampuan mempelajari hiperbilirubinemia.

5. Laboratorium
Pada bayi denagn hiperbilirubinemia pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya Rh darah ibu dan janin berlainan, kadar bilirubin bayi aterm lebih dari 12,5 mg/dl, premature lebih dari 15 mg/dl, dan dilakukan tes Comb.

B. Diagnosa Keperawatan, Tujuan dan Intervensi
1. Diagnosa Keperawatan: Kurangnya volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, fototerapi, dan diare.
Tujuan: Cairan tubuh neonatus adekuat.
Intervensi:
a. Catat jumlah dan kualitas feses
b. Pantau turgor kulit
c. Pantau intake out put
d. Beri air diantara menyusui atau memberi botol
2. Diagnosa Keperawatan: Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan efek fototerapi.
Tujuan: Kestabilan suhu tubuh bayi dapat dipertahankan
Intervensi:
a. Beri suhu lengkungan yang netral
b. Pertahankan suhu antara (35,5 – 37)oC
c. Cek tanda-tanda vital tiap 2 jam
3. Diagnosa Keperawatan: Gangguan integritas kulit berhubungan dengan hiperbilirubinemia dan diare.
Tujuan: Keutuhan kulit bayi bias dipertahankan
Intervensi:
a. Kaji warna kulit tiap 8 jam
b. Pantau bilirubin direk dan indirek
c. Rubah posisi setiap 2 jam
d. Masase daerah yang menonjol
e. Jaga kebersihan kulit dan kelembabannya

4. Diagnosa Keperawatan: Gangguan parenting berhubungan dengan pemisahan
Tujuan:
a. Orang tua dan bayi menunjukkan tingkah laku “Attachment”
b. Orang tua dapatmengekspresikan ketidakmengertian proses bonding
Intervensi:
a. Bawa bayi ke ibu untuk disusui
b. Buka tutup mata saat disusui untuk stimulasi social dengan ibu
c. Anjurkan orang tua untuk mengajak bicara anaknya
d. Libatkan orang tua dalam perawatan bila men\mungkinkan
e. Dorong orang tua mengekspresikan perasaannya
5. Diagnosa Keperawatan: Kecemasan meningkat berhubungan dengan terapi yang diberikan pada bayi
Tujuan: Orang tua mengerti tentang perawatan, dapat mengidentifikasi gejala-gejala untuk menyampaikan pada tim kesehatan.
Intervensi:
a. Kaji pengetahuan keluarga klien
b. Beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning, proses terapi dan perawatannya.
c. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi di rumah
6. Diagnosa Keperawatan: Risiko tinggi trauma berhubungan dengan efek fototerapi.
Tujuan: Neonatus akan berkembang tanpa disertai tanda-tanda gangguan akibat fototerapi.
Intervensi:
a. Tempatkan neonatus pada jaraj 45 cm dari sumber cahaya
b. Biarkan neonatus dalam keadaan telanjang kecuali mata dan daerah genital serta bokong ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya
c. Usahakan agar penutup mata tidak menutupi hidung dan bibir
d. Matikan lampu
e. Buka penutup mata untuk mengkaji adanya konjungtivitis tiap 8 jam
f. Buka tutup mata setiap akan disusukan
g. Ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan
7. Diagnosa Keperawatan: Risiko tinggi trauma berhubungan dengan transfuse tukar.
Tujuan: Transfusi tukar dapat dilakukan tanpa komplikasi
Intervensi:
a. Catat kondisi umbilical jika vena umbilical yang digunakan
b. Basahi umbilical dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan
c. Neonatus puasa 4 jam sebelum tindakan
d. Pertahankan suhu tubuh bayi, catat jenis darah ibu dan Rh serta darahyang akan ditransfusikan adalah darah segar
e. Pantau tanda-tanda vital, salama dan sesudah transfusi
f. Siapkan suction bila diperlukan
g. Amati adanya gangguan cairan elektrolit; apnoe, bradikardi, kejang; monitor pemeriksaan laboratorium sesuai program

C. Evaluasi
• Tidak terjadi kernikterus pada neonatus
• Tanda vital dan suhu tubuh bayi stabil dalam batas normal
• Keseimbangan cairan dan elektrolit bayi terpelihara
• Integritas kulit baik/utuh
• Bayi menunjukkan partisipasi terhadap rangsangan visual
• Terjalin interaksi bayi dan orang tua.

DAFTAR PUSTAKA
Bobak, J.1985. Maternity and Ginecologic Care. Precenton.
Handoko, I.S. 2003. Hiperbilirubinemia. Klinikku. http://www.klinikku.com/pustaka/dasar/hati/hiperbilirubinemia3.html.
Markum, H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Buku I. FKUI, Jakarta.
Pritchard, J.A. 1997. Obstetric Williams. Edisi xvii. Airlangga University Press: Surabaya.
Saifudin, AB, dkk. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBPSP, Jakarta.
Solahudin, G. 2006. Kapan Bayi Kuning Perlu Terapi?. http://tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=08392&rubrik=bayi.
Schwart, M.W. 2005. Pedoman Klilik Pediatrik. Jakarta : EGC.
Surasmi, A., Handayani, S. & Kusuma, H.N. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Cetakan I. Jakarta : EGC.
Tarigan, M. 2003 Asuhan Keperawatan dan Aplikasi Discharge Planning Pada Klien dengan Hiperbilirubinemia. FK Program Studi Ilmu Keperawatan Bagian Keperawatan Medikal Bedah USU. Medan. http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/04/05/nrs,20040405-01,id.h...

Minggu, 11 Desember 2011

MAKALAH MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN DENGAN PANGGUL SEMPIT

BAB I
PENDAHULUAN
2. Latar belakang
Proses persalinan merupakan suatu proses mekanik, dimana suatu benda di dorong melalui ruangan oleh suatu tenaga. Benda yang didorong adalah janin, ruangan adalah Pelvis untuk membuka servik dan mendorong bayi keluar.
Jika tidak ada disproporsi antara Pervis dan janin normal dan serta letak anak tidak patologik, dapat di tunggu Partus spontan bila ada disproporsi feto Pelvik atau janin letak lintang maka terjadi persalinan Patologis (SC)
2.1 Tujuan umum
Dapat membedakan tentang perbedaan Panggul Normal dan Panggul Patologis. Atau dapat membedakan bisa bersalin normal atau persalinan secara abnormal (SC)
2.2 Tujuan khusus
1. Mampu melaksanakan pengkajian, mengumpulakan data dengan cara Anamnesa dan Observasi
2. Mampu menegakan diagnosis mengkaji masalah dan kebutuhan berdasarkan interprestasi data yang telah dikumpulkan
3. Mampu mengidentifikasi adanya masalah potensial
4. Mampu mengindentifikasi perlunya tindakan segera, kolaborasi dan rujukan
5. Mampu membuat rencana asuhan sebagai dasar untuk melaksanakan asuhan kebidanan
6. Mampu melakukan Implementasi secara efektif dan efesien
7. Mampu mengevaluasi asuhan kebidanan yang diberikan
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
C. Seksio Cesaria
Seksio Cesaria adalah janin melalui pada dinding abdomen (Laparatomi) dan insisi pada uterus (histerotomi), sehingga persalinan janin pada kasus ruptura uteri dan kehamilan abdominal tidak termasuk dalam diagnosa ini
Indikasi Seksio Cesaria
1. Bekas Seksio Cesaria
2. Distosia
3. Presentasi bokong
4. Fetal distress
D. Cephalopelvik Disproportion (CPD) atau Disproporsi sefalo-Pervik
1. Konsep Dasar
1.1 Pengertian
Cephalopelvik Disproportion (CPD) atau Disproporsi sefalo-Pervik adalah ketidak cocokan antara kepala janin dan bagian pervis tertentu yang harus dilaluinya (Kamus Kebidanan).
Janin dapat terletak melitang pada panggul ibu yang berukuran terlalu kecil atau bentuknya abnormal, atau letak presentasi kepala yang diameternya tidak menguntungkan abnormal besar. Keadaan ini akan diketahui dalam 3 minggu terakhir kehamilan dengan tidak berhasilnya kepala janin masuk kedalam PAP, baik secara spontan maupun secara penekanan. Derajat disproporsi dapat dinilai secara akurat dengan bantuan sinar x (ultra suara) dengan derajat yang ringan, kerja uterus dalam persalinan cukup memadai untuk mengubah bentuk kepala janin hingga dapat melewati panggul ibu. Perubahan bentuk kepala janin ini sering disertai peningkatan pleksi. Pada keadaan ini persalinan dapat berlangsung tampa komplikasi pada janin atau ibunya. Pada disproporsi dengan derajat sedang hingga berat kelahiran bayi harus dilakukan Seksio Cesaria (SC).
1.2 Disproporsi Sefalo-Pelvik
Ada beberapa kemungkinan :
1. Imbang Sefalo-Pelvik baik
Partus dapat direncanakan pervaginam,namun demikian his,posisi kepala dan keadaan serviks harus diperhatikan selama partus.
2. Disproporsi Sefalo-Pelvik
Artinya bahwa janin tidak dapat dilahirkan secara normal pervaginam,bila anak hidup lakukan seksio sesaria (SC).
3. Kemungkinan Disproporsi
Mengandung arti yaitu imbang baik atau dapat terjadi disproporsi.
‘’Untuk mendapat kepastian maka harus dilakukan pemeriksaan radiologi dan atau
Partus percobaan’’.
1.3 Pemeriksaan Panggul
Terdiri dari :
1. Pemeriksaan Panggul Luar
2. Pemeriksaan panggul dalam (VT) ,yang dievaluasi antara lain :
Promotorium, linea innominata, spina ischiadika, dinding samping, kurvatura sakrum, Ujung sakrum, dan arkus pubis.
Pada pemeriksaan ini dicoba memperkirakan ukuran :
· Konjugata Diagonalis dan konjungata vera
· Distansia Inter Spinarum ( diameter dispinarum )
· Diameter antaro – posterior pintu bawah panggul.
‘’Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan antara kehamilan pada minggu ke 34 – 35’’
· Kesempitan pada Pintu Atas Panggul
PAP sempit apabila konjungata vera kurang dari 10 cm atau diamter transversa kurang dari 12 cm.
· Kesempitan Panggul Tengah
Dengan sakrum melengkung sempurna, dinding- dinding panggul tidak berkonvergensi, foramen ischiadikum mayor cukup luas dan spina ischiadika tidak menonjol kedalam dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan rintangan. Ukuran terpenting adalah Distansia Interspinarum, apabila
ukuaran ini kurang dari 9,5 cm, perlu diwaspadai tentang kesukaran persalinan.
· Kesempitan Pintu Bawah Panggul
Pintu bawah panggul tidak merupakan bidang datar, tetapi terdiri atas segi tiga depan dan segi tiga belakang yang memmpunyai dasar yang sama, yakni distansia tuberrum. Apabila ukuran terakhir ini lebih kecil dari pada yang biasa maka sudut
Arkus pubis mengecil pula ( kurang dari 80 0 ). Agar supaya dalam hal ini kepala janin
dapat lahir, diperlukan ruangan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul. Dengan diameter sagitalis posterior yang cukup panjang, persalinan pervaginam dapat dilaksanakan, walaupun dengan perlukaan luas pada perineum.
Dengan distansia tuberrum bersama dengan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa.
Conjungata vera = Conjungata Diagonal – 1 1/2 cm.
CV = CD - 1 1 /2 cm.
Caranya :
Lakukan VT sampai teraba promotorium lalu ukur jari tangan yang masuk (CD), kemudian kurangkan 1 1/2 cm,kalau kurang dari 10 cm berarti panggul sempit.
1.4 Pemeriksaan Besarnya Janin
Pemeriksaan ini dilakukan sesaat sebelum partus atau watu partus kalau bentuk normal dan lelak anak memanjang yang menentukan Imbang feto-pelvik ialah kepala. Besarnya kepala rata- rata tergantung dari besarnya ( berat ) janin , oleh karena itu
sebagian ukuran kepala digunakan berat badan janin.
Ada beberapa perkiraan berat badan janin :
1. Umur kehamilan dan taksiran persalinan.
2. Berat badan ditaksir melalui palpasi kepala pada abdomen.
3. Perhitungan menurut Poulsson- Lang Stadt.
Uterus dianggap sebagai suatu benda yang terdiri dari bahan homogen berbentuk elips. Jika letak janin mrmanjang, volume tergantung dari diameter transversa dan diameter longitudinal dari uterus yang diukur menggunakan jangka Bordeloque.Kemudian secara empirit dibuat suatu grafik yang menggambarkan hubungan antara BB dan jumlah kedua diameter itu.
4. Rumus Jhonsons – Toshak
Berdasarkan atas ukuran Mc. Donald yaitu jarak pubis dan batas antara fundus uteri melalui konveksitas abdomen.
BBJ = (MD – 12 ) x 155 gram.
Keterangan :
BBJ : Berat Badan Janin dalam gram
MD : Ukuran Mc. Donald dalam cm
Kepala belum masuk H III : (MD – 13 )
Kepala di H III : ( MD – 12 )
Kepala lewat H III : ( MD – 11 )
Bila ketuban sudah pecah ditambah 10 %
5. Dengan menggunakan alat- alat canggih ultra sonografi, diameter biparentalis
dapat diukur.
1.5 Prognosis
Apabila persalinan dengan disproporsisefalo pelvik dibiarkan berlangsung sendiri tampa-bilamana perlu. Pengambiilan tindakan yang tepat, timbulnya bahaya bagi ibu dan janin (Sarwono)
Bahaya pada ibu
a. Partus lama yang sering disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis dan infeksi intrapartum
b. Dengan his yang kuat, sedang kemajuan janin dalam jalan lahir tertahan dapat timbul regangan segmen bawah uerus dan pembentukan lingkaranretrasi patologik (Bandl). Keadaan ini terkenal dengan ruptura uteri mengancam. Apabila tidak segera diambil tindakan untuk mengurangi regangan, akan timbul ruptur uteri
c. Dengan persalinan tidak maju karena disproporsi sefalo pelvik jalan lahir pada suatu tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul. Hal ini meninbulkan gangguan sirkulasi dengan akibat terjadinya Iskemia dan kemudian nekrosis pada tempat tersebut. Beberapa hari post partum akan terjadi fistula vesiko servikalis, atau fitula vesiko vaginalis atau fistula rekto vaginalis
Bahaya pada janin
a. Patuslama dapat meningkatkan kematian Perinatal, apabila jika ditambah dengan infeksi intrapartum
b. Prolasus Funikuli, apabila terjadi, mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin dan memerlukan kelahiranya dengan apabila ia masih hidup.
c. Dengan adanya disproporsi sefalopelvik kepala janin dapat melewati rintangan pada panggul dengan mengadakan moulage dapat dialami oleh kepala janin tampa akibat yang jelek sampai batas – batas tertentu. Akan tetapi apabila batas – batas tersebut dilampaui, terjadi sobekan pada tentorium serebelli dan pendarahan intrakrahial
d. Selanjutnya tekanan oleh promontorium atau kadang – kadang oleh simfiksi pada panggul picak menyababkan perlukaan pada jaringan diatas tulang kepala janin, malahan dapat pula meninbulakan fraktur pada Osparietalis
1.6 Pemeriksaan Radrologi
Untuk Pelvimetri dibuat 2 buah foto
1. Foto pintu atas panggul
Ibu dalam posisi setengah duduk (Thoms), sehingga tabung rontgen tegak lurus diatas pintu atas panggul
2. Foto lateral
Ibu dalam posisi berdiri, tabung rontgen diarahkan horizontal pada trochanter maya samping
Dari keduanya dapat dilihat
a. Diameter transversa
b. Distansia Interspinarum
c. Jenis Pelvik
d. Conjugata diagonalis – conjugatavera
e. Dalamnya Pelvis
f. Diameter AP pintu bawah
g. Diameter sagitalis posterior (Cald well)
h. Bentuk sakrum, spina ischiadika
Jenis panggul wanita Indonesia. (Djaka dan Moeljo)
1. Gi nekord 64,2%
2. Antropord 16,3%
3. Platipelord 13,6%
4. Andrord 2,2%
5. Panggul Patalogik 3%
(Sinopsis obstetri jilid I)
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Ketidak cocokan antara kepala janin dan bagian pelvis tertentu yang harus dilaluinya. Sebaiknya dilakukan SC supaya ibu dan bayi selamat dan proses persalinan dapat diatasi dengan cepat, tepat dan singkat
DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Rustam, Muchtar. 1998 . Sipnosis Obstetri Fisiologi Pathologi . Jakarta: EGC
Posted 20th June by
Labels: Kesehatan

Kamis, 08 Desember 2011

ASKEB ANAK SEHAT DENGAN IMUNISASI BCG DAN POLIO I


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
          Di Indonesia program imunisasi sudah terorganisasi sejak tahun 1956 yang dilaksanakan di Pulau Jawa untuk mencegah penyakit cacar. Dewasa ini angka kesakitan dan kematian bayi dan anak-anak cukup tinggi akibat serangan menular, padahal penyakit-penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi maka bayi mendapat kekebalan ini dengan daya tahan tubuh meningkat. Adapun kekebalan ini dibagi menjadi 2 yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang terjadi dimana bayi mendapat serangan penyakit dan tubuh secara alamiah membentuk antibodi.
          Sedangkan kekebalan pasif adalah kekebalan yang terjadi bila anak diberi zat masih dalam kandungan ia mendapat zat antibody dan ibunya melalui plasenta.

1.2     Tujuan
1.2.1  Tujuan Umum
                   Agar mahasiswa mampu untuk melakukan asuhan kebidanan terutama pada bayi dan balita.

1.2.2  Tujuan Khusus
1.  Diharapkan mahasiswa mampu memahami dan melakukan dari hasil pengumpulan data.
2.  Mengumpulkan data untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah yang sering dijumpai.
3.  Mahasiswa mampu menetapkan diagnosa potensial.
4.  Mahasiswa mampu menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi dan kolaborasi.

5.  Mahasiswa mampu menyusun rencana asuhan secara menyeluruh.
6.  Mahasiswa mampu melakukan asuhan dan rencana yang telah ditetapkan.
7.  Mahasiswa mampu melakukan evaluasi tindakan.

1.3     Manfaat Penelitian
1.3.1  Bagi Penulis
         Meningkatkan pengetahuan dan mendeteksi pengetahuan secara dini permasalahan serta melakukan pemeriksaan / pencegahan dan tindakan dengan memberikan perawatan dan rujukan.

1.3.2  Bagi klien
                   Agar klien mengetahui dan memahami perubahan dan masalah yang akan terjadi.

1.3.3  Bagi Institusi
                   Untuk menambah kemampuan mahasiswa akademi kebidanan dalam hal yang berhubungan dengan imunisasi.

1.4     Metode Penulisan
          Menggunakan metode wawancara kepada keluarga klien untuk memperoleh data-data yang diperlukan untuk menunjang laporan asuhan kebidanan pada bayi sehat dengan imunisasi DPT COMBO I.

1.5     Waktu Pelaksanaan
          Laporan asuhan kebidanan pada bayi sehat dengan imunisas DPT COMBO I ini dibuat pada saat mengikuti praktek klinik di BPS Ny.DYAH SP, Amd.Keb. mulai tanggal 10 Desember – 29 Desember 2007.



1.6     Sistematika Penulisan
Bab I     :    Pendahuluan yang meliputi latar belakang, tujuan, waktu pelaksanaan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II    :    Tinjauan pustaka menguraikan konsep dasar imunisasi yang meliputi pengertian, tujuan, macam-macam imunisasi, keadaan tubuh sewaktu imunisasi, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan imunisasi, persyaratan pemberian vaksin, efek samping pemberian imunisasi, bahan-bahan untuk membuat vaksin, cara dan teknik vaksinasi dan konsep dasar hepatitis B yang meliputi pengertian, tujuan, gejala hepatitis B, cara kerja vaksin, tipe vaksin, pemberian vaksin hepatitis, waktu pemberian, teknik pemberian, KIPI serta konsep dasar polio yang meliputi pengertian polio, dosis pemberian, sedang waktu pemberian dan efek sampingnya.
Bab III :    Tinjauan kasus menguraikan asuhan kebidanan pada bayi sehat dengan imunisasi HB dan polio I berdasarkan Hellen Varney.
Bab IV  :    Penutup yang menguraikan simpulan dan saran.


BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1     Konsep Dasar Imunisasi
2.1.1  Pengertian
         Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan bayi dan anak terhadap penyakit.
         Imunisasi adalah sengaja memasukkan vaksin berupa mikroba hidup yang sudah dilemahkan. (Mencegah Dan Mengatasi Demam Pada Balita : 25)
         Imunisasi adalah tindakan yang menimbulkan kekebalan terhadap tubuh. (Maimunah, Siti, 2005)
         Imunisasi adalah dengan sengaja memasukkan vaksin yang berisi mikroba hidup yang sudah dilemahkan pada balita.
         Imunisasi yang merupakan salah satu pencegahan penyakit infeksi senus yang paling efektif biaya. (Behram, 1999 : 1248)
         Vaksin adalah suatu suspensi mirkoorganisme hidup yang dilemahkan atau mati atau bagian antigenic, agen ini yang diberikan pada hospes potensial untuk menginduksi imunitas dan mencegah penyakit. (Wahab, Samik, 1999)
         Vaksinasi merupakan salah satu cara mencegah penyakit yang paling murah dan efektif. (Widjaja, 2002)

2.1.2  Tujuan
*   Melindungi tubuh bayi dan anak dari penyakit menular yang dapat membahayakan bagi ibu dan anak.
*   Memberikan kekebalan pada tubuh bayi terhadap penyakit seperti : Hepatitis, Dipteri, Polio, TBC, Tetanus, Pertusis, Campak, dan lain-lain.


*   Prinsip dasar Imunisasi :
1.  Pada dasarnya, tubuh akan menolak antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun) jika memasuki tubuh akan menolak dan membuat antibodi atau antitoksin.
2.  Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak cukup kuat melawan antigen.
3.  Pada reaksi berikutnya tubuh sudah mengenali jenis antigen tersebut.
4.  Imunisasi diberikan dalam rangka mengenalkan berbagai antigen, agar cepat direspon oleh tubuh, sehingga tubuh sudah mengenal betul zat antigen yang harus dilawan.
5.  Sesudah beberapa lama, pemberian imunisasi zat anti untuk melawan antigen akan menurun atau hilang.
6.  Zat anti dibuat dihati, limfa, kelenjar ismus dan kelenjar getah bening. (Widjaja, 2002).

2.1.3  Macam-macam Imunisasi
1.  Imunisasi Aktif
Adalah kekebalan yang dibentuk anak secara aktif dimana tubuh itu sendiri ikut menyelenggarakan pembentukan antibody, imunisasi aktif dibagi dua yaitu :
a.  Alami         :    Kekebalan yang terbentuk setelah tubuh mengalami penyakit menular tertentu, misalnya : campak.
b.  Buatan        :    Kekebalan yang terbentuk setelah dengan sengaja memasukkan vaksinasi ke dalam tubuh, misalnya: Hepatitis B, DPT, Polio.
2.  Imunisasi pasif
Adalah kekebalan yang terbentuk setelah tubuh menerima zat antibody dari luar, imunisasi pasif dibagi 2 macam, yaitu :

a.  Alami     :    Kekebalan yang terbentuk setelah tubuh mengalami penyakit menular tertentu, misalnya : campak.
b.  Buatan   :    Kekebalan yang terbentuk setelah dengan sengaja memasukkan vaksinasi ke dalam tubuh, misalnya : hepatitis B, DPT, Polio.
3.  Tujuh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
a.  Poliomyelitis   (kelumpuhan)
b.  Campak           (meokles)
c.  Difteri             (indrak)
d. Pertusis           (batuk rejan, batuk seratus hari)
e.  Tetanus
f.  Tuberculosis    (TBC)
g.  Hepatitis B

2.1.4  Keadaan Tubuh Sewaktu Imunisasi
Sewaktu imunisasi hendaknya tubuh tidak boleh dalam keadaan sakit karena hal ini akan mengakibatkan daya untuk membuat zat antibodi rendah.

2.1.5  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Imunisasi
1.  Sistem Pendingin
     Yaitu sistem penyimpanan dan distribusi vaksin sebagai vaksin dapat memenuhi syarat secara kontimeu dari produsen sampai tempat pelaksanaan imunisasi / vaksinasi.
2.  Penyimpanan vaksin
     Dalam lemari es dan kamar pendingin yang harus diperhatikan jika vaksin disimpan di lemari es adalah :
*   Vaksin diletakkan pada rak paling dalam sehingga pengaruh udara luar dapat diminimalkan.
*   Vaksin jangan diletakkan pada lemari es, karena suhunya tinggi.
*   Termometer harus tetap diletakkan pada lemari es, untuk mengoreksi suhunya.
3.  Pengiriman Vaksin
     Yang lazim digunakan pada waktu pengiriman vaksin adalah termos cold box dan pengangkutan dalam jumlah besar pada cold truck dengan volume paling sedikit 1/3 dari volumenya.
4.  Panas merusak jenis vaksin
     Contoh : suhu tinggi dan sinar matahari
     Sinar matahari terutama merusak vaksin hepatitis B, campak, dan polio. Pembekuan dapat merusak vaksin yang terbuat toxoid.

2.1.6  Persyaratan Pemberian Vaksin
1.  Pada bayi dan anak yang sehat, tidak boleh diberikan pada mereka yang :
     -   Sedang sakit
     -   Keadaan fisik yang lemah
     -   Dalam masa tunas suatu penyakit
     -   Mendapat pengobatan dengan kontrasepsi
2.  Dengan teknik pemberian yang tepat
3.  Vaksin harus baik, disimpan dalam lemari es dan belum lewat masa kadaluarsa.
4.  Jenis vaksin yang dimaksud.
5.  Mempertahankan dosisi yang diberikan
6.  Mengetahui jadwal vaksinasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang tepat. (Depkes, 2000)

2.1.7  Efek Samping Pemberian Imunisasi
a.  Nyeri pada bekas penyuntikan
b.  Suhu badan naik pada DPT
c.  Diare pada vaksin polio
d.  Timbul bisul kecil pada hepatitis B
2.1.8  Bahan-bahan Untuk Membuat Vaksin
         Vaksin dibuat di Laboratorium, berasal dari bibit penyakit tertentu yang menimbulkan penyakit tetapi kemudian bibit penyakit ini dilemahkan atau dimatikan sehingga tidak berbahaya. Ada bibit penyakit yang sudah dimatikan, misalnya bakteri pertusis dalam vaksin DPT. Ada yang dibuat dari bibit penyakit hidup yang sudah dilemahkan :
Contohnya :    -    Virus campak dari vaksin campak
                        -    Virus polio dari vaksin polio
                        -    Bassilus colmatle guarin dalam vaksin hepatitis B
Ada yang dibuat toxin yang dihasilkan oleh bakteri kemudian diubah menjadi toxoid sehingga tidak berbahaya bagi manusia.
Contohnya      :    -    Tetanus toxoid dalam vaksin TT
                        -    Difteri tetanus dalam vaksin DT atau DPT
Ada yang dibuat dari bioteknologi rekayasa genetika.
Contohnya : vaksin hepatitis B rekombinasi

2.1.9  Cara dan Teknik Vaksinasi
1.  Hepatitis B
     *   Cara pemberian        :    Disuntikkan secara intramuscular
     *   Dosis                        :    0,5 ml
     *   Lokasi                       :    1/3 atas paha bagian luar
2.  DPT
     *   Cara pemberian        :    Disuntikkan secara IM
     *   Dosis                        :    0,5 ml
     *   Lokasi                       :    1/3 atas paha bayi bagian luar
     *   Banyak pemberian    :    3x
3.  BCG
     *   Cara pemberian        :    Disuntikkan secara intra cuban
     *   Dosis                        :    0,05 cc
     *   Lokasi                       :    1/3 atas lengan bagian luar
     *   Banyak pemberian    :    1x
4.  Polio
     *   Cara pemberian        :    Diteteskan di bawah lidah
     *   Dosis                        :    2 tetes
     *   Banyak pemberian    :    4x

2.2     Konsep Dasar DPT COMBO I
2.2.1  Pengertian
         DPT COMBO I merupakan vaksin yang mangandung DPT berupa toksoid difteri dan toksoid  tetanus yang dimurnikan dan pertusis (batuk rejan )yang diinaktivasi serta vaksin hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mangandung HBsAg  yang diproduksi melalui teknologi DNA rekombinan pada sel ragi .setiap dosis vaksin mengandung:
Zat berkhasiat : toksoid difteri murni 20 le,toksoid tetanus murni 7,5 lf ,inaktivasi B pertusis 12 ou dan HbsAg 5 mcg.zat tambahan : aluminium phospate 1,5 mg,natrium clorida 4,5 mg,methiolate 0,05mg
2.2.2  Indikasi
                   Memberikan kekebalan/imunitas aktif terhadap difteri,tetanus,pertusis dan hepatitis B
2.2.3  Cara kerja obat
                            Merangsang tubuh membentuk antibody terhadap difteri,tetanus,pertusis,dan hepatitis B.
2.2.4  Posologi
Vaksin DPT-HB diberikan secara IM terdiri dari 3 dosis  masing2 0,4 ml sebagai berikut:
Dosis pertama : pada bayi usia 2 bulan
Dosis kedua     :satu bulan setelah imunisasi pertama
Dosis ketiga      :satu bulan setelah imunisasi kedua
2.2.5  Efek samping
Reaksi local atau sistemik yang bersifat ringan,kasus yang sering terjadi adalah bengkak,nyeri,penebalan kemerahan pada bekas suntikan,Menangis >3 jam dan kadang kadang terjadi reaksi umum seperti demam >38,5C
2.2.6  Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap komponen vaksin,reaksi berat terhadap dosis vaksin kombinasi sebelumnya,atau batuk batuk reaksi sejenis lainnya adalah merupakan kontraindikasi terhadap dosis lanjutan vaksin kombinasi atau vaksin tertentu yang diketahui merupakan efek samping.terdapat beberapa kontraindikasi terhadap dosis  pertama DPT : fits atau gejala cerebral abnormality pada periode baru lahir atau neurological abnormality serius lainnya merupakan kontra indikasi terhadap dosis pertama DPT karena komponen pertusis.pada kasus ini,vaksin jangan diberikan dalam bentuk kombinasi,tetapi sebaliknya diberikan secara terpisah yaitu dengan memberi vaksin DT (bukan DPT) serta hepatitis HB 
2.2.7  Peringatan dan perhatian
Hati hati penggunaan pada anak dengan riwayat kejang dan demam.setiap penyuntikan harus menggunakan syringe dan jarum yanb steril
2.2.8  Cara penyimpanan vaksin
Disimpan pada suhu antara +2 sampai +8


RANTAI DINGIN PROGRAM INUMISASI





2.4     Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir
2.4.1  Pengertian
         Asuhan kebidanan bayi sehat adalah pemberian perawatan kepada bayi untuk mengetahui bayi dalam keadaan sehat atau tidak

2.4.2  Langkah-langkah Asuhan Kebidanan Pada Bayi sehat
2.4.2.1   Data Subyektif
1.  Biodata
1)  Nama Bayi
     Tujuan :      Agar mudah mengenal bayi dan supaya bayi tidak tertukar dengan bayi lain dan memudahkan memanggil nama ibu.
2)  Umur Ibu
     Tujuan :      Untuk mengetahui keadaan ibu karena umur ibu > 20 tahun dan < 35 tahun berpengaruh terhadap kesehatan bayi yang diharapkan.
3)  Pendidikan
     Tujuan   :    Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan ibu sehingga memudahkan untuk berkomunikasi.
4)  Agama
     Tujuan   :    Ada hubungan dengan perawatan bayi, dalam memberikan support pada ibu dan keluarga.
5)  Nama ayah
     Tujuan   :    Agar dapat mengenal dan memanggil ayah bayi bila diperlukan.


6)  Pendidikan Ayah
     Tujuan   :    Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan ayah bayi sehingga memudahkan kita dalam berkomunikasi.
7)  Umur ayah
     Tujuan   :    Untuk mengetahui keadaan ayah bayi
8)  Pekerjaan
     Tujuan   :    Untuk mengetahui taraf hidup dan keadaan ekonomi sehingga dijadikan pertimbangan dalam pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan.
9)  Alamat
     Tujuan   :    Untuk mengetahui orang tua bayi tinggal dimana, menjaga kemungkinan bila ada ibu yang namanya sama, dan diperlukan bila ada kunjungan rumah.
2.  Keluhan Utama
Keluhan utama didapatkan dari hasil keluhan orang tua tentang bayinya. Misalnya : bayinya belum mendapatkan imunisasi.
3.  Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
     a.  Kehamilan yang ke berapa
     b.  Komplikasi dalam kehamilan ada atau tidak
     c.  Umur kehamilan, spontan tindakan, dimana dan oleh siapa.
     d.  Keadaan bayi
     e.  Lama meneteki
     f.  Penyulit / komplikasi waktu nifas
4.  Riwayat kehamilan sekarang
     a.  Hamil yang ke berapa
     b.  Umur kehamilan berapa bulan
     c.  Gerak anak kapan dirasakan, biasanya pada umur kehamilan 3,5 bulan.
     d.  Pernah perdarahan dari jalan lahir atau tidak.
     e.  Merasakan mual atau tidak, kapan, sampai umur kehamilan berapa
     f.  Mendapatkan imunisasi TT atau tidak, berapa kali
     g.  Komplikasi kehamilan
5.  Riwayat kesehatan keluarga
     Adakah dalam keluarga yang menderita penyakit kronis seperti darah tinggi, DM, Asma, TBC, jantung, ginjal atau ada keturunan kembar.
6.  Riwayat persalinan ini
     Bayi lahir kapan, dimana, menalami penyulit atau tidak, jenis kelamin, berat badan, panjang badan, ada atau tidak saat kelahiran.
7.  Riwayat psikososial
     Bagaimana hubungan bayi dengan orang tua diharapkan atau tidak.
2.4.2.2   Data Obyektif
1.  Pemeriksaan umum
     a.  Berat badan    :     Normal berat badan baru lahir yaitu 2500 – 3500 gram

     b.  Panjang badan     :            ± 50 cm
     c.  Lingkar kepala     :            ± 32 cm
     d.  Lingkar dada       :            ± 31 cm
2.  Inspeksi
a.  Kepala
     Bentuk bulat, ada tidaknya caput succedaneum atau cephol hemotom, meningochele, satara melebar.

b.  Mata
     Bentuk dan ukuran simetris atau tidak, tidak ada konjuctivitas, adanya reflek berkedip atau tidak, tidak adanya bola mata, pergerakan bebas / terbatas, pupil warna hitam, kecil / hitam.
c.  Mulut / bibir
     Ada / tidaknya sumbing
     Ada / tidaknya palatoscisis
     Ada / tidaknya lidah atau pharing
     Ada / tidaknya reflek menelan dan menghisap
d.  Telinga
     Terbuka atau tidak
     Letak dan bentuk simetris atau tidak
e.  Leher
     Benjolan, pembengkakan kelenjar tiroid ada / tidak
     Bendungan vena jagularis ada / tidak
     Bentuk panjang atau pendek, kecil atau besar, lebar atau ke samping
f.  Dada
     Bentuk dada : bulat simetris / asimetris, dada burung, panjang, gepeng.
     Gerak dada dan perut sama saat nifas
     Module buah dada rata-rata 6 mm
     Putting menonjol atau tidak, letaknya simetris
g.  Abdomen
     Ada / tidaknya hernia pada daerah umbilikus, iquinalis dan femorolis.
     Ada / tidaknya perdarahan tali pusat, vertebra, ada tidaknya skoliosis, lordosis, kifosis, spinabifida, kulit, warna, syanosis, pucat, kteras, kemerahan, ada / tidaknya pigmentasi lokal / menyeluruh.
h.  Genetalia
     Laki-laki     :    ada / tidak pembesarna scrotum, epispadia, atau hypuspadia.
     Perempuan :    labia mayora sudah menutupi atau belum, ada tidaknya sekret mucus keputih-putihan yang pervaginam ± 1 – 2 minggu klitoris besar dengan uretra di tengah labia.
     i.   Anus
          Ada / tidak atresia, ada / tidak fistula ani
          Ada / tidaknya pengeluaran meconium dalam 24 jam pertama.
     j.   Extremitas
          Extremitas atas dan bawah : ada / tidaknya kelainan panjang, ukuran, atau bentuk. Ada / tidaknya sindaktili dan polidaktili pada jari-jari tangan dan kaki.
3.  Palpasi
a.  Kepala
     Sutura normal tidak menyambung dan dapat diraba.
b.  Mata
     Ada / tidaknya reflek membuka dan menutup
c.  Mulut
     Ada / tidaknya micrognatia atau macrognatia
d.  Telinga
     Ada / tidaknya fistula preariculana
e.  Leher
     Ada / tidaknya pembesaran caput obstipum

f.  Dada
     Ada / tidaknya gradula mamae besar dan keluar seperti susu.
g.  Perut
     Ada / tidaknya pembesaran hepar, lien, hernia umbilicus.
     Ada / tidaknya tumor atau acites
h.  Genetalia
     Ada / tidaknya penurunan scrotum atau pembesaran scrotum.
i.   Extremitas
     Ada / tidaknya paralise atau fraktur
     Turgor kulit elastis atau tidak
4.  Auscultasi
     Torak     :    ada tidaknya funnel chest (sukar nafas)
     Perut           :    ada tidaknya nafas ireguler atau krepitasi
5.  Pemeriksaan fisik
1)  Sangat penting mengamati tanda-tanda fisik, karena bayi tidak dapat mengatakan kepada kita apa yang sedang dirasakan. Periksalah tiap jam selama 2 jam sampai 6 jam setelah kelahiran, yang diperiksa adalah pernafasan normal 30 – 50 x/menit, denyut jantung normal : 120 – 140 x/menit, suhu tubuh ukur melalui ketiak normal : 36 ° - 37 °C.
2)  Reflek-reflek Neonotus
a.  Reflek moro / reflek kejut
     Letakkan bayi pada tempat tidur, pukul di tempat bayi tersebut untuk mengejutkan bayi, bila ada respon terlihat abduksi dan ekstensi / lengan secara simetris menghilang  umur 3 – 5 bulan.

b.  Reflek tonus leher (reflek bonik neck)
     Bayi yang sedang tidur putus ke arah samping kepalanya dengan cepat, respon bayi menghadap ke kiri, lengan dan kaki kiri ekstensi, kaki dan lengan kanan fleksi.
c.  Reflek menggenggam (reflek grafis)
     Jari-jari periksa diletakkan pada sisi ulna dari telapak tangan bayi, maka jari tangan bayi akan menggenggam jari pemeriksa. Hilang umur 6 – 8 bulan.
d.  Reflek rooting
     Penyentuhan dagu berdekatan dengan mulut, mendorong bayi untuk mencari sumber sentuhan.
e.  Reflek menghisap (reflek sucing)
     Menghisap kuat
3)  Ukuran-ukuran kepala normal
Ukuran melintang              :    BT : 8 cm     BP : 9 cm
Ukuran muka belakang      :    SOB          : 9,5 cm
                                                      FO                   : 12
                                                      Mo                   : 13,5 cm
Ukuran lingkar                   :    SOB          : 32 cm
                                                      FO                   : 34 cm
                                                      MO      : 35 cm

Assesment / diagnosa

Menilai dan menganalisa data yang telah dikaji sehingga menjadi rumusan diagnosa sebagai acuan dalam membuat perencanaan.

Planning

Membuat rencana asuhan sesuai dengan rumusan diagnosa sesuai dengan kebutuhan bayi

Implementasi

Melaksanakan rencana asuhan yang telah dibuat.

Evaluasi

Mengevaluasi keefektivan dari asuhan yang telah diberikan.

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1     Pengkajian
No. Register              :
Tempat                     : Puskesmas Tenggilis
Hari / Tanggal               :    Selasa / 22-04-2008
Jam                           :    09.00 Wib
Oleh                         :    Nidaul mahmudiyah

A. Data Subjektif

1.  Biodata
Nama bayi                         :    By. R
Umur                                 :    2 bulan
Tempat / tanggal lahir        :    Surabaya, 21 – 02 – 2008
Jenis Kelamin                         :                  Perempuan
Status anak                             :                  Anak kandung
Anak ke                             :    Pertama
BBL/PBL                          :    3100 gr/40 cm

Nama Ibu                           :    Ny. H
Umur                                 :    23 tahun
Agama                               :    Islam
Suku / bangsa                         :                  Jawa / Indonesia
Pendidikan                             :                  SMA
Pekerjaan                           :    IRT
Penghasilan                             :                  -
Alamat                               :    Kutisari 14/19 Sby
 
Nama Ayah                       :    Tn. R
Umur                                 :    25 tahun
Agama                               :    Islam
Suku / Bangsa                         :    Jawa / Indonesia
Pendidikan                             :                  SMA
Pekerjaan                           :    Swasta
Penghasilan                             :                  -
Alamat                               :    Kutisari 14/19 Sby

2.  Alasan Kunjungan / Keluhan Utama
     Ibu mengatakan bahwa anaknya berumur 2 bulan dan waktunya diberikan imunisasi DPT COMBO 1
3.  Riwayat kesehatan
     a.  Riwayat kesehatan sekarang
          Ibu mengatakan bayinya sehat, tidak ada keluhan seperti batuk, pilek, panas. Saat ini bayinya masih minum ASI.
     b.  Riwayat Penyakit Keluarga
          Ibu mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular, menahun, maupun menurun seperti hepatitis, AIDS, TBC, Jantung, Ginjal, DM, Hipertensi, dan lain-lain.
     c.  Riwayat kehamilan dan kelahiran
          Ibu mengatakan selama hamil, rutin memeriksakan kehamilannya di  Bidan
          *   Trimester I
     1.  Kunjungan sebanyak 2x
     2.  Ibu mengatakan nafsu makannya bertambah dan kadang-kadang mual dan muntah.
     3.  Terapi : obat anti mual
     4.  Penyuluhan
         -    Makan-makanan yang bergizi dan menu seimbang.
         -    Makan sedikit tapi sering
         -    Banyak minum air putih dan hindari minum jamu-jamuan.
         -    Menjaga kebersihan diri
         -    Banyak istirahat
*   Trimester II
     1.  Kunjungan sebanyak 3x
     2.  Ibu mengatakan tidak ada keluhan.
     3.  Ibu merasakan pergerakan janin sejak usia kehamilan 5 bulan.
     4.  Terapi : Tablet Fe, Vit. C 1 x 1
     5.  Penyuluhan :
         -    Makan makanan yang bergizi
         -    Menjaga kebersihan diri
         -    Banyak istirahat
*   Trimester III
     1.  Kunjungan sebanyak 5x
     2.  Ibu sering kencing, pinggangnya terasa nyeri.
     3.  Penyuluhan :
         -    Istirahat cukup
         -    Jelaskan tanda-tanda persalinan : keluar lendir bercampur darah, kenceng-kenceng keluar air ketuban.
         -    Makan-makan bergizi
         -    Menjaga kebersihan diri dan merawat payudara
         -    Rencana penggunaan KB
NATAL
Ibu mengatakan tanggal 21-02-2008 melahirkan di BPS jam 08.00 Wib secara normal dengan umur kehamilan 9 bulan, jenis kelamin Perempuan, BB : 3100 gr, PB : 40 cm langsung menangis kuat dan tidak ada cacat.

POST NATAL
-   Ibu mengatakan dalam waktu 1 x 24 jam dapat kencing dan berak 
-   Ibu mengatakan bahwa ASI sudah keluar :
     *   Pola kebiasaan anak
         -    Pola Nutrisi
              Anak minum ASI sesering mungkin, ibu memberikan ASI bila bayi menangis. 
         -    Pola tidur
              Anak tidur  (± 12 –14  jam / hari)
         -    Pola Eliminasi
              Anak BAK ± 6 x/hari warna kuning jernih, lancar dan BAB ± 3 x/hari warna kuning, konsistensi lembek.
         -    Pola hubungan dan peran
              Hubungan antara ayah, ibu dan anak baik, keluarganya menyayangi anaknya.
3        Pola aktivitas
Bayi bergarak aktif,sudah bisa tengkurap,dan bisa mengeluarkan suara yang masih kurang jelas



B. Data Obyektif
1.  Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum            :    Baik
Kesadaran                     :    Composmentis
Suhu                                  :    366 °C
Nadi                                   :    100 x/menit
BB                                :    3100 gr
PB                                 :    40 cm

2.  Pemeriksaan Fisik
a.  Inspeksi
Kepala        :    Kulit kepala bersih, rambut hitam, pertumbuhan rambut halus an merata
Muka          :    Tidak oedema, tidak pucat
Mata               :    Simetris, selaput lendir mata tidak pucat, selera tidak kuning baik kanan ataupun kiri..
Hidung       :    Bersih, tulang simetris, tidak ada tanda pernafasan cuping hidung.
Telinga       :    Simetris, tidak ada serumen
Mulut         :    Bibir tidak kering, tidak pucat, mukosa mulut lembab, tidak ada labio palato skiszia, lidah bersih.
Leher          :    Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Dada          :    Simetris.Tidak ada pigeon chest,tidak ada funnel chest.
Pelipatan paha : bersih, tidak ada pembesaran limfe.
Genetalia    :    Bersih
Punggung   :    Simetris
Anus               :    Bersih, tidak ada atresia ani
Extremitas atas         :    Simetris, pergerakan bebas, tidak ada polidaktili, tidak tidak ada sindaktili.
Extremitas bawah   :    Simetris, pergerakan bebas, tidak aa polidakbli, tidak ada sindaktili, telapak kaki cembung.
b.  Palpasi
Kepala            :     Tidak ada benjolan
Leher              :     Tidak ada pembesaran kelenjar limpe dan pembesaran vena     jugularis.
Dada               :    Tidak ada masa, simetris
Perut                    :    Tidak ada pembesaran hepar
Pelipatan paha     :    Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Extrimitas atas     :    Tidak oedema
Extrimitas bawah :   Tidak oedema
c.  Auscultasi
     Dada               :    Tidak ada whezing, tidak ada ronkhi
     Perut                    :    Bising usus 
*   Kesimpulan :
     Bayi sehat dengan BB 3100 gram, PB 40 cm, pertumbuhan bayi baik, minum ASI.

3.2     Identifikasi Masalah
Tanggal
Diagnosa
Data dasar
22-04-2008
Bayi sehat usia 2 bulan dengan imunisasi DPT COMBO I
S   :    Ibu mengatakan bayinya berumur 2c bulan dan waktunya mendapat DPT COMBO I
O  :    Ku     :    baik
          SH    :    366 °C
          ND    :    100 x/menit
          RR    :    40 x/menit
          BB    :    3100 gram
          PB     :    40 cm


3.3     Diagnosa Potensial
          potensial terjadi demam

3.4     Identifikasi Tindakan Segera
          Memberikan obat penurun panas
3.5     Intervensi
Tgl/Jam
Diagnosa
Intervensi
Rasional
22-04-2008
Bayi sehat usia 2 bulan  dengan imunisasi  DPT COMBO I
Tujuan :
*   Tujuan jangka pendek setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ± 30 menit, ibu mengerti tentang pentingnya imunisasi bagi anaknya.
*   Tujuan jangka panjang setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan tidak terjadi komplikasi.
     Kriteria hasil :
     -    Bayi dalam keadaan sehat.
     -    Imunisasi dapat diberikan.
     -    Ibu mau datang lagi untuk imunisasi selanjutnya.
     -    Tidak terjadi demam




Tgl/Jam
Diagnosa
Intervensi
Rasional


1.  Lakukan pendekatan terapeutik.
1.  Dengan melakukan pendekatan terapeutik yang baik akan terjalin hubungan saling percaya sehingga ibu dapat kooperatif dengan petugas.                   


2.  Lakukan pemeriksaan / observasi keadaan bayi
2.  Dengan pemeriksaan pada bayi kita bisa tahu bahwa bayi ini dalam keadaan sehat.


3.  Beritahu hasil pemeriksaan
3.  Dengan menjelaskan pada ibu diharapkan ibu mengerti tentang keadaan bayinya saat ini.


4.  Jelaskan pada ibu tentang manfaat dan efek samping imunisasi DPT COMBO I
4.  Dengan menjelaskan tentang manfaat dan efek samping imunisasi DPT COMBO I diharapkan ibu mengerti dan dapat lebih tenang dalam menghadapi efek samping yang timbul.


5. Berikan imunisasi DPT COMBO I




6 anjurkan klien untuk kembali lagi  I bulan lagi.
5.Pemberian imunisasi yang tepat akan memberikan hasil yang optimal untuk kekebalan tubuh terhadap  penyakit difteri,pertusis,tetanus dan hepatitis B
6. agar klien kembali tepat waktu sesuai jadwal munisasi selanjutnya.


7.  Lakukan pendokumentasi
7.  Sebagai bukti tertulis dan tanggung jawab serta tanggung gugat.


8.  Berikan terapi pada klien
8.  Agar memperoleh keadaan yang sehat dan aman.

3.6     Implementasi
Tgl / Jam
Diagnosa
Implementasi
22-4-2008


1.  Melakukan pendekatan dengan cara :
     -    Menyapa klien
     -    Memberi salam
     -    Memperkenalkan diri
2.  Melakukan observasi pada bayi
     KU    :    baik                 BB : 3100 gram
     SH    :    366 °C             PB : 40 cm
     ND    :    120 x/menit      
     RR    :    40 x/menit
3.  Memberitahu hasil pemeriksaan pada bayi bahwa keadaan bayinya baik-baik saja dan bisa diimunisasi.
4.  Menjelaskan pada ibu tentang :
     Manfaat imunisasi :
     *   Imunisasi DPT: untuk menghindarkan balita agar tidak terkena penyakit Disteri,Pertusis,Tetanus
     *   Polio : untuk menghindarkan balita terkena poliomyelitis (kelumpuhan).
     Efek samping :
     *   DPT          : Panas
     *   Polio              : tidak ada
5.  Memberikan imunisasi hepatitis B dan pilio diharapkan :
     a.  Pasien
          -    Anak ditidurkan
          -    Tempat penyuntikan 1/3 paha bagian atas sebelah kanan secara IM.
          ­-    Bayi diberi vaksin polio 2 tetes secara oral  


     b.  Alat
          -    Vaksin BCG
          -    Vaksin polio
          -    Kapas air DTT dalam cucing
          -    Bengkak
     c.  Prosedur
          -    Menyiapkan vaksin BCG
              *   Buka kemasan vaksin
              *   Pastikan dosisnya
              *   Mengatur posisi bayi dengan cara bayi ditidurkan dan anjurkan ibu memegang bayinya sedangkan kita memegang paha bayi dengan tangan kiri.
              *   Bersihkan dengan kapas DTT pada daerah suntikan yaitu 1/3 atas paha bagian luar.
              *   Suntikkan vaksin dengan sudut 90 ° secara IM
          -    Menyiapkan vaksin polio
              *   Buka tutup botol dan tutup karet
              *   Pasang pipet plastik pada vaksin
              *   Mengatur posisi bayi dengan cara :
                   -    Ibu dianjurkan meletakkan bayinya diatas pangkuannya.
                   -    Mulut anak dibuka dan diteteskan 2 tetes vaksin polio.


3.7     Evaluasi
Tanggal : 22 – 04 – 2008                                  Jam : 09.30 Wib
S   :    -    Ibu memahami penjelasan dari petugas
          -    Ibu merasa lega karena bayinya telah imunisasi hepatitis B dan polio.
O  :    Ku    :    baik
          ND   :    120 x/menit
          RR    :    40 x/menit
          Bayi sudah diberi imunisasi DPT Combo I  dan polio I
A  :    Bayi sehat usia 11 hari dengan imunisasi DPT Combo I dan polio I
P   :    Beritahu ibu untuk kembali untuk mendapatkan imunisasi selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Belson, 1999. Ilmu Kesehatan Anak. EGC. Jakarta.

Depkes. RI. 2000. Manajemen Terpadu Balita Sakit. Depkes RI. Jakarta.

Kliogman Arvin, Behriman, 1999, Ilmu Kesehatan Anak Nelson,  Vol 2, Jakarta : EGC.

Maimunah, Siti. 2005. Kamus Lengkap Kebidanan.

Widayat, Iskandar. 1985. Ilmu Kesehatan Anak 3 Stok 7. Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Jakarta.

Widjaja, 2001, Mencegah dan Mengatasi Demam Pada Balita, Jakarta : Kawan Pustaka.